Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Sayang, Cepat habisi Dia


__ADS_3

Sean yang sedang membantu Barrak berjalan karena sakit perutnya. Ia sangat kaget ketika melihat siapa yang datang bersama anak buahnya.


"Ronald George? Kenapa anda bisa ada di sini?" Tanya Sean.


Ia menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan tangan. "Siapa Ronald George ini? Apa hubungannya dengan Ica gadis sialan itu? Apa ia adalah selingkuhan Ica di belakang Marvin, setelah ia menjadi kaya?" Kata Sean dalam hati.


Sean mengeraskan hatinya untuk tidak takut dengan pemuda itu. Ia yakin suaminya bisa melawan Ronald dan anak buahnya.


Ia tidak ingin melepaskan putri Adikara dengan begitu saja. Setelah perjuangan panjang dan pengorbanannya selama ini.


Sean melirik dengan tajam wajah Ronald yang tampan. Ia menaruh sedikit kekaguman akan pemuda berparas bule itu, namun pikirannya segera ia hapuskan dalam kepalanya.


Tujuan Sean hanyalah dua dua dunia ini, memiliki Marvin dan mendapatkan harta suaminya Barrak. Apapun resikonya ia tidak terlalu memikirkan.


"Seharusnya saya yang bertanya kepada ada Nyonya Barrak? Apa kesalahan Putri George hingga kamu melakukan hal terhina begini?" Tanya Ronald dingin.


Ronald menyorot Sean dari ujung rambut sampai ujung kaki, nampak dimatanya Sean tidak lebih dari sampah yang busuk. Ia ingin wanita rumput liar ini diberi pelajaran sedikit.


"Tanyakan saja kepada perempuan ini? Apa yang telah ia lakukan kepada saya." Kata Sean.


Nyali Sean sebenarnya sedikit ciut, namun ia yakin akan power Barrak suaminya. Ia pasti akan membela istri dan calon buah hati mereka.


"Baiklah jika kamu tidak ingin mengatakannya. Saya akan mematahkan jari-jari satu persatu sampai kamu menjawab pertanyaan saya." Kata Ronald seakan mau menerkam mangsanya.


Sekujur tubuh Sean tiba-tiba dingin. Seakan darah berhenti mengalir dari otaknya. Mereka berkumpul di kepala Sean hingga kepalanya terasa berat dan mengembang. Tapi egonya menahan diri untuk memohon ampun pada lawan.


"Sayang, cepat habisi dia! Lalu perempuan itu." Kata Sean.


Sean membuat Barrak seperti patung yang berdiri. Ia tidak sanggup bergerak sedikit pun apalagi berkata-kata. Mulutnya seolah kelu melihat kedatangan Ronald, setelah kejadian kebakaran itu. Apalagi mendengar ancaman kepada istrinya Sean yang sedang mengandung.


Barrak sangat mengenal keturunan George satu persatu. Ia mengenal Harris dan Dave sebagai Bos genk Black Tiger.


Namun ketika mengenal Ronald, Barrak pernah dibuat menciut beberapa kali saat mengeksekusi musuh. Nampaknya sang istri belum mengenal siapa yang berhadapan dengan mereka.


"Bagaimana Barrak? Saya boleh kalian habisi, tapi tidak untuk Putri kami." Kata Ronald.


Mendengar hal tersebut Barrak kemudian tersungkur di kaki Ronald. Ia tidak ingin menghabisi orang yang telah berjasa kepadanya. Ia juga tidak ingin Sean menerima penderitaan sepertinya.


Memilih melawan Ronald bukanlah suatu tindakan terhormat. Kalaupun harus terbu-nuh, setidaknya dalam menyerang lawannya bukan Bos yang selama ini menyelamatkan nyawa keluarga.

__ADS_1


Dalam kondisi yang mendesak Barrak memilih memohon ampun dan pertimbangan atas keputusan Ronald. Besar kemungkinan Ronald mau mengampuninya.


"Tuan Bos mohon di ampuni kesalahan saya dan istri saya. Saya berjanji akan membawanya pergi jauh setelah ini, jika Tuan Bos membebaskan kami." Kata Barrak.


"Saya...,"


Belum sempat Ronald menjawab permohonan Barrak. Dalam hitungan detik Sean mengambil senjata yang ada di tangan salah satu anak buahnya. Dan menembakkannya ke arah Ronald.


Namun siapa sangka Ronald bisa mengelakkan peluru tersebut. Hanya mengenai sedikit lapisan lengannya dan tembus memberi tanda di dinding bangunan.


"Cepat lumpuhkan dia!" Perintah Ronald.


Salah satu anak buah Ronald menembakan peluru tepat mengenai tangan kanan Sean. Ia terduduk hingga senjatanya terlihat dari tangan.


"Barrak, kamu ingat kami sangat menyayangi mu. Bahkan saudara kita rela mati untuk menyelamatkan ibumu. Inikah balasannya kepada kami?" Ronald melihat keatas dan menarik nafas panjang.


"Bos, saya tidak lupa. Saya juga tidak tau masalah ini, maafkan istri saya." Kata Barrak.


Air mata Barrak tidak bisa di tahan lagi. Satu sisi ada istrinya terancam, di sisi lainnya ada orang yang pernah menyelamatkan orang yang sangat ia sayangi, yaitu ibunya.


"Segera perintahkan anak buah istrimu untuk pergi dari sini. Kalau tidak saya tidak akan mengampuni kalian!" Kata Ronald.


"Baiklah Tuan bos." Kata Barrak.


"Kalian cepat pergi! Kami akan aman kalau kalian tidak di sini." Perintah Barrak.


Semua anak buah mereka segera pergi. Memang tidak ada kaitan sama mereka, hanya sebuah bayaran yang di janjikan. Satu per satu mereka mundur dan meninggalkan tempat itu.


Berbeda dengan genk mafia yang berjanji akan membela setiap anggota mereka sampai titip darah penghabisan. Bahkan mereka bersumpah tidak akan membocorkan apapun rahasia genk mereka, walaupun harus kehilangan nyawa.


"Ini saya lakukan karena memandang kamu sebagai bagian keluarga Black Tiger. Kalau tidak sirna kamu saya habisi di sini." Kata Barrak.


"Terimakasih Tuan Bos." Barrak masih berlutut.


Ronald membangunkan Barrak membuat ia berdiri berhadapan dengannya. Namun tanpa di sangka Sean mengambil senjata mengarahkan kepada Ica. Belum sempat Ia menembakan senjata tersebut, Ronald memberikan hadiah satu peluru ke tangan Sean.


"Maafkan saya Barrak, istrimu mencari masalah dengan saya. Segera bawa dia ke rumah sakit. Jangan biarkan dia lepas sampai masalah ini selesai dengan jelas!" Perintah Ronald.


"Baik Tuan Bos, kamu memang bijaksana dalam segala hal." Kata Barrak.

__ADS_1


"Anak buah saya akan mengantar dan menjaga kalian. Tidak akan ada yang berani menyakiti kalian, kalau kalian tidak melawan." Kata Ronald.


Ronald membantu melepas ikatan di tubuh Ica. Gadis itu bisa bernafas lega karena Uncle nya bisa datang tepat waktu.


Tidak lama kemudian Engga datang dengan tergesa-gesa di hadapan mereka. Ia sangat khawatir Ica sudah menerima kejahatan Sean. Ia sangat mengenal mantan bosnya itu yang penuh ambisius.


Dengan cepat Engga juga membantu melepaskan Ica dari ikatannya. Tanpa ada satu kata pun yang terlontar dari mulut dosen muda itu.


"Nak kamu tidak apa-apa?" Tanya Ronal setelah ikatan Ica terlepas sempurna.


Ica memeluk Uncle Ronald dengan erat. Ia juga melirik kepada Engga yang ada di sampingnya.


"Tidak Uncle, terimakasih Uncle sudah datang tepat waktu." Kata Ica dengan air mata yang sudah timpah.


"Kita akan pulang ke rumah. Engga saya minta tolong angkat Ica ke mobil! Beserta dua dari kalian berjaga di sana. Yang lain tetap stand by di sini!" Perintah Ronald.


Ronald melihat Barrak memeluk istrinya dengan erat. Belum pernah ia melihat Barrak mencintai wanita sedalam ini. Ia belum tau saja kebusukan Sean di belakangnya. Bahkan Barrak tidak tau bahwa Sean telah tidur dengannya dulu.


Ronald menarik napas panjang melihat perlakuan Barrak kepada istrinya. Bukan karena cemburu, namun ia kasian kepada rekannya itu. "Hem, cinta telah membuat panca indera mu tidak berfungsi." Gumam Ronald dalam hati.


"Barrak, angkatlah istri mu dan bawa dia ke rumah sakit. Anak buah saya akan mengantar kalian. Nanti semua biaya rumah sakit akan saya tanggung." Kata Ronald.


"Baiklah Tuan Bos, terimakasih untuk semuanya." Sahut Barrak.


"Cih, saya tidak sudi menerima kebaikan kalian. Saya rela mati dari pada terhina seperti ini." Kata Sean meludah.


Emosi Ronald yang sudah agak stabil tetapi mendengar perkataan istrinya Barrak, ia kembali naik darah. Ia sudah mengeluarkan senjatanya mengarahkan kepada Sean yang ada dalam pelukan Barrak.


Ia hampir menarik pelatuk senjatanya. Namun tiba-tiba Barrak berteriak, memohon ampun pada Ronald.


"Tuan Bos, jangan lakukan itu pada istri saya! Bunuh saja saya Tuan Bos. Kasihan istri saya sedang hamil buah hati kami." Kata Barrak berteriak.


Deg


Hati Ronald terperanjat mendengar perkataan Barrak. Matanya terbelalak sangat tidak percaya, "Bagaimana bisa terjadi? Sepertinya mustahil?" Hati Ronald menyangkal.


Namun Ronald bis mengendalikan diri. Ia tidak ingin membuat Barrak semakin hancur. Ia harus cepat-cepat pergi dari sini agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


"Baiklah, cepat bawa istri mu masuk dalam mobil!" Perintah Ronald.

__ADS_1


Barrak mengendong Sean yang hampir lima puluh persen pakaiannya ternoda oleh darah. Membawa wanita itu kedalam mobil. Lalu dua orang anak buahnya membawa mereka ke rumah sakit.


Ronald segera masuk ke dalam mobil Ica. Ia duduk bersebelahan dengan keponakannya itu. Melihat Ica masih pucat, ia segera membawanya ke rumah sakit. Tetapi tidak sama dengan rumah sakit tempat istri Barrak di rawat.


__ADS_2