Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Terimalah Takdirmu


__ADS_3

Barrak mengangkat wajahnya, sebagai laki-laki tangguh ia tidak ingin terlihat rapuh. Kemudian Barrak mengajak Ronald menemui Ica di ruang perawatan.


Rencananya Barrak akan meminta maaf dan meminta penjelasan apa yang terjadi antara istrinya dan Ica George. Ronald dan Barrak masuk ke dalam ruangan rawat rumah sakit tempat Ica.


"Selamat sore Tuan Harris dan Nyonya." Sapa Barrak.


"Wah, kapan kamu ke negara ini Barrak? Udah Besar sekali sekarang." Kata Pak Hendro menepuk punggung Barrak.


Ia melihat Ica sebentar menyaksikan gadis itu sedang terbaring lemah di atas ranjang. Setelah menemui Ica sebentar, Ronald mengajak Beni dan Marvin untuk keluar s bentar bersama Barrak.


"Kenapa Uncle?" Tanya Marvin.


Marvin seolah tidak tega meninggalkan Ica sendirian. Makanya Ia agak protes ketika Ronald mengajaknya keluar ruangan sebentar.


"Ada yang harus di selesaikan." Jawab Ronald singkat.


Sedangkan Beni dan Barrak mengikuti Ronald tanpa satu kata pun. Mereka duduk di bangku sekitar rumah sakit.


Setelah mereka semua duduk, Ronald menjelaskan permasalahan Barrak yang merasa di permainkan istrinya.


"Bagaimana Kak Dave? Kakak masih ingat kan bagaimana kejadian itu dulu terjadi pada Barrak?" Tanya Ronald.


"Iya, saya mengingatnya. Mustahil dia adalah darah daging kamu Barrak." Kata Dave.


Barrak berpikir sejenak, ia masih tidak percaya dengan kejadian ini. Masih terngiang di pikirannya Sean bermanja dalam dekapannya.


"Tuan Bos dan Kakak Bos, apa kalian mengenal Sean istri saya? Apa masalah Putri Kak Haris dengan istri saya?" Tanya Barrak penasaran.


Beni menceritakan yang sebenarnya kepada Barrak. Bagaimana Sean yang sangat berambisi memiliki Marvin yang sekarang telah menjadi tunangan Ica adiknya.


Beni juga menjelaskan bagaimana Sean ingin menghabisi Ica. Ia mengetahui hal tersebut lewat Rengga yang sempat menjadi anak buahnya.


Dave juga menambahkan, bahwa Sean adalah wanita kurang baik. Ia pernah menerima tawaran kerja sama dengan imbalan memberikan tubuhnya sebagai tanda kerja sama.


Mendengar penjelasan dari ketiga orang tersebut. Barrak menahan amarahnya, ia tidak akan memaafkan wanita penipu tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana sebaiknya menurut kalian mengenai wanita itu?" Tanya Barrak.


"Sebaiknya kita serahkan saja ke penegak hukum." Usul Beni.


"Apa tidak kita habisi saja wanita beludak itu?" Tanya Barrak dengan emosi.


"Jangan, itu terlalu kejam bagi dia. Biar dia melahirkan bayinya dan mencari ayah dari bayi tersebut. Itu sudah cukup hukumannya." Kata Beni.


Mereka berlima sepakat untuk menemui Sean dan menyerahkan kepada penegak hukum setempat. Setelah itu mereka akan mengirim Sean keluar negeri dalam menjalani masa hukumannya.


Kurang dari setengah jam Barrak dan yang lain telah sampai di rumah sakit tempat Sean di rawat. Melihat wanita tersebut emosi Barrak segera naik.


Saat mata Sean bertemu dengan netra Marvin. Rasa ambisi itu membuat Sean mengepalkan tangan. Ia tidak menduga akan terjadi seperti ini.


"Baiklah, sekarang juga saya sudah tau kebusukkan mu kepada Putri George. Saya juga sudah mengetahui bahwa anak yang kamu kandung bukanlah bayi saya. Karena saya tidak bisa memiliki keturunan.


Hal yang paling menyakitkan adalah karena kamu berhianat kepada saya. Dengan itu saya talak kamu sekarang juga, dan kamu bukan lagi istri saya." Kata Barrak dengan lantang.


Barrak kemudian mundur ke belakang. Ia melihat polisi sudah datang untuk menangkap Sean. Karena Beni sudah menyerahkan bukti percakapan whatsapp saat membayar hutang Rengga beberapa waktu lalu.


"Ayo kita urus berkas yang di perlukan." Kata Beni.


"Biarlah wanita itu menerima takdirnya. Setelah dia melakukan banyak kejahatan. Jangan lupa biarkan ia menjalani masa tahanan di luar negeri saja." Kata Barrak dengan menyeringai.


"Kita juga harus memberi pelajaran padanya setelah apa yang di lakukannya pada Ica. Namun kita harus percayakan kepada penegak hukum nantinya." Kata Dave menimpali.


"Untuk sementara biarkan Barrak di temani Uncle Dave agar lebih tenang." Sambung Ronald.


Dave dan Barrak akan beristirahat dulu di rumah kediaman Adikara. Beni dan Ronald akan mengikuti Sean ke kantor polisi. Sedang Marvin akan kembali menemui Ica di rumah sakit.


***


Setibanya di rumah sakit, Marvin langsung memeluk erat Ica. Ia masih tidak percaya akan kekejaman Sean pada kekasihnya ini.


Menurut dokter, sore ini Ica sudah di perkenankan pulang. Karena kondisinya sudah membaik dan hanya mengalami syok atas peristiwa yang terjadi.

__ADS_1


Mama Diana dan Ibu Asmi membereskan segala sesuatunya. Mereka akan di jemput sopir setelah dokter memberikan resep nantinya.


Tidak berapa lama mereka mendapatkan resep dan bisa segera pulang ke rumah. Ica masih memakai kursi roda saat menuju mobil. Marvin yang membawanya merasa sangat bahagia.


Setengah jam kemudian, rombongan telah sampai ke kediaman Adikara. Ica langsung di bawa ke kamar dan di temani Ibu Asmi, sedangkan keluarga yang lain beristirahat di ruang tamu.


"Vin, bagaimana menurut mu kalau pernikahan kalian di langsungkan besok pagi." Kata Pak Hendro menatap Marvin.


"Saya siap Pak, tapi belum ada persiapan sama sekali." Kata Marvin.


"Biar semua lebih tenang jika kalian segera menikah. Lagi pula acara resepsi bisa menyusul, yang penting kalian sudah sah sebagai suami istri." Sambung Mama Diana.


"Baiklah kalau itu yang terbaik, saya ikut saja keinginan Mama sama Papa." Kata Marvin.


"Saya akan menghubungi orang tua kamu sore ini juga." Kata Mama Diana.


Mama Diana segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ia mencari kontak orang tua Marvin untuk memberitahu hal ini.


"Halo, apa kabar Jeng? Bagaimana dengan Ica? Sebentar lagi kami sampai ke rumah Jeng." Kata Bunda Lusi tanpa rem.


"Ica sudah membaik Jeng. Kami sudah pulang ke rumah, rencananya saya ingin mengabari rencana pernikahan anak kita." Kata Mama Diana.


"Oh iya, kami sebentar lagi tiba di rumah Jeng." Kata Bunda Lusi.


"Baiklah, nanti saja kita bicarakan. Hati-hati di jalan." Kata Mama Diana.


Setelah menutup sambungan telepon, Ia kembali duduk di dekat Pak Hendro. Ia mengabarkan bahwa calon besannya akau bertamu sebentar lagi.


"Sebentar lagi Bunda nya Marvin akan tiba Pa. Mereka ingin menjenguk Ica di rumah sakit. Namun Mama memberitahu bahwa Ica sudah di perbolehkan pulang." Kata Mama Diana.


"Oh, itu lebih baik. Agar kita membahas rencana pernikahan ini." Kata Pak Hendro.


"Mama suruh Bibi untuk mempersiapkan makan malam dulu kalau begitu." Kata Mama Diana.


Wanita tersebut sudah berlalu ke arah dapur. Sambil memanggil pembantunya. Ia juga meminta mempersiapkan meja makan, karena akan ada tamu yang datang.

__ADS_1


__ADS_2