Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Sayang, Kamu Di Mana?


__ADS_3

Mama boleh ya jalan sebentar, kami mau beli sesuatu di toko perhiasan di depan." Kata Ica kepada Mama Diana.


"Boleh sayang, kamu sama siapa?" Tanya Mama Diana.


"Sama Bang Marvin Ma sebentar saja." Kata Ica.


"Iya sayang, tapi apa nggak perlu di ikuti bodyguard?" Tanya Mama Diana.


"Tidak perlu Ma. Hanya sebentar gak jauh dari rumah juga." Kata Ica.


"Iya sih nggak apa Nak, tapi jangan lama-lama ya." Kata Mama Diana.


Ica menggandeng Marvin keluar rumah. Mendekati mobil yang ada terparkir di halaman depan.


"Bang kita gunakan mobil karyawan untuk angkut barang-barang saja." Kata Ica.


"Kenapa begitu sayang?" Tanya Marvin.


"Kalau kita mobil biasanya, mereka akan mudah mengenali kita." Kata Ica.


"Baik sayang, pokoknya Abang ikut saja." Kata Marvin.


Marvin membukakan pintu mobil untuk Ica. Kemudian ia duduk di depan setir untuk mengemudi.


Lebih kurang lima menit mereka sudah sampai di depan n sebuah toko perhiasan. Marvin melihat sepasang cincin yang menarik perhatiannya.


"Sayang apa kamu suka dengan modelnya?" Tanya Marvin.


"Cantik sekali ya Bang. Saya setuju kita pilih yang ini." Kata Ica.


Marvin akhirnya memesan cincin yang telah membuat hatinya terpukau. Tapi karena untuk ukuran jari manis Ica tidak ada. Mereka memesannya terlebih dahulu, pesanan dapat di ambil dalam satu hari kerja.


Belum sempat Marvin membayar uang tandan jadi. Tiba-tiba ponsel miliknya berdering beberapa kali.

__ADS_1


Karena di dalam toko cukup ramai, ia mencoba mengangkat ponselnya di arah toilet. Ia mencoba menyapa dan bertanya kepada orang dalam sambungan telepon.


Beberapa kali Marvin menyapa dan memanggil orang yang sedang meneleponnya, namun tetap tidak ada jawaban. Dalam beberapa menit Marvin kembali tempat Ica berada.


Marvin kaget ketika Ica tidak ada di sana. Di tempat tadi mereka memilih perhiasan. Marvin masih berpikir positif mungkin saja Ica ke toilet atau mungkin ia keluar sebentar.


Beberapa waktu berlalu hampir dua puluh menit Marvin menunggu Ica. Tapi Ica belum kembali juga. Marvin menanyakan kepada karyawan toko yang melayani mereka tadi.


Karyawan toko mengatakan Ica pergi bersama seorang laki-laki. Bertubuh putih, tunggi bertopi dan berkacamata serta memakai masker.


Marvin tidak mengenali siapa yang menjemput Ica. Namun untuk memastikan Marvin kembali ke kediaman Adikara terlebih dahulu.


Marvin melajukan mobilnya dengan perasaan cema dan khawatir. kurang dari lima menit ia sudah parkir di halaman rumah megah itu.


Di ruang tamu ada Nyonya Diana, Dave George, dan Arbeni Adikara sedang dang ngobrol santai di ruang tamu. Marvin sangat takut akan kemarahan keluarga itu kepadanya.


Tapi bagaimana pun juga secepatnya hal ini harus di katakan kepada mereka. Marvin mencoba memberanikan diri. Setelah mengucap dalam, Marvin duduk tepat di hadapan Mama Diana.


"Selamat malam Ma, Kak." Kata Marvin dengan wajah pucat.


"Itulah yang ingin Marvin tanyakan Ma, tadi saat Marvin mengangkat telepon di ruangan dekat toilet. Tidak sampai lima menit, Ica telah pergi.


Menurut keterangan karyawan yang bekerja di sana. Ica pergi dengan seorang laki-laki dengan bertubuh tinggi, berkulit putih dan menggunakan kaca mata.


Pikir Marvin mungkin Kak Beni lah yang menjemput Ica. Untuk memastikan Marvin pulang dul Ma. Maafkan Marvin Ma." Kata Marvin dengan mata sudah berkaca-kaca.


"Ica belum pulang Nak. Sedari kalian pergi kami mengobrol di sini. Jangan panik dulu Nak, siapa tau Ica keluar sebentar menemui temannya." Kata Mama Diana menenangkan.


"Sebaiknya kita pergi lagi ke toko itu, untuk mengecek CCTV. Minta empat orang bodyguard untuk mengamankan kita semua. Jangan cemas dulu Vin, kita harus tenang." Kata Dave.


"Benar Uncle. Kita harus bertindak secepatnya, sebelum semuanya terlambat." Kata Beni.


"Baiklah, kita satu mobil saja. Dua mobil dengan pengawal kita, saya akan mengabari Ronald terlebih dulu. Beliau biasa dan pintar dalam menangani kasus seperti ini." Kata Dave.

__ADS_1


"Baik Uncle." Jawab Beni.


Tidak berselang lama mereka melaju ke toko tempat Marvin dan Ica ingin membeli perhiasan tadi. Mereka masuk tanpa permisi, namun orang di sana sudah tau siapa keluarga Adikara dan pengaruhnya terhadap kehidupan di kota tersebut.


Hampir semua ruko di sepanjang jalan adalah milik keluarga Adikara yang di sewakan. Nyonya Diana masuk di iringi ke tiga pria gagah di belakangnya.


"Maaf menggangu sebentar. Saya mencari adik saya Spica Adikara yang hendak membeli perhiasan di sebuah toko di sini. Namun tadi dia pergi dengan orang ya tidak dikenal. Maka dari itu kami akan mengecek CCTV yang kira-kira bisa memberi petunjuk." Kata Dave.


Semua orang di sana terpaku berdiam diri. Mereka takut dengan kekuasaan keluarga Adikara.


Setelah memeriksa CCTV mereka melihat Ica pergi dengan seorang pria. Ica nampak sedikit di seret oleh pria tidak di kenal tersebut.


"Sepertinya memang Ica telah di bawah paksa. Namun untuk memastikan siapa yang membawanya itu, kita butuh waktu." Kata Dave.


Beni yang sangat cemas dengan keberadaan adiknya. Ia langsung menelepon polisi saat itu juga. Setelah sambungan telepon terhubung, Beni tidak sabar mengatakan isi laporannya.


"Halo Pak, saya Arbeni Adikara. Adik saya Spica Adikara di bawa paksa dengan orang tidak di kenal. Tolong tangani secepatnya Pak, kami tunggu kabar baik dari Bapak." Kata Beni.


"Baik Pak, saya akan menyuruh anak buah saya untuk menyelidiki kasus ini." Kata seorang polisi dari sambungan telepon.


"Terimakasih Pak, tolong sekarang bapak tutup semua dalam menuju luar kota. Lakukan razia kepada setiap kendaraan yang lewat terutama mobil pribadi. Karena menurut data CCTV mereka pergi menggunakan mobil pribadi." Kata Beni.


"Baik Pak. Akan kami usut tuntas sekarang juga." Kata Polisi tersebut.


Tidak butuh waktu yang lama, beberapa anggota polisi telah tiba di tempat kejadian perkara. Mereka yang berpotensi sebagai saksi telah diamankan untuk memberi kesaksian, tentang putri Adikara Group yang hilang di bawa orang tak di kenal.


Setelah melakukan pengecekan pada CCTV. Mereka menemukan nomor polisi mobil tersebut.


"Kami akan memeriksa dan mengusut kasus ini sampai tuntas. Terima kasih atas partisipasinya Tuan Beni." Kata seorang anggota polisi.


"Terimakasih Pak." Kata Beni.


Marvin menghela nafas beratnya. Ia tidak sanggup jika harus kehilangan Ica dalam hidupnya. Mungkin hal itu juga yang di rasakan oleh keluarga Adikara.

__ADS_1


Rasa bersalah telah mengajak Ica keluar dari rumah menyelimuti hatinya. Marvin terduduk lemas di kursi pembeli di depan toko tersebut. Memperhatikan Arbeni yang berbicara serius dengan anggota polisi.


"Sayang, kamu dimana?" Gumam Marvin lirih.


__ADS_2