
Enam bulan sudah sejak pernikahan Ica. Resepsi juga sudah di laksanakan dua minggu setelah pernikahan.
Satu bulan yang lalu Uncle Dave sudah menikahi Milka. Mereka berdua memutuskan untuk membeli rumah yang berada satu kompleks dengan rumah utama keluarga Adikara.
Ia memilih keputusan tersebut lantaran banyak pertimbangan. Uncle Dave tidak merasa khawatir ketika meninggalkan Milka sendirian. Milka bisa menghabiskan hari bersama Ica.
Pak Hendro dan Mama Diana sudah memulai aktivitasnya kembali. Mereka sudah terbang selesai acara pernikahan Uncle Dave.
Beni akan melakukan acara lamaran saat liburan Hari raya nanti. Dan rencananya akan menikahi Sera dalam tahun depan. Ia memutuskan tinggal di rumah yang berbeda dengan Ica dan Marvin.
Ia memutuskan untuk tidak tinggal bersama mereka. Beni merasa tidak enak mengganggu kebersamaan adiknya sebagai pengantin baru.
Membiarkan mereka tinggal di rumah lain. Beni merasa kurang aman bagi Ica, berbeda dengan komplek ini. Hampir keluarga besarnya yang memiliki bangunan. Mulai dari keluarga baru Dave, Ibunya Rengga. Terlebih Ibu Asmi dan Pak Marjoyo yang selalu menjaga Ica.
Sedangkan Barrak dan Ronald mereka kembali berusaha untuk memperlebar bisnis mereka. Kembali membuka genk baru namun tidak terlibat untuk mencari keuntungan semata.
***
"Sayang, sudah siap belum?" Tanya Marvin yang sudah menunggu di ruang tamu
"Sebentar sayang?" Jawab Ica.
Ica turun dengan hati-hati karena usia kandungannya sudah bulan ketiga. Hari ini rencananya mereka akan periksa ke dokter kandungan.
Marvin sengaja tidak menyetir sendirian. Ia meminta sopir mengantarkan mereka. Di karenakan Marvin yang lelah kerena lembur tadi malam. Tetapi ia tetap menyempatkan waktu untuk menemani istrinya periksa.
Belum sempat mereka naik ke mobil. Tiba-tiba ponsel milik Ica berdering. Aunty Milk, tertera di layar ponsel.
"Halo, aunty cantik. Ada apa nih?" Sapa Ica.
"Ca, bisa nggak kalau boleh saya ikut ke dokter bersama kalian. Dari kemarin saya tidak enak badan. Sedang Uncle kalian harus ke kantor hari ini." Kata Milka dari sambungan telepon.
"Iya, nggak apa-apa aunty. Sudah siap belum nih?" Tanya Ica.
Belum sempat ada jawaban dari seberang sana. Terdengar dari suaranya, ponsel Milka sudah berpindah tangan.
"Halo, Ca mana Marvin? Tolong kasihkan dulu ponselnya pada Marvin Ca." Suara Uncle Dave.
__ADS_1
Ica segera menyerahkan ponsel miliknya kepada Marvin sesuai permintaan Uncle Dave. Ica segera naik ke mobil setelah menyerahkan ponselnya, dan di ikuti Marvin.
"Halo Uncle, ada apa?" Sapa Marvin.
"Maaf Vin merepotkan, saya titip aunty kalian. Tolong sekalian periksa mungkin sakit atau masuk angin biasa. Saya hari ini tidak bisa menemani, ada pertemuan dengan klien yang sangat penting." Kata Uncle Dave.
"Uncle tidak usah khawatir. Ini ada Ica yang menemani aunty juga. Kami segera mampir sekarang." Kata Marvin.
"Ayo Pak berangkat, mampir sebentar di rumah Uncle Dave." Kata Ica.
Mobil melaju pelan, karena jarak antara rumah kediaman Adikara dan Dave Goerge hanya berjarak ratusan meter saja. Masih dalam satu kompleks perumahan.
Milka dan Dave sudah nampak di depan gerbang saat mobil Ica datang. Setelah berpamitan dengan suaminya, Milka segera masuk ke dalam mobil. Duduk di samping Ica, sedangkan Marvin duduk di depan samping sopir yang sedang mengemudi.
"Kita ke klinik aja Vin, kalau langsung ke praktik dokter kandungan takutnya saya gak hamil." Kata Aunty Milka.
"Baiklah, di klinik juga lengkap dokternya kok." Kata Marvin.
Kurang dari setengah jam, mereka sudah sampai di klinik yang di tuju. Ica memeriksakan dirinya terlebih dulu. Dokter mengatakan bahwa kandungannya memasuki bulan keempat.
Bayi dalam kandungan sehat dan jenis kelaminnya laki-laki. Dokter hanya meresepkan vitamin dan tablet tambah darah saja untuk Ica.
"Ca, kenapa saya juga harus di periksa dokter kandungan?" Tanya Milka setengah berbisik.
Sedang Marvin ikut saja kemana dua wanita itu berjalan. Seakan seperti bodyguard membawa kedua tas majikannya. Marvin tidak hanya membawa tas istrinya.
Namun juga tas aunty Milka, karena sedari tadi ia ingin muntah. Marvin melihatnya juga kasian. Mau minta tolong istrinya yang bawa tas aunty Milka juga tidak memungkinan. Karena istrinya sedang hamil, ya sudah Marvin memutuskan membawa kedua tas itu.
"Mungkin saja aunty hamil juga. Tapi kita tunggu apa kata dokter." Kata Ica.
Dokter Elina memeriksa Milka dengan cermat. Kemudian membawa hasil kepada pasiennya tersebut.
"Selamat ya Ibu Milka, atas kehamilannya. Umur kandungan masih bulan pertama, itu artinya masih sangat lemah. Saya akan berikan vitamin dan tablet tambah darah sama seperti Nyonya Ica." Kata Dokter Elina.
"Terimakasih Dok, kami permisi." Kata Marvin.
"Selamat ya Aunty sekaligus sahabat ku ini." Ica memeluk Milka.
__ADS_1
"Sudah, pelukannya di rumah saja. Saya harus ke kantor setelah ini, titip Ica ya Aunty." Kata Marvin.
"Iya Vin, terimakasih. Saya akan di rumah kalian saja, sambil menunggu Uncle kalian pulang." Kata Milka.
"Iya, begitu lebih baik." Jawab Marvin.
Perjalanan pulang tidak terasa lama, karena ada saja bahan yang di jadikan Ica dan Milka. Mereka senang sekali mengetahui kehamilan Milka dan janin Ica sehat saja.
Mereka telah tiba di halaman rumah kediaman keluarga Adikara. Ica dan Milka turun dari mobil di bantu oleh Ibu Asmi. Sedangkan Marvin tetap di mobil untuk kembali kekantor.
"Gimana Nak? Apa bayinya sehat didalam?" Tanya Ibu Asmi.
"Sehat Bu." Jawab Ica.
"Nak Milka sehat-sehat saja kan?" Tanya Ibu Asmi kemudian.
"Iya Bu, Aunty sehat kok. Malahan sekarang sedang hamil juga." Kata Ica.
"Oh, syukurlah selamat ya untuk kalian dan Dave." Ibu Asmi memeluk Milka.
"Iya Kak, terimakasih." Jawab Milka.
"Baiklah hari ini Ibu akan servis spesial untuk kalian berdua. Memijit kaki dan tangan agar kalian semakin rileks menjalani masa kehamilan." Kata Bu Asmi.
"Terimakasih Kak." Jawab Milka.
"Terimakasih Ibu sayang." Kata Ica.
Mereka masuk ke rumah menuju ruang TV. Milka menghidupkan televisi, sedang Ica ke dapur mengambil toples jajan untuk mereka. Ibu Asmi mempersiapkan racikannya untuk memijit ke dua ibu hamil itu.
"Kabar terkini, pagi ini putri tunggal dari orang yang cukup berpengaruh di negara ini, harus menjalani serangkaian tes kejiwaan. Setelah hampir menewaskan anak yang baru saja ia lahir kan.
Jasean adalah putri dari Tuan Alexander dan Ibu Theresia itu di duga mengalami gangguan kejiwaan. Bersyukur bayi yang di lahir kan selamat dan ibunya bisa segera di lakukan perawatan." Kata pembawa berita di salah satu siaran televisi swasta tersebut.
"Ca, sini dulu! Lihat berita Sean terbaru pagi tadi." Milka setengah berteriak.
Mendengar suara Milka memanggilnya. Ica dan Ibu Asmi segera datang, mereka menyaksikan sendiri berita yang mengesankan pagi ini.
__ADS_1
"Kita harus selalu berbuat baik, karena akan selalu ada timbal balik dari segala perbuatan." Kata Bu Asmi.