
Mereka masuk ke dalam rumah kediaman keluarga Wiraarga. Marvin menggandeng tangan Ica yang masih nampak ketakutannya.
Di ruang tamu sudah ada Bunda Lusi, Vano, dan Elvita, sedangkan Pak David harus masuk ke kantor pagi ini. Mereka sengaja menunggu kedatangan Marvin dan Ica. Setelah di telepon Marvin tadi malam.
"Selamat pagi Bunda." Sapa Ica.
Ica memeluk wanita yang sudah berkepala empat itu. Namun kalau di lihat dari wajah dan kebugarannya, Bunda Lusi masih terlihat seperti berumur tiga puluhan.
Ica juga memberi salam dan memeluk Elvita. Gadis pujaan hati dari Vano, saudara angkatnya. Ica sudah menganggap gadis sebayanya itu sebagai saudaranya, demikian juga dengan Elvita.
"Selamat pagi Nak. Apa kabar kmu sayang?" Tanya Bunda Lusi.
"Kabar baik Bun. Bunda sehat-sehat selama Ica di rumah Mama?" Tanya Ica Balik.
"Iya Nak, Bunda sehat sayang. Syukurlah." Jawab Bunda Lusi
Sesuai janji, Marvin sibuk membuatkan kekasihnya minuman di dapur. Sedangkan Vano dan Elvita sudah di hidangkan sejak mereka belum tiba di rumah Wiraarga.
Marvin memberikan segelas jeruk lemon kepada kekasihnya. Ia duduk di samping Ica dengan wajah sumringah.
"Wah, tumben nih Abang saya yang paling ganteng senyum-senyum sendirian?" Goda Vano.
"Ada kabar apa sih Vin? Sampai Bunda di kabari tidak boleh ke mana-mana?" Selidik Bunda Lusi.
"Makanya, Marvin ke sini untuk mengabari semuanya dan memohon izin kepada Ayah dan Bunda. Kalau Marvin dan Ica ingin segera menikah, keluarga di sana sudah sepakat sekitar enam minggu lagi." Jelang Marvin.
"Iya Bunda, Papa sama Mama juga nitip salam dan permohonan agar mendampingi kami dalam mengurus segala sesuatunya. Karena mereka tidak bisa pulang dalam waktu dekat ini." Pinta Ica.
"Wah, keduluan kita Beb." Kata Vano kepada Elvita.
"Memang Bang Marvin yang lebih tua sayang." Kata Elvita mengingatkan.
"Emang yang muda tidak boleh merasakan cinta?" Gerutu Vano.
Bunda Lusi mendengar perdebatan anaknya itu, tersenyum walau tidak terlihat oleh mereka. Sebelum Marvin dan Ica datang, Vano dan Elvita memang sudah mengajukan proposal kepada Bunda Lusi. Mereka menginginkan pertunangan agar ada ikatan bagi mereka.
__ADS_1
"Vano, kalau kalian serius dengan rencana ke jenjang berikutnya Bunda akan mendukung kalian. Bunda akan menyiapkan acara pertunangan kalian bersamaan dengan Marvin menikah. Nanti Bunda akan bicarakan dengan Mama Papa Ica." Kata Bunda Lusi.
"Terimakasih Bunda. Bunda paling cantik sejagad raya deh." Kata Vano.
"Vano, memang kalau di turuti kemauannya biasa gitu deh." Balas Bunda Lusi.
"Gaya mu Vin, mau tunangan tapi belum betah bekerja." Kata Marvin.
"Iya deh, kalau situ ngandalin calon istri saja. Ish, nggak keren." Kata Vano.
"Udahlah Bang, kita ini keluarga. Jangan kayak gitu." Sahut Ica.
"Benar kata Ica, kita ini keluarga. Elvita, Vano, Marvin, dan Ica adalah anak kami laki-laki dan perempuan. Jangan ada yang membanding-bandingkan." Kata Bunda Lusi.
"Dengar tuh Van, kata orang tua." Kata Marvin.
"Oh, iya mumpung Ica dan Vita ada di sini. Bunda dulu sengaja membelikan untuk kedua mantu Bunda. Tapi untuk Vita nanti Bunda kasih di hari pertunangan kalian. Nggak apa-apa kan Nak?" Kata Bunda Lusi.
"Tidak apa Bunda, itu lebih bagus. Memang Kak Ica sudah hampir menjelang hari H." Kata Elvita tersenyum.
Bunda Lusi memasangkan sebuah gelang serut berwarna silver dan bermata berlian kecil-kecil. Masing-masing kepada Ica dan Elvita.
"Terimakasih Bunda. Ini pasti sangat mahal." Kata Ica.
Ica dan Elvita bergantian memeluk Bunda Lusi. Mereka terharu melihat kebaikan calon mertua yang sangat memperhatikan hal kecil seperti ini. Memberikan hadiah yang sangat indah serta adil.
Ica terus memandangi gelang tersebut dan mengarahkannya kepada Marvin. Ia merasa sungkan menerima pemberian yang cukup mahal itu.
"Gak apa-apa sayang. Sebagian kecil dari rasa syukur Bunda memiliki kamu." Kata Marvin.
"Iya sayang, lagi pula gelang itu tidak seberapa di banding fasilitas yang orang tua kamu berikan. Mungkin tidak seharga pakaian yang kamu kenakan saat ini." Kata Bunda Lusi.
"Hehe, Ica tidak tau harga Bunda. Semua pakaian sudah ada di lemari, Mama dan Kak Beni yang belikan. Juga masih beberapa lembar belian Bunda dan Bang Marvin dulu." Kata Ica merendah.
"Iya tidak apa-apa sayang." Kata Bunda Lusi.
__ADS_1
Sementara mereka sedang mengobrol, tiba-tiba Elvita mual seperti mau muntah. Ia permisi ke kamar mandi dengan terburu-buru. Ica yang cemas segera menyusul calon adik iparnya.
"Apa Kak El sakit?" Tanya Ica.
"Nggak Ca, tapi sepertinya saya udah telat bulan ini." Kata Elvita.
Elvita berbicara dengan menangis. Ica merasa sesama perempuan ikut sedih dan mencoba memeluk Elvita untuk menenangkannya. Ia tidak tega melihat Elvita menangis.
"Maksudnya gimana El, apa kamu hamil?" Tanya Ica heran.
"Saya tidak tau Kak. Tapi kami sudah melakukannya beberapa kali." Kata Elvita.
"Sudah kamu cek menggunakan tes-pek?" Tanya Ica.
"Saya tidak berani Ca. Jika hasilnya nanti positif, apa keluarga ini akan menerima saya." Kata Elvita.
"Kalau memang positif dan ini benar anaknya Vano, mau atau tidak Vano harus bertanggung jawab. Saya rasa Bunda juga sangat menyayangi mu El. Kita ke dokter sekarang saya temani atau mau sama Vano saja?" Tanya Ica.
"Sama kamu saja Ca, saya tidak berani." Kata Elvita.
"Tapi saya tidak boleh keluar El, kamu juga harus berhati-hati. Bagaimana kalau kita panggil dokternya ke sini saja, atau saya beritahu Bang Marvin dan Vano biar kita sama-sama dokter tanpa Bunda tau dulu?" Tanya Ica.
"Pilihan kedua mungkin lebih baik Ca." Kata Elvita.
Elvita melepas pelukannya, Ica mengelus punggung Elvita dengan tulus. Walaupun mereka salah, namun untuk membiarkan mereka sendirian melewati masalah ini. Hati Ica rasanya tidak tega.
"Saya bicara dengan Bang Marvin dulu ya El. Kamu keluarlah dengan biasa saja agar Bunda tidak curiga." Kata Ica
"Baik Kak." Jawab Elvita.
Ica dan Elvita keluar dari kamar mandi. Mereka kembali ke ruang tamu. Elvita duduk di samping Vano seperti semula, sedangkan Ica berpura-pura minta tolong ambilkan buah lemon di pohonnya belakang rumah.
"Bang, tolong bantu Ica ambil buah lemon di belakang." Pinta Ica kepada Marvin.
"Iya sayang, boleh." Kata Marvin.
__ADS_1
Marvin bangkit dari sofa menuju taman belakang rumah. Pohon jeruk lemon ada di bibir kolam ikan di samping kolam renang. Ica membuntuti Marvin di belakang. Dengan perasaan deg-degan Ica berjalan pelan, tujuannya hanya satu demi membantu Elvita dan Vano.