Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Mengantar


__ADS_3

Sean yang terbangun setelah kejadian sore itu. Ia merasakan perih akibat pertarungan sore tadi.


Sean mengenakan pakaian yang Ia pakai saat datang ke kantor George group. Mungkin Agres yang sudah mengantar pakaiannya saat ia tertidur.


Sesudah mengenakan pakaian dan memasang heels. Ia minum air mineral yang ada di atas meja. Rasa dahaga menghampirinya setelah pertempuran tadi sore.


Saat itu juga ia melihat amplop besar di atas meja. Bertuliskan terima kasih, lupakan kebersamaan kita.


Sean melihat isinya sekitar lima ratus juta, jika di tukar dalam mata uang negara asal. Namun uang itu dalam bentuk pecahan dollar.


Terlintas pikiran getir dalam benak Sean. Namun rasa ingin membalas dendam kepada Marvin telah merasuk jiwanya. Setelah Ia banyak uang nanti.


Sean berkeinginan membuat keluarga Wiraarga menyesal pernah menolaknya. Pikiran inilah yang membuat Sean menghalalkan segala cara.


Ia juga akan mendekati Dave George setelah ini. Seandainya sudah mendapatkan Dave Ia akan dengan mudah membuat Marvin terhina.


Jauh Sean menerawang. Membawanya turun menggunakan lift, Ia berniat pergi. Saat Sean sedang di depan resepsionis, seorang pegawai menghampirinya.


"Maaf, anda Nona Sean?" Tanya Lita.


Lita adalah salah satu pegawai resepsionis yang ada di kantor milik George group. Ia harus memperlakukan setiap tamu sebagai raja.


"Iya, kenapa?" Tanya Sean datar.


"Nona, jika Nona ingin pergi. Tuan Dave sudah menyiapkan mobil dan sopirnya di depan. Mari saya antarkan." Kata Lita.


"Oh, begitu. Perhatian juga pria itu." Kata Sean.


"Silahkan Nona." Kata Sopir tersebut.


Sean memberikan alamat tempat tinggalnya. Setelah itu Ia tertidur karena masih merasa lemas.


Hampir setengah jam perjalanan, Sopir membangunkan Sean. Mereka sudah di halaman rumah sesuai alamat yang diberikan Sean.


"Nona, kita sudah sampai." Kata Sopir.


"Oh, terimakasih Pak." Kata Sean.


Ia mengedarkan pandangannya keluar jendela mobil. Benar saja ini adalah rumah sewaan yang di tinggali bersama kedua orang tuanya.


Mendengar perkataan Sean bahwa itu benar rumah mereka. Sopir membukakan pintu mobil untuk Sean.


"Baiklah, saya permisi." Kata Sopir.


"Oke." Jawab Sean.


Sopir George group itu melaju dengan pelan, meninggalkan Sean. Setelah sopir itu pergi, Sean segera masuk ke dalam rumah.


"Mom, Dad." Panggil Sean.

__ADS_1


"Yes Nak." Jawab Theresia.


Theresia muncul dari dalam kamar. Sean duduk dimeja makan.


"Bagaimana? Apa Dave memperlakukan mu dengan baik?" Tanya Nyonya Theresia.


"Iya sangat baik." Kata Sean.


Sean menghempaskan amplop coklat yang di terimanya tadi. Ia rela bekerja seperti ini, asalkan nanti ia bisa membuat Marvin sangat terhina.


"Apa ini Nak?" Tanya Theresia.


"Uang Mom. Lima ratus juta. Sean akan senang melayani Tuan Dave jika seperti ini, asal Sean bisa balam dendam pada keluarga Wiraarga bangsat itu." Kata Sean.


Ia mengepalkan tangan, tanda tekad yang telah Ia bulatkan. Nyonya Theresia mengelus punggung putri semata wayangnya itu. Ia juga mendukung keputusan anaknya.


Sebenarnya Nyonya Theresia juga telihat seperti perempuan cinta uang. Hal itu menurun kepada Sean putrinya.


"Daddy kemana Mom?" Tanya Sean.


"Daddy ke kantor sayang." Jawab Theresia.


"Mom, besok malam Sean ada janji dengan teman kuliah Sean." Kata Sean.


"Iya Nak, sekarang istirahatlah dulu." Kata Theresia mengingatkan putrinya.


"Baiklah." Jawab Sean.


Setelah membersihkan diri. Sean menghempaskan dirinya ke ranjang. Segera memejamkan mata dan menyambut mimpi indah.


**********


Pagi ini Ica bersiap akan ke kampus. Sudah hampir seminggu Ica bolos dari perkuliahan. Ia sibuk dengan permasalahan yang terjadi.


Setelah dari rumah Marvin seminggu yang lalu. Ica menginap di rumah Pak Marjoyo dan Ibu Asmi. Rumah mere berjarak sekitar satu kilometer dari rumah Tuan Hendro Adikara.


Ica sarapan dengan nasi goreng putih. Ia rindu masakan Ibunya ketika di kampung. Walaupun saat ini mereka sudah berkecukupan.


Ibu Asmi tidak lupa membangunkan suaminya untuk sarapan bersama. Hal itu biasa mereka lakukan saat di desa.


Pagi ini seperti biasa, Pak Marjoyo akan pergi ke lapak miliknya yang ada di pasar. Ia berangkat menggunakan mobil pemberian orang tua kandung Ica.


"Ca, kamu berangkat sama Bapak? Atau bawa mobil sendiri?" Tanya Bu Asmi.


"Ibu, kalau ngatain Ica nggak tanggung-tanggung. Kapan Ica bisa nyetir Bu? Mama Diana memberikan hadiah tanpa sopir." Kata Ica tersenyum.


"Mungkin Mama mu lupa Nak." Jawab Bu Asmi.


"Ica di antar Bapak aja Bu. Kalau mau pakai mobil Ica juga nggak apa-apa." Kata Ica.

__ADS_1


"Gak usah Nak, nanti Bapak antar pakai mobil sayur saja." Kata Pak Marjoyo.


Ica telah selesai sarapan. Ia duduk di teras rumah menunggu Bapak Marjoyo menyiapkan sayuran di belakang rumah, yang akan di bawa ke pasar.


Tidak berselang lama, mobil BMW warna silver parkir di depan rumahnya. Ica menoleh ke arah mobil itu.


"Bang Marvin?" Kata Ica kaget.


"Suprise sayang." Kata Marvin.


Marvin memberikan setangkai mawar berwarna pink dan sebungkus cemilan sehat untuk Ica. Mendengar Ica berbicara dengan orang. Bu Asmi keluar memastikan Ica bersama siapa.


"Nak Marvin, Apa ada hal penting hingga pagi-pagi sekali datang kesini?" Tanya Bu Asmi.


"Tidak Bu, saya hanya ingin mengajak Ica jalan-jalan. Itu pun kalau Ica tidak sedang ada kegiatan." Kata Marvin.


Tidak lupa Marvin menyambut tangan Bu Asmi. Ia melihat Ica sudah rapi.


"Maaf Bang, hari ini Ica harus ke kampus." Kata Ica.


"Baiklah. Ayo berangkat." Ajak Marvin.


"Bang, boleh menggunakan mobil Ica saja." Pinta Ica.


"Memang kenapa Ca?" Tanya Marvin.


"Mobil itu sudah lama tidak di panas kan mesinnya. Maklum Bapak sampai malam di pasar. Beni sepertinya sedang banyak pekerjaan, sudah beberapa hari tidak mampir kesini." Jelas Bu Asmi.


"Oh, Jadi putri tunggal Tuan Presdir belum bisa mengendarai mobil nih?" Ledek Marvin.


"Iya, putri yang sudah lama hilang. Puas?" Kata Ica sewot.


"Nak, kita harus bersyukur semuanya terjadi atas kehendak Sang Pencipta." Kata Bu Asmi.


"Iya Maaf Bu, Ica salah berucap." Jawab Ica.


"Saya juga minta maaf Ibu." Timpal Marvin.


"Iya, tidak apa-apa." Kata Bu Asmi.


Ibu Asmi masuk ke dalam rumah. Ica masih terlihat kesal.


"Habis ngeledek terus kerjaannya." Kata Ica pelan.


"Maaf sayang." Kata Marvin.


Marvin menggelitik tubuh Ica. Hal ini di lakukan agar Ica tersenyum ceria lagi. Kemudian Marvin membawa Ica dalam dekapannya.


Setelah beberapa waktu. Marvin teringat kalau harus mengantar Ica ke kampus.

__ADS_1


"Sayang yuk pamit dulu kepada Bapak. Kalau kamu di antar Abang ke kampus." Kata Marvin.


__ADS_2