Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Harris George


__ADS_3

Hari ini Pak Hendro dan Istrinya Diana sudah terbang menuju negara asal. Pak Hendro akan menceritakan rahasia besar yang selama ini di sembunyikannya.


Di perkirakan akan sampai sekitar pukul 16.00 waktu setempat. Ica dan seisi rumah bersiap menyambut kedatangan orang tuanya. Apalagi menurut kata Pak Hendro akan ada tamu penting ke rumah mereka.


Ica dan Beni mempersiapkan ruangan, dari membersihkan sampai menata ruangan. Mereka kompak mengenakan baju kaos putih bertuliskan Love Family.


"Dek, kira-kira apa yang akan di sampaikan oleh Papa." Tanya Beni.


"Saya juga belum tau Kak." Jawab Ica.


"Biarlah menjadi kejutan untuk kita semua. Tugas kita menata rumah sebagus mungkin." Kata Beni kepada adiknya.


Bu Asmi dan Bibi Tuti sibuk menyiapkan hidangan makanan untuk nanti sore. Mereka memasak berbagai masakan, dari yang berat sampai yang ringan.


Kurang sepuluh menit dari jam 04.00, Pak Hendro dan Mama Diana sampai ke rumah. Mereka membawa satu koper pakaian dan beberapa kantong oleh-oleh.


"Hai sayang." Kata Mama Diana.


Mama Diana melihat Ica sedang merapikan rumput dan menyiram tanaman di taman depan rumah. Ica membawa selang air ke taman


"Iya Ma, biar Ica bantu bawakan." Kata Ica mengambil beberapa kantong dari tangan Mama Diana.


"Kak Beni mana Ca?" Tanya Mama Diana.


"Ada di dalam Ma. Biar Ica panggilkan." Kata Ica.


Pak Hendro terlihat menelepon seseorang. Ia mengabarkan bahwa mereka telah sampai di rumah.


Beberapa saat kemudian datang sebuah mobil biasa, parkir di depan rumah Hendro Adikara. Mama Diana membukakan pintu untuk tamunya.


"Selamat siang Kak, apa benar ini rumah keluarga Hendro Adikara?" Tanya Dave.


"Benar Tuan. Apa Tuan ini rekan yang di tunggu suami saya?" Tanya Mama Diana.


"Iya benar." Jawa Dave.


"Oh, kalau begitu silahkan masuk dulu." Kata Mama Diana.


Dave dan Ronald masuk dan duduk di sofa ruan tamu. Pak Hendro bersalaman dan memeluk Ronald dan Dave secara bergantian. Mama melihat yang di lakukan suaminya itu tidak seperti kepada rekannya.


"Ma, tolong panggil anak-anak." Kata Pak Hendro.

__ADS_1


"Baik Pa." Jawab Mama Iren.


Mama Iren memanggil Ica dan Beni lagi di taman belakang. Bercanda Duduk di dekat kolam, mereka biasanya memang tidak ingin ikut campur dalam urusan orang tua mereka.


"Ica, Beni. Kemari di panggil Papa." Mama Iren setengah berteriak.


"Iya Ma, sebentar lagi kami menemui Papa." Jawa Ica.


Mama Iren juga memanggil Ibu Asmi dan Pak Marjoyo. Setelah mereka menjadi orang tua angkat Ica, selayaknya Pak Hendro tidak pernah memperlakukan mereka sebagai orang asing.


"Mbak, ayo kita kumpul dulu ke ruang tamu." Ajak Mama Diana.


"Baik dik Diana, kami akan segera kesana." Jawab Ibu Asmi.


"Mas Hendro ada hal penting yang harus di bicarakan, setelah itu kita makan sama-sama." Kata Mama Diana.


"Baik Dik, kami membersihkan diri terlebih dulu." Jawab Ibu Asmi.


"Baiklah saya duluan Mbak, kamu tunggu di ruang tamu." Kata Mama Diana.


Mama Diana memutar badannya, Ia kembali menuju ruang tamu. Mama Diana melihat betapa hangatnya perbincangan tiga orang tersebut.


"Ica, Beni silahkan duduk Nak. Ada sesuatu yang mau Ayah sampaikan." Kata Pak Hendro.


"Iya Pa." Kata Ica dan Beni hampir bersamaan.


"Ini teman Papa yang di hotel kemarin kan?" Tanya Ica penasaran.


"Kalian sudah pernah ketemu Nak?" Tanya Mama Diana.


"Pernah Ma, kemarin pas tuan-tuan ini masuk ke hotel kita. Katanya ia rekannya Papa." Kata Ica dengan polosnya.


Setelah mereka duduk, Pak Hendro melanjutkan penjelasannya. Ia akan berterus terang kepada anak dan istrinya tersebut.


"Ma, selama ini Papa menyembunyikan suatu rahasia mengenai identitas Papa. Sebenarnya Papa memiliki identitas berbeda di negara asal Papa.


Di negara asal Papa memiliki nama dari pemberian orang tua adalah Harris Geore. George itu adalah nama keluarga.


Perlu Mama, Beni dan Ica ketahui semua ini Papa lakukan adalah untuk keselamatan kalian. Agar kalian tidak di kejar-kejar oleh musuh Papa.


Karena dulu Papa adalah mafia terkenal di negara tersebut. Papa juga yakin bahwa Ica di culik kemarin adalah teror dari musuh kita.

__ADS_1


Harta kekayaan Papa memang banyak. Tapi harta kekayaan tersebut tidak ada gunanya, jika di banding kalian bertiga yang tidak ternilai harganya.


"Memangnya harta Papa banyak juga?" Tanya Ica.


"Iya Nak, namun itu adalah uang panas. Tidak boleh kita makan dengan serakah." Kata Pak Hendro.


"Jadi Ayah namanya bukan Hendro?" Selidik Beni.


"Bukan Nak, nama itu adalah pemberian Mama mu saat sebelum kami menikah. Papa yang waktu itu lupa ingatan lalu Mama beri nama Hendro. Dan nama Adikara di ujung nama Papa adalah penghargaan dari Kakek Merhan.


Perlu kalian ketahui juga, ini perkenalkan ini Dave dan Ronald. Mereka adalah adik Papa, paman bagi kalian.


Mereka datang ke negara ini menyamar. Dulunya juga mereka melanjutkan bisnis Papa di dunia hitam.


Tapi dunia hitam memberikan kita banyak ketakutan setiap saat. Juga Om Dave tidak menikah sampai sekarang karena ia takut keluarganya terseret dalam dunia mereka.


Sekarang mereka sudah memutuskan untuk mengakhiri dunia gelap itu dengan menyamar datang ke negara kita. Dan uang yang masuk ke rekening kita dan aset yang sangat banyak yang kita terima itu adalah milik Om Dave.


"Maafkan Ica tadi Om, penyambutan Ica kurang sopan." Kata Ica.


"Nggak apa-apa sayang." Kata Dave.


"Bagaimana rumah kalian di negara sana Dave?" Tanya Pak Hendro.


"Kami telah membakarnya sebelum pergi. Mereka akan mengira kami sudah terbakar dalam api yang menyala.


Kami juga telah memalsukan pasport kami Kak. Dan juga kami akan menyamar di sini sampai akhir hayat.


Dunia hitam memang memberikan kami banyak uang. Tapi bukan kebahagiaan, Kami memohon izin dengan Kak Diana untuk tinggal di sini sementara waktu." Kata Dave.


"Hem, begitu ceritanya Pa. Mengapa Papa tidak cerita saja sama Mama dari awal. Kalau Papa memiliki saudara di negara Papa.


Mama juga kaget, mengapa perusahaan Mama bisa berkembang pesat. Sepertinya mustahil, naman Mama berusaha untuk percaya kepada Papa.


Mengenai Dave Dan Ronald, Kakak sangat tidak keberatan kalau kalian ingin tinggal di tempat ini. Kami hanya minta bantuan dalam menjaga Ica, karena kami sering berada di luar negeri." Kata Mama Diana.


"Berarti mereka Om nya Ica, Ma?" Tanya Ica.


"Iya sayang." Jawab Mama Diana.


"Terus tadi kenapa Om Dave sepertinya mesra sekali sama teman Ica, Milka?" Tanya Ica dengan polosnya.

__ADS_1


__ADS_2