
Orang yang memperhatikan Dosen Engga dan Ica tidak lain adalah Marvin. Sebelumnya Marvin berniat menjemput Ica setelah ujian.
Namun ia mendapat pemandangan yang berbeda saat ingin memarkirkan mobilnya. Tempat parkiran yang lebih tinggi posisinya di banding lokasi kantin, membuat siapapun yang memandang lebih leluasa. Tanpa terhalang apa pun.
Marvin yang sebenarnya memang mencari keberadaan Ica. Benar saja Ia mendapati Ica dengan matanya, tetapi sedang berbincang dengan pria lain. Emosinya langsung naik, ia menahan amarahnya.
Ia pergi dari parkiran menuju warung di pinggir jalan. Matanya tetap memperhatikan kepada Ica.
Dosen Engga melambaikan tangan kepada Ica di taman depan kantin. Ica kemudian berjalan sendiri ke arah parkiran menuju kearah depan rektorat.
Ica menelpon Marvin seperti katanya tadi pagi. Dua panggilan tidak diangkat, panggilan yang ketiga barulah ponselnya di jawab.
"Halo, Bang. Ica sudah selesai ujiannya, bisa Abang jemput?" Tanya Ica.
"Minta antarkan sama Dosen mu itu." Kata Marvin.
"Yah udah kalau Abang tidak bisa. Ica naik taksi aja nanti." Kata Ica.
Ica mematikan ponselnya. Ia mencoba mencari taksi online yang terdekat lewat aplikasi di ponselnya.
Saat Ia fokus dengan ponselnya. Tiba-tiba ada mobil yang sangat di kenalnya.
Marvin membuka kaca mobil. Ica melihat kearahnya dengan wajah bingung. Melihat ekspresi Marvin yang tidak biasanya.
"Woi, naiklah." Teriak Marvin.
Ica tanpa suara dan tanpa pergerakan. Ia tetap duduk di tempatnya. Jika Marvin ingin memanggilnya tentunya tidak seperti itu.
"Spica, dengar nggak...?" Kata Marvin
"Saya?" Teriak Ica.
Marvin keluar dari mobil. Ia menarik tangan Ica dan membawanya masuk kedalam mobil. Marvin membanting pintu mobil.
Kemudian ia melajukan mobil dengan kencang. Setelah di tempat agak sepi, Marvin mengerem mobilnya dengan tiba-tiba.
"Bang, ada apa sih?" Tanya Ica.
Ica merasa Marvin tidak pernah memperlakukan dirinya dengan dingin seperti ini. Bahkan cenderung kasar, Marvin diam seribu bahasa.
"Sekarang kamu sudah berani bermain api di belakang saya!" Bentak Marvin.
"Maksud Abang?" Tanya Ica.
"Oh, jadi sekarang sudah pintar juga bersandiwara?" Tanya Marvin.
Ica memilih diam, Ia tidak ingin membalas perkataan Marvin yang sedang emosi. Marvin berapa kali mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Ica mengapa kamu lakukan ini kepada saya? Atau kamu ingin membeli saya juga? Karena sudah memberikan banyak uang kepada keluarga kami." Marvin mengguncang tubuh Ica.
Ica menahan air matanya yang hampir mengalir. Tidak mengerti kesalahan apa yang telah dibuatnya, sehingga Marvin semarah ini.
"Apa kesalahan saya Bang?" Tanya Ica.
"Kamu sengaja kan mau boncengan dengan Dosen Rengga dengan alasan akan terlambat. Setelah selesai kamu juga berduaan dengan Dosen itu." Kata Marvin.
"Hem. Ica bisa jelaskan Bang." Kata Ica.
"Apalagi Ica? Jelas-jelas kamu tinggalkan saya sendiri tadi di dalam mobil, dan ini tadi sangat terlihat jelas di depan mata saya." Kata Marvin.
Ica hanya menunduk, air matanya yang sudah ia tahan akhirnya keluar juga. Ia sama sekali tidak menduga, Marvin akan menuduhnya seperti ini.
Hal yang membuatnya sakit dan kecewa adalah Marvin tidak pernah mempercayainya. Ia hanya terdiam tidak tau harus mengatakan apa.
"Sekarang kamu pilih, saya atau pria itu?" Kata Marvin.
Ica tetap seperti semula tidak bergerak apalagi menjawab. Ia sangat kecewa atas perlakuan Marvin yang menuduhnya. Bahkan Marvin menyuruhnya memilih antara mereka, seakan memang Ica telah mendua hati.
"Maaf Bang, Ica tidak akan pernah memilih." Kata Ica.
Mendengar jawaban Ica, Marvin semakin emosi. Ia memejamkan mata sejenak.
"Terus mau mu bagaimana? Kamu mau memiliki kami berdua? Jawab!" Bentak Marvin.
Ica yang ketakutan dan berlinang air mata. Ia menjawab dengan gemetar.
Sebenarnya dalam hati Marvin percaya kepada Ica. Namun egonya tidak ingin mengalah.
Ica memeluk Marvin dengan berurai air mata. Tapi Marvin hanya berdiam diri, bahkan ia melepas tangan Ica.
"Lepaslah, malu di lihat orang." Kata Marvin.
Ica melepas pelukannya dan kembali duduk seperti semula. Ia merasa Marvin telah berubah dengan tidak lagi mempercayainya. Saat ia merendahkan diri memeluk duluan, Marvin tidak mau.
"Saya berhenti di sini saja Bang." Pinta Ica.
"Memang bisa mengendarai mobil sendiri?" Tanya Marvin.
"Mobilnya bawalah." Kata Ica.
"Merepotkan saya saja, mau mengantarnya lagi." Jawab Marvin Ketus.
"Maafkan saya." Jawab Ica.
Ica berusaha mencari ponselnya. Ia akan menelpon Pak Ujang, agar menyuruh supir untuk menjemputnya mengendarai motor.
__ADS_1
"Bang saya akan menelpon Pak Ujang, untuk menyuruh supir mengantar motor saya. Beliau yang akan mengantarkan Abang." Kata Ica.
Belum sempat Ica menelepon. Terlihat Dosen Engga dari kaca spion mobil.
"Turunlah, itu Dosen kesayanganmu." Kata Marvin.
Ica yang sudah tidak tau harus bagaimana. Ia menjawab Marvin dengan tegas.
"Baiklah Bang, jika kamu yang menyuruh. Berhentikan mobilnya." Kata Ica.
Setelah mobil berhenti, Dosen Engga sudah tidak nampak lagi. Mungkin ia masuk ke dalam gang kecil atau mampir di suatu tempat.
"Bang sudahlah, Ica minta maaf. Memang tadi Dosen Engga mengajak Ica makan di kantin." Kata Ica.
"Bagaimana supaya saya bisa percaya?" Tanya Marvin.
Ica serba bingung apa yang harus dikatakannya. Ia memiliki ide yang sedikit gila.
"Begini Bang." Kata Ica.
Ica membenamkan wajahnya ke dalam wajah Marvin. Ia tidak membiarkan Marvin berkicau lagi. Dengan kecepatan tinggi, Ica membuat Marvin pasrah.
Berdiam diri tidak bisa lagi di lakukannya. Marvin menyadari hanya gadis ini yang membuatnya bergairah. Celananya pun semakin menyempit.
"Sayang, sebenarnya ini yang Abang inginkan." Kata Marvin.
Ica tidak menjawab, Ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Marvin. Memberikan tanda-tanda di dada bidang milik Marvin.
Ia seperti menggila, membuka sendiri kancing kemeja milik Marvin. Ia juga memegang batang milik Marvin.
"Sayang, jangan pernah meragukan Ica lagi. Sekalipun Ica memiliki seluruh muka bumi, Ica akan tetap mencintaimu." Kata Ica.
"Eleh, tadi...." Kata Marvin.
Marvin baru mau membahas lagi kejadian tadi. Tetapi Ica tidak akan membiarkan itu terjadi.
Ia langsung menerkam benda yang selalu ingin berkicau itu. Membekapnya dengan benda kenyal berwarna oren segar miliknya.
Lama mereka beradu, Marvin menyelipkan tangannya ke dalam kanopi yang menutupi gunungan milik Ica. Ia sangat suka dengan benda kenyal tersebut.
"Sayang, ingin mencicipinya sebentar." Kata Marvin.
Marvin segera membuka kanopi itu, dan menikmati puncak gunung dengan kepuasan tersendiri.
"Sayang, maafkan Abang." Kata Marvin.
"Iya, sayang. Baru kali ini saya temukan cemburu yang hakiki." Kata Ica.
__ADS_1
Marvin yang belum puas membenam kan dirinya di puncak gunungan itu. Menikmati sedikit tetesan madu dari bunga yang selama ini ia jaga.
"Bang, sepertinya ada orang yang sedang memperhatikan mobil kita." Kata Ica.