Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Kita Lewati Bersama


__ADS_3

"Iya Kak Nesa terimakasih." Jawab Vano.


Masih dengan wajah kaget, antara percaya dan tidak. Vano bangkit dari tempat duduknya memeluk Elvita.


"Sayang, jangan tinggalkan Vita." Kata Elvita.


"Iya sayang, Abang janji kita lewati ini bersama-sama." Kata Vano berjanji.


"Kalian sudah dewasa, ini adalah hadiah terindah yang di berikan bagi kalian. Kakak permisi dulu untuk melayani pasien." Kata Dokter Nesa.


"Iya-iya Kak sekali lagi terimakasih." Kata Marvin.


Marvin dan Vano masih ngobrol dengan Dokter Viktor. Sedang Ica dan Elvita duduk di ruang tunggu.


Setelah selesai mengobrol Marvin dan Vano mendekati kedua wanita mereka. Marvin kembali mengendarai mobil menuju kediaman orang tuannya.


Tidak sampai setengah jam mereka sudah sampai di halaman rumah. Terlihat Pak David sudah pulang dari kantor. Beliau duduk di ruang tamu sambil membaca majalah.


"Selamat sore Yah." Sapa Ica mengulurkan tangannya, di ikuti yang lain.


"Selamat sore juga. Kalian dari mana?" Tanya Pak David.


"Kami dari jalan-jalan sore Yah. Ayah sudah lama pulang?" Tanya Marvin.


"Belum, sekitar lima belas menit yang lalu Nak. Bunda kalian kemana?" Tanya Pak David kembali.


"Kalau tadi Bunda istirahat di kamar Yah." Jawab Marvin.


"Oh, iya-ya Ayah memang belum berganti pakaian. Maaf ya Vita, Ica Ayah ke atas dulu ngantar tas dan jas." Kata Pak David.


"Iya Yah." Jawab Elvita.


Sedan Ica hanya membalas dengan anggukan. Kemudian Pak David segera berlalu menghilang di balik tangga.


Pak David mengetuk pintu kamar. Ia memangil istrinya tetapi tidak ada jawaban, Pak David segera masuk kamar. Benar sana di sana Bunda Lusi sedang tertidur pulas.


"Nda, yuk bangun. Anak-anak ada di bawa loh." Kata Pak David.


Bunda Lusi menggeliat, ia mengumpulkan kesadarannya. Setelah mengingat secara runtut memang anak-anak tadi hanya izin sebentar.


"Iya Yah, Bunda segera turun." Kata Bunda Lusi.


Ia mengambil kacamatanya, mengikat rambut dan merapikan pakaian yang di kenakan. Bunda Lusi siap untuk turun menemui anak-anaknya.


"Yah, kamu nggak turun juga?" Tanya Bunda Lusi.

__ADS_1


"Iya Bun, Ayah akan turun." Jawab Pak David.


"Kalau begitu sekalian saja bareng." Kata Bunda Lusi.


Pak David segera mengganti bajunya dengan baju kaos. Kemudian dia menggandeng istrinya.


"Yuk Nda." Ajak Pak David.


Kedua orang suami istri tersebut menuruni anak tangga. Mereka duduk di sofa ruang tamu di mana anak mereka berada.


"Selamat sore Bunda." Sapa Ica.


"Selamat sore sayang." Kata Bunda Lusi.


Marvin dari tadi nampak gelisah. Ia akan berbicara kepada orang tuanya mengenai masalah Vano.


"Ayah Bunda sudah makan?" Tanya Marvin.


Ia memastikan orang tuanya tidak kehilangan tenaga mendengar kabar yang mengagetkan nantinya. Marvin bertanya seperti basa-basi saja.


"Sudah Vin, tumben kamu perhatian sama Bunda dan Ayah." Kata Bunda Lusi.


"Syukurlah kalau sudah. Sebelumnya kami minta maaf Bun, tapi kami harus membicarakan hal ini kepada Ayah dan Bunda." Kata Marvin.


"Memangnya kenapa Vin?" Kata Bunda Lusi.


"Vin sebesar apapun masalahnya. Kita akan hadapi bersama Nak. Memang apa kesalahan yang kalian lakukan? Cobalah cerita kepada kami." Pinta Bunda Lusi.


"Bunda, Maafkan Vano telah berbuat salah kepada Ayah dan Bunda." Kata Vano terisak berlutut di kaki Bunda Lusi.


Bunda Lusi yang memang wanita perasa dan melankolis. Ia ikut menangis dan memeluk Vano. Sedang Pak David hanya terdiam dan menunduk.


"Katakanlah Nak, jangan buat Bunda khawatir." Kata Bunda Lusi.


"Bun, Elvita hamil karena kesalahan Vano." Kata Vano.


"Hah, Apa Bunda tidak salah dengar Van?" Tanya Bunda Lusi tidak percaya.


"Iya Bunda, maafkan Vano. Vano memang salah." Kata Vano.


Sebenarnya Pak David sangat terkejut, namun ia mencoba mencari jalan keluar. Bukan tempatnya laki-laki jika ikut-ikutan histeris dan menangis untuk masalah seperti ini.


"Kita harus bagaimana Yah?" Tanya Bunda Lusi melirik kepada suaminya dengan mata masih berlinang.


"Iya, kita harus nikahkan mereka Bun. Tidak ada lagi jalan lain. Tinggal atur waktu untuk menemui keluarga Vita. Bunda tidak usah menangis toh mereka memang sudah dewasa. Jangan juga kita sesali, kita harus menerima ini dengan lapang dada. Mungkin anak mereka nanti yang akan mengurus kita pada masa tua." Kata Pak David mengelus pundak istrinya.

__ADS_1


"Iya Yah. Bunda ikhlas, kita juga sudah sangat sayang pada Elvita." Kata Bunda Lusi.


"Ayo berdirilah, laki-laki kok nangis." Kata Pak David kepada Vano.


"Iya Yah, terimakasih." Jawab Vano.


"Salah itu ketika kalian melakukan belum pada waktunya. Namun, jangan pernah kalian menganggap anak yang nantinya lahir sebagai dampak sebuah kesalahan.


Bersyukurlah kalian akan di panggil Ayah Bunda karena dia. Masih banyak orang di luar sana yang bertahun-tahun menunggu keturunan, bahkan belum di berikan sampai saat ini.


Ayah tidak membenarkan perbuatan kalian untuk di contoh. Tapi agar kalian tidak menyalahkan satu dengan yang lainnya." Kata Pak David.


"Dengar Vano, mulai sekarang tolong jaga Vita baik-baik." Kata Marvin.


"Vit, kamu tidak usah sungkan kepada Ayah Bunda karena masalah ini. Nanti tolong kabari orang tua mu, kapan kami bisa ke sana untuk melangsungkan acara lamaran." Kata Pak David.


"Iya Yah, terimakasih Vita untuk Ayah dan Bunda." Kata Elvita.


"Yah Bagaimana nanti untuk acara resepsinya kita buat bersama dengan Ica. Itupun klau keluarga Adikara tidak keberatan." Kata Bunda Lusi.


"Tenang aja Bunda. Nanti Ica akan memintanya kepada Mama dan Papa. Untuk saat ini, biar Vano dan El secepatnya melangsungkan akad terlebih dahulu." Kata Ica.


"Tolong sampaikan kepada keluarga Adikara, khususnya Nak Beni. Kalau bisa malam besok kami akan datang untuk membicarakan rencana pernikahan Marvin dan Ica." Kata Bunda Lusi.


"Baik Bunda, nanti saya sampaikan." Kata Ica.


"Hem... Kalau sudah selesai kita antar Elvita pulang dulu Van. Sekalian saya mau mengantar Ica." Kata Marvin.


"Baik Bang, Apa kita semobil saja atau Abang mau berduaan dengan Ica?" Tanya Vano.


"Satu mobil saja Van. Takut ada yang ingin mencelakai kita." Kata Marvin.


"Baik Bang." Jawab Vano.


"Ini oleh-oleh untuk kalian berdua." Kata Bunda Lusi dari belakang.


Ia membawa dua kotak besar kue, masing-masing dalam kantong besar. Setelah menerima kantong tersebut, Ica dan Elvita berpamitan.


Mereka masuk ke dalam mobil. Marvin terlebih dulu sudah meminta empat bodyguard untuk mengiringi mobil mereka.


"Tidak ada yang ketinggalan lagi?" Tanya Marvin.


"Enggak Bang." Jawab Ica dan Elvita.


"Kita Berangkat sekarang." Kata Marvin.

__ADS_1


Sesudah itu Marvin melajukan mobilnya dengan pelan. Elvita duduk berdua di belakang dengan Vano. Marvin membiarkan mereka agar menjadi siaga.


__ADS_2