
"Yang ini pas loh." Kata Dave.
"Iya." Jawab Milka.
Dave memasang kaca mata untuk Milka. Orang yang di tuju tersipu malu, Dave memperlakukan Milka dengan kelembutan.
Dave mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Milka di depan optik. Milka menyambut baik salam perkenalan dari Dave. Setelah sepanjang perjalanan mereka berdiam diri.
"Nona, nama saya Dave. Nama Nona siapa?" Tanya Dave.
"Saya Milka Tuan." Kata Milka.
"Milka, nama yang cantik. Hem, terlalu formal dong kalau panggil Tuan. Biar lebih akrab panggil apa aja deh, Kakak atau sejenisnya." Pinta Dave.
"Baiklah, Kak Dave." Kata Milka.
"Putri, temanmu itu sepertinya dari kalangan biasa-biasa saja. Bedalah dengan kamu, kok kamu mau berteman dengannya?" Pancing Dave.
"Anda salah Tuan. Eh, Kak maksud saya. Pertama kami berteman, Ica memang dari desa. Ia menceritakan kalau keluarganya memang tinggal di desa. Saya senang dengan kepribadiannya dan kami menjadi sahabat.
Beberapa waktu kemudian menurut cerita Ica, ia bertemu dengan keluarga kandungnya. Mereka orang terkaya di negara ini.
Kalau dibandingkan keluarga saya tidak ada apa-apanya di banding keluarga Ica. Tapi selama ini Ica tidak pernah membatasi persahabatan kami. Pakaiannya pun sederhana saja.
Bahkan hotel ini juga milik orang tua Ica. Dan kemarin sepertinya rekening Ica terisi banyak uang dari Ayahnya. Oh ya, saya Milka Kak bukan Putri." Jelas Milka.
"Putri di hati saya. Hem, kamu mau seperti temanmu?" Tanya Dave.
"Kalau ada rejeki nya siapa saja pasti mau. Tapi sampai sekarang Milka sudah merasa cukup dengan keadaan seperti ini." Kata Milka.
"Emang orang tuamu kerja apa?" Tanya Dave.
"Mama saya seorang psikolog, Papa bekerja di perusahaan asing." Kata Milka.
"Gadis cantik seperti kamu tentunya ingin perawatan juga. Banyak kebutuhan yang lainnya. Apa gak mau kamu bekerja sambil berkuliah?" Tanya Dave.
"Mau sih Kak, tapi kan jarang orang mau menerima karyawan masih kuliah." Kata Milka.
"Kamu mau nggak saya kasih 25Miliar mata uang negara ini, untuk satu kali kerja part time?" Tanya Dave.
"Hem, sepertinya tidak ada kerja seperti itu Kak?" Tanya Milka.
"Ada, kalau kamu mau temani saya kencan." Bisik Dave.
__ADS_1
"Jalan-jalan maksudnya Kak?" Tanya Milka.
"Iya, kita jalan dan menginap di hotel. Dan saya meminta tubuh kamu selama satu malam saja. Bagaimana?" Tanya Dave.
"Maaf Tuan, tapi saya tidak ingin mendapatkan uang dengan cara seperti yang di katakan Tuan." Kata Milka.
Dave mengangguk, selama ini ia belum pernah di tolak seorang wanita. Jangan saat ia memintanya, Dave tidak meminta pun banyak wanita yang mau sukarela memberi tubuhnya untuk di nikmati Dave.
Namun hari ini akan merubah perjalanan hidup seorang Dave George. Nampaknya ia terpesona dengan kecantikan Milka serta pribadinya yang tidak tergila-gila dengan uang.
Saat Dave melamun, Milka mengambil kesempatan pergi. Ia merasa bahwa pria yang bersamanya bukanlah pria baik-baik. Milka takut kalau dirinya diculik dan di sekap, mati tanpa di ketahui dimana jasadnya. "Ih, ngeri sekali seandainya itu terjadi." Gumam Milka dalam hati.
Saat itu juga Dave sadar kalau gadis di sampingnya sudah pergi. Ia mencari ke semua pelosok toko yang berjejer. Berkat pengalamannya menjadi mafia, tidak dibutuhkan waktu yang lama untuk menemukan Milka.
Gadis itu sedang beristirahat di bangku dan meminum es dawet. Sambil melirik kesana kemari. Dave yang memperhatikannya sejak tadi. Berjalan dengan pelan dari arah belakan Milka.
"Hey, kok pergi tanpa pamit. Mau kabur ya?" Tanya Dave.
Milka sangat kaget melihat kedatangan Dave. Tapi sebisa mungkin ia berdalih agar tidak membuat Dave marah kepadanya.
"Maaf Kak, saya tadi haus sekali. Jadi saya mencari minuman kesini." Kata Milka.
"Main cari minuman kan bisa ajak saya." Kata Dave.
Milka mencoba mengajak Dave pergi. Ia takut kalau Dave berniat jahat kepadanya. Ia juga merasa lebih aman kalau bersama dengan Ica.
"Ok, ayo kita ke mobil." Ajak Dave.
Dave memegang pergelangan tangan Ica. Ia menariknya masuk ke dalam mobil. Milka menggigil ketakutan, ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecilnya. Belum sempat Milka menelepon Ica. Dave merampas ponsel itu dari tangan Milka.
"Tuan kembalikan ponsel saya." Kata Milka.
"Buat apa menelepon, saya akan mengantarmu pulang." Kata Dave.
"Tapi, kita telah melewati hotel tadi." Kata Milka.
Dave mengerem mobil yang sedang ia kendarai. Lalu ia menarik tengkuk Milka. Membenamkan wajah Milka kedalam wajahnya. ******* benda merah mereka milik Milka.
"Tuan apa yang anda lakukan?" Tanya Milka sambil menangis.
"Makanya jangan cerewet!" Kata Dave.
"Tapi Tuan tidak berhak melakukannya. Saya hanya mengingatkan hotelnya sudah di lewati tadi." Kata Milka.
__ADS_1
"Baiklah-baiklah, berapa yang kamu minta untuk satu ciuman itu?" Tanya Dave.
"Maaf Tuan saya tidak akan menjual ciuman pertama saya." Kata Milka.
"Kalau begitu saya akan bertanggung jawab dan menikahi mu." Kata Dave.
"Maaf Tuan, lupakanlah kejadian ini. Saya tidak mungkin menikah dengan anda." Kata Milka.
"Kenapa tidak bisa?" Tanya Dave penasaran.
"Saya tidak ingin menikah dengan orang yang suka menjelajah banyak wanita." Kata Milka.
"Apa kamu bilang? Saya penjelajah banyak wanita? Hebat sekali kamu! Kamu peramal atau kamu sedang mendahului Tuhan?" Tanya Dave emosi.
Tubuh Milka gemetaran, ia hanya menangis ketakutan. Dave menyesal telah membentak Milka. Kemudian ia pelan-pelan menyentuh pundak Milka.
"Nona, Nona." Panggil Dave.
Milka memandang Dave dengan sangat takut. Ia memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Mana ponsel saya?" Tanya Milka.
"Baiklah, saya akan memberikannya pada mu. Tapi ingat kalau sampai kamu ceritakan kejadian tadi kepada sahabat mu itu, tamatlah riwayat mu." Kata Dave.
"Baiklah Tuan." Kata Milka.
"Dan satu lagi, kamu bukanlah type saya. Jadi tidak mungkin juga saya ingin menikah dengan mu. Lupakanlah." Kata Dave gengsi dengan perasaannya.
Dalam hati Dave ingin bersama Milka lebih lama lagi agar saling mengenal. Tapi melihat Milka ketakutan, ia segera mengurungkan niatnya.
Dave yang hampir tidak pernah memikirkan wanita. Ia sering merasa muak ketika ada wanita yang mendekatinya. Tapi entah mengapa seperti remaja yang sedang jatuh cinta.
Dave merasa bahagia walau sekedar memegang pergelangan tangan Milka. Padahal mereka baru saja bertemu. "Ahh, sial. Saya bisa di buat gila dengan gadis ini." Kata Dave dalam hati.
"Iya Tuan." Kata Milka.
Milka ingin membuka pintu mobil setelah mereka parkir di tempat parkir hotel. Tiba-tiba Dave mengunci pintu mobil.
"Kenapa di kunci Tuan?" Tanya Milka.
Tanpa menjawab, Dave kembali menarik tengkuk Milka. Membawa gadis belia itu kedalam pelukannya dan merasakan napas yang bertukar.
Dave tidak ingin Milka merasa lebih takut lagi. Ia rasa cukup untuk perkenalan hari ini. Misi selanjutnya ia akan rencanakan dulu, membayangkan wajah Milka dalam tidurnya nanti.
__ADS_1