
"Loh kok bisa Nak?" Tanya Pak David.
"Iya Ser, apa kamu cucunya Kakek Merhan dan Nenek Hana?" Tanya Bunda Lusi.
"Iya Tante benar. Kenapa Tante bisa tau?" Tanya Sera.
Bunda Lusi terharu dan memeluk Sera dengan erat. Ternyata ia memiliki keponakan sudah gadis.
"Ada apa Tante?" Tanya Sera.
"Ternyata ponakan kita sudah besara Yah." Kata Bunda Lusi.
"Jadi, ini cucu Tante Hana yang Bunda ceritakan dulu." kata Pak David.
"Iya Yah, Bunda ingin segera menemui orang tua Sera. Mengetahui kabar mereka." Kata Bunda Lusi.
"Baiklah Bun, besok kita berkunjung ke rumah Sera agar semuanya terang." Kata Pak David.
Saat suasana agak tenang, Beni berpamitan untuk pulang. Hari ini Beni masih harus pergi kekantor.
"Om Tante, Saya harus masuk ke kantor. Ica dan Sera biarlah menginap di rumah Tante Lusi dulu." Kata Beni.
"Iya Nak Beni, Bunda sudah sangat rindu dengan Ica. Di tambah ada Sera keponakan kami ini." Kata Bunda Lusi.
"Vin, ayo kalau mau ikut ke kantor." Ajak Beni.
"Iya Kak, tapi kita antar Ibu sama Bapak dulu ke rumah Kakak." Kata Marvin.
Mereka semua berpamitan, kecuali Ica dan Sera. Bunda Lusi menyiapkan dia kotak kue, dalam sebuah kantong besar. Bunda Lusi menyerahkan kantong tersebut kepada Ibu Asmi.
Sera dan Ica serta bunda Lusi dan Pak David menghantar rombongan Pak Marjoyo ke depan rumah. Kemudian mereka melajukan mobil dengan pelan.
Sepeninggal rombongan Beni, Ica dan Sera masuk ke dalam rumah. Bunda Lusi sangat senang kedatangan mereka berdua.
Keesokan harinya, Pak David mempersiapkan mobil yang akan di bawa ke rumah keluarga Mehana. Sedangkan Bunda Lusi mempersiapkan beraneka jajanan yang akan di bawa sebagai buah tangan.
"Yah, Jam berapa kita berangkat?" Tanya Ica.
"Bentar lagi Ca, Bunda tadi sudah siap?" Tanya Pak David.
"Bentar, Ica panggilkan Yah." Kata Ica.
__ADS_1
Setelah semuanya sudah siap. Mereka berangkat mengendarai satu mobil dan di ikuti satu mobil pengawal. Sera sudah menelepon orang tuanya.
Sekitar satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai ke rumah kediaman keluarga Mehana.
Sera mengetuk pintu rumah dan memanggil orang tuanya. Pembantu rumah itu membukakan pintu.
"Oh, Non Sera. Silahkan masuk Non, Tuan dan Nyonya." Kata Bi Iting.
"Papi ada Bi?" Tanya Sera.
"Ada Non, Tuan dan Nyonya ada di halaman belakang. Saya akan panggilkan." Kata Bi Iting.
"Baiklah Bi, terimakasih." Kata Sera.
Sera kemudian mempersilahkan Pak David dan Bunda Lusi untuk duduk di ruang tamu. Mereka duduk menunggu tuan rumah, Ica duduk di samping Bunda Lusi.
Dua orang suami istri muncul dari pintu tengah. Mereka sepertinya habis berolahraga di belakang rumah.
"Selamat datang di rumah kami, Bapak Ibu." Kata Mami Mutia.
"Iya Terima kasih. Ini oleh-oleh dari kami Bu." Kata Bunda Lusi.
"Wah repot-repot, terimakasih ya Bu." Kata Mami Mutia.
Mami Mutia memberikan kode kepada Bi Iting untuk membawa oleh-oleh tersebut ke belakang. Seperti biasanya Bi Iting akan memotong kue tersebut, dan menyuguhkan kepada tamu mereka bersama kue-kue yang lain.
Mami Mutia mempersilahkan tamunya untuk minum teh dan kue yang sudah di suguhkan oleh Bi Iting. Sedangkan Pak Adrian memperhatikan wajah Bunda Lusi.
"Maaf Pak Bu, kami datang ke sini untuk menanyakan apa benar foto ini ada hubungannya dengan kalian juga?" Tanya Bunda Lusi Ragu.
Bunda Lusi mengeluarkan sebuah foto kecil dari dalam tas yang ia bawa. Pak Adrian memperhatikan foto tersebut dengan saksama.
"Berarti Kakak putrinya Om surya?" Kata Pak Adrian kaget.
"Iya, saya mengetahui hal ini ketika putri Bapak main dengan putri kami. Ia melihat foto di dinding ruang tamu, Sera mengatakan bahwa foto itu mirip dengan foto yang ada di rumahnya." Kata Bunda Lusi.
"Benar Kak, saya adalah putra dari Ayah Merhan dan Ibu Hana. Sekiranya Kakak tidak mengingat lagi kejadian dulu dimana Ayah dan Ibu pergi meninggalkan keluarga. Biarlah kami meminta maaf atas kesalahan Ayah dan Ibu." Kata Pak Adrian.
"Kami tidak pernah membenci kalian. Bahkan Ayah selalu mengharapkan Tante Hana pulang ke rumah." Kata Bunda Lusi.
"Maaf Kak, tapi Ibu sudah berpulang pada Yang Maha Kuasa lima tahun yang lalu." Kata Pak Adrian.
__ADS_1
"Inalilahi, semoga Tante Hana mendapatkan tempat yang terbaik." Kata Bunda Lusi
"Adrian, Kita ini keluarga jangan sampai anak kita tidak saling mengenal. Bisa saja mereka salah saat saling mengenal." Kata Pak David.
"Iya Bang, kami juga berpikiran seperti itu. Anak kami ada dua Bang, yang sulung namanya Redi masih di kantor sekarang. Yang perempuan paling luar biasa ini Sera. Anak Abang dan Kakak ada berapa orang?" Tanya Pak Adrian.
"Anak kami ada tiga orang Rian, yang laki-laki Marvin dan Vano. Sebenarnya Vano itu adalah putra adik kita yang meninggal saat melahirkan dia. Dan ini Ica, putri angkat kami. Namun Marvin menjadikan dia tunangannya." Jelas Bunda Lusi.
"Oh, begitu Kak. Ternyata kehidupan tidak bisa di tebak ya Kak." Kata Pak Adrian.
"Iya Rian, kita tidak tau akan hari esok yang akan datang." Kata Bunda Lusi.
"Bagaimana kabar Om Surya sekarang?" Tanya Mami Mutia.
"Ayah dan Ibu masih tetap tinggal di desa. Sepertinya mereka sudah betah tinggal di desa." Kata Mami Mutia.
"Di waktu yang akan datang, kita berkunjung ke rumah Om Surya Pi. Sepertinya menyenangkan." Kata Mami Mutia.
"Iya Mi, Papi juga rindu orang tua kita." Kata Pak Adrian.
"Kita atur waktu dulu ya Rian. Biar kita semua berangkat ke sana." Kata Pak David.
"Eitsh, sudah terharunya Pi, Mi? Sera punya berita baru lagi nih." Kata Sera.
"Memangnya apalagi Ser?" Tanya Mami Mutia.
"Kak Ica ini kan anak angkat Tante Lusi yang baik hati. Tapi tau nggak Mi kalau Kak Ica ini adalah adik kandungnya Kak Beni." Kata Sera.
"Arbeni?" Tanya Mami Mutia kaget.
"Iya Mi, Spica Adikara. Semoga Kak Ica benar menjadi adik ipar Sera" Kata Sera.
"Sera, kalau itu Kakak nggak bisa putuskan.Tapi yang jelas kamu nggak boleh seperti itu di depan orang tua." Kata Ica mengingatkan.
"Sebenarnya bagaimana ceritanya Kak?" Tanya Mami Mutia.
Mami Mutia mengarahkan pertanyaannya kepada Bunda Lusi. Bunda Lusi yang di tatap Mami Mutia tersenyum kecil.
"Panjang ceritanya Dik. Nanti bisa diceritakan oleh Sera, sepertinya Sera sepenuhnya tau. Kan calon adik Ipar." Goda Bunda Lusi.
"Oh, gitu sekarang gadis kecil Mami sudah tau rahasia." Kata Mami Mutia.
__ADS_1
Sera yang di goda Tante dan Mami nya tersenyum malu. Wajahnya kemerahan, lalu Sera pamit mengambil ponselnya di dalam mobil.