
"Baiklah kalau kamu tidak percaya akan perasaan saya, tapi izinkan saya membuktikannya kepada mu." Kata Dosen Engga memegang tangan Ica.
"Maaf Pak, malu di lihat orang." Kata Ica.
"Yah sudah, ayo kita kembali ke kampus." Dosen Engga mempersilakan Ica berjalan di depannya.
"Spica, siang nanti setelah mata kuliah kamu selesai, saya tunggu di taman dekat jembatan merah." Kata Dosen Engga.
"Tapi kenapa Pak?" Tanya Ica.
"Tidak apa-apa, hanya ingin ngobrol saja sama kamu." Kata Dosen Engga.
"Iya Pak." Kata Ica.
Ica berniat langsung pulang nanti sehabis mata kuliah. Ia merasa tidak enak hati jika terlihat dekat dengan Dosen yang memegang mata kuliah di kelasnya.
**********
"Halo, Tante Lusi?" Sapa seseorang dari sambungan telepon.
"Halo... Iya, ini siapa? Nak Beni?" Tanya Bunda Lusi.
"Iya Tante, Ica di rumah Tante?" Tanya Beni.
"Ica belum pulang dari kuliah Nak. Ada apa Nak Beni?" Tanya Bunda Lusi.
"Beni mau jemput Ica sebentar Tan, Mama mau ketemu. Nanti malam Beni antar lagi ke rumah Tante." Kata Beni sopan.
"Nanti kalau Ica sudah pulang Tante kabari." Kata Bunda Lusi.
"Tidak usah Tante, sekalian Beni jemput Ica ke kampus saja." Kata Beni.
"Oh, iya. Baiklah kalau begitu." Jawab Bunda Lusi.
Setelah sambungan telepon terputus. Beni siap menjemput Ica. Sekalian Ia sudah lama tidak berkunjung ke universitas milik yayasan yang di bentuk oleh Ayahnya itu.
Tidak banyak orang mengetahui bahwa ia adalah anak pemilik universitas. Karena Beni sering menyembunyikan identitas dirinya.
"Gimana Ben?" Tanya Mama Diana.
"Ica masih di kampus Ma." Kata Arbeni.
"Jemput lah dia pulang, Mama kangen sama anak gadis Mama." Nyonya Diana meneteskan air mata.
"Iya Ma, ini rencananya memang Beni mau ke yayasan." Kata Beni.
Beni segera menghidupkan mobilnya. Ia melajukan mobilnya pelan sampai keluar dari komplek rumahnya.
************
Ica masuk ke kelas bersama Milka dan teman-teman yang lain. Ia memikirkan untuk menemui Dosen Engga atau tidak setelah mata kuliah ini.
"Mil, tadi Ica di minta menemui Dosen Engga setelah mata kuliah ini. Temui atau enggak ya?" Tanya Ica kepada sahabatnya.
"Ica, Ica. Ya temui lah, saya lihat Dosen Engga pribadinya baik, ganteng lagi. Sepertinya dia suka sama kamu Ca." Kata Milka mengingat-ingat wajah Dosen Engga.
__ADS_1
"Oh, gitu ya." Kata Ica.
Secara normal memang benar yang di katakan Milka, Dosen muda itu sangat memukau di kalangan dosen maupun mahasiswa.
Lelaki yang memiliki tinggi sekitar 170cm dan menggunakan kaca mata, dengan kulit kuning langsat. Menambah pesona di kalangan kaum hawa.
"Baiklah, saya akan mencoba menemuinya nanti." Jawab Ica.
"Gitu dong, semangat." Kata Milka.
"Iya." Jawab Ica lemas.
"Bentar lagi ada yang jadian nih." Goda Milka.
"Hus, apa-apaan. Enggak tau, Ica takut kalau nilai Ica nggak di loloskan nantinya." Jelas Ica.
"Yak ampun, malang sekali nasib sahabatku ini." Kata Milka sambil ketawa.
"Hem." Ica menjawab sambil tersenyum.
Pelajaran mata kuliah ini juga akan mengadakan ujian tengah semester. Ica sangat teliti mengerjakannya.
Ia ingat sama Ibu Bapaknya yang di kampung. Bagaimanapun juga ia memang lebih berat menyayangi Ibu Asmi dan Pak Marjoyo.
Ica mengumpulkan ke depan kelas paling terakhir. Ia memeriksa kembali seluruh jawabannya.
"Pak, ini sudah selesai." Kata Ica kepada dosen yang mengawas ujian.
"Ok." Jawab Prof Dimantoro.
"Spica, tunggu." Kata seseorang dari belakang.
"Astaga, seperti setan ada diman-mana." Gumam Ica.
"Hai, Ica. Kamu lupa menemui saya ya?" Kata Dosen Engga.
"Saya tidak lupa Pak, tadinya saya mau beli minum dulu." Jawab Ica kesal.
"Baiklah saya temani." Kata Dosen Engga.
Satu hari belum terlewatkan, tetapi perasaan Dosen Engga sudah di buat tak karuan oleh Ica, "Mengapa saya lebih nyaman bersama gadis ini, dibanding bersama Sean?" Kata Dosen Engga dalam hati.
Dosen Engga berjalan di belakang Ica menuju kantin. Ia tidak berbicara dengan Ica satu kata pun. "Kalau seperti ini, bukan dia yang jatuh cinta sama saya. Malah saya yang tidak bisa jauh darinya." Gumam Dosen Engga.
"Dek ambilah, mau minum apa?" Kata Dosen Engga saat mereka tiba kantin.
"Saya beli air mineral saja Pak." Kata Ica sudah membayar minumnya.
Dosen Engga mengambil beberapa makanan ringan. Ia sangat bahagia bersama Ica, karena biasanya Sean hanya mau makanan yang ada di ruang VIP.
"Minum saya, sudah saya bayar Pak." Kata Ica.
"Sayang kok gitu?" Kata Dosen Engga tanpa sadar.
"Pacar barunya Pak Dosen?" Kata salah satu yang makan di kantin.
__ADS_1
"Masih dalam proses." Kata Dosen Engga.
Ica mengikuti Dosen Engga menuju taman kampus. Sean sudah menunggu di bangku taman.
"Oh, jadi seperti ini mahasiswi dari kampung? Saya sudah tau siapa kamu." Kata Ica menunjuk muka Ica.
Dosen Engga merasa ini tidak menjadi bagian dalam rencana mereka. Tidak ada kesepakatan bahwa Sean boleh ikut campur dalam membuat Ica mencintainya. Tapi Dosen Engga masih berdiam diri.
"Jadi kamu tidak punya uang untuk sekedar membeli air minum?" Kata Sean.
"Maaf Miss, saya membeli air ini dengan uang saya." Kata Ica.
"Uang Marvin. Iya?" Kata Sean pedas.
"Walaupun saya di kasih, tapi halal kok." Jawab Ica.
"Jadi halal, merebut kekasih orang? Dua kali lagi." Kata Sean hendak menampar Ica.
"Sean cukup perlakuanmu sudah keterlaluan," Kata Dosen Engga.
"Ica silahkan pulang, atau mau saya antar kan?" Kata Dosen Engga menawarkan diri.
"Tidak usah Pak." Kata Ica menahan air matanya.
Dari kejauhan seseorang memperhatikan perkelahian itu. Ia mendekat kepada Ica.
"Ica, kok kamu ada disini? Bersama mereka?" Tanya Beni yang sebenarnya mendengar adiknya direndahkan.
"Iya Kak, tadi Dosen Engga mengajak Ica kesini. Ketemu Miss Sean." Kata Ica tidak ingin mengadu.
"Jadi bukan lagi kakak tingkat membully adik tingkat. Sekarang Dosen kepada mahasiswanya? Bagus! Hebat kalian." Kata Arbeni.
Dosen Engga dan Sean hanya berdiam diri. Mereka takut di laporkan ke rektor ataupun kepada yayasan.
Mereka tidak tau kalau Beni adalah pemilik universitas ini. Dan juga tidak tau kalau Ica adalah ading kandung Beni. seingat Sean Beni adalah anak tunggal.
"Kak mereka Dosen Ica, nanti nilai Ica tidak di luluskan." Bisik Ica kepada Beni.
"Oh, Jadi kalian dosen disini?" Tanya Arbeni.
"Iya, saya Dosen baru disini ." Kata Dosen Engga.
"Iya Kak, setelah Sean lulus S2 di luar negeri kemarin, Karena Ayah Sean kenal baik dengan rektor, jadi Sean mengajar disini." Kata Sean mendekati Arbeni.
"Kalian hanya Dosen di sini, Jadi bekerjalah dengan baik." Kata Arbeni.
"Iya Kak, Sean senang Kakak tidak marah lagi dengan Sean." Kata Sean manja.
"Ini Spica utami Adikara, anak pemilik yayasan Adikara Merdeka. Karena universitas ini dalam naungan yayasan, itu artinya universitas ini milik dia juga. Dan saya Arbeni Adikara kakak kakak kandung dari Spica," Kata Beni emosi.
"Berpikirlah, apa pantas kalian berlaku seperti tadi kepada pemilik universitas tempat kalian bekerja?" Kata Beni.
"Maafkan kami Pak Beni, memang saya yang mengajak Spica ke sini tadi." Kata Dosen Engga.
"Dan kamu Sean, cukup saya yang kamu sakiti waktu itu. Jangan pernah kamu sentuh adik saya." Kata Arbeni tegas
__ADS_1
Beni menarik tangan Ica. Ia baru sadar bahwa Mama Diana menunggu mereka pulang.