
Milka dan Ica sudah siap di ruang tamu. Menunggu Beni yang masih di kamarnya di lantai atas. Milka terlihat sekali tidak nyaman karena ada orang baru bernama Dave George.
Tidak lama kemudian Ronald pulang, mengendarai motor yang sudah parkir di halaman. Dave menyelidik Ronald dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Nald, duduk dulu sebentar." Kata Dave.
"Ada apa Kak?" Tanya Ronald.
"Dari mana kamu Nald? Jangan bilang kamu habis dari klub, kita ini ingin merubah kehidupan di sini." Kata Dave.
"E-eh, Kakak tidak boleh sembarangan seperti itu. Saya habis dari memulai usaha baru." Kata Ronald penuh percaya diri.
"Usaha apa Nald?" Tanya Dave.
"Ada Kak, nanti kalau sudah bisa menikmati keuntungan. Barulah Ronald beri tahu Kakak." Kata Ronald.
"Baguslah kalau begitu, kamu sudah memulai usaha baru. Tapi ingat mulai sekarang harus yang benar-benar halal. Oh iya Nald, kami semua mau ke Villa milik keluarga Marvin. Sekalian bakar-bakar ikan di sana paling menginap satu malam, apa kamu mau ikut?" Tanya Dave.
"Sepertinya nggak Kak saya sangat lelah, selamat bersenang-senang di sana." Kata Ronald.
Sebenarnya hanya alasan Ronald saja. Ia tidak menggangu Dave dalam mendekati Milka. Karena Dave sudah terang-terangan menceritakan perasaannya tersebut kepada Ronald.
Ronald berlalu menuju kamar mereka di lantai atas. Ia berpapasan dengan Beni di anak tangga.
"Uncle kami mau ke Villa milik keluarga Marvin sebentar. Apa Uncle Ronald mau ikut?" Tanya Beni.
"Hem, Maaf Ben sepertinya untuk kali ini Uncle tidak bisa ikut. Soalnya sangat lelah sekali." Kata Ronald.
"Baiklah Uncle." Kata Beni.
Beni menuruni anak tangga, sudah siap dengan kaos yang pas dengan badannya. Sebuah tas ransel kecil akan telah di bawanya.
"Sudah siap semua? Gimana pembagian kendaraannya menurut Uncle. Apa kita bawa tiga mobil atau bagaimana?" Tanya Beni kepada Dave.
"Bagaimana cukup dua mobil saja. Ica, Milka, Marvin, dan Saya dalam satu mobil. Kalian berdua saja, mungkin Milka takut sama saya." Goda Dave.
"Hem, hem... Jangan bilang Uncle naksir dengan teman saya yang cantik ini." Kata Ica sambil memeluk Milka.
"Itu juga kalau orangnya mau sama Uncle." Kata Dave kemudian.
"Uncle udah om-om, kasian teman saya." Kata Ica.
"Sudah, ayo kita berangkat, nanti malam." Kata Beni.
__ADS_1
"Sudah semua Kak barangnya di masukan?" Tanya Marvin.
"Sudah, ayo duluan kalian." Kata Beni.
"Baiklah, vin kamu yang nyetir atau saya?" Tanya Marvin.
"Saya saja Uncle, soalnya kalau nggak diam saja saya jadi mabuk hehe." Kata Ica.
Ica langsung duduk di kursi kemudi. Ia menggeser Marvin, sedangkan Milka dan Dave duduk di belakang. Beni dan Sera mengendarai mobil yang lain di belakang.
Sebuah lagi adalah mobil bodyguard di belakang mereka. Berisikan empat orang pengawal keluarga Adikara.
"Ser, kangen." Kata Beni melirik Sera.
"Wah, wah. Kakak bisa saja, tadi saja sok-sok cool di depan Bang Marvin dan Uncle." Goda Sera.
"Iya kan, tadi gak enak banyak orang. Syukur deh Uncle minta kita di mobil berbeda. Biar bisa kangen-kangenan." Kata Beni.
Sera melayangkan tanda lipstiknya di pipi Beni. Sera memang sering jahil dengan dengan Beni ketika menyetir.
"Sera Mehana, nanti kamu saya denda." Kata Beni.
"Kakak, kapan kita ini sah?" Rengek Sera.
"Sera, sabar ya kamu sebulan lagi baru lulus sekolah menengah. Belum nanti harus kuliah." Kata Beni.
"Mau sekarang cari saja pria lain di luar sana." Gurau Beni.
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Beni, Sera terdiam dan menunduk. Lama Beni menunggu kicauan Sera lagi, namun tidak di dengarnya juga.
"Hey, kok ngelamun?" Tanya Beni.
"Abis Kakak bicara gitu sama Sera." Kata Sera dengan wajah mengerucut.
"Kakak kan hanya bercanda. Tidak ada gadis lain yang bisa menggantikan Sera di hati Kakak." Kata Beni.
Beni seakan kembali ke zaman remajanya. Namun ia sadar hal itu lah yang di butuhkan Sera. Karena usia mereka terpaut agak jauh.
Tidak lama kemudian, mobil di depannya yaitu yang di kendarai Ica telah masuk kedalam sebuah pekarangan. Terlihat bangunan putih dua lantai di kelilingi perkebunan.
Beni mengikuti mobil tersebut dan akhirnya mereka turun semua. Bodyguard yang menjadi pengawal mereka juga ikut menginap untuk memastikan meraka aman.
"Selamat datang Den Marvin, wah selamat datang Tuan dan Nona." Sapa Bu Murti.
__ADS_1
"Maaf Bude kami merepotkan nih." Kata Dave.
"Iya, nggak apa-apa Nak. Kami senang kalau kalian sering ke sini." Kata Pak Tardi.
Ica mengajak Marvin mengambil ikan di kolam. Tapi Marvin takut kalau yang lain kelelahan. Atas usul Ica mereka pergi berdua ke kolam belakang Villa.
"Mil, kamu sama Sera dulu ya. Tidak usah takut sama Uncle Dave, belum pernah makan orang Kok. Lagi pula ada Kak Beni, kami sebentar saja mengambil ikan." Kata Ica yang berlalu mengambil kerambah penangkap ikan.
Setibanya di kolam, tiba-tiba Marvin memeluk Ica dari belakang. Ica kaget dengan perlakuan Marvin di tengah kebun.
"Abang, kok peluk-peluk di pinggir kolam?" Tanya Ica.
"Abang menginginkannya sayang, tapi waktunya memang tidak tepat." Kata Marvin.
Marvin mendaratkan ciuman di jidat Ica. Merasakan kesegaran wangi sampo di kepala gadis itu.
"Sayang, Abang pegang ya gunungan milik sayang." Kata Marvin.
"Abang, gimana kalau mereka ke sini." Kata Ica cemas.
"Tidak sayang, kita akan melihat mereka duluan seandainya mereka datang." Kata Marvin.
Sedang menikmati waktu berduaan. Tiba-tiba ponsel milik Ica berbunyi, ia melihat layar pada ponselnya yang ternyata nomor baru.
"Siapa sayang?" Tanya Marvin.
"Entah Bang, nomor baru." Jawab Ica.
"Angkatlah. Siapa tau penting." Kata Marvin kemudian.
Ica mengangkat ponsel miliknya. Ia mendengar suara laki-laki dari ponselnya. Ica mencoba menenangkan dirinya.
"Halo. Spica Adikara?" Kata orang tersebut dari sambungan telepon.
"Iya, saya sendiri. Ada apa ya? Ini dengan siapa?" Tanya Ica.
"Tidak perlu tau siapa saya! Tinggalkan Marvin, buat pernikahan kalian batal. Kalau kamu mau selamat." Ancam laki-laki tersebut.
"Halo, halo, halo!"
Marvin mendekat pada Ica, ia melihat perubahan wajah Ica menjadi khawatir. Marvin memegang pundak Ica.
"Siapa sayang? Siapa yang telepon?" Tanya Marvin.
__ADS_1
"Entah Bang, Ica tidak mengenal suaranya. Tapi ia mengancam Ica untuk membatalkan pernikahan kita, jika tidak ingin sesuatu terjadi." Kata Ica.
"Sabar sayang, jangan terlalu di pikirkan. Yuk kita ambil ikannya, kemudian kita kembali ke Villa dulu untuk beristirahat." Ajak Marvin.