
"Ser, jadi nggak? Ada Ica loh, sama Ibu dan Bapak juga." Kata Beni.
Beni merayu Sera agar mau menginap di rumahnya. Ia ingin di temani Sera di saat-saat seperti ini.
Kepala Beni terasa penat, penuh dengan beban berat. Ia memang tipe orang yang sulit percaya kepada orang lain. Sehingga banyak pekerjaan yang ia handle sendiri.
"Sera mau Kak, tapi takut minta izin kepada Papa." Kata Sera.
"Baiklah, saya yang akan meminta izin." Kata Beni.
Beni mengambil ponselnya di atas meja. Ia mencari kontak nomor Pak Adrian Mehana. Setelah mendapatkan nomor tersebut Ia langsung menekan tombol berwarna hijau.
"Halo, selamat sore Om." Kata Beni dari sambungan telepon.
"Halo Nak Beni, ini Tante Nak." Kata Tante Mutia.
"Oh Tante... begini Tan kalau boleh Beni mau meminta izin kepada Tante dan Om. Beni mau mengajak Sera menginap di rumah. Sekarang Ica, Ibu dan Bapak berkumpul di rumah semua." Kata Beni.
"Boleh Nak, tapi tolong jaga Sera baik-baik ya. Jangan lupa Tante minta tolong dengan Ica agar mengajari Sera mata pelajarannya." Kata Tante Mutia.
"Baik Tante." Kata Beni.
"Oh, iya Sera sudah bersama kamu Ben?" Tanya Tante Mutia.
"Iya Tan, tadi Sera datang ke kantor membawakan makan siang untuk Beni." Kata Beni.
"Ya sudah kalau begitu, Tante matikan teleponnya. Selamat sore." Kata Tante Mutia.
"Iya, selamat sore Tan." Kata Beni.
Setelah sambungan telepon terputus. Beni menatap wajah Sera dengan senyuman.
"Kenapa Kak? Boleh gak sama Mami?" Tanya Sera.
"Hem... boleh dong, siapa yang bisa menolak Arbeni, hehe." Kata Beni.
"Terimakasih Kak." Kata Sera.
"Yuk, kita pulang." Ajak Beni.
Beni menggandeng Sera keluar dari ruangan kerjanya. Mereka melewati banyak karyawan kantor. Membuat iri bagi siapa saja yang melihatnya.
Beni membukakan pintu buat Sera. Ia mempersilahkan Sera masuk mimik duluan. Kemudian Beni melajukan mobilnya dengan pelan.
Kurang dari setengah jam perjalanan, mobil Beni tiba di halaman rumah. Ia tidak lupa menyapa penjaga rumahnya. Kemudian Beni dan Sera segera masuk karena pintu memang sedang terbuka.
"Selamat sore." Sapa Marvin.
"Selamat sore Kak." Jawab Marvin.
Marvin keluar dari ruang TV menemui Beni. Ia melihat Sera bersama Beni. Marvin mengalami Sera.
__ADS_1
"Kak Ica mana Bang?" Tanya Sera.
"Ada di kamar, lagi istirahat." Kata Marvin.
"Ibu sama Bapak mana Bang, Sera mau salam." Kata Sera.
"Ada di belakang." Kata Marvin.
Sera langsung berjalan ke arah belakang. Ia mencari keberadaan kedua orang tua Ica. Setelah melihat Sera dari kejauhan, Ibu Asmi mendekati Sera.
Sera menyalami Ibu Asmi dan Pak Marjoyo. Kemudian mereka masuk ke ruang tamu dimana Beni dan Marvin berada.
"Nak Sera sudah lama datangnya?" Tanya Ibu Asmi.
"Beli Bu, baru saja sampai. Bareng Kak Beni pulang dari kantor." Kata Sera.
"Oh iya, sebentar Nak Sera. Ibu panggilkan Ica dulu, tadi dia sedang tidur." Kata Ibu Asmi.
"Biarlah Bu, nanti saja. Kak Ica bangun sendiri jangan di ganggu, lagi pula Sera menginap di sini nanti malam." Kata Sera.
"Ya sudah Nak kalau begitu." Kata Ibu Asmi.
Sera melihat Bibi Tuti sedang memasak untuk makan malam nanti. Jiwa kekanak-kanakan Sera muncul juga, ia bermaksud ingin belajar kepada memasak kepada Bi Tuti. Pada intinya ia ingin senang mengganggu orang yang sedang sibuk memasak.
"Kak, kelihatannya Kakak ipar akan memasak hidangan yang lezat untuk kita." Kata Marvin cengengesan.
Beni tau kalau sebenarnya Marvin sedang menyindir dirinya. Kalau saja Beni bukan Kakaknya Ica, tentu Marvin ingin mengatakan bahwa Sera seperti anak kecil yang sedang mengganggu Ibunya memasak.
Beni mendapat ide untuk membuat keseruan di sela kepenatannya. Ia memanggil Bi Tuti untuk menyiapkan bahan-bahan membuat kue.
"Boleh, siapa takut." Kata Marvin.
Bu Asmi hanya tersenyum melihat tingkah kedua pemuda itu. Sedangkan Pak Marjoyo keluar mengobrol dengan Pak Ujang di gardu satpam rumah.
"Ayo, silahkan bangunkan." Kata Beni.
Tanpa menjawab Marvin mengarahkan langkahnya ke arah kamar Ica. Tanpa mengetuk pintu, ia menepuk pipi Ica dengan lembut.
"Sayang ayo bangun, ada misi penting." Kata Marvin.
Ica belum sepenuhnya terjaga. Saat mendengar kata penting, ia segera merespon dan duduk di atas ranjang.
"Kenapa Bang?" Tanya Ica.
"Cuci muka dulu sayang. Kita ke bawa sekarang." Kata Marvin.
Tanpa bertanya lagi, Ica membersihkan wajahnya. Kemudian ia memberi sedikit vitamin wajah lalu turun di iringi oleh Marvin.
"Wah, adik Kakak sudah bangun." Goda Beni.
"Memangnya ada apa Kak?" Tanya Ica.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa." Kata Beni.
"Kata Bang Marvin tadi penting." Kata Ica.
"Oh, kekasih mu ini mau unjuk kebolehan antara kamu dan Sera dalam hal masak." Kata Beni.
"Hem. Apa tidak ada waktu lain?" Tanya Ica.
"Tanya saja dengan Abang mu." Kata Beni.
"Abang." Kata Ica melirik Marvin.
"Gak apa-apa sayang, semangat." Kata Marvin.
Ibu Asmi membantu Bi Tuti menyiapkan peralatan yang akan di gunakan dalam lomba. Tidak lupa bahan pokok adonan kue mereka siapkan.
Setelah semua siap, Bu Asmi dan Bi Tuti melihat dari meja makan. Ica dan Sera sangat senang melakukannya.
Beni dan Marvin masih di ruang tamu. Mereka terlihat sedikit canggung. Kemudian Beni membuka suara terlebih dahulu.
"Vin, saya mau bicara serius sama kamu." Kata Beni.
"Ada apa Kak?" Tanya Marvin.
"Vin, sekarang di kantor sangat banyak yang harus di cek. Soalnya ada pemindahan aset dari luar negeri ke dalam." Kata Beni.
"Terus ada masalah Kak?" Selidik Marvin.
"Tidak ada, tapi Saya minta tolong sama kamu. Agar membantu mengecek pemindahan tersebut satu persatu." Kata Beni.
"Baik Kak, Marvin siap." Kata Marvin.
"Datanglah besok Vin bantu saya. Saya masih sangat terbeban sebab dalang di balik rencana penyekapan Ica belum di temukan jejaknya." Kata Beni.
"Baik Kak, Saya pasti membantu." Kata Marvin.
"Yuk, kita lihat dulu perjuangan dia gadis di belakang." Kata Beni.
Beni dan Marvin ikut duduk juga di meja makan untuk melihat Ica dan Sera sedang memasak kue. Hampir satu jam mereka sibuk di dapur akhirnya jadi juga.
Dua buah brownis sudah siap di santap. mereka mengkreasi kue tersebut dengan kreatifitas masing-masing.
"Kak, enakan masakan siapa?" Tanya Ica.
"Sera dong, calon chef di rumah tangga Kakak nanti." Kata Beni.
Sera yang mendapat pujian tersenyum sumringah. Sedangkan Ica senyum mengerucut.
"Sayang, makananmu tetap terenak bagi Abang." Kata Marvin.
Ibu Asmi dan Bi Tuti tersenyum melihat kelakuan ke empat pemuda ini. Baru akhir-akhir ini Bi Tuti melihat majikannya tersebut tersenyum lagi.
__ADS_1