Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Jangan Menangis


__ADS_3

Dalam perjalanan, Rengga Anugrah terus memikirkan antara mengembalikan Ica atau terus menahannya. Kemudian sampai ia mendapatkan tebusan dari keluarga kaya raya itu.


Engga sudah terlanjur masuk dalam masalah ini. Satu sisi ia sudah meminjam uang untuk menyelamatkan nyawa Sang Ibu. Di sisi lain nuraninya berkata tidak untuk menyakiti gadis ini.


Menyentuhnya pun seolah hatinya menolak. Ia tidak menemukan kesalahan pada gadis yang bersamanya, atau pun orang tuanya.


Lama Engga berpikir, mereka tidak bisa berlama-lama di jalan raya. Hal itu akan mempermudah untuk di temukan. Habislah dirinya dan gadis tidak bersalah ini.


"Kak, kita mau kemana?" Tanya Ica.


"Mau ke neraka! Diam di situ atau saya serahkan kamu sama mereka. Biar tidak repot saya." Kata Engga mengancam Ica.


"Maaf Kak." Jawab Ica.


"Duduk diam di situ, saya sedang berfikir. Atau kamu mau kita tertangkap?" Tanya Engga.


"Nggak Kak, maafkan Ica." Kata Ica.


Dalam hati Ica baru kali ini melihat Dosen Engga berkata kasar terhadap dirinya. Sejak tadi malam ia masih belum percaya kalau yang menyeretnya adalah dosen Engga.


Percaya atau pun tidak, kenyataan telah membawanya pada keadaan ini. Ia tidak bisa menyangkal lagi bahwa memang benar Dosen Engga lah yang sedang bersama dirinya.


Bahkan dosen yang sangat baik kepadanya selama ini sudah menjadi orang yang sangat membencinya. Ica tidak mengerti mengapa Dosen Engga tega kepada dirinya.


Ia juga beberapa kali telah memperjuangkan Dosen Engga untuk tetap mengajar di Universitas milik Keluarga Adikara. Pertanyaan bermunculan di otak Ica yang sedang penat, namun bibirnya mengunci. Seakan ingin menutup rapat-rapat segala pertanyaan yang ingin keluar.


"Kita akan ke rumah nenek saya yang ada di desa. Karena belum memungkinkan untuk pulang ke rumah mu." Kata Engga.


"Memangnya kenapa Kak? Bukannya lebih aman di rumah? Kakak juga akan di lindungi." Kata Ica.


"Kita belum tau mungkin saja di sekitar rumah mu sudah di intai oleh anak buah mereka. Atau bisa saja keluarga mu marah terus menghabisi saya. Di posisi seperti itu siapa yang mau bertanggung jawab?" Tanya Dosen Engga.


"Baiklah Kak, saya ikut saja rencana Kakak. Tolong selamatkan saya Kak." Kata Ica kembali menangis.

__ADS_1


"Iya, jangan menangis lagi. Saya akan menjamin mu aman bersama saya. Asal kamu juga menjamin mengembalikan pekerjaan dan hutang operasi Ibu." Kata Engga.


"Baik Kak, Saya berjanji." Kata Ica.


Hari sudah menjelang subuh, mobil yang di kendarai oleh Engga sudah keluar dari perbatasan kota. Mereka akan meninggalkan kota tersebut menuju rumah saudara dari neneknya Engga.


Melaju dengan kencang tanpa mengobrol di temani rintik hujan. Jika bukan iman dan teringat adik yang telah meninggal. Engga telah melakukan hal di luar bata pada Ica.


Namun ia mengingat adiknya, kira-kira seumuran Ica meninggal karena sakit. Mereka tidak memiliki biaya untuk berobat. Dengan tekad itulah Engga melanjutkan kuliahnya yang sempat tertunda.


Ia juga berjuang untuk menjadi dosen di universitas dari yayasan milik Adikara group yang terkenal. Mengenang pesan dari Ibu dan adiknya itulah Engga selalu memperlakukan perempuan dengan baik.


"Saya mengaku salah telah membawa mu. Namun jika tidak mungkin saja semalam kamu telah di habisi oleh orang lain. Saya juga tidak menyentuh mu atau memperlakukan mu dengan tidak baik.


Maka pertimbangkanlah permintaan saya setelah kamu kembali. Saya hanya ingin hidup aman dengan Ibu saya dan menjadi dosen seperti dulu.


Hidup dengan wanita yang saya cintai. Saya tidak meminta lebih dari pada mu putri Adikara yang terhormat." Kata Engga dengan gemetar.


"Saya tau Kakak orang baik. Saya hanya wanita biasa Kak, kita sama-sama datang dari desa. Mungkin keberuntungan yang telah membawa saya pada keluarga Adikara.


"Baiklah kita sepakat, tapi untuk sekarang kita tetap bersembunyi terlebih dahulu. Sampai saya mendapat cara agar bisa kembali ke kota itu." Kata Engga.


"Baik Kak. Saya mengerti." Kata Ica.


"Kita mampir dulu makan." Kata Engga.


"Nanti aja Kak, siapa tau mereka ada yang mengikuti kita." Jawab Ica.


"Kita beli makanan saja, biar di makan di dalam mobil." Kata Engga kemudian.


"Baiklah Kak. Kakak yang turun?" Tanya Ica.


"Oke siap." Jawab Engga.

__ADS_1


Sebenarnya Ica memiliki kesempatan melarikan diri. Apalagi ia memiliki kemampuan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


Namun ia berpikir lagi, "Bagaimana nanti dosen ini membayar hutang-hutangnya? Bagaimana kalau komplotan musuhnya membunuh laki-laki yang menjadi tulang punggung ini?"Kata Ica dalam hati.


Naluri kebaikannya berkata untuk tidak pergi sendiri. Apapun masalah yang telah datang adalah kehendak Yang Kuasa. Dirinya tidak ingin menjadi pecundang saat seseorang meminta bantuannya.


Terlepas dari kesalahannya, Dosen Engga juga telah menyelamatkan nyawanya. Ia akan sangat berterimakasih seandainya dosen muda ini menepati janjinya.


Entah ini keputusan bodoh yang akan mengantarnya kepada penderitaan. Atau keputusan ini sudah tepat, untuk membantu seseorang yang sudah di ujung tanduk juga. Apapun alasannya Ica mengikuti hati nuraninya.


"Ini makanannya Ca. Kenapa duduk di tempat menyetir?" Tanya Engga.


"Cepat naik Kak. Nanti kita tertangkap oleh komplotan Kakak." Kata Ica.


"Kamu bisa menyetir?" Tanya Engga tidak yakin.


Dosen Engga duduk di samping kemudi dengan perasaan cemas. Ia takut Ica ingin membawanya ke neraka seperti di film-film.


Seketika Engga menghapus bayangan mengerikan itu dari kepalanya. Memfokuskan matanya ke arah Ica yang santai melajukan kendaraan mereka.


"Kamu yakin Ca? Jangan bawa saya ke neraka, masih ada Ibu yang butuh saya." Kata Dosen Engga.


Mendengar ke takutan dari dosen brengsek ini. Ica memiliki Ide untuk mengerjainya. Ica melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi di atas rata-rata orang normal. Kebetulan masih sangat pagi sekitar jam 6.00 waktu di negara tersebut.


"Ku-kurangi kecepatannya Ca. Apa kamu tidak takut mati?" Tanya Engga.


"Hahaha ternyata orang yang kejam kayak kamu takut mati juga. Ayo lah kita mati bersama-sama Dosen Muda." Kata Ica menyeringai.


"Jangan Ca. Saya janji akan melindungi mu sampai masalah ini selesai." Kata Engga.


"Pak Dosen seandainya tadi saya berniat jahat dengan Bapak. Sudah saya tinggal saat Bapak membeli makanan. Tapi maaf saya bukan manusia seperti itu." Kata Ica.


Engga terdiam sejenak, ia berpikir membenarkan apa yang di katakan Ica. Tadinya setau Engga Ica tidak bisa mengendarai mobil. Makanya ia bisa membiarkan kontak dan Ica tetap di dalam mobil sendirian.

__ADS_1


Melihat kemampuan Ica seperti ini. Ia jadi yakin bahwa Ica benar-benar mau menolong dirinya.


"Benar kata mu Ca. Orang pintar akan kalah dengan orang yang beruntung. Dan orang jahat sekalipun akan kalah dengan orang yang tulus." Kata Dosen Engga.


__ADS_2