
Ica dengan bergetar ketakutan, menguatkan kakinya untuk datang mendekati Marvin. Piring dan segelas susu di atas nampan ikut bergetar karena takut menyelimuti perasaan Ica. Ia meletakan makanan Tuan Marvin di atas meja tempat biasanya.
"Duduklah." Perintah Marvin.
Ica menarik kursi yang ada di samping tempat tidur Marvin. Ica sengaja menunduk agar mukanya yang ketakutan tidak terlihat oleh Marvin.
"Ada apa Tuan?" Tanya Ica gemetar.
"Sekarang jawab dengan jujur, apa hubungan mu dengan adik saya, Vano?" Selidik Marvin.
"Tidak ada Tuan." Jawab Ica ketakutan.
"Bohong!, sekarang saya tanya sekali lagi, apa hubungan kamu dengan Vano?" Gertak Marvin.
"Saya dengar sendiri kalian ngobrol sebelum Vano berangkat tadi siang." Cerca Marvin dengan sorot mata tajam.
Sebenarnya dalam hati Marvin bergetar, kalau-kalau benar gadis ini adalah kekasih adiknya. Tapi sikap dinginnya mengintrogasi Ica membuat yang di introgasi meneteskan air mata. Di dalam diam, Ica seakan mendengar suara dag dig dug detak jantungnya sendiri.
Ica sedari tadi sudah menangis tetapi tetap ditahannya. Perasaan takut dan pasrah akan apa yang terjadi untuk saat ini. Mengingat tidak ada siapa-siapa di rumah selain bibi yang ada di bawa. Lagian sekalipun Ica berteriak mereka tidak akan mendengarnya karena setiap ruangan di rumah ini kedap suara.
"Benar Tuan, memang kami tidak punya hubungan apa-apa. Hanya saja Tuan Vano menemukan saya di jalan saat saya kena copet kemarin." Jelas Ica.
"Tapi Vano suka sama kamu, kan?" Selidik Marvin kembali.
"Kalau itu saya tidak tau Tuan, tapi sepertinya tidak mungkin Tuan Vino menyukai gadis seperti saya ini." Jelas Ica.
"Atau jangan-jangan kamu yang suka kepada adik saya?" Marvin semakin semangat melihat Ica seperti orang linglung.
"Itu tidak mungkin Tuan." Jawab Ica spontan.
Ica bingung sendiri melihat orang yang sedang di hadapannya ini. Katanya sakit dan sepertinya sakit, tapi saat berhadapan dengannya orang ini seperti pembunuh bayaran menyeringai tajam. "Tuhan jauhkanlah hamba my dari sini." Gumam Ica.
"Kamu mengumpat saya?" Tanya Marvin dengan mata terbelalak.
"Tidak Tuan, mana mungkin saya berani." Jawab Ica sekenanya.
__ADS_1
Marvin merasa lega setelah ia mengetahui bahwa gadis ini bukan kekasih adiknya. "Ada mainan baru nih." Pikirnya dalam Hati.
"Syukurlah kalau kamu bukan kekasih adik saya, sekarang kamu milik saya." Kata Marvin dengan tawa yang menakutkan.
"Hah.. maksudnya?" Ica mendengar jelas apa yang di katakan Marvin tadi.
"Sekarang cepat turun ganti pakaian, pakai rok ya." Ingat Marvin.
Ica seperti punya kesempatan, langsung berbalik sudah siap untuk melarikan diri.
"Eits, jangan Coba-coba melarikan diri, atau nanti saya telpon Bunda." Teriak Marvin.
Ica tidak menghiraukan perkataan Vano, ia berlari hampir sampai ke pintu. Sedangkan Marvin masih santai berbaring di ranjang nya. Memang seperti tidak ada penyakit.
"Awas kalau kabur yaaa, saya bilang sama orang-orang, kamu telah memperkosa saya, orang yang lagi sakit.." Teriak Marvin.
"Ish, orang ini..." Geram Ica.
Dengan terpaksa Ica harus menuruti kemauan Tuan gila itu. Kalau tidak bagaimana dengan ancamannya tadi. "Apa yang harus aku katakan kepada Ibu Lusi, kalau dia benar-benar mengadukan perkara ini? Mampus lah Ica." Ica bergumam sambil melemparkan tubuhnya ke tempat tidur.
Ica segera memakai atasan T-shirt dan bawahan rok seperti yang di minta Tuan Marvin. "huuh.. memang berat lah hidup ini." Gumam Ica.
"Permisi Tuan, apakah anda sedang tidur?" Tanya Ica.
"Kirain gak datang, awas aja yaa." Ancam Marvin.
Ica masuk, lalu duduk di kursi yang ia duduki tadi.
"Kok, duduk? Kamu kerja nanti saya upah, sudah lama saya tidak punya mainan seperti ini." Kata Marvin penuh semangat.
Marvin terlihat duduk dan bersender di tepi ranjang besarnya. Ica berdiri sekitar satu meter tepat di depan Marvin. Marvin terlihat serius memainkan ponselnya. Terlihat mencari-cari sesuatu.
Setelah beberapa waktu kemudian Marvin memainkan lagu anak-anak, dan meminta Ica menari sesuai gerakan lagunya. Entah berapa lagu sudah di nyanyikan Ica terlihat lemas terus menari. Ia jatuh pingsan.
Marvin mendengar suara ambruk, langsung terjaga. Karena tanpa sadar tadi ia tertidur saat melihat Ica menarikan lagu anak-ank kesukaan nya.
__ADS_1
Marvin mengangkat tubuh mungil Ica keranjangnya, dan menutup setengah badannya dengan selimut tipis.
"Hem..cantik juga gadis ini, mengapa hati ku merasa senang berada di dekatnya." Gumam Marvin sambil memperhatikan wajah Ica. Marvin membiarkan Ica beristirahat, sedangkan Ia menuju sofa dan berbaring di sana.
Hampir satu jam lamanya, akhirnya Ica tersadar. Ia melihat sekeliling kamar menyadari ini bukanlah kamarnya. Ia mau bangkit dan pergi. Tiba-tiba Marvin menghampirinya.
"Hufh, mau kemana nona?" Tanya Marvin.
"Sa-ya mau keluar tuan." Jawab Ica menahan takutnya.
Marvin mengeluarkan sesuatu dari dalam laci mejanya. Lembaran berwarna merah, sekitar lima puluh lembar.
"Ini uang jajanmu, sayang. Karena telah memuaskan Tuanmu ini." Marvin tertawa terbahak-bahak melihat Ica yang sudah ketakutan hebat.
"Gak apa-apa ambil saja, sayang. Tapi ingat kamu milikku, kita sudah melakukannya." Ancam Marvin.
"Maaf Tuan saya tidak bisa." kata Ica sambil berlari keluar kamar.
Marvin yang sedari tadi merasa lucu melihat sikap polosnya Ica."Mana mungkin saya melakukannya, tanpa ia merasa juga hahaha." Marvin tertawa riang, belum pernah ia merasa sebahagia ini setelah Sean meninggalkannya. Ia berfikir apa salahnya berteman dengan gadis asing itu selagi ia tidak melakukan hal buruk kepadanya.
Di kamar lain, Ica yang sedang meratapi kejadiannya dengan Tuan gila itu. "Bagaimana bisa ia merenggut kesucian Ica, tanpa Ica merasakannya. Bagaimana kalau Ica benar-benar hamil?" Ica menangis sesegukan.
**********
Di dapur Bi Nina belum melihat Ica dan pemilik rumah datang. Bi Sunem sedang menyiram tanaman di luar rumah.
"Tik, menurut mu apa Den Vano suka yaa sama non Ica?" Kata Bi Nina memulai pergosipan.
"Entahlah Nin, tapi siapa gadis yang sering kerumah bersama Den Vano kemarin-kemarin sebelum Non Ica datang?" Tanya Bi Siti seolah berpikir keras.
"Menurutku, lebih baik Non Ica bersama Den Marvin saja, biar move on dari Non Sean." Celoteh Bi Siti.
"Hem, ada-ada saja kita ini. Apa mungkin Den Marvin suka sama Non Ica. Dari penampilan saja bak bumi dengan langit di bandingkan dengan Non Sean kemarin." Kata Bi Nina menimpali.
Setelah itu mereka menyelesaikan tugas masing-masing. Bi Nina dengan tugasnya memasak dan Bi Siti dengan tugasnya beberes rumah.
__ADS_1