Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Izinkan Dia


__ADS_3

"Apa itu Nak Arbeni?" Kata Pak David bersungguh-sungguh.


"Saya ingin secara sah calon menantu sekaligus anak angkat Bapak David, Spica utami. Menjadi anak angkat orang tua saya secara hukum." Kata Arbeni dengan tegas.


"Bagaimana Tuan?" Bisik Aldi kepada Pak David.


"Spica siapa?" Tanya Pak Hendro yang dari tadi hanya berdiam diri.


"Maaf Pa, Ini hanyalah permintaan kecil dari anak tunggal mu ini. Beni ingin memiliki seorang adik Pa." Kata Beni memohon kepada ayahnya.


"Hm... Baiklah kalau itu keinginanmu. Bagaimana Tuan David?" Tanya Pak Hendro.


Pak David terdiam mendengar persyaratan dari anak Hendro Adikara tersebut. Ia nampak sangat berat mengingat Marvin anaknya membutuhkan Ica. "Jangan-jangan Arbeni perlahan akan merebut kekasih anaknya itu." Kata Pak David dalam hati.


"Bagaimana Tuan David Wiraarga?" Tanya Arbeni.


"Maaf Nak Beni kami akan berunding dulu dengan anak kami, Ica maupun Marvin." Kata Pak David.


"Pak David, saya tidak meminta Spica tinggal di rumah kami. Hanya sekali-kali jika ia libur dan juga bisa datang ke rumah bersama Marvin anak Bapak," Kata Arbeni.


"Saya juga tidak berniat merebut Ica dari tangan Marvin. Ini murni saya menginginkan Spica menjadi adik perempuan saya." Lanjut Arbeni.


"Iya Nak Beni kami mengerti. Hanya saja kami tetap harus meminta persetujuan Ica dan keluarga kandungnya." Jelas Pak David.


"Silahkan Pak. Kami tunggu kabar selanjutnya." Kata Beni.


Pak David dan Aldi berpamitan pulang. Setelah bersalaman dengan Pak Hendro dan Arbeni, mereka meninggalkan ruangan tersebut.


Pak Beni langsung diantar Aldi ke rumah. Ia akan membicarakan persyaratan dari pemilik perusahaan Adikara Group.


Semua telah di panggil Pak David ke ruang tamu. Kecuali Marvin yang masih tidur di kamar.


"Bunda, menurut Ayah Marvin harus kita beri tau juga tentang masalah ini." Kata Pak David menatap istrinya.


"Iya, Yah Bunda juga berpikiran seperti itu." Jawab Bunda Lusi.


"Tolong Ca panggil Abang mu agar datang ke sini." Kata Pak David.


"Iya, Ayah." Jawab Ica langsung menuju kamar Marvin.


Ica dan Marvin duduk bersebelahan di sofa ruang tamu. Di sana sudah ada Bunda Lusi, Vano, dan Pak David.

__ADS_1


"Selamat siang, Ayah, Bunda, Abang kurang ganteng." Senggol Marvin kepada Vano.


Marvin yang belum mengetahui masalahnya. Ia terlihat aneh ketika Ayah Bundanya memanggil pada tengah hari. Biasanya mereka berkumpul pada malam atau pagi hari sebelum berangkat.


"Kok pada diam? Ada masalah ya Bunda?" Tanya Marvin menatap wajah Bunda Lusi.


"Hem... Begini Marvin, beberapa hari yang lalu perusahaan kita mengalami masalah. Teman Ayah sudah menguras habis aset dan uang perusahaan." Kata Pak David menjelaskan dengan hati-hati.


"Terus bagaiman Yah?" Tanya Marvin.


"Sabar aja dulu Bang. Kita semua sedang mencari solusinya." Kata Vano menimpali.


"Tadi pagi Ayah bersama Aldi, sudah menemui perusahaan besar yang bersedia membantu kita." Jelas Pak David.


"Artinya perusahaan kita sudah terselamatkan? Begitu Yah?" Selidik Marvin.


"Belum Nak, mereka minta satu persyaratan." Kata Pak David kemudian.


"Apa itu Yah? Kita semua akan berusaha, Iya kan Bunda?" Marvin meminta dukungan dari Bunda nya.


"Iya Nak." Jawab Bunda Lusi.


"Loh kok bisa mereka kenal dengan Ica, Ayah? " Tanya Marvin penasaran.


"Itu Nak, Ayah minta tolong dengan perusahaan Adikara Group. Kebetulan ada Nak Beni di sana dan ia memberi persyaratan seperti itu." Jelas Bunda Lusi menenangkan Marvin.


"Jangan-jangan Arbeni itu mau merebut Ica dari Marvin Yah?" Tanya Marvin sulit mengiyakan permintaan Ayahnya.


"Tidak Nak. Nak Arbeni tidak meminta Ica tinggal bersama mereka. Dan kalau Ica pergi ke sana di perbolehkan kamu yang menemani." Kata Pak David.


"Dalam hal ini apa maksud mereka Yah? Marvin pikir ini sedikit aneh." Kata Marvin.


"Menurut Beni, ia hanya ingin Ica menjadi adik perempuannya. Mereka minta di buatkan surat-surat secara hukum bahwa Ica adalah anak angkat keluarga mereka." Jelas Pak David kemudian.


"Marvin bisa menyetujui Yah. Asal ada surat perjanjian hitam di atas putih." Kata Marvin.


"Bagaimana dengan Ica Nak? Apa kamu bersedia?" Tanya Bunda Lusi melirik Ica.


"Iya Bunda Ica setuju saja, yang penting perusahaan Ayah terselamatkan." Kata Ica menunduk.


"Baiklah kalau begitu, nanti sore Ayah akan menelpon Pak Hendro." Kata Pak David.

__ADS_1


Mereka sudah memutuskan untuk menerima persyaratan dari anak Hendro Adikara Itu. Mereka memikirkan perusahaan kedepannya. Lagian permintaan mereka tidak terlalu sulit.


**********


Di sisi lain Hendro Adikara masih bingung dengan syarat yang di berikan anaknya tersebut. Bukan tentang perusahaan tapi harus masalah pribadi.


Hanya saja Pak Hendro kembali berpikir, mungkin saja Arbeni sangat merindukan seorang saudara. Karena sejak kejadian di rumah sakit dahulu, istrinya menjadi trauma untuk melahirkan.


"Ben, Apa yang kamu pikirkan? Sehingga sangat ingin mengangkat gadis itu sebagai adikmu?" Kata Pak Hendro.


"Papa akan menelepon Mama mu dulu, untuk membicarakan keinginan gila mu ini." Kata Pak Hendro.


Pak Hendro menelepon istrinya. Tidak lama kemudian Nyonya Diana sampai ke kantor.


"Selamat siang, sayang." Sapa Nyonya Diana kepada Suami dan anaknya.


"Siang Honey." Jawab Pak Hendro.


Nyonya Hendro terlihat duduk di sofa dan melepas high hills nya. Ia terlihat sangat mudah dan cantik dari usianya yang hampir menginjak kepala lima.


"Ada apa sayang, sepertinya penting sekali?" Tanya Nyonya Diana.


"Ini loh anak kesayangan kamu, ingin mengangkat seorang gadis menjadi adiknya. Kan aneh?" Kata Pak Hendro.


"Papa benar, Mama tidak akan permasalahkan kalau yang kamu inginkan adalah anak balita. ini kok bisa seorang gadis?" Selidik Nyonya Diana.


"Mama, Papa. Ini memang terdengar aneh." Kata Beni menunduk.


"Ceritakan dulu nak, awal kamu bertemu dengannya. Siapa tau kami bisa mempertimbangkan keinginanmu." Kata Mama Diana.


"Ma, sebelumnya Beni minta maaf pernah membawa gadis ke rumah kita. Waktu itu Beni bertemu Ica waktu dijalan hampir terserempet dengan mobil Beni. Setelah itu Beni ingin mengantarnya pulang," Jelas Beni.


"Dalam perjalanan perut Beni sangat sakit hingga putar arah kembali ke rumah kita. Ica mengatakan bahwa ia di sekolahkan keluarga Wiraarga. Beni meminta ia menginap dulu di rumah kita, di temani oleh Sera."Jelas Beni kemudian.


"Ma, Pada saat Beni bertemu dengannya. Lalu ia menginap satu malam di rumah kita dan sampai sekarang Beni merasa sangat menyayanginya. Tapi bukan, bukan perasaan suka sebagai kekasih," Kata Beni.


"Beni juga bermimpi, mama sedang memeluk erat Ica." Kata Beni.


"Apa mungkin Yah? Apakah ini pertanda?" Kata Mama Diana.


"Tenang dulu Ma, besok kita ke rumah keluarga Wiraarga." Kata Pak Hendro.

__ADS_1


__ADS_2