Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Percayakan Padaku


__ADS_3

Sudah hampir dua jam Sera menunggu Arbeni pulang dari kantor. Namun Beni belum juga pulang.


Sera ingin pulang ke rumahnya karena merasa bosan. Tetapi mengingat Beni juga mau kerumahnya, Ia putuskan untuk tetap menunggu Beni datang.


Sekitar pukul 16.00WIB, sore hari Beni tiba ke rumah. Beni segera membersihkan tubuhnya di kamar mandi lantai bawah.


Kemudian Ia menuju meja makan untuk mengisi perutnya yang sedang kosong. Setelah selesai makan, Beni sadar bahwa adik perempuan dan gadisnya tadi pamit mau ke rumah ini.


Beni segera mencari mereka ke kamar Ica di lantai atas. Melihat pintu kamar tertutup, Ia mengetuknya.


"Ca, Kakak datang." Kata Beni memanggil adiknya.


Sera yang ada di dalam kamar mendengar Beni mengetuk pintu. Ia bangkit dari ranjang Ica untuk membukakan pintu.


"Iya Kak, Kak Ica ke rumah Bang Marvin setelah mendapat telepon." Kata Sera.


"Terus kamu sama siapa?" Tanya Beni.


"Sendiri Kak, nungguin Kakak pulang. Katanya Kakak mau sekalian ke rumah Sera." Kata Sera.


"Tapi sebentar lagi ya. Kakak masih capek nih." Kata Beni.


Beni memegang pergelangan tangan Sera. Ia menarik Sera kedalam kamarnya yang berada tepat di sebelah kamar Ica.


Setelah masuk ke kamar, Beni tidak lupa menutup pintu kembali. Ia ingin beristirahat sejenak bersama kelinci kecilnya itu.


"Ser, boleh Kakak minta tolong?" Tanya Beni.


"Apa Kak?" Tanya Sera.


"Pijitin Kakak dong, capek sekali hari ini." Kata Beni.


"Tapi Sera tidak pandai memijit Kak." Kata Sera ragu.


"Nggak apa-apa sayangku." Kata Beni.


Sera memegang pundak Beni. Menggerakkan tangannya yang belum terlatih. Sebisanya Sera berusaha untuk tidak mengecewakan Beni.


Sera memijit pundak, punggung dan tangan Beni. Ia tersenyum kecil saat melihat punggung Beni tanpa helaian baju.


Membayangkan seandainya Ia berani sekedar untuk memeluk pria yang sudah lama Ia kagumi. Tapi sebagai anak yang masih di bawah usia, dan baru pertama kali mencintai. Rasa takutnya sangat besar kepada Beni.


Tapi entah keberanian dan kekuatan apa yang mendorong Sera melakukannya kepada Arbeni. Ia memeluk Beni dari belakang dan menempelkan dirinya di punggung Beni.


Beni yang terkejut langsung melepas tangan Sera dengan kasar. Hingga Sera yang sedang melayang di awan-awan seakan terhempas kuat ke bumi.


"Sera, apa yang kamu lakukan?" Tanya Beni.


"Maafkan Sera Kak." Kata Sera.


Sera yang sangat takut kepada tatapan tajam Beni, dengan muka yang dingin ia menatap Sera. Tanpa sadar air mata Sera keluar tanpa di minta.


"Kamu mau apa? Mau melecehkan saya?" Tanya Beni lagi.

__ADS_1


"Maaf Kak, Sera tidak bermaksud seperti itu." Kata Sera.


Sera tidak tahan lagi membendung air matanya. Di tuduh seperti itu, Ia merasa sangat bersalah.


Berbeda dengan Beni, Ia merasa berhasil mengerjai Sera. Sebenarnya Beni sangat senang Sera mau memeluknya.


Seandainya pun Sera tidak melakukannya duluan. Beni pasti akan menerkam Sera saat-saat ada kesempatan seperti ini.


Tapi dengan ego nya Beni membiarkan Sera merasa bersalah terlebih dahulu. Setelahnya Beni akan meminta lebih sebagai penebus kesalahan. Beni tertawa dalam hati.


"Maaf ya Kak, Sera mengaku salah." Kata Sera menunduk.


"Baiklah, baiklah. Saya akan memaafkan kamu tapi ada syaratnya." Kata Beni.


"Apa syaratnya Kak?" Tanya Sera antusias.


"Tolong ambilkan saya buah apel dibawah. Kalau nggak ada buah pear juga nggak apa-apa." Kata Beni.


"Hanya itu? Baik Kak." Kata Sera.


Sera turun kebawa untuk mengambil buah yang Beni maksud. Ia berusaha menjalankan hukuman dengan sepenuh hati.


Sebelum membawanya ke atas, Sera terlebih dulu mengupas apel tersebut. Ia membawa potongan apel yang sudah di cucinya.


Setelah masuk ke dalam kamar Beni. Sera segera memberikan piring apel dari tangannya kepada Beni.


"Ini Kak, sudah Sera kupa juga." Kata Sera.


"Oke, terimakasih." Jawab Beni tetap dingin.


"Belum dong, kesalahan mu emang kecil? Bisa di penjara loh kamu." Gertak Beni.


Sebenarnya Beni ingin tertawa terbahak-bahak di depan Sera. Tapi belum saatnya pikir Beni dalam hati.


"Terus apa lagi Kak?" Tanya Sera.


"Kamu harus kasih suapan apel ini kepada saya." Kata Beni.


"Baiklah Kak." Jawab Sera.


Sera mengambil potongan apel dengan sendok garpu yang telah Ia siapkan tadi. Sera menyodorkan potongan apel tersebut dekat mulut Beni.


"Ini Kak." Kata Sera.


"Apa kamu merendahkan saya Nona Mehana? " Kata Beni pura-pura tersinggung.


"Kenapa Kak, Sera tidak bermaksud." Jawab Sera.


"Saya masih bisa mengangkat potongan apel itu Nona." Kata Beni.


"Kenapa Kakan menyuruh saya?" Tanya Sera mulai jengkel.


"Saya minta kamu beri suapan menggunakan mulutmu." Kata Beni.

__ADS_1


"Loh kenapa Kak?" Tanya Sera.


"Ini hukuman. Kamu mau membantah?"Tanya Beni.


"Baiklah Kak." Kata Sera.


Sera menuruti perkataan Beni. Pelan-pelan Ia memberi suapan kepada Beni. Saat Beni menerima suapan itu. Sera tidak percaya Beni juga mengigit pelan benda kenyal miliknya.


Sera berusaha melepaskan. Tetapi Beni menyerangnya deng penuh keinginan. Beni melepaskan Sera sejenak untuk membiarkannya bernapas sesaat.


"Bukankah ini yang kamu inginkan sayang?" Tanya Beni.


"Kak tapi Sera takut." Kata Sera.


"Takut kenapa sayang?" Tanya Beni.


"Sera takut hamil Kak." Kata Sera.


Beni belum sempat menjawab pertanyaan Sera. Ia kembali menginginkan benda kenyal merah muda milik Sera.


Beni menikmati hidangan dari kelinci kecilnya ini. Walaupun sedikit merasa bersalah kepada sahabatnya Redi.


Tetapi di hati, Beni akan bertanggung jawab kepada Sera. Kapanpun keluarga Mehana memintanya. Lagi pula tidak ada alasan untuk keluarga itu menolaknya.


Setelah puas memberi sejarah indah kepada Sera. Beni segera melepaskan Sera dari serangannya.


"Apa kata mu tadi sayang?" Tanya Beni.


"Sera takut hamil Kak." Kata Sera dengan wajah memerah.


"Sera sayang, makanya belajar yang baik di sekolah." Kata Beni.


"Apa hubungannya Kak?" Tanya Sera belum paham juga.


"Emang bisa lambung berfungsi sebagai rahim?" Kata Beni.


"Emang bisa Kak?" Tanya Sera serius.


"Aduh mak... Otak anak ini terbuat dari apa sih?" Gumam Beni.


"Hehe, maaf Kak." Kata Sera.


"Yah, udah ayo siap-siaplah. Saya antar kamu pulang. Soalnya belum halal ini." Kata Beni.


"Iya Kak." Jawab Sera.


Sera keluar dari kamar di ikuti Beni. Beni akan mengantar Sera pulang. Sekalian ada yang ingin Ia bicarakan dengan Tuan Adrian Mehana, Papinya Sera.


Beni membukakan pintu mobil untuk Sera. Sera tersenyum kepada Beni yang tanpa ekspresi.


"Silahkan masuk Nyonya Arbeni." Goda Beni.


"Terimakasih Kak." Sera tersanjung bahagia.

__ADS_1


Beni melajukan mobilnya dengan pelan. Setelah Ia berpamitan dengan Pak Ujang penjaga rumahnya. Sera yang sedang kasmaran tidak lepas memandang Beni yang sedang menyetir.


__ADS_2