
"Nak, sudah banyak keluarga ini meminta bantuan dari keluarga Adikara." Kata Pak David.
"Memang lebih baik kita mulai dari awal Ayah, Bunda." Sahut Marvin menunduk.
Marvin nampak mengusap air matanya. Seandainya Ia belum bertemu dengan Ica pasti Ia telah menerima tawaran Tuan Alex. "Kamu sangat berharga bagi keluarga ini." Kata Marvin dalam Hati.
"Ayah, Bunda. Ica akan tetap berusaha." Jawab Ica.
"Terimakasih sayang, tapi jangan memaksa keluarga mu ya Nak." Jawab Bunda Lusi.
"Iya Bunda." Kata Ica terharu.
"Ayah, Bunda. Biarkan Ica beristirahat sebentar." Kata Marvin kepada orang tuanya.
"Bunda, Ica beristirahat sebentar ya." Pinta Ica setelah suasana agak tenang.
"Iya Nak, Istirahatlah. Tidurlah di kamar atas, baju-bajumu masih ada di lemari." Kata Bunda Lusi.
"Iya Bunda." Jawab Ica.
Ica memutar tubuhnya menuju kamar yang dimaksud. Ia ingin membaringkan tubuhnya sebentar.
"Vin, Bunda sama Ayah ke kantor sebentar ya. Masih banyak berkas yang harus di periksa." Kata Bunda Lusi.
"Iya Bun." Jawab Marvin.
"Vano mana Bun?" Tanya Marvin sebelum Ayah Bunda nya pergi.
"Sepertinya dia masih di kampus, belum pulang dari tadi pagi." Jawab Bunda Lusi.
"Oh, Iya Bun." Kata Marvin.
Suami istri itu langsung pergi. Mereka akan memeriksa pekerjaan karyawan di kantor.
Marvin yang bosan duduk di sofa ruang tamu. Ia menyetel televisi. "Ah, gak ada acara yang bagus." Gumam Marvin.
Marvin teringat dengan Ica yang sedang tidur. Ia segera ke kamar Ica. Marvin memandangi Ica yang sedang terlelap. "Begitu indah ciptaan Tuhan." Kata Marvin dalam hati.
Marvin memperhatikan wajah Ica. Ia tertuju pada benda berlapiskan lips glos nampak kenyal dan segar. "Saya menginginkannya sayang." Gumam Marvin.
Marvin membenamkan wajahnya dengan wajah Ica yang tertidur pulas. Ica hanya menggeliat, sepertinya belum sadar ada Marvin di sampingnya.
"Sayang," Panggil Marvin pelan.
"Sayang, bangun dong." Ulang Marvin.
Ica tidak bergerak, mungkin ia sangat kelelahan hingga tidak mendengar panggilan Marvin. Dengan pelan Marvin memencet hidung Ica, merasakan bernapas susah Ica kaget dan langsung terbangun.
"Heuam... Abang. Kok ada di sini?" Kata Ica kaget.
"Iya sayang, dari tadi kok." Kata Marvin dengan mata membulat.
"Kenapa Abang kesini? Mana Ayah sama Bunda?" Tanya Ica.
"Ayah Bunda, balik ke kantor sayang." Kata Marvin bersemangat.
__ADS_1
"Oh, iya." Jawab Ica masih mengantuk.
Marvin tidak sengaja melihat gunungan kembar milik Ica. Dari sela-sela kanopi berwarna pink nude.
"Sayang, lepas kanopinya dong?" Pinta Marvin.
"Susah Bang." Kata Ica menyilangkan tangannya kebelakang.
Dengan sukarela Marvin membantu Ica yang sedang kesusahan. Menyibak tali pengikat kanopi, sambil membayangkan makan bola-bola dengan coklat cair di dalamnya.
"Wow, pemandangan yang menakjubkan sayang." Kata Marvin.
"Abang kan sudah pernah melihatnya." Kata Ica.
"Semakin hari keindahannya semakin menakjubkan sayang." Kata Marvin.
Marvin mendaki ke puncak lalu turun, Ia seakan tidak merasa kelelahan melakukan berulang.
Setelah puas bermain di puncak gunung milik Ica. Marvin memberi tanda merah di dataran mulus milik Ica. Seakan enggan untuk tersesat.
"Sayang." Kata Ica.
"Keindahan yang hakiki sayang." Kata Marvin melihat wajah Ica sebentar.
Marvin memberi tanda merah di setiap inci, dengan maksud agar Ia bisa kembali. Dan mengingatkan bahwa ini miliknya.
Menyusuri lembah milik Ica dan membayangkan suatu hari bisa memasukinya tanpa ragu. "Ahh... Sayang." Gumam Marvin.
"Bang, Ica mau keluar." Kata Ica lemas.
"Keluarkan lah sayang. Abang ingin menikmati air bunga milik sayang." Kata Marvin.
"Iya sayang, tidak akan ada yang tersisa setetes pun." Kata Marvin siap menelan air yang keluar dari lembah milik Ica.
Ica tiba-tiba berteriak melepas madu yang ada dalam dirinya. Dengan nikmat Marvin menelan madu tersebut.
"Sayang terimakasih." Kata Ica.
"Terimakasih untuk apa sayang?" Tanya Marvin dengan muka yang masih basah.
"Hem... Enggak sayang." Jawab Ica.
"Gantian sayang." Pinta Marvin.
Marvin segera membuka penutup pisang miliknya. Ia segera mendekatkan pisangnya ke muka Ica.
"Sayang, kok takut?" Tanya Marvin melihat Ica hanya menunduk.
"Enggak Bang, soalnya Ica baru lihat." Kata Ica.
"Gak apa-apa sayang, pisang milik Abang masih segar belum pernah di cicip orang." Kata Marvin.
Ica yang merasa telah menerima perlakuan tadi. Ia segan jika menolak karena belum terbiasa.
Ica mencoba mencicip sedikit ujung pisang tersebut. Marvin memberi suapan pisangnya dengan pelan.
__ADS_1
"Auw... Sayang makan yang banyak biar kenyang." Kata Marvin.
Ica yang bersandar di tepi ranjang. Ia sepertinya perlahan menikmati pisang milik Marvin. Hingga tidak ada bagian yang tersisa.
Ica memeluk pinggang Marvin agar tidak goyah. Ica yang baru pertama kali melakukannya, Ia takut kalau perlakuannya kurang menyenangkan bagi kekasihnya itu.
"Bang, apa benar begini?" Tanya Ica melepasnya sebentar.
"Ini bukan matematika sayang, jadi tidak ada cara yang benar ataupun salah. Bagaimana cara yang sayang suka saja." Jawab Marvin.
"Bang, Ica makan bola-bola coklatnya boleh?" Tanya Ica.
" Boleh lah sayang, telan semua juga gak apa-apa." Kata Marvin.
Ica nampaknya sudah mulai menikmati. Ia memasukan ke dua bola-bola coklat kedalam mulutnya. Tangannya memegang lembut pisang besar tersebut.
"Sayang, kamu hebat sekali." Puji Marvin.
Walaupun pertama kali, Marvin mengakui kehebatan Ica membawanya ke awan-awan.Gairahnya semakin liar melihat kelihaian Ica.
Ica tidak menghiraukan pujian Marvin. Ia sangat menikmati pisang panjang milik Marvin.
"Sayang Ica mau seperti tadi." Kata Ica Mulai naik lagi.
"Hem... Nanti sayang, selesaikan duluan Abang." Kata Marvin.
Ica semakin semangat, Ia tidak memberi cela sedikitpun untuk pisang bernapas. Marvin yang sudah tidak tahan ingin melepasnya.
"Sayang, awas. Mau keluar nih." Kata Marvin mengingatkan.
Ica melepasnya sebentar. Ia ingin mencoba rasa cairan pisang milik Marvin.
"Gak apa-apa sayang, Ica ingin coba merasakannya." Jawab Ica.
"Baiklah sayang. Maaf sayang, siap-siap ya." Kata Marvin.
Ica terlihat sangat sungguh-sungguh. Ia tidak berhenti memainkan benda tersebut.
"Aaggh..." Teriak Marvin.
Ica nampak menikmati semburan lava yang melimpah itu. Ia menelan habis sampai bersih cairan itu.
"Sayang rasanya unik, Ica baru menikmatinya." Kata Ica.
Ica yang merasa sudah panas lagi. Ia segera meluncurkan serangannya ke wajah Marvin. Ia tidak rela Marvin menolaknya kali ini.
"Sayang, kok jadi lebih ganas dari harimau?" Gurau Marvin memegang pundak Ica.
"Hem.. Abang." Ica menarik kepala marvin ke dalam wajahnya.
"Abang lemas sayang, tunggu ya." Kata Marvin.
"Abang... Sekarang." Kata Ica.
Ica terus bermain di wajah Marvin. Tangannya memegang pisang milik Marvin, yang sudah seperti pisang layu.
__ADS_1
"Sayang sebentar ya." Kata Marvin lemas.
Ica menyudahi aksinya. Ia membanting tubuhnya disamping Marvin. Marvin sudah tidak berdaya, tetapi gairahnya tetap menyala dan mengagumi Ica. "Rasanya tidak bisa tidur tiga malam ini." Gumam Marvin.