
Hari ini Vano akan berencana akan mengajak Elvita bersantai. Ia akan mengajak Elvita menikmati keindahan di tepi pantai.
Vano melakukan ini ketika ia sudah penat. Sejak ia di tugaskan Pak David membantu mengawasi perusahaan.
Setelah sampai di kediaman Elvita, Ia segera mengetuk rumah kekasihnya itu. Vano duduk dulu di kursi teras rumah.
Elvita terlihat membuka pintu. Ia sudah siap dengan sepatu dan tas kecilnya.
"Sudah lama menunggu Bang?" Tanya Elvita.
"Belum sayang, ayo kita berangkat." Kata Vano.
Vano membukakan pintu mobil untuk Elvita. Mereka segera menuju pantai sebelah barat kota.
Tidak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di pinggir pantai. Vano mencari tempat duduk di kafe yang ada di pinggir pantai.
Setelah mendapatkan tempat yang nyaman. Vano dan Elvita memesan makanan yang di jual di tempat tersebut.
Saat menikmati makanan yang di hidangkan. Berjarak sekitar satu setengah meter dari tempat duduk mereka. Ada meja lain yang di kelilingi oleh tiga orang.
Mereka juga sepertinya pengunjung kafe. Vano dan Elvita tidak terlalu menghiraukan mereka.
Ketika Vano menggenggam tangan Elvita mengajaknya pergi. Tapi, dengan pelan Elvita menahan Vano.
"Bang, Vita dengar mereka menyebut keluarga Adikara. Bukannya itu keluarganya Ica, tunangan Bang Marvin?" Bisik Elvita.
Vano yang sedari tadi tidak memperhatikan. Seketika berdiam diri, siapa tau mereka berniat jahat kepada keluarga yang telah banyak membatu keluarga Wiraarga itu.
"Sayang, videokan mereka." Bisik Vano.
"Ok, Bang." Jawab Elvita.
Elvita diam-diam merekam dan memvideokan mereka untuk mengenali wajahnya. Sedang Vano terus menunggu percakapan mereka berlanjut.
"Bro, saya takut rencana kita gagal. Kalau sampai gagal kemungkinan kita akan tertangkap." Kata salah satu dari mereka.
"Iya, Adikara itu sangat terkenal. Hampir di setiap negara besar ia berpengaruh." Timpal yang lain.
"Makanya tidak boleh gagal. Sasaran kita gadis ini, ia adalah putri Hendro Adikara." Kata yang lain mengeluarkan photo.
"Baiklah." Kata laki-laki pertama tadi.
"Kita sekap dia, lalu kita minta tebusan dengan orang tuanya." Kata laki yang mengeluarkan photo.
Mereka kemudian tertawa berbarengan. Menurut pembicaraan mereka akan menculik Ica saat dalam perjalanan.
__ADS_1
Vano dan Elvita sudah mendapatkan rekaman dari mereka. Perlahan Elvita mengajak Vano pergi karena ia takut.
Vano membayar makanan kemudian mereka pergi meninggalkan tempat itu. Setelah melajukan mobil Vano terpikir untuk menelpon Marvin sebentar.
Karena ia tidak mau memberhentikan mobil. Ia meminta Elvita yang menelepon menggunakan ponselnya.
Setelah dua panggilan, panggilan ketiga barulah telepon diangkat. Elvita segera mengucapkan salam.
"Halo, selamat siang Bang" Kata Elvita.
"Halo, selamat siang. Ini Elvita?" Tanya Marvin.
"Iya Bang. Bang Vano lagi nyetir." Jawab Elvita.
Marvin melihat nomor ponsel tertera nama Vano. Ia menduga bahwa gadis yang bersama Vano adalah Elvita.
"Ada apa El?" Tanya Marvin.
"Bang Marvin dimana sekarang?" Tanya Elvita.
"Di rumah Ica." Kata Marvin.
"Kebetulan Bang. Tolong Kak Ica jangan suruh keluar rumah dulu Bang. Juga untuk semua keluarga Adikara ingatkan untuk berhati-hati. Tadi saya dan Bang Vano sempat mendengar percakapan orang tidak di kenal ingin menyekap Kak Ica." Kata Elvita.
"Terimakasih El, saya akan menelepon Beni dulu." Kata Marvin.
"Baik, terimakasih. Mana Vano? Berhentikan dulu sebentar mobilnya." Kata Marvin.
Vano memberhentikan mobilnya. Elvita memberikan ponsel kepada Vano.
"Iya Bang, kenapa?" Tanya Vano kepada Marvin.
"Vano, kamu mau penjahat mengetahui identitas kekasihmu? Sekarang keluarga kita menjadi incaran kedua setelah keluarga Adikara.
Kamu paham nggak kenapa Om Hendro mengirim enam orang anak buahnya untuk menjaga keluarga kita? Itu karena kita juga menjadi incaran penjahat Vano." Kata Marvin.
"Baik Bang, maafkan Vano. Kami segera pulang." Kata Vano.
"Baiklah. Ayah dan Bunda sudah di kawal kalau kemana-mana?" Tanya Marvin.
"Iya Bang." Jawab Vano.
Setelah sambungan telepon terputus. Vano segera memutar arah mobilnya menuju ruma Elvita. Rencananya Vano akan menonton televisi saja bersama Elvita untuk menghabiskan hari.
Sedangkan Marvin, Ia membuka pesan e-mail yang di kirim oleh Elvita. Ia segera memeluk Ica. Marvin sangat khawatir akan keselamatan orang yang di cintainya itu.
__ADS_1
"Kenapa Bang?" Tanya Ica.
Ica kaget melihat perlakuan Marvin yang tidak biasanya. Marvin memeluknya di ruang tamu dan di lihat oleh Ibu Asmi.
"Ca, untuk sekarang kamu tidak boleh keluar dari rumah ini. Baru saja Elvita dan Vano telepon, mereka mendengar percakapan orang tidak di kenal. Mereka ingin menyekap putri keluarga Adikara, mereka juga memiliki photo kamu Ca." Kata Marvin.
Ibu Asmi sangat bingung setelah mengetahui pembicaraan Marvin dan Ica. Ia memanggil Pak Marjoyo yang sedang di taman belakang.
"Bu, jaga Ica ya. Saya akan menelpon Kak Beni dan memberitahu para penjaga rumah dan Pak Ujang. Supaya mereka berhati-hati jika ada orang seperti dalam video datang." Kata Marvin.
"Iya Nak." Jawab Ibu Asmi.
Marvin segera keluar menemui Pak Ujang. Marvin menyuruh Pak Ujang memasukan wajah orang itu ke dalam komputer. Supaya tidak membuka pintu gerbang ketika mereka datang.
Setelah itu, Marvin menelepon Beni yang sedang di kantor. Ia menyampaikan apa yang dikatakan Elvita tadi.
Beni sangat terkejut mendengar hal itu. Ia sangat mengkhawatirkan keselamatan adiknya. Tapi pekerjaan kantor tidak mungkin di tinggalkan.
"Vin, saya titip Ica padamu. Tolong jaga dia sampai saya kembali." Kata Beni.
"Baik Kak. Tanpa Kakak minta pun saya akan menjaganya." Kata Marvin.
"Vin, saya harus menelepon Papa dulu. Biar kita megerak mencari tiga orang ini." Kata Beni.
"Baik Kak, saya sudah kirim videonya lewat e-mail Kakak. Saya matikan sambungan teleponnya." Kata Marvin.
Sesudah memutus sambungan telepon. Beni menelepon Pak Hendro, Ia akan mengabarkan tentang kabar ini. Hal ini bisa memudahkan anak buah Pak Hendro untuk menyelidiki kasus ini.
"Pa, Beni sudah mengirim video orang yang ingin mencelakai Ica di e-mail Papa." Kata Beni lewat sambungan telepon.
"Papa akan menemukan mereka paling lambat dalam dua hari." Kata Pak Hendro.
"Baik Pa, segera kabari Beni." Kata Beni.
Beni memutus sambungan telepon. Karena di kantor Ia sedang memimpin rapat. Dan Beni juga tau, Papanya pasti sangat sibuk.
**********
Di negara yang berbeda, dua orang sedang menyusun rencana. Mereka sudah menyuruh orang kepercayaannya.Supaya terbang ke negara di mana keponakan mereka terancam keselamatannya.
Setelah mendapat telepon dari Sang Kakak. Mereka mengarahkan anak buah untuk mencari orang yang di maksud di sekitar pantai. Di mana posisi terakhir mereka melihatnya.
"Jo, segera temukan warung tempat mereka di pinggir pantai. Tanyakan apa sudah ada orang lain yang duduk di kursi itu. Ambil sidik jarinya." Kata perintah dari sambungan telepon.
"Baik Bos. Saya juga akan bertanya kepada pemilik warung. Dan akan melihat CCTV untuk mengetahui plat nomor polisi di mobil mereka." Jawab Jo.
__ADS_1
"Saya tunggu kabar baiknya, kurang dari 24 jam." Kata orang yang di panggil Bos tersebut.