Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Bagaimana Bisa Hamil?


__ADS_3

Flashback


Setelah mengetahui Ica tidak ada di sekitar mobil. Ronald menanyakan kepada keluarganya, apakah ada petunjuk mengenai orang yang mengincar Ica.


Kemudian Beni menjelaskan di depan Marvin dan semuanya bahwa Sean dan anak buahnya ingin mencelakai Ica. Karena Beni mendapat informasi langsung mengenai Sean dari mantan anak buahnya, Rengga.


Ia juga menjelaskan kalau Engga dan ibunya telah tinggal di rumah milik Pak Marjoyo, yang tidak jauh dari rumah Kediaman keluarga Adikara. Beni menyarankan agar menemui Engga terlebih dahulu untuk mengetahui markas Sean.


Mendengar penjelasan dari Beni, Ronald berangkat sendiri. Ia bertekad menuntaskan masalah ini sendiri. Terlebih ia akan menemui mantan anak buah wanita tersebut.


Mereka semua pulang segera ke rumah kediaman Adikara dengan terburu-buru. Sedang Ronald sudah melaju tanpa banyak bicara. Ia tidak menunggu semua anggota keluarga membereskan barang-barang mereka.


Dua puluh menit akhirnya Ronald tiba di depan pintu kediaman Rengga dan ibunya. Ia mengetuk pintu rumah. Ada seorang wanita setengah baya membukakan pintu.


"Maaf Bu, Rengga nya ada?" Tanya Ronald.


"Sama siapa ya?" Tanya wanita tersebut.


Ibunya Rengga seperti orang takut. Ia berbelit untuk mengatakan keberadaan Rengga. Ia seolah takut dengan orang di hadapannya ini. Ronald memang memiliki paras yang sangat kalau orang baru melihatnya.


"Bu jangan takut, saya masih keluarga Beni yang punya rumah ini. Saya butuh pertolongan Rengga, soalnya Ica adik satu-satunya Beni kembali di culik Bosnya Beni dulu. Saya ingin meminta bantuannya menunjukan markas mereka." Terang Ronald.


Mata Ibunya Rengga berbinar, ia seperti merasa bersalah dengan menghalangi pemuda ini bertemu anaknya. Karena Rengga juga telah menceritakan kebaikan keluarga Beni dan Ica yang baik hati.


"Astaga Nak, Engga ada di dalam kamar. Sebentar Ibu panggilkan." Kata Ibunya Rengga.


Tidak lama kemudian wanita itu sudah kembali dengan seorang pemuda berkaca mata yang di duga Rengga. Ronald mengulurkan tangan kepada pemuda tersebut.


"Saya Ronald, Uncle nya Beni dan Ica. Saya meminta bantuan kamu untuk menunjukan markas Sean Bos mu berada." Kata Ronald.


"Baik Kak, saya pakai jaket dulu." Kata Rengga.


Rengga kembali dari dalam kamarnya dengan jaket berwarna silver miliknya. Ia merasa bersalah jika Ica tidak bisa di temukan dengan selamat.


"Ibu, saya pergi dulu ya." Kata Rengga berpamitan.


Rengga mencium tangan Ibunya di iringi Ronald melakukan hal yang sama. Ronald kasian ibunya Rengga kalau saja anak buah Sean mengikuti mereka untuk mengancam Rengga.


"Bu, kalau kami belum kembali. Ada perlu sesuatu silahkan hubungi nomor ini, jangan keluar dulu sampai anak Ibu pulang." Kata Ronald mengingatkan.


"Iya Bu, sekarang kami lagi mengejar penjahat. Siapa tau sekarang pun ada yang mengikuti kami, tidak ada yang tau. Ibu tidak perlu keluar kalau ada yang gedor pintu." Kata Rengga.


Melihat orang tua itu sendirian, apalagi anaknya sempat tenggelam dalam dunia hitam. Ronald merasa khawatir dengan keberadaan orang tua Rengga.


"Ngga, kita antar dulu Ibu ke rumah Beni. Di sana lebih aman bagi beliau. Karena kita tidak tau jam berapa kembali." Kata Ronald.


"Baik, Kak. Ayo Kak." Ajak Rengga.

__ADS_1


Mereka mengantar Ibunya Rengga ke kediaman Adikara. Setelah menitipkan kepada Ica yang kebetulan ada di taman depan.


Ronald dan Rengga segera berlalu, Ronald menyarankan Rengga menggunakan mobil Adikara dengan supir pribadinya. Ia menyuruh Rengga untuk menunggu sebagian anak buahnya, guna waspada akan situasi. Ia menyuruh Rengga menunggu di jalan raya dekat lokasi nanti.


Setelah lebih kurang setengah jam mereka sampai di sekitar markas Sean dan anak buahnya. Semua anak buah yang ikut telah siap siaga dengan segala kemungkinan yang terjadi.


"Ngga, biar saya masuk duluan. Kamu kembali saja dekat jalan raya nanti." Kata Ronald.


"Baik Kak. Kabari saja kalau ada sesuatu yang terjadi." Kata Rengga.


"Semua akan baik-baik saja. Jika ada sesuatu kekerasan yang terjadi, sinyal akan mengirimkan ke keluarga saya dan nomor di kontak ponsel yang saya tandai. Sinyal akan mengirim pesan sendiri saat saya sedang dalam bahaya." Kata Ronald.


"Baiklah Kak, saya tunggu di luar." Kata Rengga.


Ronald masuk dengan beberapa anak buahnya. Sebagian mereka berjaga-jaga di luar ruangan. Keluarga Adikara belum tau kalau Ronald sudah membentuk genk preman di negara ini. Namun ia berhasil tidak untuk menjadikan genk ini sebagai bisnis.


Ia hanya mengajarkan ilmu yang ia agar anak buahnya berbuat baik. Mengenai biaya operasi, genk Ronal ini bisa menerima dari orang baik yang di tolong mereka. Atau bisa juga dari mereka berjualan makanan sebagai selingan.


Betapa kagetnya Ronald melihat keponakannya terikat lemas dan tidak berdaya. Jiwa mafia nya kembali terbakar saat melihat itu semua.


Ia tidak terima melihat gadis kecil yang periang itu lemas tidak berdaya. Kemudian Ronald berteriak dengan emosi sudah di ujung kepala.


Flashback Of


Barrak sudah membawa Sean ke rumah sakit. Dalam hatinya ia bertanya-tanya tentang masalah besar apa antara istrinya dan Putri George Ia sangat menghormati Harri dan saudaranya. Terlebih lagi dengan Ronald yang sedikit tidak memiliki hati.


Setelah menunggu kurang lebih dua jam. Sean di pindahkan dalam ruang perawatan. Sedangkan dua anak buah Ronald terus menjaga di sekitar pintu ruangan.


Ditambah tiga orang yang baru sampai. Mereka berpakaian seperti pembesuk biasa. Agar tidak di curigai pihak rumah sakit.


Setelah mengantar Sean dalam ruang rawat. Barrak keluar ingin melampiaskan keinginannya menghisap nikotin yang sudah menjadi candunya itu.


Belum lama Barrak menikmati barang tersebut. Tiba-tiba ponselnya berdering tertulis jelas di layar ponsel miliknya, Tuan Bos. Itu artinya Ronald lah yang menelepon.


Ia segera mengangkat panggilan tersebut. Ia ingin tau apa yang ingin di sampaikan kepada dirinya setelah insiden tadi.


"Halo, Tuan Bos." Kata Barrak dari sambungan telepon.


"Halo Barrak, saya ingin mengajak mu bicara empat mata. Ada hal penting yang ingin saya bahas. Istri tercinta mu biarkan anak buah saya yang menjaga, sehelai rambut pun tidak akan ada yang menyentuhnya." Kata Ronald.


" Baik Tuan Bos. Di mana kita bertemu?" Tanya Barrak.


"Saya dekat rumah sakit Indah Permata. Nanti kalau sudah dekat telepon lagi." Kata Ronald.


"Baiklah Bos. Saya berangkat sekarang." Kata Barrak.


Setelah sambungan telepon terputus, Ronald kembali ke dalam ruangan Ica di rawat.Di sana sudah datang seluruh keluarga begitu juga dengan Marvin. Ronald sangat bahagia bisa menjadi bagian keluarga George.

__ADS_1


Tidak ada yang menyangka bahwa ia tidak lebih dari seorang anak angkat. Ia di ambil Harris sekitar tujuh tahun waktu itu setelah kematian ibunya. Ia langsung di masukkan Harris menjadi anggota keluarganya dan memberi nama keluarga di ujung namanya.


Masih lekat di bayangan Ronald, Dave yang masih sekecil dirinya waktu itu. Ia mengambil sebuah bros emas berinisial GR yang artinya George. Ia menyerahkan bros tersebut kepadanya dan saling berpelukan.


"Terimakasih, sudah mau menjadi adik saya." Kata Dave kecil waktu itu.


Hingga kami di besarkan Harris selalu bersama-sama. Lalu ketika Harus menikah, yang sebenarnya Ronald dan Dave sudah dewasa saat itu. Harris meninggalkan beberapa perusahaan dan genk mafia terbesar yang pernah terkenal pada masa itu.


Tersadar dari lamunannya, Ronald berbalik pergi dari ruangan. Ia merasa Ica sudah aman bersama Mama nya dan kekasih keponakannya itu.


Ronald menghubungi Barrak kembali. Mereka bertemu di kafe tidak jauh dari rumah sakit tersebut.


"Silahkan duduk dulu Barrak. Tidak usah takut saya tetap menganggap mu saudara. Walaupun seandainya mati di tanganmu. Jadi maksud tidak usah sungkan." Kata Ronald.


"Iya Tuan Bos." Jawab Barrak.


Setelah duduk Barrak menyesap minuman yang sudah di pesan oleh Ronald. Ia ternyata sangat haus setelah tenggorokannya sedari pagi tidak terkena air sedikit pun.


"Ada apa Tuan Bos memanggil saya?" Tanya Barrak semakin penasaran.


"Tenangkan dirimu dulu. Saya harap kamu tidak putus asa setelah mendengar hal ini. Saya ingin bertanya kepada mu Barrak." Kata Ronald.


"Iya Tuan Bos mau tanya apa?" Tanya Barrak.


"Apa kamu sangat mencintai istrimu, Sean?" Tanya Ronald kemudian.


"Iya Tuan Bos, saya sangat mencintainya. Memangnya ada apa Tuan Bos?" Tanya Barrak lagi.


"Apa benar dia sedang hamil sekarang?" Tanya Ronald.


"Iya Tuan Bos. Saya sendiri menemaninya ke klinik waktu itu." Kata Barrak.


"Barrak walaupun ini menyakitkan, saya akan mengatakannya kepadamu. Jika memang istrimu setia kepada mu, maka mustahil dia bisa hamil. Kalau dia memang sedang hamil sekarang, anak siapa dalam kandungannya?" Tanya Ronald penuh selidik.


Wajah Barrak berubah menjadi pucat. Ia meneliti kembali maksud dari ucapan Ronald. Setelah menarik napas panjang akhirnya ia mengeluarkan suaranya dengan berat.


"Memangnya kenapa Tuan Bos?" Tanya Barrak pelan tanpa tenaga.


"Sebelumnya saya mau meminta maaf. Namun kamu ingat waktu kita berkelahi dan bagian perutmu kena peluru? Setelah itu kamu di operasi selama sebelas jam. Untuk menyelamatkan nyawa mu kami sebagai keluarga harus mengambil keputusan yang sangat berat. Bahwa dokter harus memutus saluran sper-ma milikmu." Kata Ronald dengan nada berat.


Ia ikut sedih melihat Barrak seperti sekarang ini. Ia lebih terlihat lemas di banding dengan menerima ancaman dari Ronald siang tadi.


"Lalu Sean hamil anak siapa?" Kata Barrak sangat pelan.


Wajahnya telah menempel di atas meja. Air mata laki-lakinya akhirnya keluar juga. Begitu sakit Barrak rasakan setelah pengorbanannya selama ini. Barrak masih bisa menerima kalau Sean tidak bisa hamil atau dirinya tidak bisa memberi keturunan.


Ia akan membahagiakan Sean dengan cara lain. Tapi sekarang, Ia merasa Sean telah benar-benar menghianati nya.

__ADS_1


__ADS_2