Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Perintah Ini Untuk Mu!


__ADS_3

Dengan berat hati, keluarga besar Adikara bersiap datang ke kediaman keluarga Wiraarga. Pagi ini adalah hari pernikahan Vano Wiraarga, yang tidak bisa di undur lagi karena sudah mengundang banyak orang.


Sebenarnya berat bagi keluarga mereka untuk menghadiri pernikahan ini. Terutama bagi Nyonya Diana dan keluarga yang lain. Tapi bagaimana pun mereka tetap datang untuk menghargai keluarga calon besan.


Siapapun orang tua pasti akan terpukul dengan kehilangan putri mereka. Apalagi keluarga Adikara yang baru saja menemukan putri kandung mereka yang hilang. Sekarang hari menerima pil pahit lagi, kehilangan putri mereka untuk kedua kalinya.


Begitu juga dengan Marvin, ia masih di rumah kediaman Adikara pagi ini. Ia nampak lemas tidak bergairah untuk bangkit dari tempat tidurnya. Padahal seharusnya ia berbahagia hari ini karena akan menyaksikan saudara satu-satunya mengikrarkan janji suci mereka.


Pada keesokan hari juga Marvin akan merasakan hal yang sama dengan Vano. Namun apa yang hendak di kata, kekasih yang akan menemaninya di tempat bersanding besok hari tidak ada bersamanya.


Sebenarnya Marvin ikhlas jika pernikahannya harus di mundurkan. Ia sudah ikhlas menerima malu karena sudah banyak undangan. Tapi yang sangat menyakitkan hatinya karena Sang Kekasih belum juga ada kabarnya.


Marvin membersihkan diri sejenak. Kemudian ia turun ke ruang tamu, ia tidak enak dengan calon mertuanya. Ia bisa saja sangat sedih waktu sendirian. Namun di depan orang lain Ia harus menampakan ketegaran.


"Sudah siap Vin? Kita berangkat sekarang." Kata Mama Diana.


"Baik Ma. Saya sudah siap." Jawab Marvin.


Beni dan ke dua Uncle nya juga berada di ruang tamu. Tapi Uncle Ronald belum bersiap apa-apa.


"Ben, menurut saya biar Kak Dave saja yang pergi sama Kakak Diana dan Kak Hendro. Kita berdua tetap akan mencari keberadaan Ica hari ini." Kata Ronald.


"Kalau saya siap aja Uncle. Bagaimana menurut Mama dan Papa?" Tanya Beni.


"Gimana menurut mu Vin? Tidak apa-apa kalau Kak Beni nggak ikut?" Tanya Mama Diana kepada Marvin.


"Nggak apa-apa. Itu lebih baik biar Kak Beni dan Uncle tetap mencari Ica. Nanti saya juga tidak akan lama di pernikahan Vano. Saya juga akan mencari Ica hari ini." Kata Marvin.


"Kita berangkat sekarang, nanti terlambat." Kata Pak Hendro.


Setelah rombongan yang akan menghadiri pernikahan Vano Adikara telah berangkat. Di rumah Adikara yang megah masih banyak orang sanak keluarga. Namun di satu ruangan terdapat dua orang dengan pikirannya masing-masing.


Mereka adalah adalah paman dan keponakan yang sedang memikirkan orang yang mereka sayangi. Di ruang kerja Hendro Adikara, Ronald dan Arbeni terlihat serius memainkan laptop masing-masing.

__ADS_1


Ronald mengutak-atik laptop yang ada di ruangan kerja Pak Hendro. Dengan laptop itu Ia juga mengecek perkembangan Black Tiger yang sudah lama Ia tinggalkan.


Bukan hal yang susah untuk membuka data dari Black Tiger. Karena yang memiliki kunci data di sana hanyalah dirinya, Dave, dan Barrak.


Mata Ronald membulat melihat data Barrak ada di negara ini. "Ada apa manusia itu bisa sampai di negara ini?" Kata Barrak.


Ronald menelepon ke markas Black Tiger. Seorang perempuan mengangkat sambungan telepon.


"Halo, maaf ini dengan siapa?" Tanya perempuan dari sambungan telepon.


"Saya minta nomor ponsel Barrak yang aktif." Kata Ronald.


"Maaf Tuan, Bos Barrak sedang non aktif sejenak. Ia menyusul istrinya ke negara asalnya." Kata perempuan tersebut.


"Sekarang juga katakan nomor Barrak yang aktif. Kalau tidak saya tidak segan menghabisi markas Black Tiger sekarang juga. Saya tidak mau bermain-main Nona." Kata Ronald geram.


"Maaf Tuan, tapi bisa tunjukan identitas anda?" Tanya perempuan tersebut.


"Saya akan kirim setelah ini." Kata Ronald.


Ronald mengirimkan foto bross emas sebagai identitas keluarga George. Ia juga memotret logo berbentuk Kepala harimau terbuat dari emas putih.


Ketika foto tersebut berhasil di kirim. Tiba-tiba ada telepon masuk ke ponsel Ronald.


"Apakah ini Tuan Harris? Saya sudah mengirim nomor ponsel Bos Barrak Tuan. Saya meminta maaf atas ketidaknyamanan Tuan." Kata perempuan itu.


Ronald memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Tanpa mengucapkan sepatah-katapun. Ia hanya fokus kepada Barrak untuk membantunya mencari Ica keponakannya tersebut.


"Ada apa Uncle?" Tanya Beni penasaran.


"Nggak apa-apa Ben, Uncle mau menelepon teman. Siapa tau dia bisa bisa membantu kita mencari Ica." Kata Ronald.


"Baik Uncle, semoga saja teman Uncle bisa membantu." Kata Beni.

__ADS_1


Ronald pergi keluar kearah balkon. Ia segera mencari nama Barrak yang nomor ponselnya sudah Ia catat tadi.


Sekali dua kali panggilan telepon tidak di angkat. Panggilan ke tiga Ronald mendengar suara Barrak.


"Halo, ini dengan siapa?" Tanya Barrak dari sambungan telepon.


"Kamu tidak lupa dengan suara saya kan? Apa kabar mu? Kamu sekarang dimana?" Tanya Ronald.


"Saya sedang di rumah dan baik-baik saja. Suara Tuan seperti..., tapi Bos Ronald sudah meninggal. Apa ini Tuan Harris?" Tanya Barrak.


"Menurut data yang ada di Black Tiger, kamu sekarang ada di negara yang sama dengan Harris. Putri Harris George di bawa paksa oleh seseorang, tangkap orang itu dan habisi dalangnya." Kata Ronald.


"Tapi Tuan, istri saya sedang...."


"Ini perintah untuk mu! Ingat lagi bagaimana perjuangan George untuk mu dulu. Saudara kami meninggal demi menyelamatkan ibu mu. Kamu tidak lupa itu kan?" Tanya Ronald.


"Apa ini Bos Ronald?" Tanya Barrak.


"Sekarang lakukan saja yang saya perintahkan. Jangan sampai orang lain tau hal ini. Termasuk orang terdekat mu. Nanti saya kirim fotonya.


Nanti saya akan kirim beberapa anak buah. Buat markas baru di negara ini, jangan sampai istrimu tau pekerjaanmu sebenarnya." Kata Ronald.


"Baik Bos, saya tidak akan melupakan jasa keluarga George kepada saya. Saya akan bekerja sekarang juga." Kata Barrak.


"Baiklah. Selamat atas pernikahan mu Barrak. Ternyata bisa juga kamu menikah di atas dunia pancaroba seperti ini." Kata Ronald dingin.


"Iya Bos." Jawab Barrak.


"Kok lesu begitu? Apa uang bulan madu sudah menipis? Tenang nanti saya transfer sebagai kado pernikahan kalian." Kata Ronald agar suasana agak mencair.


"Ini benar-benar Bos Ronald, tetap baik kepada saya. Tapi saya masih punya uang Bos." Kata Barrak segan.


"Baiklah, kadonya akan saya bawa saat mengunjungi mu nanti. Sekalian bertemu kakak ipar." Kata Ronald.

__ADS_1


"Baik Bos." Jawab Barrak.


Ronald memutuskan panggilan secara sepihak. Hal ini memang sering dilakukannya ketika menelepon. Apalagi yang di telepon adalah bawahan dalam geng mafianya.


__ADS_2