Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Persiapan Ke Villa


__ADS_3

Setelah selesai mengantar Elvita. Marvin dan Ica segera menuju kediaman Adikara. Rencananya setelah beristirahat sejenak, mereka akan pergi untuk menginap di villa milik keluarga Wiraarga.


Mereka akan memberi tahu tentang rencana pernikahan kepada Bi Murti dan Mang Tardi. Beni dan Sera akan ikut serta, sedang Uncle Dave dan Ronald akan stay di rumah.


Beni melaju pelan, karena sore hari jalanan macet padat merayap. Tiba-tiba ponsel Ica berdering, tertulis Kak Beni di layar ponsel.


"Halo Kak, ada apa?" Tanya Ica.


"Dek, kalian sudah di mana? Apa belum lewat rumah Sera?" Tanya Beni.


"Ini sebentar lagi melewati kediaman Sera Kak. Memangnya kenapa Kak?" Tanya Ica.


"Oh, kalau nggak keberatan minta tolong mampir dulu Dek. Sekalian jemput Sera karena Kakak masih di kantor sekarang." Kta Beni.


"Iya Kak, nanti kami ke rumah Sera dulu. Kakak chat lah Kak Sera agar siap-siap." Kata Ica.


"Dia udah nunggu dari tadi Dek. Nanti Kaka telepon kalau kalian yang jemput." Kata Beni.


"Baiklah Kak." Jawab Ica.


"Eh tunggu, jangan lupa bilang sama Marvin telepon bodyguard yang mengiringi kalian agar ikut berhenti. Kakak takut kalian kenapa-kenapa." Kata Beni.


"Iya Kak." Kata Ica.


Beni memutuskan sambungan telepon. Sedangkan Ica menyampaikan percakapannya kepada Marvin. Lebih kurang lima menit mereka sudah tiba di depan gerbang kediaman keluarga Mehana.


Penjaga rumah membuka gerbang dan mempersilahkan tamunya masuk. Karena satpam rah yang bertugas sudah mengenal mobil milik keluarga Adiknya tersebut. Lewat CCTV satpam biasanya memastikan apakah kendaraan yang datang di kenalnya.


"Terimakasih Pak." Kata Marvin menyapa satpam rumah Mehana.


"Iya Tuan." Jawab satpam itu.


Marvin telah parkir di halaman keluarga Mehana. Saat hendak melangkah ke pintu utama untuk memencet Bel, Redi kakak laki-laki Sera muncul dari arah garansi.


"Selamat sore Bro. Wah, ada apa nih tumben datang kemari setelah sekian lama." Kata Redi tersenyum.


"Iya Bang, saya ke sini untuk meminta izin untuk menjemput Sera. Soalnya Kak Beni tadi menelepon kami." Kata Marvin.


"Oke, oke. Beni tadi juga sudah menelepon saya juga. Tapi saya tidak Terima kalau kalian mampir namun tidak masuk ke rumah dulu, seperti orang lain saja." Kata Redi.


"Baiklah Kak. Jangan sampai Kakak berkecil hati." Jawab Marvin.


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah, duduk di ruang tamu. Sera mengambilkan empat botol minuman dingin buat mereka.

__ADS_1


"Sudah lama sampainya Kak?" Tanya Sera.


"Baru Sera, ini kami baru datang." Kata Ica.


Marvin dan Ica meminum suguhan tuan rumah. Marvin juga mengambil makanan ringan dari dalam toples. Sedang mobil bodyguard mereka masih parkir di halaman rumah.


"Maaf Bang kami tidak bisa lama-lama karena sebentar lagi magrib, jalanan pasti sepi. Kami mohon pamit." Kata Marvin.


"Ini kota Vin, biasanya dulu kamu ya pulang lewat tengah malam." Sanggah Redi.


"Iya, saya juga mengerti Bang. Tapi saya harap Abang dan Sera agar tetap berhati-hati. Apalagi setelah Sera menjadi kekasih Kak Beni. Nampaknya ada yang ingin mengadakan penyerangan bagi keluarga Adikara." Jelas Marvin.


"Masa iya Vin? Apa benar begitu?" Tanya Redi.


"Itulah Kak, tadinya saya tidak percaya. Namun sudah berapa kali kami di ikuti kendaraan yang tidak di kenal. Baik kendaraan roda dua maupun roda empat.


Lebih parahnya, kemarin saat kami mau pulang ke rumah. Kami di serang hingga belakang kena tembakan. Mobil Kak Beni yang kami pakai masih di bengkel." Kata Marvin.


"Kalau begitu ceritanya berangkatlah Vin. Titip Sera." Kata Redi.


"Red, Red... Kayak Sera itu siapa saja, dia adik perempuanku juga. Karena nenek kita sekandung." Kata Marvin.


"Iya Vin." Jawab Redi merasa bersalah.


"Iya sayang hati-hati, dan jaga diri." Kata Redi.


Redi mengantar sampai ke halaman rumah. Marvin mempersilahkan Sera masuk. Setelah itu ia mau masuk ingin menyetir. Tapi Ica sudah duduk manis di depan kemudi.


"Ca, sini biarlah abang yang nyetir." Pinta Marvin.


"Biar Ica saja yang nyetir Bang, nanti kalau Ica nggak nyetir bisa mabuk kepayang." Kata Ica.


"Baiklah, tetap hati-hati ya." Kata Marvin.


Marvin terpaksa duduk di samping Ica yang sedang menyetir. Sekitar setengah jam mereka telah tiba di kediaman Adikara. Mobil bodyguard yang menjaga dari belakang sudah pulau arah saat memasuki komplek tersebut.


Sera menarik nafas panjang, setelah ia sangat cemas saat Ica mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Ia perlahan menangkan dirinya. Mereka bertiga masuk ke ruang tamu.


Di sofa ruang tamu ada Dave sedang membaca majalah. Dave menoleh kepada keponakannya.


"Sore Uncle, kami datang." Kata Ica.


Ica mencium tangan Dave, di ikuti oleh Marvin dan Sera. Mereka bertiga duduk melingkari Dave.

__ADS_1


"Mana Kak Beni, Uncle?" Tanya Marvin.


"Beni belum pulang dari kantor. Paling sebentar lagi." Kata Dave.


Mereka mengobrol santai di ruang tamu. Tidak berselang lama sebuah mobil parkir di halaman depan. Dari dalam mobil keluar seorang gadis dengan pakaian casual.


"Milka?" Ica menutup mulutnya.


"Iya, saya tadi ke rumah kamu. Tapi kamu tidak di rumah. Makanya saya berinisiatif ke sini." Kata Milka.


"Ayok kita masuk yuk, ada Sera juga di dalam." Kata Ica.


Ica membawa Milka ke ruang tamu, dimana Marvin, Sera, dan Dave berbincang. Sudut mata Milka bertemu dengan mata Dave. "Astaga, orang itu lagi." Kata Milka dalam hati.


"Milk, ini kenalkan Sera temannya Kak Beni. Dan ini Uncle Dave, dia baru pulang dari luar negeri." Kata Ica.


"Ica, kan kemarin sudah kenalan di halaman hotel." Bisik Milka.


"Oh, iya benar. Uncle ini teman Ica kemarin." Kata Ica.


Setelah mengenalkan Milka kepada semua orang di rumahnya. Ica mohon pamit mempersiapkan diri dan keperluan yang akan di bawa ke Villa.


"Maaf ya Ser, Mil. Saya tinggal sebentar untuk menyiapkan apa saya yang akan kita bawa." Kata Ica.


"Iya nggak apa-apa." Jawab Sera.


Milka hanya menunduk diam, sekali-kali Dave melirik kearahnya. Marvin terlihat ngobrol dengan Dave. Sekitar setengah jam kemudian, mobil Beni akhirnya parkir di halaman.


"Sore Uncle, sore semuanya. Apa barang-barang yang mau di bawa telah di siapkan?" Tanya Beni.


"Belum Kak, Ica lagi mempersiapkan barang-barang yang akan di bawa." Kata Marvin.


"Baiklah, kalau sudah selesai kita berangkat. Oh, iya kebetulan ada Milka. Apa kamu mau ikut kami ke Villa milik keluarga Wiraarga?" Tanya Beni.


"Boleh Kak, kebetulan kami lagi libur." Jawab Milka.


"Baiklah, masalah pakaian. Pinjam milik Ica ada banyak." Kata Beni.


"Iya Kak, saya ke kamar Ica dulu." Jawab Milka sambil berlalu.


"Uncle, ini kesempatan yang baik." Bisik Beni kepada Uncle Dave.


"Terimakasih Tuan." Kata Dave tertawa cengengesan.

__ADS_1


"Baiklah.Vin, Uncle saya pergi ganti pakaian terlebih dulu. Dan membersihkan diri sejenak." Kata Beni sambil berlalu ke arah kamarnya.


__ADS_2