Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Melepas Rindu


__ADS_3

Dinding kamar menjadi saksi bisu terjadinya perdebatan antara sepasang kekasih. Ica yang sedari tadi sudah kehilangan mood duduk diam walau Marvin memeluknya hangat.


"Kalau tidak mau mengatakan siapa wanita yang bersama Abang tadi. Saya masih ada pekerjaan lain." Kata Ica.


"Mau kemana sayang? Duduklah dulu." Kata Marvin.


Tubuhnya duduk di kursi plastik tersebut. Kemudian ia menarik Ica duduk di pangkuannya. Memeluk erat pinggang wanita yang sangat ia cintai rasanya membawa dunia menjadi milik Marvin dalam pikirannya.


"Wanita yang kamu liat ngobrol dengan saya kemarin adalah Tante Mia. Saudara Ayah satu-satunya, kamu nggak perlu cemburu sayang." Kata Marvin.


"Sepertinya Bunda tidak pernah bercerita soal saudara Ayah." Sanggah Ica.


"Dia baru datang sayang. Tadi aja baru sampai dari bandara langsung kemari. Abang ingin memperkenalkan mu, tapi mungkin saja ada yang penting di dalam rumah." Kata Marvin menjelaskan.


"Tau ah, masa saudaranya Ayah David semuda itu. Seumuran saya?" Selidik Ica.


Ica masih dengan wajah nya yang di tekuk. Ia tidak percaya kalau wanita tadi adalah adik kandung David Wiraarga. Secara umur calon mertuanya itu kepala lima sudah lewat. "Masa iya Ayah punya saudara seumuran saya?" Batin Ica.


"Sepertinya pacar ku ini belum percaya juga. Ayo kita temui, beliau sedang mengobrol dengan Mama Diana di dalam." Kata Marvin.


"Memangnya saudara Ayah berapa sih umurnya?" Tanya Ica ragu.


"Tante Mia umurnya paling 38 atau 39 nggak tau pasti juga. Tapi sekitar sembilan tahun tuaan beliau di banding saya." Jelas Marvin.


"Kok seperti anak remaja? Belum menikah?" Selidik Ica.


"Sudah punya suami, tapi belum memiliki anak. Iya, memang wajahnya baby face. Mau gimana lagi." Kata Marvin.


"Iya deh, Maaf." Kata Ica.


Mukanya memerah karena malu sudah cemburu dengan orang yang salah. Ia tidak menyangka bahwa itu Tante kandungnya Marvin. "Salahnya sih, ngobrol berdua-dua." Batin Ica membela dirinya sendiri.


"Mau di maafin?" Tanya Marvin.


"Kan saya sudah minta maaf. Wajib loh hukumnya memaafkan." Ancam Ica.


"Gimana ya, ada syaratnya. Kan secara tidak sengaja kamu mulai tidak percaya kepada saya." Kata Marvin.


"Iya maaf." Sahut Ica singkat.


Marvin menunjuk pipinya, memutar tubuh Ica menghadap dirinya. Hingga napas mereka bertukar seakan harimau mau menerkam. Marvin kesulitan menahan gejolaknya. Benda di bawah pusatnya juga sudah berteriak kegerahan. Sepertinya ia berteriak ingin keluar dan menyelam sebebasnya.

__ADS_1


"Kasih cap basah di sini dong. Itu pun kalau kamu mau di maafkan tentang prasangka jahat mu tadi." Kata Marvin.


"Abang, licik sekali sih." Kata Ica.


"Terima saja hukuman mu sayang." Kata Marvin.


Ica melingkarkan tangannya di leher Marvin. Menempelkan benda kenyal bergincu miliknya di pipi sang kekasih.


"Sayang sudah? Kok Abang gak ngerasa?" Tanya Marvin.


"Ish, jangan-jangan hilang perasaan." Kata Ica.


"Apa? Hilang perasaan kata mu? Biar saya buktikan Nona Adikara!" Kata Marvin.


Ia menarik Ica ke arah tempat tidur yang hanya muat satu orang itu. Menidurkan Ica dengan terlentang, dan mengunci gadisnya dengan tangan.


Marvin menarik baju Ica hingga kancingnya berhamburan entah kemana. Melihat benda kenyal gembul terlihat setengah, Marvin langsung menyesapnya dengan lahap.


Tanpa membiarkan ada perlawanan. Meninggalkan bekas merah tanda kepemilikan. Entah sudah berapa buah Marvin membuat stempel merah di gunungan Ica.


"Sayang, kamu sudah jadi milikku." Gumam Marvin.


Tanpa kode dan aba-aba, tangan Marvin telah menyusup ke dalam gua surga dunia milik Ica. Merasakan tonjolan kecil yang ada di dalam gua yang masih sempit tersebut.


Ica yang dari tadi seolah tidak terpancing dengan Marvin. Ia menyerah karena tubuh biologisnya menjadi bergelora. Bahkan cairan hangatnya pun sudah dua kali tumpa di muka Marvin.


"Ah-ah, Aaghk. Sayang jangan kuat-kuat." Kata Ica.


Tangan kiri Ica menarik telinga Marvin. Sedang satunya berpegangan pada rambut pria yang mirip dengan artis korea tersebut.


"Sayang, lebih enak lagi di celup langsung." Kata Marvin menginginkan lebih.


Marvin menghentikan sebentar aksinya. Ia ingin mengeluarkan benda pusaka kepunyaannya. Belum sempat benda tersebut di tancapkan ke lembah berlecah milik Ica.


Tiba-tiba di pintu ada yang mengetuk. "Siapa sih mengganggu saja?" Gumam Marvin. Ia segera menutupi tubuh Ica dengan kain yang sudah ada di sana.


Dengan terpaksa Marvin menghentikan kegiatan tersebut. Benar saja pintu ruangan tersebut lupa mereka tutup. Marvin mendekati pintu, benar saja Pak Maman salah satu yang bekerja di rumah ini berdiri di samping pintu.


Sebelum Pak Maman mungkin saja belum ada orang lewat, karena jam segini para pembantu masih berkerja di rumah utama. Atau mungkin juga ada yang melihat tapi pura-pura tidak mengetahui aksi mereka tadi. "Ah, masa bodoh." Gumam Marvin.


"Bapak mengintip ya?" Tanya Marvin.

__ADS_1


"Hem, nggak Den. Permisi tadi Tuan dan Nyonya mencari Den Marvin dan No Ica." Kata Pak Maman.


"Kenapa Pak?" Tanya Marvin.


"Katanya persiapan makan malam. Nanti keluarga Den Marvin juga akan datang. Di suruh menyambut kedatangan tamu." Jelas Pak Maman.


"Baiklah katakan pada Nyonya Adikara, kami akan segera ke sana." Jawab Marvin.


"Iya Den." Sahut Pak Maman.


Pak Maman memutar badannya berbalik arah. Ia akan kembali ke rumah utama. Sedangkan Marvin dengan cepat menutup pintu kamar tersebut.


"Siapa Bang?" Tanya Ica.


"Pak Maman menyampaikan bahwa Mama suruh kita cepat bersiap-siap. Karena ada makan malam bersama malam ini." Kata Marvin.


"Tapi bagaimana dengan baju saya yang sudah sobek?" Tanya Ica.


"Nanti biar Abang carikan baju di jemuran sekitar sini." Kata Marvin.


"Iya sudah, ayo kita keluar." Ajak Ica berusaha bangun.


"Tunggu sayang belum selesai. Belum tuntas Abang nih." Kata Marvin merayu.


"Yah, terus gimana dong?" Tanya Ica.


Ia tidak mengerti dengan pikiran Marvin. Padahal Mama Diana menyuruh mereka segera ke rumah utama. Tapi kekasihnya ini malah menahannya.


Secepat kilat Marvin merebahkan kembali Ica yang sudah duduk di pinggir ranjang kecil itu. Ia kemudian menarik rok brokat milik Ica ke atas. Tanpa izin dan tanpa hitungan, benda pusaka Marvin telah menancap sempurna dalam gua surga milik Ica.


"Aghk, sakit Bang pelan-pelan dong. Nanti lecet bagaimana?" Rengek Ica.


Marvin seperti tidak peduli dengan rengekan kekasihnya tersebut. Ia terus Menarik ulur benda pusaka tersebut hingga mengeluarkan keringat pelumas onderdil miliknya. Begitu pun dengan sekujur tubuhnya telah panas dingin bersimbah keringat.


"Sabar sayang, sebentar lagi." Jawab Marvin sambil mengelus kepala Ica.


Semakin lama hentakkan Marvin semakin menjadi. Sampai pada puncaknya, Ia menarik benda pusaka dari dalam gua milik Ica. Dan memuntahkan cairan hangat di atas perut Ica.


"Sudah sayang untuk hari ini. Abang ngantuk sekali, tapi kita harus bersiap makan malam." Keluh Marvin.


"Iya Bang, istirahat saja dulu." Kata Ica.

__ADS_1


Tangan Marvin terus berada di bawah perut Ica. Ia masih memainkan benda seperti kacang dalam lepitan gua.


"Sayang, mau nggak ronde kedua?" Bisik Marvin.


__ADS_2