
Pagi itu jalanan kota Z sangatlah padat. Marvin dan Ica yang sedang menuju kampus harus terjebak macet.
Lama mereka menunggu di dalam mobil. Hampir sekitar satu jam telah di lewati. Padahal hari ini Ica ada ujian yang mengharuskan dirinya hadir.
"Ca, bagaimana man ini?" Tanya Marvin.
"Entahlah Bang, Mana Ica ada ujian hari ini." Kata Ica.
Ica mengingat hari ini sangat penting baginya. Ia tidak mau mentang-mentang anak pemilik yayasan, jadi seenak dia mau datang atau tidak. Terlambat atau tepat waktu.
Ica juga belum sempat belajar. Ia menggunakan waktu yang ada dalam kemacetan untuk membuka buku barang sejenak.
"Bang, itu sepertinya Dosen Engga?" Tanya Ica.
Ia memandang keluar jendela. Memastikan apa yang ia lihat adalah benar.
Sedangkan Marvin hanya diam. Ada raut tidak suka terhadap dosen muda yang mengampu mata kuliah Ica.
"Seperti bukan." Jawab Marvin asal.
"Benar Bang, coba liat kan Abang pernah bertemu dulu itu bersama Mama." Kata Ica.
"Iya, Benar." Jawab Marvin.
"Bang, Ica numpang saja sama Dosen Engga. Nanti kalau selesai ujian saya telepon Abang ya." Kata Ica.
Sesudah pamit dengan Marvin. Ica tidak menunggu lagi persetujuan dari Marvin.
Ia langsung membuka pintu mobil dan melewati beberapa kendaraan yang lagi macet. Menuju motor vespa yang dikendarai Dosen Engga.
Ia hanya memikirkan bagaimana caranya ia sampai ke kampus tanpa terlambat. Setelah sampai di dekat motor Dosen Engga, Ica menyapa untuk minta pertolongan.
"Selamat pagi Pak." Sapa Sean.
Dosen Engga terkejut melihat Ica tiba-tiba berdiri di depannya dalam kemacetan. Gadis ini datang sendirian di tengah keramaian kendaraan.
"Selamat pagi, kamu mau kemana Ca?" Tanya Dosen Engga.
"Ke kampus Pak. Kalau boleh Ica mau nebeng sama Bapak. Soalnya Ica harus ujian setengah jam lagi." Jelas Ica.
"Gak apa-apa naik motor butut Ca?" Tanya Dosen Engga.
"Nggak apa-apa Pak." Jawab Ica.
Dosen Engga menyerahkan helm cadangan yang memang di bawanya setiap hari. Ia siaga seandainya ada teman atau orang membutuhkan tumpangan.
"Ini Ca, pakai dulu helmnya." Kata Dosen Engga.
"Terimakasih Pak." Jawab Ica.
Ica segara naik di belakang Dosen Engga. Karena di samping kiri jalan dimana Dosen Engga terjebak kemacetan ada gang kecil. Dosen Engga langsung gas motornya memasuki gang tersebut.
__ADS_1
"Pegangan Ca. Kita cari jalan pintas saja." Kata Dosen Engga.
Pak Dosen tidak tau bahwa ada mata yang memperhatikan tingkah keduanya. Sedangkan Ica merasa hal ini adalah wajar saja.
Motor vespa itu melaju dengan kecepatan hampir penuh. Pak Dosen tidak mau mahasiswanya terlambat mengikuti ujian.
Ica sedari ketakutan berpegangan erat dengan jaket kulit milik Dosen Engga. Ia memang terbiasa naik motor, tetapi tidak secepat ini.
Dosen Engga memperlambat laju motornya. Setelah ia mendengar jeritan Ica di belakang.
"Kamu tidak terbiasa naik motor ya Ca?" Tanya Dosen Engga.
"Saya terbiasa naik motor Pak. Tapi tidak secepat ini." Jawab Ica.
"Oh, begitu. Sebentar lagi kita sampai." Kata Dosen Engga.
"Baik Pak." Jawab Ica.
Beberapa menit kemudian benar saja mereka sampai di parkiran kampus. Pak Engga memarkirkan motornya di parkiran Dosen.
Setelah motor di matikan. Pak Engga melihat Ica kesusahan melepas helm nya.
"Ca, sini saya bantu." Kata Dosen Engga.
Tanpa menunggu jawaban dari Ica. Pak Engga membatu Ica melepas helm yang di gunakan Ica.
"Terimakasih Pak." Kata Ica.
"Baiklah sampai jumpa. Saya harus mengajar sekarang." Kata Dosen Engga.
Pak Engga berjalan duluan. Namun tiba-tiba Dosen itu mundur kebelakang tepat di samping Ica.
"Ada apa Pak? Apa ada yang tertinggal di motor?" Tanya Ica.
"Nggak. Kalau kamu bersedia, saya ingin mengajak mu makan di kantin setelah ujian." Kata Dosen Engga.
"Oh, boleh Pak. Nanti Ica keluar pukul 09.30WIB." Jawab Ica.
"Oke. Sampai nanti." Jawab Pak Engga.
Kemudian Pak Engga berjalan cepat, Hingga menghilang di balik pintu ruang Dosen.
Ica melangkah kedalam kelas. Ia akan mengikuti ujian hari ini. Hanya semenit lagi Ica akan terlambat.
Milka sudah duduk dengan manis. Ia memang anak yang rajin serta baik hati.
"Hai Milk." Sapa Ica.
"Hee, Saya bukan susu." Jawab Milka tersenyum.
"Iya deh, apa kabarmu mil?" Kata Sean.
__ADS_1
"Baik ca, kamu kemana aja? Ternyata kamu orang kaya Ca. Pantas saja kamu gak mau kalau saya yang traktir kemarin." Kata Milka.
"Bukan begitu Milk. Saya minta maaf, nanti saya jelaskan." Kata Ica.
Ica mengelus pundak sahabatnya itu. Ia takut kalau Milka salah paham kepadanya.
"Hem." Jawab Milka.
"Iya, Mil. Sekarang kan kita mau ujian dulu." Kata Ica.
"Semangat." Kata Milka.
Lembar ujian segera di bagikan. Semua mahasiswa di kelas Ica mengerjakan soal. Setelah selesai mereka meninggalkan ruangan satu persatu.
"Mil, mau ikut ke kantin?" Tanya Ica.
"Maaf sekali Ca, bukannya mau menolak. Tapi Papi Mami mau berangkat siang ini." Kata Milka.
"Hem, iya gak apa-apa. Lain kali janji ya." Kata Ica.
"Kamu pulang ke rumah Bunda mu gak? Sekalian bareng." Kata Milka.
"Enggak Mil, terima kasih." Jawab Ica.
"Baik Ca. Saya duluan." Kata Milka.
Milka meninggalkan Ica ke parkiran. Ia melajukan mobilnya pelan. Milka melambaikan tangan ke arah Ica.
Setelah Milka pergi. Ica ingat janjinya kepada Dosen Engga, Ia menunggu Dosen Engga di kursi taman depan kantin.
Tidak lama berselang Pak Engga datang. Ia menyapa Ica. Mereka langsung menuju kantin.
"Bagaimana ujianmu Ca?" Tanya Pak Engga.
"Yah, begitulah Pak." Kata Ica.
"Berapa persen yang pasti benar?" Tanya Dosen Engga.
"Ica tidak tau Pak. Menurut Ica benar semua. Benar-benar ngarang." Kata Ica.
"Boleh tidak memanggil, Pak. Saat di luar ruangan kelas, emang saya seperti bapak-bapak?" Kata Pak Engga.
"Panggil Kakak aja deh. Mungkin Pak Engga seumuran Kak Beni." Kata Ica.
"Mungkin, paling saya seumuran dengan kakak mu." Jawab Pak Engga.
Pak Engga memesan dia mangkok mie ayam dan jus jeruk. Karena Pak Engga sering melihat Ica dan temanya makan mie ayam di kantin kampus.
Mereka menikmati hidangan yang mereka pesan. Tidak terasa mangkok mie ayam telah kosong tanpa tersisa isinya.
Pak Engga membayar makanan kepada Ibu kantin. Setelah itu mereka keluar dari ruang kantin.
__ADS_1
Di parkiran yang posisinya lebih tinggi dari lokasi kantin. Seseorang memperhatikan Ica dan Pak Engga sedari tadi. Ia mengepalkan tangan dengan geram.
Melihat Ica dan Dosen Engga keluar dari kantin. Ia melajukan mobilnya dengan kasar. "Ini yang kau lakukan dibelakang saya." Kata orang tersebut.