Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Takut Kehilangan


__ADS_3

Marvin belum mengetahui kalau Ica adalah keponakan Dave dan Ronald. Pada suatu pagi Marvin bertamu ke rumah Adikara. Sebelum ia berangkat bekerja ke kantor Beni.


Dari kejauhan di dekat gerbang Marvin melihat Ica, sedang mengobrol dengan seorang pria di kursi taman depan rumah. Hati Marvin merasa risau ada kecemburuan terpancar di hatinya.


Dave memeluk Ica setelah mendengar ceritanya yang sempat terpisah hampir 20tahun dengan keluarga Adikara. Dave mengelus pundak Ica yang menunduk sedih.


"Uncle sangat senang bisa berkumpul sama kalian." Kata Dave.


"Berarti Papa, Uncle, sama Uncle Ronald itu adik beradik ya? Tanya Ica.


" Iya, tapi Ronald adalah adik yang di angkat Kak Harris."Jawab Dave.


"Syukurlah, kita bisa berkumpul lagi Uncle." Kata Ica.


Marvin melihat Ica dan Dave berpelukan, merasa terbakar di ulu hatinya. "Kenapa Ica melakukan ini pada saya? Tapi memang pantas mendapatkan yang lebih baik." Gumam Marvin.


Marvin mendekat kepada Ica dan Dave. Mereka kaget akan kehadiran Marvin. Ica segera mendekat kepada Marvin.


"Ca, sekarang kamu sudah belajar bermain di belakang saya? Dengan rekan Papa mu juga." Kata Marvin.


"Bang, Ica bisa jelaskan. Ini tidak seperti yang Abang lihat." Kata Ica.


Selesai mengatakan hal itu, Marvin membalik badan ingin meninggalkan Ica dan Dave. Dengan cepat Dave menahannya, Ia tidak ingin kesalahpahaman ini berlanjut. Ia sangat menyayangi keponakannya, tapi sayang itu hanya kasih sayang orang tua dan anaknya.


"Marvin, Saya Dave George adik kandung Papanya Ica Harris George. Semua orang mengenalnya dengan nama Hendro Adikara." Kata Dave.


"Iya Bang, ini Uncle Dave. Adik kandung Papa." Ica menjelaskan.


Marvin hanya terdiam, Ia belum mengerti apa yang di maksud oleh Ica. Dave tidak ingin ikut campur dalam hal pribadi keponakannya. Ia menjaga perasaan calon dari keponakannya tersebut.


"Caca, nanti biar uncle yang ke kantor. Marvin biar istirahat dulu untuk hari ini menjaga kamu." Kata Dave.


"Baik, Uncle." Kata Ica.


Ica menarik tangan Marvin dengan pelan. Berharap tidak ada salah paham di antara mereka. Membawa Marvin ke taman belakang.


Ica mengajak Marvin duduk di kursi taman belakang. Ia melihat Marvin belum bisa mengontrol emosinya.


"Bang, apa yang di bilang uncle Dave tadi benar. Beliau adalah adik kandung Papa." Kata Ica mencoba menjelaskan.


"Bagaimana saya bisa yakin dengan penjelasan mu? Kak Beni sudah berangkat bekerja, Papa Mama sudah berangkat lagi keluar negeri, sedangkan Ibu sama Bapak sedang pulang ke kampung." Kata Marvin.


"Abang boleh tanya sama Kak Beni kalau dia pulang nanti." Kata Ica.


"Oh, gitu. Nanti Saya akan menanyakannya" Kata Marvin.


Ica memandang air kolam yang ada di depan bangku taman. Air yang tenang membawa Ica berkhayal tentang kehidupannya nanti.


"Kenapa sih Bang, akhir-akhir ini Abang selalu curiga sama Ica? Tanya Ica.


"Saya hanya takut kehilangan kamu, sekarang kan sudah banyak yang ingin memiliki mu." Kata Marvin jujur.

__ADS_1


"Terus bagaimana Bang? Perasaan orang lain tidak bisa kita batasi." Kata Ica.


"Saya mau kita segera menikah Ca. Saya tidak bisa dengan keraguan terus seperti ini." Kata Marvin.


"Baiklah kalau itu mau Abang, Ica setuju saja. Tapi apa Abang berani mengatakannya kepada Kak Beni?" Tanya Ica.


"Berani lah, masa iya nggak berani." Jawab Marvin.


Marvin menarik Ica kedalam rumah. Ada sesuatu yang ia ingin minta kepada Ica. Membawa Ica ke suatu tempat yang tidak asing bagi mereka.


"Bang, mau kemana?" Tanya Ica.


"Abang kangen sayang. Kita ke Kamar sebentar." Kata Marvin.


Ica hanya menurut saja ajakan Marvin. Marvin perlahan membuka kanopi gunungan kembar milik Ica.


Ia mengagumi kesempurnaan pencipta dalam menciptakan dua bola kenyal. Seperti permen yupi sebesar kepal orang dewasa milik Ica di balik kanopi berwarna kuning kunyit.


Marvin menyibak tali pengikat kanopi. Membayangkan menikmati permen yupi kenyal dengan coklat cair di dalamnya.


"Astaga sayang, semakin hari semakin indah saja." Kata Marvin.


"Hem, Iya apa sayang?"Tanya Ica.


"Rasanya Abang tidak mampu menunggu lebih lama lagi." Kata Marvin.


Marvin bermain di puncak dia bola kenyal milik Ica. Ia seakan tidak merasa kelelahan melakukannya.


"Bang kapan kita akan menikah?" Tanya Ica.


"Kapan saja Abang siap sayang, tergantung keluarga kamu." Kata Marvin melihat wajah Ica sebentar.


Menyusuri lembah milik Ica dengan dua jarinya. Keluar masuk bersama air yang hangat dari lembah itu.


"Bang, boleh saya keluarkan?" Tanya Ica.


"Bolehlah sayang. Abang ingin memasukan benda pusaka milik Abang ya sayang." Kata Marvin.


"Apa abang yakin?" Tanya Ica.


"Iya sayang, pelan-pelan saja. Abang tidak mau lembah milik sayang sampai lecet." Kata Marvin menancapkan dengan pelan benda pusakanya sampai tertelan semuanya.


Marvin menarik ulur benda pusaka miliknya dalam lembah milik Ica, sampai ada rembesan air dari lembah bunga tersebut.


Ica tiba-tiba berteriak melepas madu yang ada dalam dirinya.


"Sayang lemas." Kata Ica.


"Iya sayang, habis ini kita istirahat." Kata Marvin.


"Iya sayang." Jawab Ica.

__ADS_1


"Sebentar Abang belum keluar sayang." Pinta Marvin.


Marvin segera maju mundurkan barang pusaka miliknya dengan cepat. Membuat Ica merasakan perih yang hebat. Sedangkan seprai sudah menjadi saksi dan ternoda di pagi hari.


"Sayang, Siap-siap. Abang akan tembakan sekarang. Satu, dua, ti... ahhgk." Erang Marvin.


"Bang." Panggil Ica dengan wajah pucat kerena takut.


"Sayang, kok takut?" Tanya Marvin melihat Ica hanya menunduk.


"Ica takut hamil Bang." Kata Ica.


"Gak apa-apa sayang, habis ini Abang akan meminta kepada Papa akan segera menikahkan kita." Kata Marvin.


"Iya Bang, soalnya Ica takut." Kata Ica.


"Iya sayang, Abang akan menjaga mu selamanya." Kata Marvin tulus.


Ica yang merasa telah menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk Marvin. Ia sangat mencintai Marvin dan juga keluarganya.


Marvin mengelap lembah milik Ica dengan tisu basah. Marvin yang masih belum puas, kemudian menelusuri lembah itu dengan mulutnya. Menikmati pinggiran-pinggiran dengan rumput yang telah di pangkas.


"Auw... Sayang belum selesai?" Tanya Ica.


"Belum sayang, boleh nambah kan?" Tanya Marvin balik.


"Hem, tapi...." Kata Ica.


"Memohon sayang." Kata Marvin.


"Boleh Bang, pelan-pelan ya perih ." Kata Ica lagi.


Marvin mencoba kembali memasukan benda pusaka itu ke gua lembah milik Ica. Ia bercocok tanam tanpa ada sedikit pun rasa cemas.


Kalaupun Ica hamil tentu akan menjadi keberuntungan baginya. Karena dengan demikian tentu pernikahan mereka akan di percepat.


"Bang, apa Abang pernah melakukan seperti ini sebelumnya?" Tanya Ica.


"Belum sayang, kamu akan menjadi yang pertama dan terakhir." Kata Marvin.


Tanpa rasa lelah, Marvin terus menyemai benih di ladang milik Ica. Ia sangat berharap semaian tersebut bertumbuh dengan hijau.


Ia takut ladang milik Ica jatuh ke tangan orang lain. Hal itu tentu akan membuat Marvin patah hati dan melihat dunia dalam kegelapan.


"Sayang, jangan tinggalkan Abang." Pinta Marvin.


"Mana mungkin Ica tinggalkan Abang, semua yang Ica miliki sudah menjadi milik Abang. Abang jang tinggalkan Ica." Pinta Ica kembali.


"Iya sayang, Abang berjanji." Kata Marvin.


Marvin melepas semprotannya untuk kedua kali. Kemudian ia menghempas dirinya di samping Ica dan merangkul tubuh Ica yang ramping.

__ADS_1


__ADS_2