Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Kepergok Berduaan


__ADS_3

Milka di bantu Ia berjalan menuju halaman tengah hotel. Dave memperhatikan mereka dari jauh.


"Hey Kak, kok ngelamun?" Tanya Ronald.


"Nggak, mata mu aja yang belekan. Kan belum mandi walau pun sudah melintasi samudra." Kata Dave membalas Ronald.


"Kak, kenapa ya gadis itu sekilas mirip Kakak parasnya." Kata Ronald.


Ronald bolak balik memandang Dave kemudian Ica. Jarak mereka kira-kira sekitar delapan meter.


"Astaga Ronald, bukannya kamu pernah melihat foto putrinya Kak Haris?" Tanya Dave.


Ronald mengeluarkan sesuatu dari sakunya, yaitu sebuah ponsel miliknya. Ronald tertegun melihat foto dan orang yang sama ada di depan mereka.


Dave punya ide untuk mengerjai dua gadis itu. Karena memang Ica belum pernah mendengar nama Dave, apalagi mengetahui kalau Ayahnya memiliki seorang adik.


"Hay, Nona. Kami kesini ingin meminta maaf soal tadi." Kata Ronald.


Ronald dan Dave menghampiri Milka dan Ica. Dave ingin memberikan kejutan untuk keponakannya itu. Tapi ia tidak tau harus dari mana memulainya.


"Oh, iya nggak apa-apa." Kata Milka.


"Gimana nggak apa-apa, teman saya tidak bisa melihat sempurna gara-gara anda." Kata Ica.


"Iya maaf Nona, setelah ini saya akan mencarikan lensa kacamata temanmu." Kata Dave.


"Maaf Nona, apa Nona sudah lama bekerja di sini? Kami adalah rekan bisnis Pak Hendro Adikara, apakah kami bertemu dengan beliau?" Tanya Roland.


"Maaf, masih di luar negeri. Kata beliau besok baru pulang karena ada saudara yang akan datang." Kata Ica.


Dave membisikan sesuatu kepada Ronald. Ia memiliki ide berlian kali ini. Ia ingin mendekati teman Ica.


"Nald, kali ini bagian saya. Saya yakin temannya keponakan kita adalah gadi baik-baik." Kata Dave.


"Hem, punya nyali juga rupanya." Kata Ronald.


"Titip keponakan saya ya." Kata Dave.


"Memangnya bukan keponakan saya juga? Awas tanya dulu, siapa tau saudara kita juga gadis ini." Ronald memperingatkan Dave.


"Baiklah-baiklah." Jawab Dave.


Dave memiliki ide seolah-olah ia menemani Milka untuk mencari ganti kacamatanya. Sebagai pertangungjawaban karena telah menginjak kaca mata milik Milka.

__ADS_1


"Hem, Nona Ica apakah Nona cantik ini adalah teman mu?" Tanya Dave.


"Iya, teman sekampus saya." Jawab Ica.


"Sebagai bentuk tanggung jawab saya, izinkanlah saya mengganti kacamata milik Nona ini." Kata Dave.


"Silahkan." Kata Ica singkat.


"Apa tidak sebaiknya orangnya ikut, takutnya nanti tidak ada yang cocok." Kata Dave.


"Jangan-jangan kalian mau menculik Milka ya?" Tanya Ica.


Dave mengagumi keponakannya, ia sangat detail menanyakan perihal orang asing yang mereka temui. Ia juga sangat menjaga keselamatan temannya itu.


"Tidak Nona, bukannya Ayah mu sangat besar kuasanya di negera ini. Mana berani kami berlaku seperti itu kepada putri Tuan Adikara." Kata Dave.


"Bagaimana kami percaya kalau kalian benar temannya Papa?" Tanya Ica.


"Saya akan menelepon Papa mu biar kamu percaya." Kata Dave.


Dave mengambil ponsel dari sakunya. Ia mencari kontak Pak Hendro di panggilan keluar. Setelah menemukan segera ia memencet tombol hijau.


"Halo, apa ada masalah?" Tanya Pak Hendro dari sambungan telepon.


"Oh, Nggak apa-apa. Kaya siapa saja kamui ini." Kata Pak Hendro.


Dave sengaja speakerkan panggilan tersebut agar Ica mendengar jelas. Ia segera mematikan sambungan telepon. Ia takut kalau Kakaknya keceplosan mengatakan yang sebenarnya.


Setelah sambungan telepon di matikan. Dave memandang kepada Milka, gadis itu antara merespon dan tidak karena penglihatannya sudah sangat buram.


"Bagaimana Nona Ica, anda mendengar tidak apa yang di sampaikan orang tua anda tadi." Kata Dave.


"Baiklah, tapi pilih optik yang dekat saja." Kata Ica.


Sesudah mendapat persetujuan Ica. Dave memegang tangan Milka untuk pergi ke mengganti kaca mata yang di injak Dave.


Sepeninggal Dave dan Milka, Ronald mencoba mendekatkan diri kepada Ica. Ia berjanji dalam hati agar menjaga keponakannya itu. Ia berhutang budi kepada Haris dan Dave keluarga angkatnya.


"Hai, perkenalkan nama saya Ronald." Kata Ronald.


"Oh, iya. Saya Ica. Sebenarnya Tuan rekan Papa dari mana?" Tanya Ica ragu.


"Hm... Saya dari kota B, ke negara ini untuk mengembangkan bisnis kami." Kata Ronald

__ADS_1


"Oh, silahkan kalau mau istirahat Tuan. Saya menunggu teman saya tadi." Kata Ica.


"Nggak apa-apa saya temani kamu dulu." Kata Ronald.


"Iya, baiklah." Jawab Ica.


"Ica Adikara, saya mau tanya tentang penampilan kami bagaimana?" Tanya Ronald.


"Sederhana, tapi sepertinya kalian sedang menyamar Tuan Ronald." Kata Ica.


Dari kejauhan, Marvin memperhatikan Ica sedang duduk bersama pria lain. Hatinya sedikit tersulut, namun ia mencoba menahan emosinya. Ia mendekat kepada Ica dan Ronald.


"Hem... Maaf mengganggu, sepertinya sedang ada hal penting yang sedang di bicarakan?" Tanya Marvin.


"Nggak Bang, ini rekan bisnis Papa datang ke hotel saat Ica dan Milka membersihkan halaman depan. Tidak sengaja salah satu Tuan ini menginjak kaca mata Milka yang terjatuh, Ia sedang mengganti kaca mata itu ke optik terdekat." Kata Ica menjelaskan.


Marvin mencoba memahami keadaan dan tidak menyudutkan Ica. Ia memberi salam kepada tamu itu, Marvin juga merasa sikap Ica masih sangat wajar.


Mengingat Ica adalah wanita yang akan memimpin perusahaan nanti. Ia juga tidak ingin memperlihatkan kecemburuannya, untuk menjaga nama baik Ica.


"Oh iya, sudah di ajak tamu nya minum dulu?" Tanya Marvin.


"Belum Bang." Jawab Ica malu-malu.


"Biasa aja Tuan, ini suami mu Nona? Serasi sekali kalian." Kata Ronald.


"Belum Kak, tunangan saya." Jawab Ica.


"Jaga baik-baik hubungannya, semoga langgeng sampai maut memisahkan." Kata Ronald.


Tidak di sangka Marvin memperhatikan hal terkecil pun yang dikenakan Ronald. Ia melihat pun kecil dari emas murni milik Ronald bertulisan HGO.


Itu sama persis yang dimiliki Hendro Adikara dan Arbeni Adikara. Bahkan Ica pun tidak pernah memiliki benda itu. Marvin menyangka mungkin ini keluarga Adikara dalam hatinya.


"Tuan ini dari negara mana? Pasti lelah, mari kita mengobrol di ruangan saja." Marvin menawarkan.


"Nggak apa-apa saya suka suasana di luar ruangan seperti ini." Kata Ronald.


Ica baru memperhatikan bross baju milik Ronald. Tapi berbeda dengan Mervin yang memendamnya dalam hati. Ica langsung menanyakannya kepada tamunya tersebut.


"Maaf sebelumnya Tuan Ronald, bross baju milik Tuan kok mirip sekali dengan punya Papa? Apa itu lambang perusahaan yang bekerja sama?" Tanya Ica dengan polosnya.


"Oh, ini... Nanti Dave yang akan menjelaskan. Yuk kita cari jalan-jalan keluar Tuan, sekalian saya bisa melihat-lihat pantai di depan hotel." Ajak Ronald.

__ADS_1


__ADS_2