Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Kaget


__ADS_3

Malam itu juga Beni dan Marvin datang ke rumah Pak Marjoyo. Mereka tidak ingin ada sesuatu yang terjadi pada orang yang sangat di sayangi.


Kurang dari tiga menit, mobil mereka sudah parkir di rumah Bapak Marjoyo. Beni mengetuk pintu dan langsung di bukakan oleh Ibu Asmi.


"Ibu, Bapak sama Ica ada?" Tanya Beni.


"Ada Nak. Sebentar Ibu panggilkan." Kata Ibu Asmi.


Pak Marjoyo keluar dari kamar. Mendengar ada tamu yang datang, Ica bangkit dari ruang TV. Ica duduk di samping Ibunya.


"Kak Beni? Bang Marvin? Kenapa kalian datang malam-malam?" Tanya Ica kaget.


"Iya nak, ada hal penting apa sampai kalian datang malam hari?" Tanya Pak Marjoyo.


"Iya Pak, Kami datang untuk menjemput Ica, Bapak sama Ibu malam ini juga. Kita sama-sama tinggal di rumah dulu." Kata Beni.


"Memangnya kenapa Kak?" Tanya Ica.


"Ibu, Bapak. Tadi kami mengalami kejadian yang mengkhawatirkan, nanti biarlah Ica yang menceritakan. Kak Beni sudah menelepon Om Hendro dan Tante Diana. Mereka meminta untuk tinggal bersama Kak Beni sampai situasi aman." Jelas Marvin.


"Bagaimana Pak? Demi keselamatan kita." Tanya Ibu Asmi.


"Baiklah Bu, sebaiknya kita ikuti saja saran Nak Beni. Tapi bagaimana jualan Bapak Nak Beni?" Tanya Pak Marjoyo ragu.


Sebenarnya Pak Marjoyo takut merugi. Ia tidak mau selalu menggantungkan hidup dengan keluarga anak angkatnya itu.


Wajah Ibu Asmi segera berubah. Ia membayangkan jika sayuran yang banyak itu harus membusuk karena tidak buka lapak di pasar.


"Keselamatan Bapak, Ibu dan Ica adalah yang paling utama. Bukan saya tidak mensyukuri kerja keras keluarga ini, namun lebih baik berkorban sedikit dari pada menyesal kemudian." Kata Beni.


Ica dan Bu Asmi menyiapkan pakaian yang akan mereka bawa. Tidak lupa mereka membereskan rumah sebelum di tinggalkan.


Setelah semua di rasa beres mereka kembali ke ruang tamu, dimana ada Beni, Marvin dan Pak Marjoyo.


"Sudah siap Bu?" Tanya Pak Marjoyo.


"Sudah Pak." Jawab Ibu Asmi.


"Ayo Nak, Kita berangkat." Kata Pak Marjoyo.


Mereka semua keluar dari rumah. Saat sudah menaiki mobil Ica teringat akan bonekanya.

__ADS_1


"Kak, boneka Ica masih dalam rumah." Kata Ica.


"Besok kan masih ada waktu Ca. Kakak masih banyak yang harus di selesaikan." Kata Beni.


"Maafkan saya Kak." Kata Ica.


"Iya, gak apa-apa. Percayalah Kakak hanya ingin menjaga kamu Ca." Kat Beni.


Dalam hitungan menit, mereka sudah sampai di rumah milik keluarga Adikara itu. Setelah memasukan semua barang, mereka duduk di ruang TV.


"Vin, sebaiknya kamu menginap saja di sini malam ini. Karena kita belum tau siapa yang ada di belakang orang tadi." Kata Beni.


"Baik Kak." Jawab Marvin.


Saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba ponsel milik Beni berdering. Ternyata telepon dari Pak Hendro.


"Halo Ben, apa Ica dan orang tuanya sudah di rumah?" Tanya Pak Hendro.


"Sudah Pa." Jawab Beni.


"Ben, Papa sudah menyuruh orang untuk menjaga rumah. Juga menjaga Ica kalau mau berpergian. Dalam waktu setengah jam lagi mereka sampai. Kalau tidak terlalu penting, Bapak Ibu Marjoyo usahakan di rumah saja dulu." Kata Pak Hendro.


"Papa juga sudah menyuruh orang Papa untuk menjaga rumah Marvin juga. Papa sudah menelpon Pak David tadi. Ingatkan kepada Marvin agar hati-hati dalam berpergian." Kata Pak Hendro.


"Memangnya ada apa sebenarnya Pa?" Tanya Beni.


"Ben, ada kebocoran data identitas kita di perusahaan. Mereka sedang mengincar Ica dan keluarganya, sebagai sasaran yang empuk." Kata Pak Hendro.


"Baiklah Pa, Beni akan lebih berhati-hati."Kata Beni.


Setelah sambungan telepon terputus. Beni kembali ke ruang tamu di mana keluarganya berkumpul.


"Kata Papa, ada data identitas di perusahaan yang bocor. Mereka akan mencari Ica, sebagai sasaran utama. Marvin, Bapak dan Ibu juga harus berhati-hati, kalian adalah orang terdekat Ica." Kata Beni.


"Ternyata menjadi orang kaya juga banyak tantangannya ya Nak? Kamu yang sabar." Kata Pak Marjoyo kepada Beni.


"Iya Pak, Bapak dan Ibu tidak usah keluar dari pekarangan rumah dulu. Nanti banyak orang Papa yang ditugaskan menjaga rumah kita. Juga rumah Om David Papa sudah telepon beliau tadi." Kata Beni.


"Terimakasih Kak, ternyata Kakak sangat baik kepada saya." Kata Marvin.


"Vin, Vin... Apa pernah saya berbuat sedikit saja tidak baik kepadamu? Bahkan saat kamu belum mengenal Ica." Kata Beni.

__ADS_1


"Iya Kak, kamu memang sangat baik." Kata Marvin.


"Sudah memujinya Vin? Sekarang kamu bantu saya melacak hacker yang sudah menerobos keamanan data perusahan Papa." Kata Beni.


"Siap Kak." Jawab Marvin.


"Pak Bu, silahkan beristirahat kalau mau ke kamar samping kanan kamar Ica, atau mau nonton dulu silahkan." Kata Beni.


"Iya Nak, terimakasih." Jawab Pak Marjoyo.


"Kalau mau makan minta tolong Bi Tuti. Atau silahkan minta tolong Ica. Ini rumah kita bersama, jadi jangan sungkan Bapak dan Ibu. Maaf saya ke duluan masih ada kerjaan." Kata Beni.


"Iya Kak. Hus, hus sana." Kata Ica tersenyum.


"Sayang, Abang bantu kerja Kakak ipar dulu ya. Selamat tidur cantik." Kata Marvin.


"Vin, kekasih mu itu sedang terancam keselamatannya. Dia belum butuh gombalan. Sekarang kita kerja." Kata Beni.


"Siap Kakak Bos." Jawab Marvin.


Marvin melewati Ica yang sedang berdiri di samping sofa tempat duduk Ibu Asmi. Ia nampak membisikan sesuatu kepada Ica.


"Sayang buatkan teh ya." Bisik Marvin.


"Iya Bang." Kata Ica.


Setelah Marvin dan Beni masuk ke ruang kerja. Mereka bertiga terlihat tegang, berjalan dengan pikiran masing-masing.


Wajar saja orang tua Ica terkejut, karena biasanya mereka hanya hidup di desa. Mungkin yang paling mengerikan di pedesaan hanyalah menjadi bahan gosip tetangga.


Ica mengajak kedua orang tuanya menonton televisi agar tidak terlalu tegang. Ica juga mengajak Bi Tuti untuk bergabung menemani Ibu Asmi.


Mereka duduk di atas ambal lebar di ruang TV. Ica menuju kamar dapur membuat teh untuk Kakak dan tunangannya itu.


Sedang Beni dan Marvin bermain dengan laptopnya. Dari sambungan video call Mama Diana, nampak Pak Hendro sedang sibuk menelepon seseorang. Ia sedang berusaha menemukan siapa yang berani meneror putrinya tersebut


"Coba lacak dari jaringan kita, jangan biarkan mereka lolos." Kata Pak Hendro.


Itulah yang dikatakan Pak Hendro yang terdengar dari sambungan video call antara Beni dan Mama Diana.


Ica mengetuk pintu untuk mengantar teh hangat, Beni segera mematikan sambungan video call. Ia takut adiknya mengetahui beratnya masalah yang di hadapi saat ini. Beni tetap memberi senyum termanisnya saat Ica datang.

__ADS_1


__ADS_2