Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Memuaskan


__ADS_3

Barrak kembali ke kamar di rumah kediaman Sean istrinya. Ia akan membaringkan diri sebentar untuk melepas kantuk.


Sehabis subuh nanti Ia akan berangkat menemui anak buahnya untuk bergerak mencari keberadaan putri Adikara. Barrak melaksanakan perintah tersebut atas dasar sebagai anak buah dan bukti bahwa ia tau balas budi.


Barrak membaringkan diri di samping Sean yang telah duluan tidur. Menyadari suami tidak berada di sebelahnya Sean membuka mata. Ia menemukan Barrak baru keluar dari kamar mandi membasahi wajahnya.


"Sayang, kamu dari mana saja?" Tanya Sean.


"Dari balkon sayang, tadi ada Bos yang menelepon. Memberikan tugas untuk saya." Kata Barrak.


"Loh, kan kamu Bosnya sayang?" Tanya Sean.


"Saya bukan Bos. Saya hanya di berikan kepercayaan oleh bos, dan mungkin dia akan kembali." Kata Barrak.


"Terus kita bagaimana? Saya tidak mau hidup miskin." Kata Sean.


"Kamu tenang saja. Justru merekalah yang membuat kita seperti sekarang. Mereka sangat baik menolong saya dari tidak punya apa-apa." Kata Barrak.


"Jadi mereka tidak akan mengambil apa yang Kakak telah miliki?" Tanya Sean.


"Tidak Sayang, mereka jauh lebih kaya di banding Kakak. Mereka kaya akan segalanya, harta dan hati. Kakak sungguh berhutang budi pada mereka karena menyelamatkan Ibu yang terlilit hutang dan akan bu-nuh secara kejam." Kata Barrak.


"Jadi Kakak ingin membalas kebaikan mereka?" Tanya Sean.


"Iya, jika mereka butuhkan." Kata Barrak.


Barrak yang sudah lama tidak bersama tidur dengan Sean menginginkan hal itu. Ia berusaha mendekati Sean. Walaupun sedang hamil namun tidak membuat gairah Sean menurun begitu saja.


"Sayang, ayo kita melakukannya." Ajak Barrak.


"Tapi Kakak yang lepas, saya kelelahan sejak tadi siang." Ucap Sean manja.


Tanpa menunggu waktu lagi Barrak langsung membuka hidangan yang telah lama di nantinya. Walaupun dengan perut yang sedikit membuncit. Sean tetap cantik di mata Barrak.


Perlahan tapi pasti Barrak memasukan batang pendek miliknya. Tanpa pemanasan ia memompa cairan miliknya tanpa aba-aba.


Berulang kali semprotan hingga membuat Barrak lemas. Kalah dengan pertarungan yang di buatnya sendiri. Setelah Lemas Barrak memeluk pinggang Sean.


Namun apa boleh di kata, Sean yang sejak tadi berdiam diri. Ia merasa gairah dalam dirinya terangkat. Ia menginginkan lebih dari sekedar pasif di perlakukan oleh Barrak.


"Sayang, pengen minta lebih." Kata Sean menggoda.


"Besok lagi ya, saya lemas." Kata Barrak memelas.

__ADS_1


"Tidak, saya mau sekarang." Jawab Sean.


"Jangan sekarang ya sayang." Pinta Barrak.


Sean tidak memberi ampun kepada Barrak. Ia memberi dua butir obat kemudian memaksa Barrak meminumnya. Sean memberi Barrak segelas air dan membiarkan Barrak beristirahat sekitar lima belas menit.


"Gimana Sayang, sudah mulai bereaksi?" Tanya Sean.


"Badan saya mulai panas sayang. Memangnya kamu beri obat apa?" Tanya Barrak.


"Biasa Kak, soalnya saya menginginkannya lagi." Kata Sean.


"Sayang, apa kamu terlalu merindu selama ini?" Goda Barrak.


Sean menyibak selimut yang menutup tubuh Barrak. Tanpa kata Sean naik di atas tubuh berotot yang tanpa helaian satu benang pun.


Sean langsung menancapkan batang pendek milik Barrak ke dalam gua miliknya. Menarik ulur tubuhnya sampai tertancap sempurna.


Barrak menikmati permainan Sean. Melihat kekasihnya sedang berjongkok di depan wajahnya. Bibir Barrak melompat menerkam gunungan milik Sean yang sedang berayun-ayun. Bagai buah jambu yang tertiup angin.


Hangat seperti madu yang menetes langsung dari tempatnya. Barrak menghisap dengan rakus, tanpa ia sadari ada cairan keluar dari ujung gunungan tersebut.


Barrak sampai kenyang meminum air tersebut langsung dari sumbernya. Sedang Sean sudah berkali-kali menumpahkan cairan hangat miliknya ke batang milik Barrak.


"Memangnya kenapa Sayang?" Tanya Barrak.


"Saya mau menikmatinya Sayang. Sudah lama tidak menikmati jamu kecantikan milik Kakak." Kata Sean.


"Cepat hentak yang dalam sayang. Sepertinya sebentar lagi Yang." Kata Barrak.


"Ayolah sayang, cepat keluarkan." Kata Sean.


Sean terus menarik ulur tubuhnya di atas tubuh milik Barrak. Dengan hentakan yang semakin cepat dan kuat.


"Cepat sayang, tidak tahan lagi!" Rancau Barrak.


Sean mengarahkan mulutnya kepada Batang milik Barrak. Ia menikmati dan menelan habis cairan hangat milik Barrak. Belum puas melakukannya, Sean menikmati ujung batang Barrak seperti lolipop yang lumer di mulut.


"Ahh, sungguh menyenangkan. Saya belum puas sayang." Kata Sean.


"Nanti lagi Sayang. Subuh ini saya ada tugas." Kata Barrak.


Seperti seorang yang masih kelaparan. Sean menerkam bi bir Barrak dengan ganas. Memberikan serangan-serangan panas yang siapa saja melihatnya pasti menginginkannya juga.

__ADS_1


"Sayang saya bebaskan kamu malam ini. Besok sehabis kerja saya akan menagihnya lagi." Kata Sean.


Sehabis melakukan pertarungan mereka tidur dengan bertutup selimut. Sampai subuh tiba, Barrak segera membersihkan diri. Ia harus mempersiapkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Putri Adikara atau Putri keluarga George bos besarnya.


Barrak menelepon seseorang. Ia akan melakukan pelacakan hari ini juga.


"Halo, sekarang tambah anak buah yang lain. Kita ada tugas penting." Kata Barrak menelepon anak buahnya.


"Baik Bos. Perintah di laksanakan." Jawab anak buah tersebut.


Barrak pergi meninggalkan rumah karena anak buahnya sudah menunggu di luar gerbang. Terlebih dulu mereka akan menuju markas baru yang di persiapkan anak buahnya.


Tidak lewat dari setengah jam, Barrak sudah tiba di markas mereka. Ia segera masuk dan duduk menghadap komputer yang telah di persiapkan oleh anak buahnya.


"Coba cek data identitas putri Bos George." Kata Barrak.


"Baik Bos." Kata Adan salah satu anak buah.


Mereka mengecek identitas Ica yang ada dalam data pewaris George group. Karena Barrak tidak mengenal status dan nama Harris di negara ini.


"Ini Bos, foto dan identitas lainnya." Kata yang di beri perintah.


"Coba hubungi nomor yang tersedia." Kata Barrak.


"Baik Bos. Nomornya aktif tapi tidak ada yang angkat." Kata anak buah Barrak.


"Biarkan saja jangan di telepon lagi. Kita akan segera menuju ke alamat itu sesuai ponsel yang aktif ini. Siapkan armada!" Kata Barrak.


"Subuh ini juga Bos?" Tanya Adan.


"Sekarang, kalau nanti kemungkinan mereka telah berpindah." Kata Barrak lagi.


"Baik Bos. Siap laksanakan." Jawab mereka hampir serempak.


Beberapa anak buah Barrak segera mengecek kelengkapan yang mereka miliki. Mereka belum tau siapa yang menyekap Putri Bos mereka.


Menurut pengalaman yang sudah banyak mereka cicipi. Tidak jarang terkadang lawan yang mereka hadapi membahayakan.


"Sudah siap Bos." Kata Adan.


"Kita berangkat sekarang juga." Kata Barrak.


Mereka semua masuk kedalam mobil. Mereka menuju ke tempat yang sudah di lacak dari nomor ponsel putri Harris yang tak sengaja aktif. Barrak berusaha semaksimal mungkin melindungi Putri orang yang telah menyelamatkan ibunya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2