Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Jangan Cemburu


__ADS_3

Ica duduk di samping Mama Diana. Keluarga itu masih berkumpul di ruang tamu. Sebagian kerabat sedang bersiap pulang ke rumah masing-masing.


Mereka asik mengobrol di selingi tawa karena tingkah laku dari ponakan-ponakan yang masih balita. Ica duduk bersandar di bahu Nyonya Diana. Seakan melepas lelah yang menderanya beberapa waktu ini.


Ibu Asmi mengurut pergelangan tangan Ica yang keseleo. Karena Ibu Asmi juga bisa sedikit-sedikit mengurut belajar dari orang tuanya dahulu.


"Ma nanti malam ada acara apa lagi di rumah kita?" Tanya Ica.


"Tidak ada sayang. Paling kita makan malam keluarga di rumah saja. Memangnya kenapa sayang?" Tanya Mama Diana.


"Enggak Ma. Ica sangat capek ingin istirahat malam nanti." Kata Ica.


"Iya sayang. Oh iya, Marvin mana? Nggak melepas kangen nih?" Goda Mama Diana.


"Hem, Mama bisa saja." Kata Ica manja.


"Iya Nak. Coba ngobrol dulu, kamu tidak menemuinya hari ini bahkan menyapanya pun Ibu tidak melihat." Sahut Ibu Asmi.


Ica akhirnya bangkit keluar lewat pintu samping menuju aula. Ia mencari Marvin dengan matanya, menemukan pemuda itu sedang mengobrol dengan seorang perempuan di ujung aula.


Hati Ica terasa sedikit terbakar saat melihat pemandangan tersebut. Namun ia berusaha mengendalikannya. Ia mendekati Marvin dengan tidak menampakan suasana hatinya yang kurang baik.


"Hay Bang, Kak. Maaf mengganggu, saya di suruh Mama untuk memanggil Abang." Kata Ica.


Sebenarnya Ica hanya membuat alasan Nyonya Diana memanggil Marvin. Kalau tidak dengan begitu Ica gengsi mendekati Marvin walau sebenarnya mereka telah bertunangan.


"Oh, iya. Sebentar lagi Abang ke sana." Kata Marvin.


Dada Ica melonjak kaget, Ia tidak menyangka Marvin sedingin ini kalau di depan orang lain. Apalagi sekarang seorang perempuan sebaya Ica atau mungkin lebih tua sedikit. "Siapa ya perempuan bersama Bang Marvin." Batin Ica.


Ica berjalan menjauhi kedua orang tersebut. Bukan kembali ke rumah utama. Melainkan ke bangunan seperti kontrakan berjejer di samping rumah utama. Di sanalah semua pembantu tinggal. Dua orang dalam satu pintu. Kalau suami istri bisa mengambil satu pintu.


Ica ingin menenangkan dirinya di bangunan ini. Memang masih ada dua pintu kamar yang kosong, tetapi sudah lengkap dengan peralatan dan tempat tidurnya. Ica ingin membaringkan diri di sana. Namun otaknya selalu memikirkan siapa yang bersama Marvin tadi.


Berbeda dengan Ica, Marvin dengan pasti berjalan menuju ruang tamu rumah utama. Ia duduk di sofa tepat di samping Ibu Asmi.


"Ada apa Ma?" Tanya Marvin.


"Loh ada apa Vin? Mana Ica kok tidak bersama kemari?" Tanya Mama Diana.


"Lah, tadi Ica bilang Mama memanggil saya." Kata Marvin.


"Mama tidak memanggil kamu Vin. Ica tadi ingin menemui mu karena sudah kangen katanya." Ucap Mama Diana.


"Oh begitu Ma. Ya sudah Marvin menemui Ica dulu." Kata Marvin.

__ADS_1


Sepeninggal Marvin Ibu Asmi memandang kepada Mama Diana. Dengan pandangan penuh tanya.


"Ada apa dengan mereka ya Mbak?" Tanya Ibu Asmi.


"Nggak usah di pikirin Kak. Maklum anak muda, ya begitulah. Emosinya masih labil." Kata Mama Diana.


Di aula, Marvin mencari Ica ke mana-mana tapi belum melihat gadis itu. Ia kemudian berjalan kemana wanitanya tadi menghilang.


Tepat di depan bangunan rumah untuk pembantu. Marvin masih tidak menjumpai Ica. "Apa mungkin Ica berkunjung kemari ya?" Tanya Marvin dalam hati. Untuk memastikan, Marvin menanyakan kepada salah seorang pembantu yang sedang bersantai.


"Maaf Mbak, Apa melihat Nona Ica kemari?" Tanya Marvin sopan.


"Oh, sepertinya Non Ica tadi ke dalam kamar pembantu yang kosong ini. Dan menutup kembali pintunya." Kata Bi Susi tersebut.


"Terimakasih Mbak ya, Saya permisi." Kata Marvin.


Marvin berjalan mendekati kamar yang di duga Ica ada di dalamnya. Lalu ia mengetuk pintu tersebut.


"Sayang, kamu di dalam?" Kata Marvin.


Ica diam seakan tidak mendengar Marvin berulang memanggilnya. Tetapi Marvin tidak berhenti mengetuk pintu, karena ia yakin Ica ada di dalam. Karena ada sepatu kekasihnya itu di depan pintu.


"Sayang kamu marah ya?" Tanya Marvin.


"Buka pintunya sayang, biar Abang jelaskan." Kata Marvin.


Lama Marvin di depan pintu, akhirnya Ica keluar juga. "Ah, perjuanganku tidak sia-sia." Gumam Marvin.


Ica membukakan pintu dengan pelan. Ia kembali masuk kedalam kamar tersebut dan duduk di kursi plastik, yang hanya satu buah di dalam kamar.


Tanpa mempersilahkan Marvin duduk terlebih dahulu. Ica memperlihatkan kekesalannya. Marvin hanya tersenyum kecil melihat gelagat kekasihnya itu.


"Sudah selesai ngobrolnya Bang?" Tanya Ica.


"Sudah, memang sudah lama ngobrolnya tadi." Kata Marvin.


Marvin sengaja membuat Ica cemburu. Ia tertawa dalam hati melihat kekasihnya sangat mencintainya.


"Oh." Jawab Ica malas.


"Kamu cemburu?" Tanya Marvin.


"Nggak, ngapain cemburu. Kalau mau Ica juga bisa kok." Kata Ica.


"Memang kamu mau ngapa sayang?" Tanya Marvin.

__ADS_1


"Nggak jadi." Kata Ica ketus.


"Kenapa?" Selidik Marvin.


"Iya, Abang nggak pernah jaga perasaan saya. Saya bisa juga kok ngobrol dengan laki-laki di berduaan." Kata Ica.


Melihat mata Ica sudah berkaca-kaca. Marvin akhirnya mendekat dan mengelus rambut Ica. Namun dengan refleks kepala Ica menjauh dari tangan Marvin.


"Memangnya kamu mau ngobrol dengan siapa?" Tanya Marvin.


"Siapa saja." Jawab Ica.


"Benar, nggak kangen sama Abang nih?" Goda Marvin.


"Saya rasa masih ada laki-laki yang mau sama saya di luar sana. Dan juga tidak perlu Saya berkorban hampir kehilangan nyawa dan keluarga saya harus bayar mahal. Namun apa balasannya dari Abang?" Kata Ica dengan air mata yang sudah tumpah.


"Memangnya ada apa sayang? Apa yang terjadi?" Tanya Marvin.


"Kamu mau tau Bang? Sean mantan kekasih mu itu ingin menghabisi saya. Bersyukur orang suruhannya masih punya hati membiarkan saya hidup. Tapi Kak Beni harus membayar mahal untuk keselamatan saya."Jelas Ica dengan sendu.


"Licik sekali perempuan itu. Sayang syukurlah kamu selamat." Kata Marvin.


Marvin ingin memeluk namu Ica dengan cepat menolaknya. Ica merasa hanya dirinya yang berjuang.


"Entah besok atau lusa. Karena saya yakin Sean sekarang sedang menyusun rencana menculik dan menghabisi saya." Kata Ica.


"Kamu yang sabar ya sayang. Abang akan selalu menjaga mu. Kita akan mengumpulkan bukti untuk melaporkan wanita itu" Kata Marvin.


"Namun sebaiknya Abang kembalilah pada Sean. Sepertinya dia sangat mencintaimu, tidak sulit bagi Abang menerimanya kembali." Kata Ica.


Seperti petir menyambar di siang hari. Suara Ica yang terdengar lembut mampu meremukkan hati Marvin. Ia tidak percaya, gadis yang selalu ceria dan menyayanginya selama ini.


Setiap hari Ica mengatakan cinta untuknya bisa berkata menyakitkan seperti ini. "Mungkinkah selama ini dia menyimpan derita? Atau mungkin hari-harinya penuh ancaman?" Marvin semakin kasihan melihat kekasihnya. Ia menyesal telah membuat Ica menangis hari ini.


"Apa kamu akan lebih baik dengan begitu?" Tanya Marvin.


"Saya sudah berusaha berjuang Bang. Kak Beni bisa menjadi saksi, dialah yang selalu mendukung Ica. Saya tidak pernah bercerita biar tidak banyak pikiran Abang, cukup memikirkan kalau saya mencintai Abang tanpa syarat.


Namun apa balasannya? Saat saya sedang di ujung tanduk, entah besok atau lusa nyawa saya melayang. Abang berduaan ngobrol ketawa dengan perempuan. Atau mungkin dialah alasan Abang tidak menyapa Ica hari ini?" Kata Ica tersedu.


Marvin tidak tahan lagi melihat kesakitan batin kekasihnya. Tubuhnya bergetar semakin membuat hati Marvin menjerit. Dengan erat Marvin memeluk gadis itu. "Andai gadis lain di posisi mu. Siapakah saya yang masih di pertahankan?" Kata Marvin dalam hati.


"Sayang sejujurnya Abang tadi sengaja ingin membuatmu cemburu. Biar rindunya bertambah, tidak ada niat membuatmu sakit." Kata Marvin.


"Lalu siapa perempuan tadi Bang? Nggak mungkin kan ada gombel menampakan wujudnya siang hari?" Tanya Ica.

__ADS_1


__ADS_2