
Pagi ini Barrak sangat bersemangat pergi ke kantor. Ia akan memulai menyelesaikan segala urusan di negaranya. Ia tadi malam sudah memutuskan untuk mengikuti istrinya untuk kembali ke negara asal sang istri.
Setelah berada di dalam ruang kerjanya. Barrak memanggil Albet yang sudah stay dari tadi bergelut dengan komputernya.
"Albet, segera promosikan perusahaan kita. Saya akan menjualnya." Kata Barrak.
Albet adalah sekretaris sekaligus tangan kanan Barrak. Ia menggantikan Lisa sekretaris Barrak sebelumnya, di gantikan oleh Albet karena Sean tidak mau Barrak sering bertemu perempuan lain. Walaupun hanya sekedar sekretaris.
"Memang ada apa Tuan? Perkembangan perusahaan kita lagi merangkak naik, kenapa Tuan mau menjualnya?" Tanya Albet heran.
"Saya akan ikut istri kembali ke negara asalnya dan menetap di sana. Sekaligus akan mendirikan perusahaan baru juga nantinya." Kata Barrak.
"Baiklah kalau begitu Tuan. Saya akan menghubungi kolega bisnis Tuan Barrak. Siapa tau salah satu diantara mereka ada yang mau meneruskan perusahaan kita." Kata Albet.
"Baiklah, silahkan keluar. Bekerjalah seperti biasa." Kata Barrak.
Kemudian Barrak memeriksa berkas yang masuk di ruangannya tersebut. Sudah banyak lembaran yang harus di tanda tangani pagi ini. Setelah pekerjaannya selesai ia melajukan mobilnya ke markas Black Tiger.
Ia akan memberikan kekuasaan kepada salah satu anak buah kepercayaannya. Karena sampai sekarang jasad Ronald dan Dave George belum di temukan. Itu artinya belum bisa memastikan apakah Dave dan Ronald benar-benar meninggal atau ada orang yang berniat jahat sama mereka.
Barrak mengumpulkan semua anak buahnya, dari yang baru masuk sampai yang sangat di percaya oleh Barrak. Rencananya ia akan memberikan geng mafia tersebut kepada Rio. Pemuda yang kekar dan tinggi yang bijaksana, namun jika berhadapan dengan lawan bagaikan harimau yang sedang lapar.
Setelah parkir di depan markas, Barrak segera masuk dalam aula tempat biasanya mereka berkumpul. Semua anggota sudah berkumpul di sana.
"Kalian saya kumpulkan disini, dengan tujuan untuk membentuk ketua baru untuk kalian. Karena sebentar lagi saya akan pergi keluar negeri dengan waktu yang tidak bisa di tentukan.
Saya tetap akan mengontrol kalian sekali-kali dari sana. Kalian pegang teguh prinsip kita sebagai anggota, hal yang terpenting adalah jangan pernah berhianat kepada geng Black Tiger sampai tetes darah terakhir.
Kalau sampai itu terjadi kepada salah seorang dari anggota, usut tuntas sampai anak cucunya. Seandainya mau istirahat dari geng bisa mengundurkan diri atau pun istirahat sejenak. Kalian mengerti?"Kata Barrak tegas.
__ADS_1
"Kami mengerti Bos." Jawab mereka semua.
"Selanjutnya kita bahas masalah kekayaan yang Black Tiger miliki. Kekayaan ini kita bagi tiga bagian, bagian pertama kita simpan untuk biaya operasi dan biaya sosial untuk semua anggota kalau ada hal yang terjadi di luar dugaan.
Bagian kedua, Saya akan bagi secara rata kepada kita semua termasuk saya. Dan Bagian ketiga, itu adalah bonus. Kita semua akan menerimanya namun harap di mengerti, setiap orang akan menerima dengan sedikit berbeda.
Saya akan bagi seadil mungkin. Jika ada yang keberatan dengan keputusan saya, silahkan berpendapat. Saya tidak lagi akan marah dan membentak kalian." Kata Barrak.
"Iya seperti itu kami setuju." Kata Bram salah satu anggota terlama dan kepercayaan Ronald.
"Baiklah, bendahara silahkan laporkan aset dan semua uang yang di miliki Black Tiger selama ini. Aset utama jangan sampai di ganggu gugat, hanya aset sitaan harus kita jual. Atau kalau ada anggota yang ingin menebusnya." Kata Barrak.
Sience adalah salah satu dari enam perempuan sebagai anggota Black Tiger. Ia dan teman-temannya adalah wanita tomboy yang sangat kekar.
Ence telah di percaya sekitar lima tahun yang lalu sebagai bendahara geng. Setelah semua mendengar pembacaan laporan keuangan dari Ence. Barrak membagi untuk masing-masing anggota. Mereka menerima setidaknya 21.000-23.000 nilai mata uang negara setempat.
"Saya Bos." Kata Bram.
"Silahkan Bram." Kata Barrak.
"Uang yang sepuluh persen lagi di kemana kan Bos?" Tanya Bram.
"Oh iya Bram benar. Saya lupa membahas masalah itu tadi. Untuk uang yang jumlahnya sepuluh persen lagi. Itu akan di berikan dengan anggota yang di pensiunkan karena umur mereka, bukan mereka yang ingin atau mengusulkan sendiri untuk beristirahat." Kata Barrak.
"Kalau begitu kami semua setuju Bos." Kata Bram di iyakan oleh anggota yang lain.
"Sekarang kita memilih ketua. Gimana menurut kalian siapa ketua yang pantas dan yang bisa kalian segani di dalam geng ini? Tanya Barrak.
"Kalau menurut kami antara Bram dan Rio." Kata semua anggota.
__ADS_1
"Bagaimana Bram, Rio? Biar jangan ada perpecahan di antara kita." Tanya Barrak.
"Menurut saya, Bang Bram saja." Kata Rio.
"Kalau kamu kenapa Rio? Maksud saya alasannya?" Tanya Barrak.
"Saya bukannya menolak Bos, tapi alangkah baiknya kalau Abang Bram yang menggantikan Bos Barrak. Karena dia lebih senior dan lebih paham seluk beluk tugas kita. Tapi saya siap membantu Bang Bram nantinya." Kata Rio.
"Baiklah kalau begitu permintaanmu. Bagaimana Bram? Apa kamu siap menggantikan saya? Nanti sebagai wakilnya adalah Rio. Kalian harus bekerja sama." Kata Barrak.
"Siap Bos. Saya berjanji akan menjaga geng Black Tiger, demi nama baik Bos Barrak, Bos Ronald dan Tuan Dave George." Kata Bram.
"Semua masalah sudah selesai, mungkin sekitar dua minggu lagi saya akan meninggalkan negara kita. Mengenai komisi tadi, silahkan selesaikan dengan Ence. Jangan lupa Nce transfer komisi saya, biar bisa goyang-goyang semalaman." Kata Barrak tertawa lepas, mengerikan bagi orang baru pertama melihatnya.
"Siap Bos." Kata Ence.
"Saya pergi dulu." Kata Barrak.
Barrak segera menuju mobilnya. Di iringi dua mobil anggota Black Tiger yang biasa mengamankan ketua geng mafia tersebut. Ia segera pulang ke rumah mewah yang ia tinggali bersama Sean.
Tidak butuh waktu satu jam Barrak sudah tiba di kediaman mereka. Memarkirkan mobil di halaman rumah dengan tergesa-gesa untuk bertemu istrinya Sean. Sedangkan dua mobil yang menjaga Barrak selama di perjalanan telah putar arah untuk kembali ke markas.
"Sayang, Kakak bawakan spesial untuk kamu nih." Panggil Barrak.
Namun tidak ada jawaban dari setiap sudut ruangan. Barrak mencari Sean ke setiap ruangan, baik lantai atas dan bawa. Tapi Barrak tetap tidak menemukan Sean. Barrak keluar menemui salah satu penjaga rumah.
"Pak, apa anda melihat Nyonya?" Tanya Barrak.
"Ada Tuan. Sekitar satu jam yang lalu Nyonya Sean pergi dengan mengendarai mobil sendirian. Ia berpesan kalau Tuan menanyakan, bilang ia ketemu dengan teman-teman arisannya." Kata Eko penjaga rumah.
__ADS_1