
Acara resepsi telah selesai. Semua tamu undangan telah pulang kecuali keluarga besar dari Wiraarga dan Ardikara. Mereka masih terlihat berbincang-bincang di sekitar aula dan dalam rumah kediaman Ardikara.
Saat mereka sedang berbincang di ruang tamu. Ica yang duduk di sebelah Arbeni dengan pelan mencubit lengan Kakaknya. Ia membisikkan sesuatu ke pada pemuda tersebut.
"Apa Dek?" Tanya Beni berbisik.
"Itu loh yang tadi saya mau ceritakan sama Kakak. Apa Kakak punya waktu sekarang?" Tanya Ica balik.
"Iya, ceritakan saja." Kata Ica.
"Tidak di sini Kak." Kata Ica.
Ia menarik tangan Beni ke arah taman belakang. Mereka duduk di situ, Beni serius menunggu sesuatu yang ingin di sampaikan oleh adiknya.
"Kak, saya takut kalau menceritakan hal ini pada Papa dan Mama. Takut mereka melarang Ica dekat lagi dengan Bang Marvin." Kata Ica.
"Memangnya kenapa Dek?" Tanya Arbeni.
Ica menceritakan komplotan Sean yang selama ini ingin mengincarnya. Ica juga menceritakan bahwa Sean berencana membunuh dirinya.
"Kak Beni ingat kan sama Dosen Rengga yang bertemu sama Kakak di kampus waktu?" Tanya Ica.
"Hem, yang mana ya?" Beni mengingat-ingat.
"Itu teman Sean waktu menjadi dosen. Kata Dosen Engga dia sekarang sudah menjadi orang kaya. Dan menjadi istri pemilik perusahaan di luar negeri." Jelas Ica.
"Kenapa dia ingin menyakiti mu?" Tanya Beni semakin tidak mengerti.
"Menurut Kak Engga, Sean ingin kembali kepada Bang Marvin dengan memanfaatkan kekayaan suaminya." Kata Ica kemudian.
"Jadi yang membawamu kemarin dosen cecunguk itu? Awas saja dia ya!" Beni mengepalkan tangan.
"Tapi Kak, memang dia bersalah. Tapi kalau dia tidak membawa saya pergi malam itu. Anak buah Sean yang lain akan menculik saya juga. Mereka menghabisi nyawa saya, kami pergi karena kami di kejar oleh komplotan Sean." Kata Ica.
"Kenapa kamu nggak bilang dari tadi. Biar Kakak habisi saja laki-laki tidak berguna itu. Salahnya dia bergabung dengan kelompok penjahat." Kata Arbeni emosi.
"Kak, tenang dulu Dosen Engga melakukan ini karena ia terpaksa berhutang kepada Sean. Ia terpaksa berhutang untuk biaya operasi ibunya. Karena pada saat ibunya masuk rumah sakit, bersamaan dengan itu ia di pecat dari pekerjaannya di yayasan kita.
__ADS_1
Dia sempat menelepon saya tapi karena nomor baru tidak saya angkat. Kak, mengertilah Dosen Engga telah menyelamatkan nyawa Ica. Ia juga sangat sopan memperlakukan Ica." Ica memohon kepada Beni.
Beni mengusap kepalanya dengan kasar. Ia sedang berpikir keras tentang keselamatan adiknya sedang di ujung tanduk. Kepada siapa ia harus percaya, tidak mudah baginya seperti Ica.
Gadis itu selalu merasa kasian kepada orang lain. Walaupun orang tersebut bisa saja membahayakan dirinya.
"Baiklah, tapi izinkan saya yang menemui dosen cecunguk itu. Jangan sampai ia ingin bermain-main dengan saya. Bila perlu saya akan memberi perhitungan dengan Sean wanita sialan itu." Ucap Beni geram.
"Iya Kak terimakasih. Saya takut Sean berbuat nekad dengan Dosen Engga dan ibunya." Kata Ica.
"Saya akan berangkat menemui dosen sial setelah ini. Kamu telepon dia di mana bisa ketemu." Kata Beni.
Ica dan Beni segera masuk ke rumah. Beni akan bersiap menemui Rengga setelah Ica meneleponnya nanti.
Ica selesai menelepon Dosen Rengga. Beni segera berpamitan kepada keluarga yang ada di rumah. Melesat keluar rumah, tidak lupa ia menghubungi beberapa bodyguardnya terlebih dulu.
Tidak sampai lima menit Beni sudah sampai di tempat mereka janjikan. Tempat itu sangat sepi. "Mengapa dia mengajak ketemuan di sini?" Pikir Arbeni.
Hanya berselang beberapa menit akhirnya orang yang di tunggu datang juga. Pemuda itu datang menggunakan sepeda motor. Ia datang seorang diri, namun Beni tetap waspada. Hal yang ia takutkan adalah pria ini membawa genk nya. Menipu adiknya agar di kasihani.
Pria itu mendekati Beni, sepertinya benar-benar seorang diri. Beni mempersilahkan Rengga naik kedalam mobilnya. Ia juga menyuruh seorang anak buahnya membawa motor milik Rengga.
"Tidak usah takut bro. Selama kamu tidak melakukan kejahatan, bersama saya cukup aman." Kata Beni.
"Iya Kak. Terimakasih." Jawab Rengga sedikit lega.
"Coba ceritakan dengan jujur kenapa kamu bisa menculik adil saya. Dan apa salahnya Spica hingga kamu melakukan hal kejam seperti itu?" Selidik Beni.
"Ica tidak ada salah apapun Kak. Kebaikannya lah yang sudah menyadarkan saya." Kata Rengga.
Rengga menceritakan secara runtut dari awal Sean menyuruh menculik Ica. Bahkan Sean menyuruh untuk menghabisi Putri Ardikara tersebut.
Ia juga menceritakan keberadaan Sean dan anak buahnya yang lain. Dimana markas mereka berada. Bahkan rumah kediaman Sean pun di beritahu oleh Rengga.
Dosen muda itu juga menceritakan awal mulai bagaimana ia bisa berhutang pada Sean. Dan kehidupan Sean yang berubah drastis saat menikah dengan laki-laki kaya dari negara seberang.
"Baiklah Rengga karena permohonan dan kebaikan Ica, aya berada disini. Jadi tolong jangan ulangi lagi kepada adik saya. Karena dia selalu berbuat baik pada mu.
__ADS_1
Bahkan ia sendiri memberikan uang tabungannya pada saya untuk melunasi hutangmu. Berapa hutang mu semuanya pada wanita brengsek itu?" Tanya Beni.
"Saya berhutang budi sama Ica Kak. Nanti kalau saya sudah bekerja lagi, saya akan mencicilnya. Hutang saya sebesar 250juta Kak." Kata Rengga.
"Ica tidak minta di kembalikan. Kamu hidup tenang bersama ibu mu, Ica sudah senang. Coba telepon nomor wanita itu. Biar saya transfer sekarang." Kata Arbeni.
"Baik Kak." Jawab Rengga.
Rengga mencari nomor Sean di kontak ponselnya. Ia menghubungi Sean dan langsung di angkat.
"Halo, kemana saja kamu? Awas ya kalau ketemu? Mana Spica sialan itu? Ia harus habis di tanganku." Kata Sean dari sambung telepon.
"Hutang Rengga sudah saya transfer ke rekening atas nama Jasean. Jadi tidak ada lagi ikatan atas diri Rengga Anugrah. Jika masih mengganggu hidup mereka, akan berurusan dengan hukum." Kata Beni dengan nada cool.
"Ini siapa. Halo, halo." suara Sean terdengar emosi.
Beni telah memutus sambungan teleponnya. Ia mengembalikan ponsel milik Rengga tersebut.
"Sekarang jangan lagi mencari masalah dengan wanita sialan itu. Kamu bisa kali mengajar di universitas milik Ardikara Group lagi." Kata Arbeni.
"Terimakasih banyak Kak." Kata Rengga.
"Kamu di sana masih ngontrak kan? Saya akan mengantarkan kamu dekat dengan rumah kediaman keluarga kami. Siapa tau Sean akan mencari mu setelah ini." Kata Beni kemudian.
"Tapi Kak saya,..." Ucap Rengga terputus.
"Jangan khawatir, rumah Ibunya Ica ada tidak di tinggali. Hanya berjarak kira-kira satu kilometer saja dari rumah. Kalian bisa tinggal di sana sampai masalah Sean selesai." Kata Beni.
"Sebenarnya saya sangat malu Kak di perlakukan seperti ini. Kalian walaupun kaya raya tetapi punya hati terhadap kami rakyat kecil ini." Rengga menunduk.
"Tidak usah berpikir seperti itu. Ica lah yang mengajari saya untuk peduli. Inilah yang kalian butuhkan bukan? Rasa aman dan ketenangan." Kata Beni.
"Iya Kak, sekali lagi terimakasih banyak." Kata Rengga.
"Ini ada 50juta, bisa di gunakan untuk keperluan selama kamu mempersiapkan diri bekerja lagi." Kata Beni.
Rengga dengan sungkan menerima pemberian Putra Ardikara tersebut. Namun karena Beni yang memaksa dan tulus ingin melindungi ia dan ibunya, Rengga menerima dengan senang hati.
__ADS_1
Kemudian Beni di bantu anak buahnya pergi ke rumah kontrakan Rengga. Ia akan membawa ibu dan anak ini tinggal di kediaman Pak Marjoyo untuk sementara waktu.