Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Menjijikan


__ADS_3

"Hay, nama saya Sean." Kata Sean.


Sean mengulurkan tangan kepada Dave George tanda perkenalan. Dengan ekspresi tetap dingin, Dave menyambut tangan Sean.


"Baik, saya akan memberikan senilai lima miliar mata uang negara kalian." Kata Dave.


"Apa hanya ini, untuk kerja sama kita?" Tanya Pak Alex lancang.


"Tentu tidak. Ini hanya sebagai perkenalan, dan juga untuk gadis cantik ini." Kata Dave.


Dave George duduk dengan kaki bersilang dan menghisap rokok. Dave tidak seperti bos perusahaan, Ia lebih seperti seorang mafia. Ia tidak ingin terlalu serius menghadapi penjilat seperti Alex.


Dave mengetahui bahwa penjilat seperti Alex. Mereka hanya menginginkan uang dari Dave. Datang tanpa diundang ketika lagi kesusahan. Ia menolak mentah-mentah tawaran Dave waktu dulu, saat bosnya berjaya.


"Baik Tuan Dave, ini putri saya. Tolong perlakukan dia dengan baik." Kata Pak Alex.


"Tenang saja Pak." Kata Dave.


Walaupun mulutnya berbicara dengan nada yang tetap sopan. Namun Ia merasa jijik dengan orang tua yang rela menjual anak demi uang.


Dave tidak mau kena perangkap Tuan Alex yang licik. Ia sudah mempersiapkan sebuah rencana agar gadis ini tidak bisa mengancamnya kelak.


Agres membawa cek yang akan di serahkan kepada Tuan Alex. Ia terlebih dahulu memberikan cek itu kepada Tuannya, Dave.


"Ini Tuan ceknya." Kata Agres.


"Gres kamu duduk di situ sebentar!" Perintah Dave.


"Baik Tuan." Jawab Agres.


Dave memberikan cek itu kepada Alex. Ia memberikan sesuai kesepakatan.


"Ini Tuan." Kata Dave.


"Terimakasih Tuan. Kami permisi dulu." Kata Tuan Alex.


"Sean biarlah di sini terlebih dahulu. Kami akan memberinya hadiah." Kata Dave.


Dave mulai kelihatan emosi. Karena perlahan Alex tidak ingin memberikan Sean sesuai janjinya. Sebenarnya Dave tidak meminta putri mereka yang datang, hanya seorang gadis.


Tapi entah pikiran dari mana Tuan Alex bisa dengan sengaja memberikan putri mereka. Memang kalau gila uang jadi seperti itu.


"Saya permisi Tuan." Kata Pak Alex.


Ia meninggalkan putrinya Sean seorang diri. Bersama Dave dan Agres.


"Gres, tolong ganti pakaian gadis ini." Kata Dave.

__ADS_1


"Ayo, Nona ikut saya." Kata Agres.


"Saya?" Tanya Sean.


"Iya Nona." Jawab Gres.


Sean merasa dirinya sangat tidak berharga di negara ini. Bagaimana mungkin, Ia yang seorang dosen di negara asalnya.


Harus melayani orang yang baru dikenal. Walau sebelumnya Ia pernah melakukannya bersama mantan kekasihnya.


Sean mengikuti Agres sekretaris Tuan Dave. Ia bertekad setelah banyak uang dari CEO luar negeri ini.


Ia akan membalaskan dendamnya kepada Marvin dan Arbeni. "Vin, coba saja jika kamu menerima saya kemarin. mungkin ceritanya tidak seperti ini." Gumam Sean.


Sean mengepalkan tangannya dengan amarah. Ia sama sekali tidak mengakui kesalahan apalagi kekalahannya.


Setelah memakai pakaian yang lebih mini. Sean di beri make up agar terlihat lebih fresh oleh MUA yang memang disediakan di kantor itu.


"Sudah selesai Nona." Kata Gres.


"Terimakasih." Jawab Sean.


"Nona bisa beristirahat dulu disini. Saya akan kembali." Kata Agres.


Agres keluar menemui Tuanya, Dave. Ia akan menyampaikan bahwa Nona Sean sudah siap. Dave sedang bersama seorang pemuda tampan di dalam ruangan.


"Tunggulah. Sepuluh menit lagi." Kata Dave.


Dave sedang ngobrol dengan Ronald. Dave tidak tertarik dengan putri Tuan Alex. Ia menelpon Ronald dan akan menghadiahkan Sean.


"Bro, beri kepuasan kepada gadis itu." Kata Dave.


"Baiklah Tuan Dave, saya sangat menyukai petualangan seperti ini." Kata Ronald.


Ronald sudah sering di panggil Dave untuk urusan ini. Ia juga tau pemberian Dave adalah kualitas terbaik.


Sebenarnya Ronald dan Dave sudah lama saling mengenal. Mereka berbagi suka dan duka.


Ronald adalah casanova sejati, dalam eksekusi di dunia pun Ia mumpuni. Sudah lama Dave ingin menyerahkan geng mafia nya kepada Ronald.


Namun Ia akan melepas ini semua ketika Ia menemukan seorang gadis impiannya. Ia akan meninggalkan dunianya yang kelam, dalam penyamaran seperti yang dilakukan kakaknya.


"Ronald, semoga kamu senang hari ini." Kata Dave.


"Siap Bos, memang sahabat yang paling baik." Jawab Ronald.


Memang pujian selalu di lontarkan Ronald, saat Dave memberinya makanan segar seperti hari ini.

__ADS_1


Mereka tertawa bersama-sama. Mereka membayangkan betapa bodohnya orang tua yang menjual anaknya demi sejumlah uang.


Bagi Dave dan Ronald, lebih mulia mereka merampok bank dari pada melakukan hal hina seperti yang dilakukan Tuan Alex.


"Gres, antarkan Sean ke kamar biasanya." Kata Dave.


Dave menelpon Agres dari ruang kerja. Agres melakukan seperti yang di perintah. Ia juga tidak lupa memotret kliennya itu saat sudah berada di atas ranjang.


Seperti biasanya, Agres sudah melakukan tugas kepada banyak wanita sebelum Sean. Ia memotret sekitar 3-4 kali untuk satu klien.


Gres juga mengatakan, tolong matikan lampu saat orang datang mengetuknya. Gres juga mengingatkan Sean agar berlaku baik kepada Tuannya, kalau tidak ingin sesuatu terjadi.


"Semoga menyenangkan." Kata Gres.


Agres kembali menutup pintu kamar. Kemudian Ia menemui Tuan Dave dan Ronald dalam ruangan.


"Permisi Tuan, Nona Sean sudah ada di dalam kamar." Kata Agres.


"Baiklah, terimakasih." Kata Dave.


"Silahkan bersenang-senang Tuan Ronald." Kata Dave setelah kepergian Agres.


"Ok Bro, saya permisi dulu." Kata Ronald.


Ronald segera masuk kedalam lift menuju lantai sembilan. Kamar yang Ia sudah sangat hafal. Kamar tersebut adalah kamar yang mereka sebut surga dunia George group.


Hanya Ronald yang menjadi Bos casanova di kantornya. Sebenarnya bagi orang lain, Dave adalah casanova sejati. Namun di belakang Dave ada Ronald yang sanggup menggantikannya setiap diperlukan.


Setelah sampai di kamar yang di tuju. Ronald melihat dari kaca rahasia. Apakah benar Sean yang di dalam kamar atau bukan.


Setelah memastikan itu Sean, sesuai dengan foto yang diberikan Dave. Ia segera mematikan lampu dari luar.


Ronald memencet sandi di depan pintu. Ia bahkan sudah sangat hafal dengan sandi yang ada di pintu kamar.


"Selamat datang Tuan." Kata Sean.


"Hm." Jawab Ronald.


Ronald enggan mengeluarkan suaranya. Ia takut Sean mengenalinya. Kalau postur tubuh antara Ronald dan Dave sangat mirip. Susah bagi orang pertama kali membedakan mereka dalam kegelapan.


Tidak lupa tangan Ronald menyelip di sela ranjang, Ia menghidupkan alat perekam. Alat itu mungkin berguna nantinya saat di butuhkan.


Ronald perlahan mengalihkan tangannya ke helaian rambut teman kencan saat ini. Beralih ke telinga dan perlahan merasakan benda kenyal berlapis lipstik milik wanitanya malam ini.


Wanita itu membalas perlakuan Ronald kepdanya. "Sepertinya gadis ini biasa melakukannya." Batin Ronald.


"Sayang, apa kamu menyukai hal seperti ini?" Tanya Sean.

__ADS_1


__ADS_2