
Pagi ini Ica sangat gelisah. Ia mondar-mandir di teras rumah mungil milik Kakek dan Nenek Rengga. Sedari tadi Ica memperhatikan Dosen Engga sedang berpikir keras.
Sebenarnya ini kesalahan yang di buat putri Adikara tersebut. Ia tidak sengaja membuat ponsel miliknya aktif sehingga kemungkinan besar terlacak dengan orang yang mencari mereka.
"Ca mau atau tidak kita pergi dari tempat ini sekarang juga." Kata Engga.
"Baiklah, sebentar saya cuci muka. Kemudian kita pamit sama Kakek dan Nenek." Kata Ica.
Ica segera kebelakang membuka gentong air milik Kakek Rengga. Ia merasakan kesegaran dari air yang membasuh mukanya. Tidak lama kemudian terdengar suara klakson mobil di halaman rumah mereka.
Saat itu Kakek dan Nenek Rengga kebetulan sudah berangkat ke ladang, yang hanya berjarak tiga hektar sawah saja dari belakang rumah. Rengga mengintip keluar dari lobang dinding yang kecil.
"Ca, cepat kesini! Mereka itu siapa? Saya tidak mengenali mereka satu orang pun." Kata Engga setengah berbisik.
"Jadi mereka siapa Kak? Lalu kita bagaimana?" Tanya Ica.
"Entahlah Ca. Apa kita menyerahkan diri saja, karena tidak mungkin lagi untuk kabur. Mobil kita di depan Ca." Kata Rengga lemas.
"Begini saja Kak, Kakak ikuti saya dari jauh menggunakan kendaraan lain. Seandainya kondisi menghawatirkan tolong telepon Kak Beni. Kalau saya di bawah ke rumah ini nomor ponsel saya, biar kita rencanakan untuk bayar hutang Kakak." Kata Ica.
"Jadi saya sembunyi sekarang? Bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu Ca?" Tanya Rengga.
"Berdoa saja Kak." Jawab Ica.
"Tapi Ca." Ucap Engga tertahan.
"Kak, pergilah! Tolong iringi saya dari kejauhan." Kata Ica.
Sementara mereka bercakap-cakap. Tiga orang bertubuh kekar telah berada di depan pintu rumah Kakeknya Rengga.
Ica gemetar ketakutan, namun tetap berusaha ia sembunyikan. Ia perlahan membuka pintu dengan raut wajah yang cemas.
"Selamat pagi Om, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Ica sopan.
"Spica Adikara? Apa ini kamu?" Tanya Orang tersebut memperlihatkan poto Ica.
"Iya Om ada apa?" Tanya Ica pura-pura tidak tau.
"Kamu ini di culik orang tapi tidak merasa! Kamu sama siapa disini?" Tanya Orang tersebut.
__ADS_1
"Sama Kakek dan Nenek." Kata Ica.
"Mana orang yang membawa mu kabur ke sini?" Tanyanya lagi.
"Saya tidak tau Om." Jawab Ica.
"Sudahlah Bos. Kita bawah pulang saja putri George ini. Setelah itu tugas kita beres." Kata seorang yang lain.
Ica berpura-pura minta izin ke toilet belakang rumah. Ia berniat memberi kode kepada Rengga agar tidak terlalu khawatir. Ia juga ingin memberikan kode untuk mengikuti mereka dengan menggunakan sepeda motor saja.
Setelah membisikan sesuatu kepada Rengga yang sembunyi di balik bilik kamar mandi. Ia memberikan uang yang masih tertinggal di sakunya.
"Kak, hanya ini yang bisa saya berikan. Cukupkanlah minyak dan sewa motor sehari." Kata Ica.
Ica memberikan uang 250ribu ke dalam genggaman tangan Engga. Kemudian ia keluar dari bilik tersebut.
Seorang dari mereka membukakan pintu mobil untuk Ica. Dan segera menutupnya kembali saat Ica sudah memasuki mobil.
"Bos Barrak kita kemana?" Tanya seorang dari mereka.
"Kekediaman Adikara. Hantarkan bocah ini ke sana dulu. Baru kita kembali ke markas." Kata orang yang di panggil Bos Barrak.
"Panjang ceritanya. Nanti saya ceritakan sama Papa saja." Kata Ica.
"Baiklah kami tidak akan memaksa." Jawab Barrak.
Dalam hati Ica menyelidik siapa mereka sebenarnya. Apa hubungan Papa Hendro dengan mereka. Dalam rintik hujan yang mengguyur, Ica sesekali menoleh kebelakang mencari keberadaan Engga yang mengiringinya.
Rengga mengiring dari jauh, mungkin ia mengerti bahwa Ica benar-benar di bawah menuju ke rumah kediaman Adikara. Lebih kurang satu jam Ica sudah berada di depan gerbang utama kediaman Adikara.
Terlihat Rengga telah melintas mobil Ica yang sudah berhenti. Dalam hati Ica masih berhutang budi kepada Rengga. Walaupun sebenarnya dia sudah melakukan kesalahan ingin menculik Ica.
Namun mengingat Rengga masih memiliki rasa kasihan terhadapnya. Ica pun bertekad menolong pemuda itu.
Ica masih di dalam mobil yang sudah terparkir di halaman rumah. Kemudian terlihat Bos Barrak tersebut menelepon seseorang.
"Halo Tuan, Nona Spica sudah di halaman rumah. Sesuai dengan alamat yang Tuan berikan." Kata Barrak.
"Baiklah. Suruh dia masuk kemudian tutup pintu dan perintahkan agar gerbang di kunci otomatis." Kata seseorang dari sambungan telepon.
__ADS_1
Ica kemudian masuk ke dalam rumah yang sudah tidak asing baginya. Namun yang masih menjadi pertanyaan, "Siapa ya yang menelepon orang suruhan itu? Kalau Papa, kenapa tidak menemui mereka?" Pikir Ica dalam hati.
Ica tidak ingin memikirkan itu lebih lama. Ia duduk di sofa ruang tamu dan memanggil satu persatu penghuni rumah. Tetapi tidak satu orang pun menyambutnya.
Lama kemudian Beni muncul dari lantai atas. Melihat Ica bengong ia menghambur memeluk adik semata wayangnya itu.
"Kamu dari mana saja sayang? Untung saja teman Uncle Ronald dari luar negeri bisa cepat melacak keberadaan mu." Kata Beni.
Ica membalas pelukan Beni. Ia juga sangat merindukan Kakaknya tersebut. Dengan menahan air mata Ica menjauhkan diri dari pelukan Beni. Karena masih ada hal penting yang harus ia pikirkan.
"Jadi mereka itu anak buah temannya Uncle Ronald?" Tanya Ica tidak percaya.
"Sepertinya begitu, karena dari tadi malam Uncle Ronald terus menelepon temannya tersebut." Kata Beni.
"Terus kemana Uncle Ronald? Dan yang lain juga, Papa dan Mama?" Tanya Ica.
"Papa dan Mama sedang mengurus penundaan pernikahan kalian. Karena sudah tidak di mungkinkan untuk menikah hari ini. Sedang Uncle Ronald tidur di atas." Kata Beni.
Masih ada satu pertanyaan dalam hati Ica. "Dimana keberadaan Marvin? Apa dia tidak mengkhawatirkan keberadaan saya?" Pikir Ica dalam hati. Namun ia takut untuk menanyakan langsung kepada Beni.
Melihat adiknya dengan muka kacau. Beni bisa menebak Ica sedang memikirkan Marvin tunangannya yang sengaja belum Beni beri tau kabarnya.
"Oh iya, Marvin dan Uncle Dave sedang mencari mu. Berkeliling dari tadi malam, saya akan menelepon mereka untuk mengabarkan kalau kamu sudah pulang." Kata Beni.
"Jadi Uncle Dave masih mencari saya Kak?" Tanya Ica grogi.
"Uncle Dave apa Marvin yang kamu tanyakan? " Goda Arbeni.
Beni memutar badannya ingin menelepon Marvin dan Dave. Namun belum sempat ia melangkah tangan Ica menahan dengan menarik baju Arbeni. Membuat pemuda itu berbalik badan sedikit tidak seimbang.
"Ada apa lagi Ca?" Tanya Beni.
"Kak, ada yang ingin Ica sampaikan pada Kakak. Tapi jangan bilang Papa dan Uncle ya, saya takut Kak." Kata Ica.
"Iya apa katakanlah." Jawab Beni.
"Tapi Kakak janji ya." Kata Ica memastikan kerahasiaan dengan sang Kakak.
"Iya, Kakak janji." Jawab Beni.
__ADS_1