Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Pembawa Berkah


__ADS_3

Ica dan Sera keluar dari kantor Beni. Mereka akan pulang ke rumah Mama Diana.


Beristirahat sejenak dan mengajari Sera. Setelah itu Ica akan menemui Marvin untuk mengatakan soal uang yang sudah ada.


Sera dan Ica diantar ke rumah menggunakan mobil kantor. Sera terkadang seperti memikirkan sesuatu.


"Kenapa Ser? Kamu baik baik saja?" Tanya Ica.


"Iya Kak. Tapi, pelajarannya susah nggak?" Tanya Sera.


"Kita belajar sesuai pelajaran kamu di sekolah Ser." Kata Ica.


"Kak Ica pelajaran di sekolah tidak ada yang menyenangkan, makanya Sera sering bolos. Kadang ganggu Kak Beni, kadang juga Sera hanya keliling cari tempat ngadem sampai sore datang." Kata Sera menunduk.


"Ser mata pelajaran itu sulit jika kamu tidak menyukainya, jika kamu suka pasti kamu akan berusaha melewati kesulitan itu." Kata Ica.


Ica memikirkan bagaimana agar Sera menyukai pelajarannya. Ica menyadari bahwa Sera merasa takut jika harus menghadapi pelajaran.


Sera memandang wajah Ica. Ia belum mengerti dari perkataan Ica tersebut. Sera masih belum bisa memotivasi dirinya.


"Iya Kak." Jawab Sera.


"Ser, kamu kan sangat takut jika Kak Beni meninggalkan kamu." Kata Ica.


"Apa hubungannya Kak?" Tanya Sera.


"Tadi Kak Beni bilang, kalau kamu tidak bisa masuk ke Universitas yang bagus. Kak Beni tidak bisa menerima perasaan kamu loh Ser." Kata Ica.


"Kok gitu Kak? Tapi tenang saja Kak, Sera bisa minta tolong sama Papi." Kata Sera.


Ica merasa inilah kesalahan sebenarnya. Sera selalu mengandalkan orang tuanya saat ada masalah. Ica akhirnya mendapatkan ide.


"Kak Beni tidak ingin kamu meminta tolong dengan orang tuamu Ser. Kamu harus mendapatkan beasiswa atas kerja kerasmu sendiri." Kata Ica.


"Baiklah Kak, Sera janji akan berusaha." Kata Sera.


"Nah, gitu dong harus semangat." Kata Ica lagi.


Tidak lama kemudian, mobil kantor yang mengantarkan kedua gadis itu sampai dihalaman rumah Tuan Hendro Adikara. Sopir yang mengantar segera membuka pintu mobil.


"Silahkan Nona." Kata Pak Sopir.


"Terimakasih Pak." Jawab Ica dan Sera berbarengan.


"Saya permisi ke kantor lagi." Kata Pak Sopir.


"Baiklah." Jawab Ica.


Setelah mobil itu melaju pelan. Ica dan Sera masuk ke dalam rumah. Di rumah tersebut hanya ada Bi Tuti dan satpam rumah. Mereka adalah pasangan suami istri.


Bibi Tuti sedang membersihkan perabotan yang ada di ruang tamu. Beni sudah menganggap kedua orang tua ini seperti orang tua kedua baginya. Hal itu juga yang dirasakan oleh Ica.


"Selamat siang Bi." Sapa Ica.


"Selamat siang Non. Non Ica dan Non Sera mau makan apa? Biar Bibi masakan." Kata Bi Tuti.

__ADS_1


"Tidak usah Bi, Saya dan Sera akan masak mie instan saja nanti." Kata Ica.


"Iya, Bi Tuti kan lelah setengah hari ini beres-beres rumah. Nih, Sera dan Ica tadi beli es krim." Kata Sera.


Sera menyerahkan kantong plastik berisikan es krim. Bi Tuti nampak mau mengambil satu saja es krim tersebut.


"Terimakasih ya Non." Kata Bi Tuti.


"Ambil aja Bi semua. Kasih aja Mang Ujang, kalau gak habis masukan kedalam kulkas saja." Kata Ica sopan.


"Baiklah Non." Kata Bi Tuti.


Bi Tuti segera keluar menghampiri suaminya. Ia memberikan es krim dari anak majikannya tersebut.


"Ini Pak, Es krim dari Non Ica." Kata Bi Tuti.


Mang Ujang mengambil satu es krim yang dibawakan istrinya. Ia sangat terharu dengan anak majikannya yang baru di temukan itu.


"Buk, anak itu memang membawa kebahagiaan buat keluarga ini." Mang Ujang.


"Iya Pak, Ibu juga merasakan kehangatan dari sikapnya." Kata Bi Tuti.


Suami istri itu bersyukur memiliki majikan seperti keluarga Pak Hendro. Kemudian Bi Tuti masuk kedalam rumah untuk melanjutkan pekerjaannya.


Ica dan Sera langsung membuka buku pelajaran Sera yang di keluarkan dari dalam tasnya. Mereka akan memulai belajar dari hari ini.


Setelah hampir dua jam mereka belajar. Ponsel milik Ica berdering. Ica mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, untuk melihat siapa yang menelpon. Ternyata panggilan dari Bunda Lusi.


"Halo Bun, selamat siang." Sapa Ica dari sambungan telepon.


"Iya bisa Bunda. Tapi nggak usah di jemput, Ica naik taksi saja. Biar Bang Marvin nggak bolak-balik." Kata Ica.


"Baiklah Nak." Jawab Bunda Lusi.


Setelah sambungan telepon terputus, Ica berpamitan kepada Sera. Sebenarnya Ia tidak enak meninggalkan Sera sendirian.


Tapi apa boleh buat, pasti ada hal penting yang mau di sampaikan oleh keluarga angkatnya tersebut.


Sedangkan Sera harus menunggu Beni mengantarnya pulang. Sekalian Beni ada yang mau dibicarakan kepada keluarga Mehana .


"Sera, maaf ya saya harus meninggalkan kamu sebelum Kak Beni datang. Soalnya Bunda Lusi menelpon." Kata Ica.


"Iya Kak. Tidak apa-apa sebentar lagi Kak Beni juga pulang." Jawab Sera.


"Maaf ya, Kalau butuh sesuatu minta tolong Bibi. Anggap saja rumah sendiri ya Ser." Kata Ica.


"Iya Kak, Sera numpang di kamarnya Kakak dulu ya." Kata Sera.


"Iya-ya, gak usah sungkan. Saya pergi dulu. Dahhh." Kata Ica keluar dari kamar.


Ica memesan taksi online. Tidak butuh hitungan menit taksi yang di pesan langsung datang. Karena memang ada taksi dengan posisi terdekat.


Ica segera berangkat dengan naik taksi tersebut ke rumah keluarga Wiraarga. Ia belum tau hal penting apa yang ingin di sampaikan keluarganya itu.


Setelah lebih kurang setengah jam. Taksi yang ditumpangi Ica sudah parkir di depan gerbang rumah kediaman keluarga Wiraarga.

__ADS_1


"Ini Om ongkosnya." Kata Ica.


"Iya Nak, ini kembaliannya dua puluh ribu lagi." Kata Supir taksi.


"Tidak usah dikembalikan Pak. Terimakasih sudah mengantarkan Ica dengan selamat." Kata Ica sopan.


Setelah sopir taksi mengucapkan terimakasih. Ica segera memasuki halaman rumah dan segera masuk ke rumah.


Di ruang tamu Ia melihat semua anggota keluarga sudah berkumpul. Seperti mereka memang sedang menunggu seseorang.


Bunda Lusi menghampiri Ica yang sudah di depan pintu. Ia menggandeng Ica masuk. Ica tidak lupa bersalaman dengan semua orang yang menunggunya.


"Selamat siang Ayah." Kata Ica sambil menyalami Pak David.


"Iya Nak." Jawab Pak David.


"Selamat siang Bang Vano." Kata Ica.


"Selamat siang Ca." Jawab Vano.


"Selamat siang Bibi dan Pak Yon, Ica datang." Kata Ica tersenyum.


Ica kemudian duduk di sebelah Bunda Lusi. Ia menunduk karena belum tau hal apa yang akan di bicarakan keluarganya.


"Ca kamu ada yang lupa, kami akan menghukum mu." Kata Bunda Lusi.


"Apa ya Bun? Ica ada salah apa?" Tanya Ica.


"Kamu lupa menyapa Abang mu ini." Kata Marvin menimpali.


"Benar sekali." Kata Bunda Lusi.


"Cuma itu Bunda?" Kata Ica bertanya-tanya.


"Iya sayang." Bunda Lusi tersenyum.


Kemudian suasana hening. Mungkin mereka semua memberikan ruang kepada Pak David untuk membicarakan hal yang lebih penting.


Pak David menghela napasnya. Ia juga sedikit memperbaiki duduknya.


"Kita ini satu keluarga, baik kami sebagai orang tua, anak-anak dan kalian sebagai saudara kami dalam suka maupun duka." Kata Pak David.


Pak David memang menganggap semua orang yang bekerja di rumahnya sebagai keluarga. Ia memberi ruang bicara dan kebebasan setelah kewajiban mereka kerjakan dengan baik.


"Tadi pagi ada sebuah cek di dalam map, di masukan lewat bawah pintu. Kalian ada yang mengetahui siapa yang memberikannya?" Tanya Pak David.


semua yanga ada di ruangan tersebut diam tanda tidak mengetahui. Pak David memandang kepada Ica.


"Nak Ica, apa Mama Papa mu yang sudah membantu Ayah? Supaya Ayah Bunda bisa berterima kasih." Kata Pak David.


"Maaf, Ayah. Ica belum tau kepastiannya, memang tadi Ica sudah menemui Kak Beni untuk meminta tolong. Tapi kata Kak Beni, mereka sudah mengetahui masalah Ayah dan sudah Papa bantu." Kata Ica.


"Berarti, memang Tuan Hendro yang memberikan ini? Sejak kamu datang ke rumah ini, memang kamu sudah membawa berkah untuk kami. Terimakasih Nak. " Tanya Pak David.


"Ica belum bisa memastikan Yah." Jawab Ica.

__ADS_1


"Tenang Ca, sekarang Bang Marvin sudah digadai kepada Ica." Goda Vano sambil tertawa.


__ADS_2