Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Melukis Sejarah Terindah


__ADS_3

"Ada apa Bang? Ica mau keatas dulu." Kata Ica mendekati Marvin.


"Sini loh, Saya bisikin." Kata Marvin masih tidur di atas sofa.


Ica mendekat kepada Marvin. Sebenarnya ia sangat lelah, bukan karena mata pelajaran tetapi karena dosennya adalah Sean. Kekasih Marvin dulu.


Marvin tiba-tiba menarik kepala Ica dan berpadu dengan wajahnya. Ica Hanya berdiam diri dalam pelukan Marvin.


"Biar capeknya hilang sayang." Kata Marvin.


"Hem." Gumam Ica.


"Gantilah pakaianmu, nanti saya temani makan." Kata Marvin.


"Iya." Ica berbalik ke arah tangga menuju kamarnya.


Ica sudah berganti pakaian. Ia memaki baju kaos dan celana pendek selutut.


"Ayo Bang, makan bareng." Ajak Ica berjalan menuju ruang makan.


"Baiklah." Kata Marvin bangkit dari ruang TV dan mendekati Ica.


Di ruang makan sudah tersedia berbagai menu, baik yang pedas kesukaan Pak David sampai yang manis sekali seleranya Bunda Lusi. Kalau kedua anaknya Marvin dan Vano semuanya suka.


Ica mengambil piring dan mengisinya makanan. Tiba-tiba piring tersebut di tarik oleh Marvin.


"Loh, kenapa Bang? Abang mau makan juga?" Tanya Ica.


"Ini saya beri suapan untuk kamu, saya akan melukiskan sejarah terindah untukmu." Marvin menyodorkan sendok yang berisi makanan.


"Terimakasih yaa Bang." Ica menerima suapan itu.


Tiba-tiba Vano dan Elvita mereka memang satu tingkat dan satu kelas. Vano selalu menggandeng Elvita, sepertinya mereka tidak mau kalah saing.


Mereka berdua mendekat kepada Marvin dan Ica. Marvin mempersilahkan Elvita duduk.


"Mau minum apa Kak?" Tanya Ica kepada Elvita.


"Ini sudah, air putih saja." Elvita meminum air yang sudah ada di atas meja.


"Sayang, seperti di luar sana yang panas. Hati Abang juga panas." Ujar Vano.

__ADS_1


"Memangnya kenapa Bang? Abang sakit?" Elvita bingung.


"Melihat mereka suap-suapan sayang." Kata Vano tertawa.


Memang diantara Marvin dan Vano kalau sedang bersama. Mereka terlihat akrab meskipun Marvin bukan orang yang heboh seperti Vano.


"Itu El, masukan Abang mu ke dalam kulkas. Biar dia gak kepanasan lagi." Canda Marvin walau masih terlihat dingin.


"Oh, Ide bagus juga yaa Bang." Jawab Elvita kepada Marvin.


"El, jangan sungkan anggap rumah sendiri. Kalau mau istirahat silahkan sama Ica." Kata Marvin sambil berlalu.


"Abang Marvin baik juga yang Ca? Perhatian lagi." Kata Elvita kepada Ica.


"Hem... Iya, ayo kalau mau istirahat dulu Kak El, ke kamar saya." Ajak Ica.


"Enggak Ca, kami sebentar lagi mau pergi untuk rapat organisasi kampus." Kata Elvita .


"Marvin aja di sanjung-sanjung." Ujar Vano.


"Enggak lah sayang. Maksud saya Bang Marvin baik walau kepada siapa saja di balik sikap dinginnya." Jelas Elvita.


"Iya sayang, Abang hanya menggoda mu." Kata Vano.


"Ica, Maaf yaa saya mampir hanya sebentar. Kami pamit untuk berangkat ke kampus lagi." Kata Elvita.


"Iya, tidak apa-apa Kak. Lain kali main ke sini lagi yaa." Kata Ica tersenyum.


Ica menghantarkan mereka sampai garasi. setelah itu Ica masuk kembali untuk beristirahat. Ia membuka pintu kamarnya.


"Mereka kemana sayang?" Tanya Marvin yang sedang memainkan ponselnya di atas ranjang.


"Ke kampus lagi." Jawab Ica singkat.


"Duduklah dulu, ada yang saya mau bicarakan." Terlihat Marvin serius.


Ica duduk di atas sofa di depan ranjang. Marvin mendekat dan berpindah dari tempat tidur duduk di Sofa kecil menghadap Ica. Melihat muka Marvin yang sepetinya mau marah, Ica hanya menunduk.


"Ica tolong pertanyaan saya. Ada hubungan apa kamu sama Arbeni? Ini handphone harganya delapan jutaan loh, lumayan mahal kalau hanya memberi tidak ada apa-apa." Marvin mengintimidasi Ica.


"Saya tidak ada hubungan apa-apa. Itu hanya pemberian." Jawab Ica hampir mau menangis.

__ADS_1


"Sepertinya nggak logika Ica, ini handphone lumayan mahal untuk di kasih cuma-cuma. Kamu mau menduakan saya?" Tanya Marvin sedikit membentak.


"Ok. Kalau tidak ada apa-apa, disini ada nomor Beni itu. Tolong kamu telepon untuk kembalikan HP ini." Kata Marvin.


"Maaf Bang saya tidak mau." Kata Ica mengusap air matanya.


"Kenapa? Buktikan kalau kamu tidak ada hubungan sama dia." Kata Marvin mendesak Ica.


"Sebelumnya Ica minta maaf, tapi handphone itu memang hanya pemberian. Kak Beni memberikannya pada waktu di jalan pulang kesini. Ia mengatakan agar tidak terputus silahturahmi," Kata Ica.


"Lagian Kak Beni orangnya baik. Waktu Ica menginap di sana, Kak Beni mengundang temannya perempuan untuk menemani Ica. Agar tidak terjadi salah paham. Ica terlihat tidak menghargai jika tiba-tiba mengembalikan handphone ini. Jangan-jangan Abang marah juga nanti sama Kak Beni, " Jelas Ica kemudian.


"Terus gimana sama pacar Abang itu?" Kata Ica.


Marvin terdiam, seakan pedang yang ia luncurkan berbalik kepada dirinya. Ia hanya bisa pasrah menerima perkataan Ica yang menyakitkan bagi dirinya.


"Saya kira Abang buru-buru karena ada keluarga dengan keadaan darurat. Apa setelah Ica ikuti Abang? Abang malah ketemuan dengan kekasih Abang itu," Kata Ica dengan air mata mulai tumpah.


"Abang bermesraan di depan mata kepala Ica. Sebenarnya Ica mau mengatakan kepada Bunda Lusi Kemarin, dan Ica sangat Ikhlas keluar dari rumah ini," Lanjut Ica.


"Tapi mengingat Pak David dan Bunda serta Abang Vano sangat baik, maka saya berpikir ulang. Kasian juga Bunda Lusi, kalau seandainya Tuan Marvin yang terhormat ini tiba-tiba sakit lagi." Cecar Ica menumpahkan segala sesuatu dalam hatinya.


"Tapi mungkin tidak akan sakit kalau saya pergi. Saya hanya tunangan Abang dalam acara hari itu, sedangkan Sean adalah kekasih yang sangat Abang sayangi dan cintai." Kata Ica berlinang.


Marvin yang sudah tidak tahan mendengar perkataan Ica. Ia lalu memeluk Ica dan menangis juga.


"Ica, sayang... Mengapa harus ada dalam pikiran mu untuk meninggalkan Abang? Kalau akhirnya kamu mau membunuh Abang, meninggalkan Abang perlahan," Isak Marvin lemas dalam pelukan Ica.


"Kalau memang harus berpisah, Abang sangat menyesal mengungkapkan perasaan Abang hari itu. Dan biarlah kamu menjadi adik kesayangan Vano dan anak perempuan kesayangan Bunda. Mengapa Ica? Saat saya sudah sangat mencintaimu." Kata Marvin pelan.


"Karena Ica tau, Sean lah yang ada di hati Abang. Dan kalian terlihat sangat cocok dari segi apa pun." Lirih Ica.


"Ica, memang dulu saya mencintai Sean. Saya perjuangkan walau Bunda sama Ayah tidak menyetujui hubungan kami. Tapi akhirnya saya melihat sendiri Sean berselingkuh di belakang." Marvin merasa sangat lemas.


"Ica, kalau kamu memang tidak mencintai saya, tidak usah mengadu kepada Ayah Bunda. Karena dengan begitu mereka akan tetap menyayangi mu," Kata Marvin dengan mata terpejam.


"Tolong berikan saya ciuman untuk terakhir kali dalam ikatan kita. Lalu pergilah."Kata Marvin sangat lemas.


Ica hanya berdiam diri. Dalam hatinya sangat mencintai Marvin, tapi ia meragukan Marvin saat itu. Lama Ica berdiam diri, tidak terdengar lagi suara Marvin yang berbaring di sofa dengan kepala di samping Ica duduk.


"Abang?" Panggil Ica menepuk-nepuk wajah Marvin.

__ADS_1


"Bang, Bang... Bangun." Teriak Ica.


"Sepertinya Bang Marvin pingsan. Tapi mengapa ia pingsan?" Gumam Ica


__ADS_2