
Tuan Alex dan istrinya memang sudah mengenal keluarga Wiraarga. Mereka pernah membantu perusahaan keluarga tersebut, dan karena itulah Sean sering menjadikan alasan agar Marvin kembali kepadanya.
"Bagaimana ini Dad?" Tanya Nyonya Theresia kepada istrinya.
"Kita akan datang ke rumah David, untuk membicarakan hal ini?" Kata Tuan Alex dengan tegas.
"Bagaimana kalau David tidak mengindahkan permintaan kita?" Kata Nyonya Theresia ragu.
"Saya akan meminta kembali uang kita berikan beserta bunganya kalau perlu. Karena pada saat itu anak kita sedang dekat dengan anak mereka." Kata Tuan Alex.
"Bagaimana jika mereka bisa membayarnya?" Tanya Nyonya Theresia.
"Tidak akan bisa. Di jual pun perusahan mereka rasanya belum cukup untuk membayar hutang kepada kita." Kata Tuan Alex dengan tegas.
"Bagaimana jika rumah juga mereka jual?" Tanya Theresia lagi.
"Kau mau interogasi saya? Tidak mungkin David itu rela hidupnya melarat." Jawab Tuan Alex.
Nyonya Theresia mengangguk membenarkan ucapan suaminya itu. Mereka menjaga Sean yang kondisinya kadang stabil dan kadang drop.
"Kita akan ke kediaman Wiraarga sebentar lagi." Kata Tuan Alex kepada istrinya.
"Sean siapa yang jaga Dad?" Jawab Theresia.
"Sebentar lagi Linda akan ke sini." Kata Tuan Alex.
Tidak sampai lima belas menit, Linda sekretaris Tuan Alex sudah ada di depan mereka. Tuan Alex dan Nyonya Theresia menitipkan Sean kepada Linda.
"Lin, tolong jaga Sean. Kami ada keperluan sebentar." Kata Tuan Alex.
"Baik Tuan." Jawab Linda.
Tuan Alex dan istrinya meninggalkan Linda yang sedang menunggui Sean di ruang ICU. Mereka menuju ke rumah Pak David Wiraarga.
"Tuan Nyonya, Ada tamu." Kata Pak Yon mengantar Pak Alex dan istrinya keruang tamu.
"Iya sebentar Pak." Jawab Bunda Lusi dari belakang rumah.
Bunda Lusi segera menemui tamunya. Ia tidak tau kalau Nyonya Theresia yang datang, karena tidak memberitahu sebelumnya.
"Hai Jeng, kapan pulang ke negara ini?" Tanya Bunda Lusi sambil memeluk Nyonya Theresia.
"Kemarin Jeng." Jawab Nyonya Theresia.
Bunda Lusi tidak lupa menyalami Tuan Alex. Lalu meminta Bi Nina membuatkan minuman untuk tamunya.
"Ada apa nih? Kok Jeng seperti mendadak kemari." Tanya Bunda Lusi.
__ADS_1
"Iya Jeng, ada hal yang mau kami bicarakan. Tuan David nya ada?" Tanya Nyonya Theresia.
"Suami saya belum pulang Jeng, saya akan meneleponnya dulu." Jawab Bunda Lusi.
"Silahkan Jeng." Kata Nyonya Theresia.
Bunda Lusi sedikit menjauh dari tamunya. Ia mencoba menghubungi nomor suaminya. Setelah dua kali panggilan telepon diangkat.
"Halo, ada apa Bunda?" Kata Pak David dari sambungan telepon.
"Halo, Yah. Kalau bisa Ayah pulang sebentar, ada Tuan Alex dan Nyonya Theresia menunggu di rumah." Kata Bunda Lusi.
"Iya Bun, Ayah segera pulang." Jawab Pak David.
"Hati-hati di jalan ya, Yah." Kata Bunda Lusi sebelum menutup sambungan telepon.
Bunda Lusi kembali duduk di depan tamunya. Ia mempersilahkan untuk menikmati minuman yang telah di sediakan Bi Nina.
"Silahkan Jeng, Pak. Diminum." Kata Bunda Lusi.
"Iya Jeng terimakasih." Jawab Nyonya Theresia.
Mereka ngobrol santai sambil menikmati minuman dan kue yang di hidangkan. Tidak berapa lama terdengar suara mobil Pak David telah tiba di halaman rumah.
"Selamat siang Tuan dan Nyonya Alex." Pak David menyapa tamunya.
Pak David langsung duduk di samping istrinya. Ia meletakan tas kerja di rak samping Ia duduk.
"Hem... Apa hal penting apa sehingga Tuan dan Nyonya berkunjung kemari?" Tanya Pak David.
"Tuan dan Nyonya Wiraarga, kami sengaja datang ke kediaman Tuan dan Nyonya untuk menyampaikan permintaan anak kami Jasean. Agar kiranya Marvinno anak Tuan dan Nyonya segera menikahi anak kami." Kata Tuan Alex.
"Kami akan menyampaikan maksud Tuan dan Nyonya kepada Marvin, karena keputusan ada di tangan anak kami." Kata Bunda Lusi bijaksana.
"Baiklah, kami beri waktu dua hari untuk membujuk anak Tuan dan Nyonya." Kata Tuan Alex.
"Kami usahakan." Jawab Bunda Lusi.
"Putri kami Sean sedang di rumah sakit. Kami minta putra Tuan dan Nyonya segera mengunjunginya. Juga secepat mungkin menikahi Putri kami." Kata Nyonya Theresia.
"Kalau Putra Tuan tidak bisa menyanggupi permintaan ini, berarti niat baik kami tidak bersambut. Kita akan menghitung hutang perusahaan Wiraarga group." Kata Tuan Alex Menimpali istrinya.
"Kami mengerti Tuan." Jawab Bunda Lusi masih mencoba tersenyum.
Sedangkan Pak David sedari tadi hanya berdiam diri. Ia tidak bisa berfikir bahwa anak dan orang tua ini seakan menjebak keluarga mereka. Menawarkan bantuan ke perusahaan ternyata ada maksud pribadi didalamnya.
"Baiklah, kami permisi." Kata Tuan Alex.
__ADS_1
Pak David dan Bunda Lusi menghantar tamunya sampai ke halaman rumah. Kemudian mereka masuk dengan lemas.
"Yah, bagaimana ini?" Tanya Bunda Lusi.
"Entahlah Bun, mau memaksakan Marvin menikahi Sean itu tidak mungkin. Mau membayar hutang kepada mereka, dari mana uangnya? Perusahaan saja belum stabil." Kata Pak David mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kasian sekali nasib anak kita Yah." Bunda Lusi menunduk.
**********
Marvin dan Ica sebenarnya dari tadi mendengar percakapan orang tua mereka. Bahkan mereka datang ketika orang tua Sean masih ada di rumah.
Ica dan Marvin sengaja tidak membawa mobil. Mereka mencoba naik angkot sambil berjalan-jalan. Entah kenapa Ica ingin mampir ke rumah Bunda Lusi.
"Bang, kasian juga melihat Bunda sama Ayah." Kata Ica.
"Iya Ca, tapi bagaimana lagi hutang perusahaan Ayah sangat banyak kepada orang tua Sean." Kata Marvin.
Marvin saat pertama mendengar permintaan orang tua Sean. Ia terus memeluk Ica dari belakang sambil terus berusaha mendengar percakapan mereka. Marvin seakan tidak mau melepas Ica.
"Abang baik-baik saja?" Tanya Ica.
"Iya Ca." Jawab Marvin singkat.
"Yuk, kita temui Bunda sama Ayah." Kata Ica.
Marvin hanya diam mematung. Ia tidak tau harus bicara apa dengan orang tuanya. Ica menarik tangan Marvin sampai ke ruang tamu.
"Sayang, Kok kesini gak telepon Bunda dulu nak?" Kata Bunda Lusi tetap tersenyum seperti biasanya.
"Iya Bun, kami tadi jalan-jalan dengan naik angkot." Jawa Ica.
Marvin hanya menunduk. Ia tidak berani menatap Ayah Bunda nya.
"Sayang kenapa tidak bersemangat seperti itu?" Tanya Bunda Lusi belum sadar kalau Ica dan Marvin sudah mengetahui semuanya.
"Bunda, Ayah. Ica dan Marvin sudah tau semuanya karena sejak tadi kami sudah di samping rumah." Kata Ica ingin menangis.
"Nak, karena kalian sudah mendengarnya langsung. Kami sebagai orang tua akan berusaha." Kata Pak David menunduk.
"Ica sebentar lagi, Marvin akan jatuh miskin. Karena saya tau bahwa tidak mungkin menerima lamaran keluarga Tuan Alex. Percayalah Marvin sangat mencintaimu Nak." Kata Pak David kemudian.
"Iya Nak, Kami sudah sepakat menjual perusahaan, semua aset yang ada, dan juga rumah ini." Kata Bunda Lusi menahan air mata.
Ica memeluk Bunda Lusi. Ia sangat terharu melihat calon mertuanya, mempertahankan perasaan anaknya.
"Ayah, Bunda. Ica akan berusaha meminta sedikit pertolongan sama Papa dan Mama. Ayah Bunda yang sabar." Kata Ica mengeratkan pelukannya.
__ADS_1