
Setelah itu suasana hening. Mereka dengan pikirannya masing-masing.
Mobil Mama Diana dan Bunda Lusi telah sampai duluan. Diiringi dengan rombongan Ica. Terakhir Mobil Pak Hendro telah parkir di pekarangan rumah Pak Marjoyo.
Ica yang sudah turun duluan menghampiri dan memeluk Ibunya. Ia sangat merindukan kedua orang tuanya itu.
"Ca, bagaimana kabarmu?" Tanya Ibu Asmi.
"Ica baik-baik saja, seperti yang Ibu lihat sekarang." Jawa Ica kepada Ibunya.
Pak Hendro turun dari mobil beserta Misran sopirnya. Sedangkan Bunda Lusi dan Mama Diana sudah duduk di kursi teras rumah.
"Selamat datang Pak, Bu." Sapa Pak Marjoyo kepada tamunya.
"Iya Pak, maaf merepotkan. Ini kami bawa rombongan." Kata Pak Hendro tersenyum.
"Gak apa-apa Pak, biasa saja." Kata Pak Marjoyo menimpali.
"Ayo, Ibu Bapak. Silahkan masuk." Kata Ibu Asmi.
"Mari-Mari, istirahat di dalam saja." Kata Pak Marjoyo kepada tamunya.
Mereka masuk ke dalam rumah duduk di kursi ruang tamu. Hanya Beni dan Sera yang tidak kelihatan masuk.
Sera mengajak Beni untuk berkeliling jalan kaki. Melihat-lihat keindahan desa.
"Kak, memangnya kita kesini mau melamar Kak Ica?" Tanya Sera tidak tau tujuan mereka datang ke sini.
"Kata siapa?" Tanya Beni.
"Mungkin, Sera menebak saja." Jawab Sera.
"Mama dan Papa kesini mau menanyakan. Bagaimana Ica bisa di temukan oleh mereka." Kata Beni menjelaskan.
"Oh, Gitu." Kata Sera manggut-manggut.
"Itu tujuan mereka ke desa ini. Tujuan kamu mengajak saya berjalan kaki gak pakai alas kaki begini apa?" Tanya Beni.
"Biar Kak Beni lambat jalannya." Kata Sera cepat.
"Senang liat saya jalan di aspal panas begini?" Tanya Beni.
"E-nggak gitu Kak.tapi kalau Kakak jalannya lambat, kan kita bisa agak lama berduaannya." Kata Sera dengan polosnya.
"Oh, jadi kamu mau lama berdua dengan saya?" Tanya Beni.
__ADS_1
"Selamanya pun Sera mau." Jawab Sera menggebu.
"Oke, malam besok saya datang melamar ke rumah kamu. Minggu depan kita menikah." Kata Beni.
"What? Benar Kak?" Sera menghadang Beni berdiri di depannya.
"Apa saya suka bercanda?" Tanya Beni lagi.
"Oh, my God. Jangan sekarang Kak. Tamat SMA aja belum." Kata Sera.
"Katanya mau lama-lama berduaan sama saya." Kata Beni lagi.
"Iya deh Kak, beli sandal jepit aja biar agak cepat menuju rumah Kak Ica." Kata Sera menunduk.
Beni senyum-senyum kecil mendengar pengakuan Sera yang belum siap di nikahnya. "Badanmu aja belum berisi Ser, tapi tetap saya menyayangimu." Kata Beni dalam hati.
"Ser kamu mengenal Marvin?" Tanya Beni hampir lupa insiden di mobil tadi.
"Iya kak, Bang Marvin adalah temanya Abang Redi. Malahan Bang Marvin sering ke rumah Sera main sama Bang Redi. Kenapa Bang?" Kata Sera.
"Enggak apa-apa, kaget juga kamu mengenal orang itu." Kata Beni.
"Menurut Sera Bang Marvin baik orangnya." jelas Sera.
"Hem." Gumam Beni.
"Tapi kenapa kalian seperti tidak saling mengenal?" Selidik Beni.
"Iya Kak, hanya Nenek Sera dan mama yang tau, dulu pernah ada masalah antara Nenek dan keluarga nya. Menunggu waktu yang tepat Nenek dan keluarga Sera akan berkunjung ke rumah Bang Marvin." Jelas Sera.
"Cerita mu susah di cerna, Sayang. Mutar-mutar." Kata Beni memeluk leher Sera.
"Hehe... Sera juga bingung Kak. Jelasnya Sera dan Bang Marvin masih saudara. Hanya saja Bang Marvin dan keluarganya belum mengetahuinya." Kata Sera.
Mereka sudah sampai di rumah Ica. Semua yang ada di rumah sedang menikmati makan siang.
"Ayo-ayo Nak silahkan masuk." Kata Bu Asmi.
"Mari, silahkan ambil piring nasi dan lauknya. Inilah seadanya." Timpal Pak Marjoyo.
"Ini lebih dari cukup, Bapak Ibu." Kata Beni sambil mengambil makanan.
"Ser, sini Kakak ambilkan." Kata Beni melihat Sera malu-malu.
"Iya Kak." Sera memberikan piring kosong kepada Beni.
__ADS_1
Selesai makan Beni dan Sera ikut bergabung di ruang keluarga. Mereka semua duduk-duduk di tikar.
"Ser, ganteng nggak Kakaknya Ica?" Bisik Ica kepada Sera yang duduk di sampingnya.
"Kak Ica." Kata Sera.
"Apa Sera? Mau saya cubit kakimu." Kata Ica.
"Ampun Kak. Tapi nanti Sera ceritakan kalau Bang Marvin adalah Abangnya Sera." Bisik Sera dengan mimik wajah semangat.
"Hem." Kata Pak Hendro.
Mereka semua diam. Melihat sepertinya ada yang serius mau disampaikan oleh Pak Hendro.
"Bapak, Ibu Marjoyo. Sebelumnya maaf kalau kedatangan kami ini tiba-tiba. Baru tadi malam bisa mengabari keluarga di sini," Kata Pak Hendro mengawali pembicaraan.
"Kami datang ingin bersilaturahmi, sekaligus meminta penjelasan kepada Bapak Ibu berdua, mengenai Ica saat Bayi." Kata Pak Hendro.
"Iya, sebelumya kami sudah mendengar dari Ica. Kami juga tidak ingin menutup kenyataan ini kepadanya." Kata Pak Marjoyo.
Sedangkan Ibu Asmi sedari tadi menangis memeluk Ica. Mereka merasa tidak ingin berpisah satu sama lain.
"Dulu sekitar 19tahun yang lalu, saat itu pagi sekitar pukul 8.00WIB kami hendak ke pasar dengan mengendarai motor. Dari arah berlawanan dengan jarak agak jauh, kami melihat mobil berwarna silver meletakan box besar di pinggir jalan dengan hati-hati. Lalu mobil tersebut melaju dengan cepat," Jelas Pak Marjoyo.
"Pada saat itu jalan lintas belum seramai sekarang ini. Kami melajukan motor kami mendekati box besar tersebut. Alhasil, kami yang sudah merindukan keturunan selama lebih dari lima tahun, sangat gembira melihat anak umur satu tahun yang sangat cantik." Kata Pak Marjoyo.
"Apa Bapak mengenali wajah orang yang membuang anak tersebut?" Tanya Pak Hendro.
"Enggak Pak, tapi setau saya perempuan berambut panjang warna coklat." Jawab Pak Marjoyo.
"Nah, sekarang dari kaling yang kami temukan dan tanda yang ada di tengkuk Ica. Menguatkan bukti bahwa Ica adalah anak kami yang hilang Pak, Bu." Kata Pak Hendro.
"Jadi bagaimana ini? Jujur saya sangat berat hati berpisah dengan anak kami, yang kami sayangi puluhan tahun." Kata Ibu Asmi dengan tangisan mulai pecah.
"Ibu, kami tidak akan pernah memisahkan kalian," Kata Mama Diana ikut menangis.
"Iya Bu, kami bermaksud mengajak Bapak Ibu, ikut ke kota bersama kami. Soal tempat tinggal sudah kami siapkan sebuah rumah sudah atas nama Bapak Marjoyo." Jelas Pak Hendro.
"Tapi Pak usaha kami di sini." Jawab Ibu Asmi.
"Kami juga memberikan kebebasan usaha jika Bapak dan Ibu mau, kami akan kasih modal sampai sukses." Jawab Pak Hendro.
"Gimana Bu?" Tanya Pak Marjoyo.
"Kita ikut ke kota saja Pak. Ibu tidak tahan berpisah dengan Ica." Kata Bu Asmi.
__ADS_1
"Iya Pak. Ica boleh tinggal di rumah Bapak Ibu nantinya, hanya weekend saja sekali-kali ke rumah kami. Karena saya bersama suami sering keluar kota, kadang keluar negeri. Jadi kami gak khawatir meninggalkan Ica," Kata Mama Diana lembut.
"Jika dihitung kami tidak mungkin bisa membalas kebaikan Bapak Ibu, jadi jangan sungkan Pak Bu. Kita ini keluarga semua." Tambah Mama Diana.