
Di negara yang berbeda, Sean sudah menikah dengan Barrak. Setelah Dave George dan Ronald di beritakan meninggal dalam musibah kebakaran di rumahnya.
Barrak adalah satu-satunya orang yang di takuti oleh kelompok Black Tiger. Di kalangan kelompok mafia yang lain, kekuasaan Black Tiger terkenal cukup mumpuni. Kekayaannya pun semakin tidak bisa terhitung.
Dalam kelimpahan Barrak suaminya, Sean pun semakin glamour. Kehidupan mereka sangat di segani di negara tersebut.
Tapi Sean tidak ingin memiliki keturunan terlebih dahulu, ia masih memiliki keinginan berbalik kepada Marvin. Setelah ia memiliki banyak aset nantinya.
"Honey. Apa kita belum akan berencana memiliki buah hati?" Tanya Barrak.
"Saya belum siap repot memiliki bayi, Sayang." Kata Sean.
Ia bergelayut di bahu Barrak. Sean memang selalu memberi kepuasan kepada Barrak. Namun, Barrak selalu meminta keturunan dari Sean. Sean selalu menolaknya dengan aksi ranjang, hal ini selalu menjadi perkara bagi mereka dan pertanyaan dalam hati Barrak.
"Sayang, tapi kan kita bisa membayar pengasuh bayi nantinya." Rayu Barrak.
"Saya belum siap Kak. Apa Kak Barrak harus mempersalahkan hal ini setiap harinya?" Tanya Sean dengan nada tinggi.
"Entah apa yang ada dalam pikiranmu Sean!" Kata Barrak ketus.
Ia meninggalkan Sean di kamar mereka sendirian. Turun tangga rumah mereka, Barrak mengambil jaket kemudian pergi dengan raut wajah kesal.
Sean masih duduk di atas ranjang mereka. Pikirannya di penuhi dendam, dan kebencian kepada putri Adikara. Ia juga ingin kembali dalam pelukan Marvin, membuat hatinya tertutup kepada Barrak.
Walaupun seorang Barrak sudah memberikan kemewahan seperti yang Sean impikan selama ini. Hanya saja Sean belum puas, ia merencanakan akan menghancurkan keluarga Adikara.
Barrak melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia akan pergi ke klub untuk menumpahkan emosinya. Ia sangat berharap ada seorang gadis yang di lihatnya baik. Barrak sudah berencana tidak memakai pengaman, agar wanita itu bisa hamil.
Belum sempat Barrak masuk kedalam ruang klub. Ternyata Sean menyusulnya ke tempat itu dan menemui Barrak.
"Mau ngapain ikut ke sini? Mau cari pria lain?" Tanya Barrak dengan emosi.
"Sayang ayo kita pulang, kita bicarakan baik-baik. Saya sudah siap hamil, tapi ada sedikit syaratnya." Kata Sean memeluk Barrak.
"Katakanlah apa syaratnya sayang." Pinta Barrak melunak.
__ADS_1
"Kita bicarakan di rumah saja sayang." Kata Sean.
"Lebih baik kita ke hotel saja, biar bisa mencetak anak kita agar cepat hadir di perut kamu. Saya akan menyemprotkannya dengan sangat kuat." Kata Barrak.
Barrak berjalan ke parkiran tempat mobil-mobil mewah terparkir. Ia membukakan pintu bagi Sean seperti raja melayani seorang putri.
"Silahkan Sayang." Kata Barrak.
"Terimakasih" Jawab Sean dengan ciri khasnya.
Barrak segera melajukan mobilnya dengan pasti ke hotel. Ia sangat sangat senang Sean mau menuruti keinginannya. Menurutnya keturunan sangatlah penting bagi Barrak, untuk meneruskan benteng pertahanannya nanti.
Hanya butuh waktu krang dari sepuluh menit, mereka sudah tiba di lobi hotel. Seperti biasa Barrak memesan kamar dan pelayanan VIP. Pelayan pun sudah sangat kenal dengan wajah Barrak, bahkan kalau mau Barrak bisa saja tidak membayar biaya menginapnya.
Barrak membawa Sean ke dalam kamar hotel. Membawa Sean duduk di atas sofa lebar di depan ranjang utama. Sambil menikmati sedikit amer penambah cerah suasana.
"Ayo sayang, saat-saat seperti ini sudah lama saya impikan Sayang." Kata Barrak.
"Iya sayang, tapi saya ada satu syarat jika Kakak memintanya sekarang." Kata Sean.
"Saya ingin kita pulang ke negara asal Sean, dan mendirikan perusahan di sana." Kata Sean dengan ambisius.
Sean hanya ingin memperdaya Barrak saja dengan alasan tersebut. Ia selalu memang tidak ingin punya keturunan bersama Barrak. Bahkan saat ini saja Sean sudah duluan memasang alat pengaman dengan cara di suntikan.
Tujuan Sean tidak lain adalah ingin menghancurkan Adikara Group. Dan merebut Marvin dari kekasihnya putri keluarga Adikara itu. Agar rencananya mudah di lancarkan, Ia ingin kembali ke negara asal.
Sean ingin memanfaatkan kekayaan dan kekuasaan Barrak, dengan mengajaknya mendirikan perusahaan di negaranya. Namun siapa sangka Sean berhasil membujuk Barrak, dengan alasan akan memberinya seorang anak sebagai keturunan.
"Tapi di negara ini kita sudah punya kekuasaan sayang. Kamu juga sangat di hormati oleh semua orang di sini. Kenapa kamu mau kembali ke sana sayang?" Tanya Barrak.
"Saya lebih nyaman jika berada di negara kelahiran Kak." Jawab Sean berbohong.
"Oh, jadi itu alasan mu sayang. Baiklah kita akan pindah ke negara asal kamu, tapi izinkan saya bekerja sebentar lagi membereskan urusan di sini." Kata Barrak.
"Terimakasih sayang." Kata Sean.
__ADS_1
Seperti biasa ketika Barrak memenuhi permintaan Sean. Ia pasti menerima upah yaitu olahraga di dalam kamar, memberikan kenikmatan dunia yang sesaat itu.
"Terimakasih sayang untuk malam ini." Kata Barrak setelah selesai melakukan ritual mereka.
"Jadi kapan urusan Kakak selesai?" Tanya Sean.
"Mungkin dua minggu lagi." Kata Barrak.
"Oh, baiklah. Tidak sabar lagi saya menunggunya." Kata Sean.
"Iya sayang. Ayo kita tidur dulu, Kakak ngantuk sekali." Kata Barrak.
"Sayang tidur saja duluan, saya ingin menonton televisi sebentar." Kata Sean berdalih.
Barrak memejamkan matanya, tidak lama kemudian ia sudah tertidur pulas. Karena dengkurannya sangat keras menggangu pendengaran Sean.
Setelah menghidupkan televisi dengan suara yang sedikit keras. Sean menuju balkon untuk menelepon seseorang. Berulang kali ia mengubungi orang tersebut, setelah panggilan kelima barulah telepon di angkat.
"Halo, lama sekali! Jempol saya bisa jamuran kamu buat." Kata Sean.
"Maaf saya tadi sudah tertidur." Jawab orang tersebut.
"Bagaimana keadaan di sana? Apa kami berhasil menculik gadis sialan itu?" Tanya Sean.
"Belum Bos, sepertinya penjagaan mereka semakin di perketat." Kata orang dari sambungan telepon.
"Memang kamu bekerja suka tidak becus. Tunggu saya kembali ke negara asal dua minggu lagi. Lihat saja saatnya sudah tiba, tidak ada ampun bagi mereka." Kata Sean.
"Ya maaf Bos. Kita kekurangan uang untuk menambah orang." Kata orang yang memanggil Sean Bos.
"Tenang, saya akan transfer uang besok. Berapa kamu mau?" Tanya Sean.
"Siap Bos. Seperti ini kan kita sama-sam senang." Kata Orang itu.
"Membual saja kamu. Saya minta kamu membantu saya membereskan putri Adikara sialan. Yah sudah, saya putuskan sambungan telepon. Nanti di dengar oleh suami saya." Kata Sean.
__ADS_1
Sean memutus sambung telepon secara sepihak. Kemudian ia membaringkan diri di samping suaminya, berusaha tertidur dalam impian hidup bahagia bersama Marvin. Sesudah mematikan televisi yang ia hidupkan sebelum menelepon.