Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Oh My God, Dia Dosen


__ADS_3

"Ca, hari ini kamu harus masuk ke kampus. Pembimbing Akademik ingin mengarahkan mu soal mata kuliah yang harus diambil." Kata Vano sambil sarapan pagi.


"Oh, Iya Bang. Hari ini saya ke kampus." Jawab Ica.


"Ica bareng sama Abang atau di antar sama Bang Marvin?" Tanya Vano belum terbiasa memanggil kakak kepada Ica, walaupun Ica tunangan Abangnya.


"Bareng Bang Vano aja, soalnya Bang Marvin belum bangun." Jawab Ica melirik Bunda Lusi dan Pak David.


"Tidak sayang, biar Marvin yang mengantarmu. Nanti Bunda yang bangunkan." Kata Bunda Lusi.


"Iya, Bunda." Jawab Ica.


Bunda Lusi menuju kamar Marvin, beliau beberapa kali mengetuk pintu kamar itu dari ketukan halus sampai ketukan penagih kredit sudah di lakukan. Tapi nihil orang yang di dalam kamar itu tidak bergeming dan tidak bergerak sedikitpun.


Bunda Lusi memutar tubuhnya, Mau melihat Marvin dari kaca jendela kamar, yang terhubung langsung taman depan rumah, beliau akhirnya masuk melewati jendela kaca kamar tamu. Jendela itu tidak pernah di tutup kecuali ada tamu yang menginap.


"Marvin...." Teriak Bunda Lusi sambil menarik kaki Marvin.


"Heum... ada apa Bun?" Tanya Marvin penasaran.


"Itu lho calon istri mu mau berangkat kuliah hari pertama, antar lah." Kata Bunda Lusi


"Iya-iya Bunda." Kata Marvin berusaha bangun dari tempat tidur.


"Mandi dulu sana, bau asem." Kata Bunda Lusi.


Marvin segera membersihkan diri, sedangkan Bunda Lusi telah keluar dari kamar tunggalnya itu. Ia sengaja bersemangat memberi ruang agar Marvin semakin dekat dengan Ica dan tidak mengingat kembali gadis yang sudah menyakiti buah hatinya.


Bunda Lusi menemui Lusi duduk di ruang tamu dan mengobrol dengan suaminya Pak David. Pasangan itu melihat calon menantunya menuruni anak tangga.


"Ica, mari duduk dulu Nak. Sambil menunggu Marvin keluar." Sapa Pak David.


"Iya, terima kasih Yah." Ica duduk di samping Bunda Lusi.


Beberapa menit kemudian, Marvin keluar dari kamar. Dengan pakaian santai kaos warna hijau dan celana levis warna coklat serta mengenakan jam tangan sporty.


Dari atas terlihat juga Vano yang sudah siap ke kampus. Turun dari kamarnya.


"Yah, lihat jagoan kita udah gagah dan ganteng-ganteng lagi." Puji Bunda Lusi.


"Iya, Bunda. Ayah sangat bersyukur memiliki Bunda yang bisa mendidik anak kita menjadi orang baik." Ungkapan hati Pak David untuk istrinya.


Ica hanya tersenyum kecil melihat orang tua angkat sekaligus calon mertuanya itu. Ia merasa bersyukur bisa di pertemukan dengan mereka.

__ADS_1


"Kami berangkat dulu Ayah, Bunda." Ucap Marvin sambil menyalami kedua orang tuanya.


"Vano dan Ica juga Bunda." Kata Vano.


"Hati yaa Nak, Vano tolong jagain Ica nanti di kampus." Cecar Bunda Lusi khawatir.


"Siap Bunda." Jawab Vano sudah menuju garasi.


Vano menyetir sendirian, ia biasanya mengajak Elvita berkeliling kota ketika mata kuliah selesai hari itu. Sedangkan dengan mobil lain Marvin dengan gagah menyetir menghantarkan tunangannya ke kampus barunya tersebut.


"Sayang, nanti kalau sudah selesai bareng Vano aja yaa," Kata Marvin.


"Karena saya sampai lupa belikan kamu ponsel." Lanjut Marvin.


"Ini saya punya Bang, di kasih Kak Beni pas dijalan pulang kemarin." Jelas Ica.


"Hah... Apa maksud orang itu?" Kata Marvin cemburu.


"Mungkin Kak Beni kasian aja sama Ica. Zaman sekarang gak handphone." Jawab Ica menjelaskan.


"Mana handphonenya? Lihat." Kata Marvin menyelidik.


"Ini Bang." Ica mengeluarkan handphone berwarna bening dan gold dari tasnya dengan gantungan yang senada.


Marvin menerima ponsel tersebut. Ia melihat merk dan tipe dari android milik Ica itu. Ia melihat hanya ada nomor Beni di sana. "Hem... Ini kan handphone lumayan juga harganya sekitar delapan jutaan. Kenapa Beni berikan ini cuma-cuma dengan gadis baru dikenalnya?" Marvin masih butuh penjelasan dari Ica.


"Hem...." Jawab Ica karena ia merasa sudah menjelaskan.


Akhirnya mereka sampai di parkiran kampus Vano dan Ica. Tidak seperti Vano yang dengan senang hati membukakan pintu mobil buat Ica. Marvin hanya berdiam diri, membiarkan Ica turun dengan sendirinya.


"Hati-hati yaa. Saya pulang," Kata Marvin.


"E-eh, tunggu dulu." Marvin Berteriak saat Ica sudah berjarak beberapa meter dengan mobilnya.


"Apa Bang?" Ica putar badan ke arah Marvin.


"Ini uang jajan, itu bukan pemberian tapi sebagai nafkah." Marvin mengeluarkan beberapa lembaran merah dari dompetnya.


"Maksudnya?" Ica tercengang.


"Nafkah batinnya, saya kasih nanti malam." Sahut Marvin melakukan mobilnya.


"Hem... Aneh." Gumam Ica.

__ADS_1


*************


Di dalam kelas, Ica duduk di bangku nomor dua dari depan. Hari ini adalah mata kuliah pengantar filsafat oleh Prof. Khairul.


Semua mahasiswa baru di kelas itu sudah duduk dengan rapi. Buku dan alat tulis sudah di persiapkan.


"Assalamu'alaikum, Selamat pagi." Seorang wanita mudah masuk ke ruangan.


"Waalaikumsalam." Jawab mahasiswa serempak.


Melihat dari pakaian, menggunakan rok hitam berenda di padu padan dengan blazer hitam. Mahasiswa ini, yakin beliau adalah seorang dosen .


Ica menoleh kearah pintu, "Hah... Oh, my God, Mengapa harus dia dosen saya?" Gumam Ica.


"Perkenalkan saya Jasean, Biasa di panggil Miss Sean. Saya lulusan S1 di universitas I, dan S2 di salah satu universitas di negara J. Saya di sini menggantikan Prof. Khairul yang berhalangan hadir." Kata Miss Sean.


Ica hanya menunduk. "Mengapa harus dia?" Berulang Ica mengumpat dalam hati.


"Sekarang saya absen kalian terlebih dulu, biar kita saling mengenal." Ujar Miss Sean.


"Baik, Miss." Jawab mereka serentak.


"Adiantoro nugroho." Kata Miss Sean memulai absennya.


"Hadir, Miss." Jawab seorang memiliki nama Adi tersebut.


"Betry marcia." Lanjut Miss Sean.


"Ada, Miss." Jawab Betry.


"Agung Wijaya Kusuma." Kata Mis Sean.


"Siap,hadir Miss." Kata Agung.


"Spica Utami." Lanjut Miss Sean.


"Hadir, Miss." Jawab Ica.


Ica terpaksa melihat ke arah Sean. Ia hampir tidak semangat berkuliah hari ini. Tapi karena mengingat kedua orang tuannya di desa, ia bertahan duduk di kursi kelas ini.


Sean menatap Ica tajam, Ia mengingat-ingat di mana ia pernah bertemu gadis ini. "Hem... Ini kan gadis yang di bawa oleh Marvin kemarin," Kata Sean dalam hati. "Saingan sama dia gadis kecil? Saya rasa itu tidak mungkin, bisa saja alasan Marvin karena masih sakit hati." Ucap Sean dalam hati.


"Ok, Baiklah kita akan memulai perkuliahan hari ini. Saya mulai terlebih dahulu dengan aturan-aturan mata kuliah saya." Kata Sean tegas.

__ADS_1


"Siap, Miss." Sahut mahasiswa berbarengan.


Sean beberapa kali melirik Ica yang sedang menunduk. "Hem... Lihat saja apakah gadis kecil itu bisa bertahan di kampus ini?" Kata Sean dalam hati.


__ADS_2