Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Tidak Ada Ampun


__ADS_3

Setelah menelepon Jo dan beberapa anak buahnya. Ia bergerak menuju pesisir pantai. Mencocokan tempat yang ada di dalam video yang di kirim.


Dua buah mobil anggota dari Jo mutar-mutar di sekeliling pantai. Tidak butuh waktu yang lama bagi Jo, ia menemukan kafe kecil pinggir pantai tersebut.


"Selamat siang Bu." Kata Jo.


"Selamat siang, ada apa ini?" Kata wanita pemilik Kafe.


"Harap tenang dulu Bu. Kami hanya mau bertanya tentang tiga orang pria yang duduk di sini tadi. Apa Ibu mengenalnya?" Tanya Jo.


"Saya tidak mengenalnya, tapi mereka sudah beberapa kali beristirahat di kafe saya." Kata Wanita pemilik kafe.


"Baiklah, apa ada foto mobilnya? Atau anda tau nomor polisi pada mobilnya?" Tanya Jo.


Wanita pemilik kafe sangat takut kepada rombongan Jo. Hal ini bisa di manfaatkan Jo untuk menggertak pemilik kafe.


"Ada tidak?!" Tanya Jo.


"Kami tidak tau Pak. Tapi karyawan saya sering berphoto saat di sela-sela kerja. Silahkan periksa ponsel ini, apa ada tersorot mobil mereka." Kata wanita pemilik kafe.


"Baiklah saya coba." Kata Jo.


Jo menyuruh anak buahnya memeriksa galeri ponsel milik karyawan kafe. Mereka tertuju pada sebuah photo, di mana wanita karyawan kafe berphoto membelakangi jalan.


Di belakang wanita tersebut sekitar berjarak 3-4 meter nampak di seberang jalan. Terlihat belakang mobil, dimana tiga orang akan naik kedalam mobil itu.


Jo segera memotret photo di galeri karyawan kafe. Sebelumya ia terlebih dulu memperbesar objek yang di inginkan.


Setelah cukup mendapat informasi. Mereka segera pergi mencari keberadaan orang yang di maksud.


"Bos, menurut informasi pegawai hotel D.A. Mereka baru saja cek out dari hotel dan menuju ke arah barat." Kata Krebo salah satu anak buah Jo.


"Baiklah, kita ke arah kesana! Jangan lupa kabari yang ada di markas agar mereka bersiap jika ada perlawanan." Kata Jo.


"Baik Bos." Jawab Krebo.


Rombongan Jo menuju kearah barat. Mereka berhenti saat melihat tambang batu bara yang di sebelahnya laut lepas.


"Apa mungkin mereka di sini Bos?" Tanya Krebo.


"Mungkin saja, kita harus hati-hati. Segera perintahkan mobil belakang agar bersiap-siap." Perintah Jo.


"Baik Bos." Jawab Krebo.


Rombongan Jo ada dua belas orang termasuk Jo. Mereka bersiap pada kemungkinan terburuk yang akan terjadi.


Mereka berpencar mencari siapa tau memang markas mereka di sini. Jo kaget melihat tiga orang yang mereka cari ada di sebuah ruangan di rumah dekat pantai.


"Angkat tangan. Jangan bergerak." Kata Jo

__ADS_1


Tapi naas mereka mengarahkan pistol juga.


Salah seorang dari mereka melayangkan tembakan dan mengenai pundak Jo.


Tidak berselang lama anak buah Jo berdatangan mengejar mereka bertiga. Mendesak ketiga orang itu ke arah pantai.


Tanpa di duga mereka menceburkan diri kelaut lepas. Anak buah Jo sempat melepas beberapa tembakan, namun tidak ada tanda mereka akan keluar dari deburan ombak.


Hingga pengejaran di hentikan. Karena Jo harus di bawah ke rumah sakit. Dan melakukan operasi pengambilan benda di dekat bahunya.


Krebo menghubungi Bos mereka di luar negeri. Mengabarkan kejadian yang menimpa mereka hari ini.


"Halo Jo. Bagaimana sudah ketemu belum?" Tanya seseorang dari sambungan telepon.


"Ini Krebo Bos. Orang tersebut sudah kami temukan, tapi sayang tidak ada informasi siapa yang ada di belakang mereka." Kata Krebo.


"Maksudnya? Jangan bercanda kamu!" Kata Bos mengingatkan.


"Iya Bos, kami sempat mengejar ketiga orang yang di maksud. Saat kami mengepungnya di pinggir lau, mereka menceburkan diri ke dalam laut lepas." Kata Krebo.


"Terus Jo kemana?" Tanya seseorang di panggil Bos itu.


"Jo sekarang sedang di ruang operasi Bos. Beliau terkena tembakan di bahu sebelah kiri." Jawab Krebo.


"Kalian semua ada di sana sekarang?" Tanya Bos.


"Kalian sudah ganti pakaian. Ingat, Jangan sampai membuat orang rumah sakit curiga kepada kalian." Kata Bos itu.


"Baik Bos. Kami semua sudah berganti pakaian. Saya juga sudah menjelaskan kepada pihak rumah sakit agar mereka tidak curiga." Kata Krebo.


"Jaga Jo baik-baik. Uang berobat saya kirim ke rekening Jo. Sekalian tambahan komisi kalian. Minta sama Jo setelah ia sadar." Kata Bos tersebut.


Setelah mematikan sambungan telepon. Ia terlihat menelpon seseorang. Dengan Wajah yang tegang.


**********


Beni saat ini sedang pusing memikirkan pekerjaan kantor. Dan masalah keselamatan Ica. Ia kadang terlihat tidak fokus dengan pekerjaannya.


Saat Beni sedang melamun memikirkan masalah hidupnya yang keras ini. Tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk.


"Masuk." Kata Beni.


Beni setengah berteriak, ia sedang pusing. Ia juga terlihat menunduk agak kesal ada orang mengetuk siang hari.


Pintu terbuka dan benar saja Sera yang mengetuk pintu di jam makan siang ini. Ia membawa kota makanan untuk Beni.


"Hai Kak, Sera kesini membawakan bekal untuk Kakak." Kata Sera.


"Maaf Ser, saya sedang tidak nafsu makan." Kata Beni.

__ADS_1


"Baiklah." Kata Sera.


Sera menuju pintu, ia merasa ini bukan waktu yang tepat melepas kerinduannya pada Beni. Ia memegang pintu ruangan Beni untuk keluar.


Beni secepat kilat menyambar tangan Sera dan menahannya. Ia tidak ingin Sera salah paham dengan ucapannya tadi.


"Mau kemana Ser?" Tanya Beni.


"Mau pulang." Jawab Sera.


"Kalau mau pulang cepat, kenapa tadi kesini." Tanya Beni.


"Sera datang bawakan makanan untuk Kakak. Tapi Kak Beni menolak pemberian Sera." Kata Sera.


Beni memegang pundak Sera dengan kedua tangannya. Ia menatap bola mata gadis itu dengan lekat.


"Sera dengarkan saya. Belajarlah untuk memahami saya dengan segala masalah yang sangat banyak. Bukannya tadi saya tidak nafsu makan, bukan tidak nafsu bertemu dirimu." Kata Beni tersenyum.


Beni membawa Sera duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya. Ia membuka bekal yang di bawa Sera dan memakannya habis.


Sera hanya bisa menelan ludahnya. Tidak ada sedikitpun tawaran dari Beni.


"Katanya tidak nafsu makan Kak, tapi habis juga." Goda Sera.


"Mungkin ini karena di temani kamu Ser." Kata Beni.


Sera hanya diam di goda Beni. Ia tidak ingin terlalu dalam menilai godaan Beni. Karena sampai saat ini Beni belum mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan.


"Ser." Panggil Beni.


"Iya Kak." Jawab Sera.


Beni merebahkan kepalanya di pangkuan Sera. Ia ingin melepas sedikit penat saat bersama Sera.


"Ser, Kakak sekarang sedang banyak masalah." Kata Beni.


"Masalah apa Kak?" Tanya Sera.


"Sekarang ada orang ingin mencelakakan Ica adik Kakak. Dan perusahaan Papa di luar negeri sedang mengumpulkan asetnya. Oleh kerena itu banyak sekali berkas yang harus di periksa." Kata Beni.


"Kakak yang sabar ya, Sera hanya bisa bantu doa untuk Kakak." Kata Sera.


"Ser, nginap di rumah Kakak yuk. Banyak orang Kok." Kata Beni.


"Kapan Kak?" Tanya Sera.


"Kapan kamu mau sayang." Kata Beni.


Beni memeluk pinggang Sera. Ia membenamkan wajahnya dia perut Sera. Berharap akan ada mimpi indah yang menjadi kenyataan.

__ADS_1


__ADS_2