
Tidak sampai satu jam, Beni dan Sera tiba di kediaman keluarga Mehana. Adrian Mehana sudah menunggu di ruang tamu.
Mereka akan membahas bagaimana hubungan Tuan Alex dan perusahaan Mehana. Sedangkan perusahaan milik keluarga Mehana ada di naungan Adikara Group.
Setelah Arbeni duduk di sofa ruang tamu. Sera pergi ke dapur membantu Bibi membuat minum. Redi juga duduk menemani Ayahnya.
"Silahkan di minum dulu Tuan Arbeni Adikara." Kata Pak Adrian.
"Terimakasih Om. Cukup panggil Beni saja Om." Kata Beni tidak enak hati.
"Baiklah, Baiklah. Terus bagaimana rencana Nak Beni?" Tanya Pak Adrian.
"Om, Beni harus bertindak. Masalahnya, terlepas dari alex mau membuat keluarga Wiraarga bangkrut. Saya memikirkan perasaan adik saya Ica, jika Alex menginginkan putra Wiraarga itu menjadi menantunya." Jelas Beni.
"Jadi temannya Sera kemarin, adik kamu Ben?" Redi menimpali.
"Iya bro, kami baru dipertemukan kembali. Setelah kejadian di rumah sakit dulu. Makanya Saya sangat berusaha agar Ica bahagia." Kata Beni.
Redi dan Tuan Adrian Mehana mengangguk, memahami perasaan Arbeni. Bagaimana kehilangan keluarga telah dirasakan oleh Adrian.
"Bagaimana selanjutnya Nak Beni? Apa harus saya memberhentikan Pak Alex dari perusahaan kita?" Tanya Pak Adrian.
"Tapi selama ini dia sudah bekerja keras. Bagaimana mungkin ia di berhentikan tanpa alasan?" Kata Beni dilema.
"Kita lihat saja beberapa bulan ini, apa ia bisa mengurus perusahaan dengan baik. Kalau tidak adalah kesempatan kita untuk mengambil darinya." Kata Pak Adrian.
"Urusan ini saya serahkan kepada Tuan Adrian Mehana. Ini pesan dari Ayah." Kata Arbeni.
"Baiklah Nak Beni. Sampaikan salam saya kepada Tuan Hendro." Kata Pak Adrian.
"Iya Om. Saya berterimakasih." Kata Beni.
Mereka berbincang santai setelah membahas masalah perusahaan. Beni hanya takut Marvin mau kembali pada kekasih gilanya dulu dan menyakiti hati adiknya.
Jika itu sampai terjadi, ia bisa saja marah dan membuat keluarga Wiraarga menjadi gembel di jalanan. Tidak ingin hal buruk terjadi, Beni rela mengeluarkan uang demi adiknya. "Seandainya Marvin bisa di beli, pasti dengan senang hati saya akan melakukannya untuk Ica." Batin Beni.
__ADS_1
Redi yang sambil mengambil cemilan. Ia penasaran tentang hubungan Sera dan Beni. Ia takut kalau perasaan adiknya hanya dianggap seorang adik oleh Beni.
"Bro, sebelumnya saya minta maaf. Agak lancang menanyakan hal ini." Kata Redi.
Redi beringsut dari posisi duduknya yang santai bersandar di sofa. Ia duduk tegap menghormati lawan bicara, sekaligus menandakan bahwa ada hal penting yang harus dibicarakan.
Dihadapan orang tuanya Redi ingin mengatakan sesuatu. Ia tidak ingin hal ini menjadi menggantung.
"Silahkan, kayak orang asing saja. Seperti baru pertama kenal." Kata Arbeni.
"Begini Ben, di hadapan Papi. Saya mau menanyakan soal keakraban Sera denganmu?" Kata Redi.
Redi mengatur kata-katanya agar Beni tidak tersinggung. Karena selain sahabatan, bisa di katakan kehidupan keluarga Mehana tidak lepas dari kebaikan keluarga Adikara.
Mendengar Redi mengatakan hal itu, Beni agak terkejut. Tetapi Ia tetap menjaga wibawanya. Ia menatap lawan bicara dan sejenak memandang kepada Adrian Mehana sebagai orang tua Sera, sebagai permohonan bicara.
"Hem... Karena Redi mempertanyakan, maka saya akan menjawab," Kata Beni.
"Bapak sebagai orang tua Sera dan Redi sebagai Abang. Saya tau kalian khawatir atas kedekatan saya kepada Sera.
Tapi semakin hari Sera terus mendekati saya. Dan hal itu sangat saya maklumi, melihat dia anak yang baru beranjak dewasa.
Saya juga minta maaf, karena saya pernah meminta Sera menginap di rumah. Saya memintanya untuk menemani Ica.
Waktu itu saya belum tau kalau Ica adalah adik kandung saya. Hal ini saya lakukan untuk menghindari fitnah saya dengan Ica. Karena pada saat itu orang tua saya sedang diluar negeri.
Malam itu, sehabis kami makan malam. Sera mengatakan suka kepada saya.
Pada saat Ia mengatakan suka, Saya memperingati dan memberi nasihat kepadanya. Agar Sera berfokus untuk belajar dan meluluskan sekolah.
Tapi saat saya berkata seperti itu, Sera merasa bahwa saya telah menolaknya. Ia tidak berhenti menangis dan mau diantar pulang pada malam itu juga.
Saya berpikir tidak baik jika mengantarnya pada malam hari. Akhirnya saya mendapat Ide, saya mau menerima pernyataan cintanya setelah dia lulus sekolah.
Sera berhenti menangis dan bersemangat lagi. Sampai saat ini, ia senang kalau mengikuti kemanapun saya pergi.
__ADS_1
Kira-kira seperti itu ceritanya Pak Adrian dan Redi. Supaya jangan kalian salah paham dengan hal ini." Jelas Beni.
"Kalau begitu bagaimana perasaanmu kepada anak kami Nak arbeni? Sebagai laki-laki kamu harus memberi keputusan atas perasaanmu." Tanya Pak Adrian.
"Saya sangat menyayangi anak Bapak, dan saya siap bertanggung jawab menikahinya. Tapi lebih dari itu saya berharap Sera sekolah dulu, setidaknya sampai lulus sekolah menengah atas." Kata Beni.
"Terimakasih Ben. Kami percaya kamu bisa menjaga Sera." Kata Redi.
Redi memeluk Beni sebagai ucapan terimakasihnya yang besar kepada sahabatnya itu. Ia dari kecil mengenal Beni, Ia yakin Beni adalah pria baik-baik.
"Tapi saya punya permintaan kepada kita semua." Ungkap Beni.
"Apa itu Nak?" Tanya Pak Adrian.
"Saya minta tolong rahasiakan tentang perasaan saya pada Sera. Saya ingin Sera berjuang sampai ia mendapat beasiswa dengan kerja kerasnya sendiri." Kata Beni.
"Baik, Baik Nak." Kata Pak Adrian.
Ia terharu kepada calon kekasih putrinya ini. Sungguh bisa membimbing anaknya menjadi orang sukses nantinya. Ia dan istri sungguh sengat bersyukur memberikan penolong seperti keluarga Adikara.
"Eeh, dari tadi Beni tidak melihat Tante Mutia. Tante Mutia kemana Om?" Tanya Beni.
Beni baru menyadari bahwa calon ibu mertuanya tidak ada di situ. Karena sebentar lagi Beni berencana akan pamit.
"Mami tadi pergi, ada acara sama teman-temannya. Maklum ibu-ibu." Jawab Redi.
Belum sempat Beni berpamitan. Tiba-tiba ponsel milik Tuan Adrian berdering. Tertera namanya Bulu Alex.
"Halo, ada apa Lex?" Tanya Pak Adrian dari sambungan telepon.
"Halo, Big Bos. Putri kami mencintai putra Wiraarga, tidak ada yang salah kan? Tapi keluarga itu menghina keluarga saya." Kata Pak Alex.
"Tuan Alex, tidak ada yang salah dengan cinta anak Tuan. Tapi ada alasan Tuan Wiraarga menolak. Ini masalah pribadi, tidak ada hubungannya dengan perusahaan." Kata Pak Adrian.
"Tapi Bos, saya butuh bantuan Bos." Kata Pak Alex.
__ADS_1
Beni yang tadi hendak berpamitan. Tertarik mendengar percakapan dari Adrian Mehana tersebut. Ia tetap duduk di di sofa untuk menunggu telepon selesai dan menanyakan langsung kepada Pak Adrian.