Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Teror Siang Hari


__ADS_3

Dua motor gede dengan empat orang yang menumpanginya. Memperhatikan mobil Ica yang terparkir di tepi jalan.


Setelah melihat nomor polisi di belakang mobil Ica dan mereka memotretnya. Setelah itu mereka pergi, empat orang tersebut menggunakan serba hitam.


"Bang, ada orang memperhatikan kita." Kata Ica.


Marvin yang kaget, ia melepaskan mainannya dan menutupnya kembali. Ia melajukan mobil mengikuti motor yang yang mencurigakan itu.


Setalah agak jauh ternyata mereka meluncur ke tempat yang lebih sepi. Sadar Marvin mungkin ini jebakan, mengingat Ica bukan lagi orang biasa. Dan mobil yang mereka bawa cukup mahal harganya.


Marvin segera putar arah. Menuju jalan poros yang di lewati banyak orang. Setelah merasa aman, Ia memperlambat kecepatan mobilnya.


"Bang, siapa itu tadi?" Tanya Ica.


"Nggak tau sayang." Jawab Marvin.


"Mengapa ya mereka mengincar kita tadi? Ica merasa mereka ingin menjebak kita." Kata Ica.


"Iya sayang, mungkin karena sekarang kamu anak seorang presdir." Kata Marvin.


Marvin tersenyum ke arah Ica. Ia mengelus rambut Ica dengan lembut.


"Hehe, sekarang uang Ica hanya 150ribu saja." Kata Ica.


Ica mengeluarkan dompetnya. Menghitung satu lembaran pecahan sepuluh dan lima ribuan dari dalam dompetnya.


"Taraahh, inilah uang Ica. Terus mereka mau minta apa?" Kata Ica.


"Sayang, mereka tidak akan meminta uang sama mu . Tapi meminta uang kepada Pak Hendro Papa mu." Kata Marvin.


"Berarti menjadi orang kaya, lebih berbahaya dari pada orang sederhana ya Bang?" Tanya Ica.


"Iya, bisa dikatakan seperti itu. Mereka rentan jadi korban.Tapi kalau orang kaya dari mafia, mereka akan menghabisi banyak korban." Kata Marvin.


"Iya, Ica mengerti sekarang mengapa Kak Beni dan Papi selalu menginginkan Ica memiliki bodyguard." Kata Ica.


"Abang punya ide." Kata Marvin.


"Apalagi Bang?" Tanya Ica.


"Bilang sama Om hendro, biar Abang jadi bodyguard kamu. Biar aman, juga dapat uang jajan dari gaji Abang nantinya." Kata Marvin.


"Hehe, Iya juga ya." Jawab Ica.

__ADS_1


"Iya kan? Sekali mendayung empat pulau terlampaui." Kata Marvin tergelak.


Marvin berniat menemui Beni. Ia ingin membicarakan hal serius mengenai, ada orang yang ingin mencelakakan Ica.


"Sayang nanti kamu mau diantar kemana? Rumah Kak Beni atau rumah Bapak?" Tanya Marvin.


"Rumah Bapak Bang." Jawab Ica.


"Baiklah." Jawab Marvin.


Marvin mengantar Ica ke rumah Pak Marjoyo. Setelah berpamitan kepada Ibu Asmi dan meminjam mobil milik Ica tersebut.


Marvin melajukan mobil ke rumah Beni. Kurang dari lima menit Ia telah sampai ke rumah Beni. Karena jarak antara rumah Pak Marjoyo dan rumah kediaman Pak Hendro hanya berjarak satu kilometer.


Marvin memarkirkan mobilnya dihalaman rumah. Ia mencoba memencet bel rumah, tidak lama kemudian pintu rumah di buka oleh seorang pembantu.


"Selamat siang Den? Nyari Non Ica?" Tanya Bi Tuti.


"Bukan Bi, Kak Beni nya ada?" Tanya Marvin.


"Ada Den di kamar. Silahkan duduk dulu, saya panggilkan." Kata Marvin.


"Baik Bi." Jawab Marvin.


Beni sedang tidur di kamarnya lantai atas. Ia mendengar suara pintu di ketuk. Ia bangun dan menuju pintu. Di lihatnya ada Bi Tuti di depan pintu.


"Ada Den Marvin di bawa, Den." Kata Bi Tuti.


"Tumben anak itu kemari," Gumam Beni.


"Iya Bi, saya turun. Tolong buatkan minum Bi." Kata Beni.


"Baik Den." Jawab Bi Tuti.


Bi Tuti menuruni anak tangga. Beni pun mengikuti di belakang. Ia penasaran ada hal apa Marvin menemuinya seorang diri. Padahal ia ke rumah pasti dengan Ica.


"Selamat sore Kak." Sapa Marvin.


"Selamat sore Vin." Kata Beni.


Marvin mengulurkan tangan, menjabat tangan Beni. Setelah itu Marvin duduk lagi di tempat semula. Beni pun ikut duduk di sofa tepat di depan Marvin.


"Ada apa Vin? Kok datang ke sini tidak bersama Ica?" Selidik Beni.

__ADS_1


Beni menaruh kecurigaan dan ke khawatiran tersendiri. Melihat wajah Marvin sepertinya sangat cemas.


"Iya Kak, saya di kesini minta bantuan Kakak." Kata Marvin.


"Bantuan apa Vin? Saya pasti membantu semampu saya." Kata Beni.


"Begini Kak, saat Saya dan Ica mau pulang ke sini. Memang salah saya membawa Ica berjalan-jalan melewati pantai. Tiba-tiba ada dua motor gede mengikuti kami dan sempat memotret nomor polisi mobil ini. Mereka mengarahkan kami untuk mengejarnya, namun saya sadar ini terlalu bahaya. Akhirnya saya putar balik melewati jalan poros." Jelas Marvin.


"Tapi saya tidak memiliki musuh Vin." Kata Beni.


"Saya juga tau Kak, tapi yang saya takutkan ada orang yang memanfaatkan Ica dan Pak Marjoyo. Terlebih mereka masih sangat polos, tidak mengerti banyak orang jahat di kota." Kata Marvin.


"Kalau menurut mu bagaimana Vin? Saya tidak ingin kehilangan adik saya untuk kedua kalinya. Dan juga jika itu terjadi sama Bapak dan Ibu, tentu jiwa Ica juga akan terguncang." Jelas Beni.


"Beri mereka penjagaan, kalau perlu berikan bodyguard untuk mereka." Kata Marvin.


"Hem. Gimana kalau Ica, Bapak dan Ibu tinggal di sini saja sampai situasi aman. Di rumah ini kan sepi juga, saya pergi pagi pulang malam. Papi Mami belum tentu pulang selama enam bulan ini." Kata Beni.


"Menurut begitu lebih baik. Kak juga bisa melihat kegiatan Ica sehari hari." Kata Marvin.


"Iya Vin. Sebentar, saya telepon Papa." Kata Beni.


"Silahkan Kak." Jawab Marvin.


Beni membuka ponselnya dan mencari kontak Papinya. Kemudian Ia menekan tombol warna hijau.


"Halo, Kenapa sayang? Tumben telepon sore-sore?" Jawab Mama Diana dari sambungan telepon.


"Iya Ma, ada hal penting yang harus di bicarakan. Papi ada?" Tanya Beni.


"Ada Nak. Ini kami mendengar suaramu." Kata Mama Diana.


Beni menceritakan kejadian yang di alami Ica tadi siang. Pak Hendro dan istrinya sepakat kalau Ica dan Bapak Ibu Marjoyo tinggal dulu di rumah mereka mengingat kondisi yang tidak aman.


"Malam ini juga, jemput Ica serta Ibu Bapaknya ke rumah. Terimakasih ya Nak." Kata Mama Diana.


"Iya Ma, kami akan ke sana sekarang. Di sini masih ada Marvin Ma."


"Sampaikan salam kami sama Marvin ya. Dadah." Kata Mama Diana.


"Oke Ma. Sampai jumpa." Kata Beni.


Setelah mematikan sambungan telepon. Beni kembali ke tempat duduknya.Ia mengajak Marvin ke rumah Ica kembali. Beni meminta Marvin untuk membantu Ica mengemasi pakaian.

__ADS_1


Beni juga meminta bantuan sopir dan Pak Ujang untuk membantu apabila ada barang yang ingin di bawa. Hal ini dilakukan keluarga Pak Hendro karena mereka sangat takut kehilangan putri mereka untuk kedua kalinya.


Beni memasukan mobil Ica ke dalam garasi sebelum mereka pergi. Ia untuk sementara waktu tidak ingin menggunakan mobil tersebut karena takut ada orang mengincarnya atau Ica.


__ADS_2