Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Bersamamu


__ADS_3

Marvin sedikit ragu untuk mengambil langkah ini. Mengingat hubungannya dengan Beni kurang baik, setelah Sean meninggalkan Arbeni demi dirinya kalau itu.


Tidak ada jalan lain yang harus di tempuh. Ia harus merelakan Ica menjadi bagian keluarga Adikara. Sedangkan waktu tinggal sedikit lagi. Perusahaan milik Ayah Marvin di ambang kebangkrutan.


"Ca, ayok kita keluar. Menikmati keindahan alam sore hari." Ajak Marvin.


"Ica ganti pakaian dulu yaa Bang." Kata Ica.


"Di tunggu di ruang tamu yaa." Jawab Marvin.


Ica sudah berganti pakaian. Ia terlihat anggun mengenakan dress motif bunga dan tas kecil yang senada.


Ia juga sebenarnya merasa aneh mendengar permintaan dari keluarga Adikara tersebut. Tetapi apa salahnya ia membalas kebaikan keluarga angkatnya ini, yaitu keluarga Bunda Lusi.


Marvin mengeluarkan mobil BMW yang ada di garasi. Ia terlihat mengenakan kaos santainya. Namun apa daya ganteng dari lahir tidak bisa di tutupinya.


Mereka menuju suatu tempat, dan lebih kurang satu jam mereka sampai di suatu tempat, yaitu sebuah Villa.


"Sayang, kamu suka gak tempatnya?" Tanya Marvin.


"Suka banget Bang." Jawab Ica.


"Loh kok yang panggil sayang balik ke Abang?" Marvin menekuk wajahnya.


"Iyaa sayang." Kata Ica manja.


"Nah, gitu kan lebih romantis." Jawab Marvin tertawa kecil.


Marvin membawa Ica Villa Anggrek. vila Anggrek terletak di pinggiran kota tersebut.


Dulunya lokasi Villa adalah rumah Kakek Suryo, namun lama kelamaan pinggiran kota itu sudah ramai penduduk. Membuat Kakek Suryo tidak betah lagi tinggal di sana. Oleh Pak David di bangunnya Villa untuk keluarga besar yang datang.


Hamparan rumput yang hijau di depan halaman. Membuat siapapun yang datang ke sana menjadi takjub. Juga Ica, Ia sangat terpukau dengan keindahan alam itu.


"Sayang, Ke sinilah berbaring di rumput hijau ini." Kata Marvin telah duluan berbaring.


"Hem...." Jawab Ica mengikuti Marvin.


Mereka berbaring di atas rumput nanti hijau segar. Melihat capung dan kupu-kupu berterbangan di atas mereka. Juga mega di langit yang berarak-arakan.


"Indah yaa Bang." Ujar Ica takjub.


"Memang indah sayang. Namun keindahan itu terlihat ketika hati kita sedang bahagia." Jawab Marvin.


"Iya juga Bang. Coba saja kita datang kesini dengan hati yang sedang kecewa, pikiran yang stres. Jangan kan melihat keindahan warna kupu-kupu. Matahari pun seakan tiada berguna menyinari bumi, semua terlihat gelap." Ujar Ica penuh perasaan.


Cuaca hari tiba-tiba gelap. Hujan telah menyapa melalui rintik-rintik nya.


"Sayang, ayok kita masuk." Ajak Marvin.

__ADS_1


"Iya Bang." Ica mengikuti Marvin dari belakang.


"Di sini ada sepasang suami istri yang bertugas membersihkan Villa ini." Kata Marvin menjelaskan.


"Oh, ada yang tinggal disini juga yaa Bang?" Tanya Ica.


"Iya, Bi Murti dan Mang Tardi namanya." Kata Marvin.


Marvin dan Ica mengetuk pintu dan di buka oleh Bi Surti. Mereka masuk dan duduk di ruang tamu Villa. Sedang Bi Murti membuat teh manis, Mang Tardi pulang dari mancing di kolam belakang.


"Eeh, ada tamu dari kota. Kapan datang Den?" Tanya Mang Tardi mengajak bersalaman.


"Barusan Mang." Marvin menyalami Mang Tardi.


"Neng geulis ini siap namanya?" Tanya Mang Tardi menyanjung kecantikan Ica.


"Saya Ica Mang." Kata Ica.


"Ini tehnya Den dan kue yang Bibi buat kemarin." Kata Bi Murti menyela.


"Iya Bi terimakasih banyak. Ini Bi kenalkan Ica tunangan saya." Kata Marvin kepada Bi Murti.


Malam harinya mereka bakar-bakar ikan yang di dapat Mang Tardi tadi siang. Mereka ngobrol santai menikmati keindahan malam hari.


"Den sudah malam, sebaiknya kita masuk kedalam rumah. Suasananya cukup dingin." Kata Bi Murti.


"Sayang, ayok kita masuk." Ajak Marvin kepada Ica.


"Iya Bang." Jawab Ica singkat.


Mang Tardi memadamkan api bekas bakar ikan. Sedangkan Bibi Murti membereskan peralatan membakar.


Kemudian kedua orang suami istri tersebut masuk ke kamar mereka, setelah berpamitan dengan Ica dan Marvin.


"Sayang, mau kamar sendiri-sendiri atau satu kamar kita?" Tanya Marvin.


"Sendiri-sendiri saja Bang. Gak enak dengan Bi Surti dan Mang Tardi." Kata Ica.


"Mereka kan udah masuk kamar sayang." Kata Marvin


"Gak apa-apa masing-masing aja." Kata Ica.


Marvin mengalah, ia tidak ingin terlihat memaksa keinginan kepada Ica. Tetapi Ia punya beribu akal agar Ica sendiri yang datang ke kamarnya.


Marvin membuka ponselnya. Ia sengaja membuat suara-suara horor agar Ica tidak kerasan di kamar sendirian. Ia tau Ica sangat takut dengan hal-hal berbau horor.


Ica tidak bergeming, pintu kamarnya masih terlihat tertutup. "Apa dia sudah tidur ya?" Kata Marvin dalam hati.


Marvin tidak habis akal. Ia segera mencari cat berwarna merah dan di adiknya dengan air. Lalu ia siramkan di depan kamar Ica. Kemudian Marvin sengaja mengetuk kamar dengan keras lalu bersembunyi.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


Marvin mengetuk pintu dengan sedikit keras. Ica kaget lalu bangun dari tidur. Ia buka pintu dengan pelan.


"Astaga Tuhan. Darah siapa ini? Kata Ica menjerit.


"Bang. Bang. Banggg." Ica memanggil Marvin.


Marvin pura-pura tidak mendengar teriakan Ica. Ia berdiam diri tidur di kamar sendiri.


Ceklek.


Ica membuka pintu kamar Marvin yang di matikan lampunya. Ica mencari-cari ranjang dan tubuh Marvin.


"Bang, Ica mau tidur sama Abang. Ica takut." Kata Ica.


Marvin masih berdiam diri. Dalam hatinya ia tertawa keras dan sangat bahagia atas kemenangannya.


"Abang dengar Ica?" Tanya Ica mengusap air matanya.


"Iya sayang. Ada apa?" Tanya Marvin seolah-olah.


"Ada darah di depan pintu kamar Ica." Kata Ica ketakutan. Marvin segera menghidupkan lampu kamar.


"Ayo, Bang kita lihat." Kata Ica yakin dengan apa yang di lihatnya.


Mereka berdua keluar kamar. Melihat ke kamar sebelah yang di tempati Ica. Sama sekali tidak ada darah maupun bekasnya di sana.


"Loh, kok bisa tidak ada Bang?" Ica yakin tadi ada di sini.


Marvin yang sudah berkerja sama dengan Mang Tardi. Mang Tardi sudah membersihkan bekas car ketika Ica masuk ke kamar Marvin.


Ica yang sudah sangat ketakutan. Ia pasrah tidak ada jalan lain selain tidur dengan Marvin pada malam ini.


"Bang Ica mau tidur di kamar Abang malam ini." Kata Ica.


"Apa Ica yakin? Gak takut Abang minta sesuatu nih?" Tanya Marvin.


"Tapi di kamar sebelah banyak hantunya." Kata Ica.


"Hem... Gimana yaa kamu yakin? Kesempatan hanya kali ini loh." Selidik Marvin.


"Iya Bang, keputusan Ica sudah bulat. Malam ini tidur numpang di kamar Abang." Kata Ica.


Marvin terus memandangi inci demi inci, sesekali menelan saliva nya. "Ahh... sangat mengairahkan." Gumam Marvin.

__ADS_1


__ADS_2