
Di tempat yang berbeda. Pada saat semua orang sudah berkumpul dengan keluarga masing-masing.
Berkali-kali Sean menghubungi Rengga Anugrah. Tapi sial yang di telepon mematikan ponselnya. Bahkan yang tadi GPS ponselnya hidup sekarang sudah mati juga.
"Sial, kemana anak itu?" Kata Sean kepada anak buahnya.
"Kami tidak tau Bos. Tapi benar gadis itu sudah bersama Bos Rengga." Kata Sala satu dari mereka.
"Kalian bisa memastikan Putri Adikara sialan itu sudah bersama Rengga?" Tanya Sean menahan amarah.
"Benar Bos. Kami sendiri menyaksikan dengan mata kepala kami. Atau jangan-jangan Bos Rengga menculik gadis itu untuk menikahinya? Karena setau saya Bos Rengga sangat mengagumi gadis itu." Kata orang itu lagi.
"Itu sudah bagus, tapi lebih bagus lagi kalau gadis itu di habisi hahaha." Kata Sean dengan tawa yang mengerikan.
"Jadi kita sekarang bagaimana Bos?" Kata Orang tersebut.
"Kita akan berangkat ke tempat terakhir GPS Rengga tadi hidup. Siapkan segala sesuatunya yang di perlukan. Kita berangkat sekarang!" Perintah Sean.
Mendengar perintah tersebut mereka mempersiapkan dua buah kendaraan roda empat. Kendaraan itu akan di gunakan Sean dan anak buahnya untuk mencari keberadaan Rengga dan Ica.
Setelah persiapan selesai Sean dan anak buahnya melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Mereka berharap Rengga masih ada di sana menahan Putri Adikara.
Kurang lebih satu jam mereka telah sampai di sekitar pantai. Mobil yang di kendarai Sean dan anak buahnya memutari sekitar titik GPS ponsel Rengga terakhir aktif.
Setelah sampai di titik GPS, mereka melihat ada sebuah rumah tua mirip gubuk. Beberapa anak buah Sean turun dari mobil untuk mengecek keadaan sekitar.
"Benar Bos mereka tadi ke tempat ini." Kata salah seorang dari mereka.
"Terus kemana jejaknya mereka sekarang?" Tanya Sean.
"Kami belum tau Bos. Apa kita cari saja di sekitar tepat ini sampai ke seluruh sudut kota?" Tanya anak buah Sean.
"Sebagian kalian mengejar mereka. Sebagian memastikan ke kediaman Adikara. Apa gadis itu sudah pulang atau belum." Kata Sean.
__ADS_1
"Bos mau ikut kemana?" Tanya anak buahnya lgi.
"Saya mau pulang dulu. Pagi nanti suami saya datang dari luar negeri. Kalian jangan sampai ada yang ke rumah atau menelpon sembarangan. Jangan menelepon ke nomor pribadi saya." Kata Sean.
"Baik Bos." Jawab mereka serempak.
"Setelah penyelidikan selesai kalian boleh pulang. Tetap stand by kalau saya nelepon berarti ada hal yang penting." Kata Sean Lagi.
"Baik Bos." Jawab mereka.
"Sekarang antar saya pulang ke rumah. Mobil di belakang segera telusuri setiap jalan siapa tau anak sialan itu masih berada di sekitar sini. Memang dasar Dosen tidak tau diri, mencari kesempatan dia rupanya.
Tapi tidak apa-apa sampai menikah juga. Jika gadis itu menikah dengan Rengga itu artinya kesempatan emas saya mendekati Marvin." Kata Sean tersenyum sinis dalam remangnya cahaya bulan.
Mobil mereka melaju ke arah rumah kediaman Sean di pinggiran kota. Memang wanita itu sangat aneh setelah ambisinya mendapatkan Marvin tidak terwujud.
Kurang lebih setengah jam mereka telah sampai di halaman rumah Sean. Anak buahnya langsung pergi meninggalkan Sean sendirian. Memang Sean tidak mau terlalu akrab dengan siapapun.
Sean segera membuka rumahnya. Ia terlebih dulu menghidupkan lampu untuk menerangi setiap ruangan. Setelah semua lampu hidup, ia beranjak ke dapur untuk membuat teh hangat.
Rasa kram tersebut sangat mengganggunya. Ia mencoba tidur untuk menahan sakit yang di rasakan. Namun bukannya berhenti sakit itu semakin menjadi.
Sean segera meraih tas kecil dan kontak mobilnya. Ia tidak ingin mati sia-sia sendirian. Karena di pikirannya belum mendapatkan kebahagian dari kerja kerasnya selama ini.
Ia membuka pintu rumah. Tiba-tiba saja ada sosok pria di depan matanya. Sean kaget tapi dengan cepat ia menutupi semuanya.
"Selamat datang sayang. Kok, sudah di rumah sekarang? Katanya besok pagi?" Tanya Sean.
"Iya, tapi keberangkatannya di majukan. Kamu dari mana saja sih, tadi Kakak sudah datang ke sini rumah nya terkunci dan tidak ada lampu yang hidup. Kamu dari mana saja sih sayang? Ini juga mau kemana lagi?" Tanya Barrak.
"Saya tadi pulang dari ngumpul sama teman-teman sekolah menengah dulu. Maklum sudah lama tidak rumpi, saya kira Kakak akan datang besok hari." Kata Sean.
"Terus sekarang mau kemana lagi?" Tanya Barrak.
__ADS_1
"Perut saya kram banget sayang. Rencananya saya akan ke dokter sebentar. Mau periksakan keadaan anak kita di dalam." Kata Sean.
"Kakak ikut ya sayang. Saya khawatir dengan keadaan bayi kita." Kata Barrak.
Sebenarnya Sean tidak mau Barrak mengikutinya. Ia sekalian ingin melihat kediaman Wiraarga, siapa tau ia bisa melihat Marvin dari jauh.
Namun untuk menolak permintaan Barrak itu sangatlah tidak mungkin. Apalagi menyangkut bayi dalam kandungannya. Kalau Sean menolak pasti Barrak akan curiga kalau itu bukan anaknya.
"Boleh sayang, tapi apa sebaiknya Kakak beristirahat dulu biar capeknya cepat hilang." Kata Sean.
"Capeknya akan hilang dengan sendirinya sayang. Saat melihat kalian sehat dan baik-baik saja. Ayo kita berangkat, biar Kakak yang menyetir." Kata Barrak.
Barrak adalah pria sudah merubah diri menjadi lebih baik ketika bersama Sean. Tapi Sean hanya ingin memanfaatkan kebaikan yang telah di berikan oleh Barrak. Kurang lebih setengah jam perjalanan mereka telah sampai di klinik dokter keluarga Sean.
"Silahkan masuk Tuan dan Nyonya." Kata seorang Dokter perempuan bernama Tesya.
"Maaf Kak, kami mengganggu malam-malam. Ini istri saya sedang hamil tapi mengalami kram di bagian perutnya." Kata Barrak.
Dokter Tesya memeriksa bagian perut Sean dengan saksama. Setelah mendapatkan hasil yang akurat, Dokter Tesya menghadap kedua suami istri tersebut.
"Bagaimana hasilnya Dok? Apakah istri dan calon anak saya sehat-sehat saja?" Tanya Barrak khawatir.
"Istri Tuan baik-baik saja. Tapi yang sangat harus di perhatikan adalah kandungan makanan saat hamil. Dan ingat jangan sampai istri Tuan kelelahan. Itu bisa berakibat fatal bagi kesehatan calon bayi Tuan dan Nyonya." Jelas Dokter Tesya.
"Baik Dok. Saya akan lebih berhati-hati." Kata Sean.
Barrak berpamitan kepada Dokter Tesya. Sebenarnya ada yang mengganjal di hati Barrak. Mengerjakan hal apa sehingga Sean kelelahan, semua sudah tersedia.
Jika kesusahan mengerjakan sesuatu, bisa minta pertolongan orang lain. Tentu dengan imbalan. Kemudian mereka keluar dari klinik tersebut.
"Sayang, sebenarnya apa yang kamu kerjakan sehingga membuat kamu kelelahan?" Tanya Barrak.
Sean berpikir cepat, apa yang harus ia katakan sebagai alasan. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada Barrak.
__ADS_1
"Saya tadi beres-beres Kak. Habis itu belanja bulanan, saya tidak mau rumah terlihat berantakan saat Kakak datang." Jawab Sean berbohong.
"Terimakasih sayang sudah berusaha memberikan yang terbaik. Tapi lain kali minta pembantu saja yang mengerjakan." Kata Barrak mengelus rambut Sean.