
Selesai ritual Marvin lakukan kepada Ica. Ia segera turun dari lantai atas, duduk di ruang tamu. Menikmati teh yang di hidangkan Bi Tuti.
Ica selesai berganti pakaian menyusul Marvin ke ruang tamu. Walaupun bagian bawah Ica masih terasa sangat perih. Ia berjalan pelan-pelan, setelah tadi di kamar Marvin memberikan obat di dinding-dinding kepemilikan Ica.
"Sayang, kenapa nggak istirahat saja dulu?" Tanya Marvin.
"Enggak Bang, tidak bisa tidur Ica takut." Kata Ica.
"Takut kenapa sayang? Nanti kalau Kak Beni pulang Abang coba bicarakan." Jawab Marvin.
Sambil menunggu Beni pulang, mereka menonton televisi. Marvin telah menyusun kata untuk bicara kepada Beni. Ia juga mengumpulkan keberanian yang ada dalam dirinya untuk menghadap bos nya itu.
Lebih dari dua jam yang di tunggu belum juga muncul. Ica semakin cemas, ia sangat takut kalau Beni tidak memberikan izin. Apalagi mereka harus menghadapi Papa Mamanya juga.
Tidak lama kemudian Beni datang, bersama seseorang. Dave masuk ke rumah berjalan di belakang Arbeni. Melihat mereka dari jauh, nyali Marvin langsung menciut.
"Dek Ica, sayang. Ini Kakak bawakan jajan kesukaan kamu." Panggil Beni.
"Iya Kak." Jawab Ica buru-buru mendekat kearah pintu utama.
"Nih Kakak belikan kamu bakso ayam kesukaan mu." Arbeni menyerahkan kantong jajan dari tangannya.
Ica salim dengan Beni dan Dave. Ia gemetar tapi berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
"Ca, kamu pucat sekali. Sakit Nak?" Tanya Dave perhatian.
"Nggak Uncle, mungkin karena Ica belum mandi." Jawab Ica sekenanya.
"Silahkan duduk dulu Uncle, Kak Ben. Ica Buatkan teh hangat." Kata Ica.
Dave dan keponakannya Beni duduk di sofa ruang tamu, menunggu Ica membuatkan teh hangat untuk mereka. Setelah selesai Ica mengantarnya untuk Dave dan Beni.
"Ca, Marvin tadi sudah pulang?" Tanya Dave.
"Belum Uncle, sebentar Ica panggilkan." Jawab Ica.
Marvin menemui Beni dan Dave di ruang tamu. Dave mengetahui ada kegelisahan pada Marvin. Sedangkan Ica duduk di sampingnya.
"Kenalkan Vin ni Uncle Dave. Adik kandung Papa dan ada lagi Uncle Ronald adik angkat Papa, tapi beliau sedang keluar." Jelas Beni.
__ADS_1
"Iya Kak, Marvin sudah ketemu bersama Ica waktu di hotel." Kata Marvin.
"Hem, syukurlah kalau sudah saling mengenal." Kata Beni lagi.
"Kak, ada hal yang ingin kami sampaikan kepada Kak." Kata Ica sangat hati-hati.
"Ada apa sayang?" Tanya Beni sambil meminum tehnya.
Marvin mengatur duduknya agar lebih hormat. Tapi hal itu menampakan ketegangannya.
"Kak, maaf sebelumnya Kakak jangan marah. Marvin ingin melamar Ica, agar menghindari fitnah dan saya bisa menjaga Ica sepenuhnya. Itu pun kalau Kakak dan keluarga di sini menerima." Kata Marvin.
"Iya saya mengerti Vin, tapi Papa Mama belum seminggu berangkat ke luar negeri lagi. Mengapa nggak kamu sampaikan pada mereka kemarin? Bagaimana menurut Uncle? Adek Ica memang sudah lama bertunangan." Kata Arbeni.
"Menurut Uncle, memang sebaiknya kita menikahkan Ica. Karena sampai saat ini dalang yang ingin mencelakakan Ica belum ditemukan." Kata Dave.
"Tapi Papa Mama bagaimana Uncle?" Tanya Beni.
"Soal itu biar Uncle yang bicara sama Kak Harris. Tapi Uncle mau tanya dulu sama Ica, apa kalian sudah yakin satu sama lain? Tanya Dave.
"Iya Uncle, Ica sudah siap." Jawab Ica.
"Kalau kamu sudah jadi istri orang, sudah agak berkurang tugas Kakak." Goda Beni.
"Kakak, Ica kan masih adiknya Kakak." Kata Ica.
"Iya deh. Tapi kan sudah ada yang jagain." Kata Beni.
Suasana hening sejenak, rupanya mereka kehabisan bahan pembicaraan. Dave teringat sesuatu yang mengganjal hatinya.
"Ehem, Ca ada syaratnya kalau Uncle bantu minta izin sama Papa mu." Kata Dave.
"Apa lagi Uncle? Uncle sepertinya tidak ikhlas membantu keponakan sendiri." Kata Ica dengan senyum mengerucut.
"Teman mu kemarin sudah punya kekasih apa belum?" Tanya Uncle Dave.
"Wah, wah... Seorang Uncle Dave, CEO Dave George. Uncle masih jomblo juga?" Selidik Beni dengan muka dinginnya.
Marvin hanya senyum sedikit, Ia masih masih menjaga sikap di hadapan keluarga kekasihnya. Sedangkan Ica tertawa lepas mendengar percakapan Kakak dan pamannya.
__ADS_1
"Belum Uncle, bahkan Milka belum pernah berpacaran sama sekali. Ia takut seperti Kakak dulu di habisi setelah di renggut kehormatannya oleh pacarnya sendiri. Dari situ mungkin dia trauma, sekarang Milka adalah anak tunggal." Jelas Ica sedih mengingat sahabatnya.
"Bagaimana kalau Uncle mendekati dia?" Tanya Dave.
"Ahh, Uncle kan casanova. Ica nggak mau deh, nanti Milka di buat sakit hati sama Uncle." Kata Ica.
"Dari mana kamu tau kalau Uncle seorang casanova?" Tanya Dave penasaran.
"Dari Google. Dave George, seorang CEO yang belum menikah terkaya di seluruh dunia. Namun dalam gemerlap hartanya ia adalah seorang casanova. Bahkan sekarang di kabarkan Dave bunuh diri dengan membakar rumahnya sendiri. Ini ada di google, berita viral lima hari yang lalu." Kata Ica menunjuk layar ponselnya.
"Kan Dave George nya sudah meninggal Ica sayang. Itu hanya kata orang-orang jangan terlalu di percaya. Uncle datang ke negara ini meninggalkan banyak harta hanya untuk mencari cinta sejati dan ingin hidup lebih tenang." Kata Dave.
"Baiklah, Baiklah. Tapi bujuk Papa Mama ya Uncle yang baik hati." Kata Ica.
Marvin yang sedari tadi menyaksikan paman dan ponakan itu bernegosiasi. Kemudian ia mengangkat wajahnya untuk mengatakan sesuatu.
"Kak Dave, ada sedikit yang saya mau tanyakan." Kata Marvin.
"Silahkan Vin, mau nanya apa." Kata Beni.
"Kak, Ica kan anak perempuan nomor dua. Nantinya apa boleh kami menikah melintasi Kak Beni?" Tanya Marvin.
"Oh, kalau saya pribadi tidak ada masalah Vin. Entah kalau menurut adat di sini, apalagi Mama orang Jawa. Nanti kita rundingkan dulu sama Papa Mama. Atau kalau nggak boleh biar saya duluan yang menikahi Sera, bagaimana Vin?" Kata Beni membuat Marvin down.
"Bagaimana baiknya Kakak saja." Jawab Marvin lesu.
"Kak Beni, masa iya harus nunggu Sera. Kan tamat sekolah menengahnya masih tahun depan, belum kuliah." Kata Ica keberatan.
"Sepertinya adik Kakak sudah kebelet mau nikah aja nih." Goda Arbeni.
"Apaan sih Kak?" Jawab Ica malu-malu.
Sedang mereka ngobrol santai di ruang tamu. Ronald masuk kedalam rumah, Ia bersama seorang wanita cantik. Terlihat lebih dewasa di banding Ica.
"Hy, selamat sore semua, Kenalkan ini Nesia teman baru Abang ganteng ini." Kata Ronald dengan percaya diri yang tinggi.
Ronald telah mengubah namanya menjadi Agre. Dave telah mengubah namanya menjadi Robin, hal itu berlaku jika di hadapan orang asing kecuali keluarganya. Hal itu dilakukan untuk menghilangkan jejak mereka.
"Agre Ron lagi, di mana-mana sepertinya dia menang banyak soal tebar pesona." Goda Dave.
__ADS_1
"Hehe, Kakak kok bisa benar. Oh, iya tidak menawarkan kami duduk ini?" Tanya Ronald alias (Agre).