Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Rindu


__ADS_3

Matahari perlahan berjalan menuju arah yang telah di tentukan. Seakan menaruh rasa kasihan kepada semua makhluk hidup yang tersengat oleh sinarnya.


Di aula terbuka kediaman Adikara, hampir sembilan puluh persen persiapan acara untuk lusa telah selesai. Rencananya acara akan dilaksanakan tujuh hari di mulai dari hari selasa.


Besok mereka semua akan menghadiri untuk memberi restu kepada Vano dan Elvita. Mereka akan menikah di kediaman Adikara, kemudian akan melangsungkan resepsi bersama di kediaman Wiraarga.


Mama Diana meminta Ica dan Marvin untuk tidak ke mana-mana lagi. Mengingat besok dan lusa acara sangat padat.


"Sayang, Ica." Panggil Mama Diana.


"Iya Ma, ada apa?" Tanya Ica mendekati Mama Diana.


"Bunda mu di mana sayang?" Tanya Mama Diana.


"Bunda lagi di kamar tamu Ma. Katanya beliau kurang enak badan." Kata Ica.


"Ayo temani Mama sebentar, ada yang perlu Mama sampaikan kepada beliau." Kata Mama Diana.


Ica menggandeng Mamanya menuju kamar tamu di kediaman keluarga Adikara tersebut. Setelah mengetuk pintu, mereka masuk menemui Bunda Lusi.


Mereka semua duduk di sofa yang ada dalam ruangan tersebut. Ica duduk di samping Bunda Lusi, ia mengambil sepotong bolu yang telah ada di atas meja.


"Maaf mengganggu Kak. Ada sedikit hal yang mau saya bicarakan." Kata Mama Diana kepada Lusi.


"Oh iya, silahkan Mbak. Ada hal apa?" Tanya Bunda Lusi.


"Sebelumnya kami minta maaf belum bisa ke rumah Kakak sore ini. Di karenakan sudah banyak saudara yang menginap. Kami usahakan besok pagi-pagi sekali kami akan berangkat kesana." Kata Bunda Lusi.


"Iya Mba, saya juga memakluminya. Lagi pula tentu Ica harus istirahat yang cukup." Kata Bunda Lusi.


"Terimakasih Kak. Kalau boleh kami juga meminta Marvin untuk tetap di sini dan berangkat besok bersama kami Kak. Karena saudara dari saya akan datang sore ini ingin bertemu dengan calon suaminya Ica. Untuk permintaan kami ini, Kakak jangan tersinggung." Kata Mama Diana.


"Iya Kak, nggak apa-apa. Saya dan suami telah sepakat untuk sementara waktu menitipkan Marvin kepada keluarga ini. Biar saja Marvin di sini lebih aman. Mengingat masih ada penjahat yang belum tertangkap di luaran sana." Kata Bunda Lusi.


"Terimakasih Kak untuk pengertiannya. Ca tolong ambil kotak silver yang ada di kamar Mama." Kata Mama Diana.


"Baik Ma." Jawab Ica.


Ica melesat keluar kamar, ia menuju kamar utama rumah mewah tersebut. Tiba di tangga ia berpapasan dengan Marvin.

__ADS_1


"Mau kemana sayang?" Tanya Marvin.


"Ke kamar Mama." Jawab Ica.


"Memang untuk apa ke kamar Mama?" Tanya Marvin.


"Mama meminta saya mengambilkan barangnya." Kata Ica.


"Oh begitu, ya sudah ambilah. Nanti saya tunggu di kamar ya sayang." Kata Marvin.


"Kenapa di kamar Bang? Kamar siapa?" Tanya Ica.


"Di kamar tempat Abang menumpang ini. Karena saya rindu, bukan kayak kamu lewat aja nggak nyapa." Kata Marvin cemberut.


"Iya Bang, nanti saja ya soalnya sanak saudara Mama akan datang sore ini. Nanti malam saja melepas rindunya." Bisik Ica jahil.


Marvin menuruni tangga, ia akan ke aula untuk mengobrol dengan kerabat keluarga Adikara yang telah datang. Sedang Ica ke kamar Nyonya Adikara untuk mengambil barang tersebut. Tidak butuh waktu lama Ica sudah kembali duduk di samping Bunda Lusi.


"Ini Ma kotaknya." Ica menyerahkan kotak yang di bawanya.


"Terimakasih Nak." Jawab Mama Diana.


"Kak ini saya titip untuk calon menantu kita, istrinya Vano. Ini sebagai kado pernikahan dari Ica untuk adik iparnya." Kata Mama Dia.


"Terimakasih banyak Kak." Kata Bunda Lusi.


"Elvita pasti cantik sekali memakainya besok." Kata Ica.


"Iya Nak, punya kamu sudah Mama siapkan di kamar set perhiasan serta gaun pengantin sudah Mama siapkan." Kata Mama Diana.


Bunda Lusi mengagumi kebaikan calon besannya. Ia tidak menyangka seorang Diana yang sudah bergelimang harta dari orang tuanya.


Karena sepengetahuan Bunda Lusi perusahaan Adikara group sudah terkenal sejak ia masih kecil. Bergelimang harta ternyata tidak membuat dirinya angkuh. Sifat itu juga menurun pada putri angkatnya, Ica.


"Wah terimakasih Ma, terimakasih Bunda. Kalian telah menyayangi saya." Kata Ica dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya sayang, sama-sama. Ini Kak set perhiasan sebagai oleh-oleh dari kami." Kata Mama Diana.


"Banyak sekali Mbak, saya jadi tidak enak hati." Jawab Bunda Lusi.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Kak, kita ini keluarga. Ca Mama minta tolong lagi ya, tolong panggil Ibu mu Nak." Kata Mama Diana.


"Iya Ma." Kata Ica.


Ica pergi ke aula untuk mengajak Ibu Asmi menemui Mama Diana. Setelah bertemu dengan Ibu Asmi, Ica langsung menggandeng beliau menemui Mama Diana.


"Ma, ini Ibu." Kata Ica.


"Ada apa Mbak?" Tanya Ibu Asmi.


"Silahkan duduk dulu Mbak. Ini saya punya sedikit oleh-oleh buat Mbak Asmi, terimakasih Mbak sudah menjaga anak-anak kita dengan baik." Kata Mama Diana.


Ia menyerahkan satu set perhiasan berbahan dasar sama emas putih dan berlian, seperti milik Bunda Lusi. Namun berbeda bentuk saja lebih simpel.


"Terimakasih Mbak atas semua kebaikannya. Tapi menjaga mereka itu kewajiban saya." Kata Ibu Asmi dengan mata yang berkaca-kaca.


Melihat Ibunya, Ica segera memeluk wanita yang telah merawatnya belasan tahun. Masih jelas di ingatan Ica saat Ibunya menangis di dalam kamar, saat keluarga Adikara menyatakan dirinya adalah anak kandung mereka.


"Ica sangat bersyukur memiliki tiga orang Ibu seperti kalian." Kata Ica dengan air mata tak terbendung lagi.


"Semoga kita selalu bahagia Nak. Maaf Kak Asmi, Kak Lusi saya pamit beristirahat sebentar. Nanti akan ada banyak tamu." Kata Mama Diana.


"Iya Mbak." Jawab Bunda Lusi.


Mama Diana meninggalkan Bunda Lusi dan Ibu Asmi di kamar. Sedang Ica juga ikutan permisi keluar, ia mengingat Marvin yang telah merindukannya.


Ica segera mengeluarkan ponsel miliknya. Ia mencoba menelepon Marvin. Belum sempat ponsel Ica di taruh dekat telinga. Marvin sudah mengangkat panggilannya.


"Halo sayang, kamu rindu ya?" Tanya Marvin.


"Iya Bang, saya sangat merindukanmu. Saya tunggu di kamar Abang ya, kita istirahat bareng." Ajak Ica.


"Sebentar ya sayang. Abang ambil es lemon dulu, haus banget nih. Jangan lupa pakai baju yang renda-renda itu ya." Kata Marvin.


"Iya Bang, jangan lama-lama ya." Kata Ica.


"Siap sayang. Matikan lah teleponnya." Kata Marvin.


"Iya Bang, i love you." Kata Ica.

__ADS_1


"Love you to, tunggu di sana ya sayang. Jangan ke mana-mana." Kata Marvin.


Ica mematikan ponselnya dan segera menuju ke kamar Marvin. Di sana ia segera membaringkan diri mencoba membuang kantuk terlebih dahulu.


__ADS_2