Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Pindahkan semua Aset


__ADS_3

Pagi ini Dave George akan mengurus semua yang di butuhkan. Persiapannya untuk keluar dari dunia hitam nampaknya semakin besar.


Hanya menunggu waktu sebentar lagi. Ia dan Ronald ingin pergi tanpa ada orang yang tau jejak mereka.


Ronald sedang menyiapkan kartu bank luar negeri atas nama orang lain untuk menyimpan sejumlah uang. Ia juga telah mempercayakan geng mafianya kepada orang lain.


Saat Ronald sedang berkerja, Sean datang menggodanya. Ia tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Dave, namun karena yang ada di sana hanyalah Ronald. Sean pun tidak menyianyiakan kesempatan.


"Halo Tuan, sepertinya kita baru pertama bertemu. Tuan Dave kemana nih?" Goda Sean.


"Tuan Dave lagi tidak enak badan. Ia tidak bisa masuk kerja hari ini. Ada perlu apa Nona kesini?" Tanya Ronald.


"Hem, memangnya anda siapanya Tuan Dave?" Tanya Sean.


"Saya hanya tangan kanannya Tuan Dave." Kata Ronald berbohong.


"Oh, perkenalkan saya Sean. Anak rekan bisnis Tuan anda." Kata Sean.


Ronald hanya tersenyum, ia sudah mengetahui wanita ini. Bukan saja luarnya tetapi sampai kedalam-dalamnya. Ronald memiliki ide konyol untuk wanita di hadapannya ini.


"Saya senang berkenalan dengan anda Nona Sean." Kata Ronald.


Ia mengulurkan tangan kepada Sean. Dengan senang hati Sean menerimanya. Ronald menggali informasi dari Sean.


Tentang bagaimana perusahaan yang ada di negara asal gadis itu. Karena Ia dan Dave akan terbang kesana dalam waktu dekat ini.


"Nona Sean, apa di negara Nona perusahaan kalian sudah berkembang?" Tanya Ronald.


"Sebenarnya iya, Daddy sudah bekerja keras. Namun usaha Daddy tidak di hargai oleh keluarga Menang, Bos sialan itu." Gerutu Sean.


"Terus bagaimana rencana kalian selanjutnya? Kenapa kamu nggak bantu Daddy mu?" Selidik Ronald.


"Saya di negara itu seorang dosen salah satu universitas ternama, di negara asal. Tapi tiba-tiba salah satu mahasiswi merebut kekasih saya. Hanya karena ia baru menjadi keluarga orang terkaya di negara asal." Kata Sean.


"Jadi ceritanya ingin belas dendam nih?" Tanya Ronald.


"Saya sangat malu dan merasa di remehkan. Bagaimanapun saya ingin dia kembali kepada saya." Kata Sean.


"Saya punya teman yang banyak uang kalau kamu mau, tapi kalau mau saja." Kata Ronald.


"Apa persyaratannya? Apa dia sekaya Tuan Dave?" tanya Sean.


"Hem... Mungkin samalah, tapi fantasinya jauh lebih hebat orang ini." Kata Ronald.

__ADS_1


"Boleh juga, kenalkan saya padanya. Tapi ingat jangan sampai Tuanmu tau. Nanti kalau saya mendapat uang banyak, pasti saya bagi pada mu." Kata Sean.


"Baiklah Nona." Kata Ronald.


Ronald memberikan kartu nama Barrak. Ia adalah bawahan Ronald yang selalu haus akan wanita. Ia juga rela menghabiskan uangnya untuk membayar puluhan wanita.


"Saya akan mengabari mu nanti." Kata Sean mau pergi.


"Baiklah Nona, semoga bisa bersenang-senang. Jangan lupa perlakukan dia dengan baik. Nanti bisa di dor." Kata Ronald setengah berteriak.


"Semoga kamu bahagia Ronald." Kata Sean sudah berlalu pergi.


Ronald kembali dengan pekerjaannya. Ia menghapus data-data yang nantinya akan terlacak oleh sistem.


Tidak lupa juga Ronald memindahkan sejumlah uang ke rekening asing. Ia juga mentransfer uang ke perusahaan Sang Kakak.


Membeli perusahaan atas nama orang lain. Itu semua mereka lakukan agar kepergian mereka benar-benar tidak terlacak oleh siapapun.


Ponsel Ronald berdering dua kali. Ia hampir mengabaikannya, karena bisa saja ia harus lembur malam ini. Akibat di ganggu wanita yang tidak diundangnya tadi.


"Ronald...." Teriak seseorang dari sambungan telepon.


"Iya siap Tuang Dave yang terhormat." Jawab Ronald.


"Kakak Dave yang baik hati, bawalah adikmu ini kemana engkau pergi." Kata Ronald.


"Makanya Ronald, pekerjaan mu segera selesaikan. Jangan sampai mereka menyerang kita di saat-saat seperti ini." Kata Dave.


"Maaf Kak, bukannya Ronald tidak mendengar panggilan Kakak. Tapi pekerjaan Ronald masih banyak sekali, karena di ganggu pacarnya Kakak kemarin." Kata Ronald.


"Pacar yang mana? Jangan sembarangan kamu?" Kata Dave.


"Itu Nona Sean, wanita kenalan Kak Dave tercinta." Kata Ronald.


"Huss, enak saja. Idihh amit-amit bekas rabies." Kata Dave.


" Aleh-aleh, gini-gini adikmu ini sangat bersih." Kata Ronald.


"Kerjakanlah itu semua, kalau sudah besok lusa kita akan segera merubah hidup." Kata Dave.


"Baik Kak. Bagaimana sisa uang ini Kak?" Tanya Ronald.


"Sisa uang itu, berikan saja ke rekening putra Kakak Haris. Jika ada ke rekening putrinya juga." Kata Dave.

__ADS_1


"Terus uang kita untuk melaksanakan rencana kita mana?" Tanya Ronald.


"Masih aman di brankas." Kata Dave.


"Ronald, apa pekerjaanmu sudah selesai?" Tanya Dave.


"Sebentar lagi Tuan." Jawab Ronald.


"Saya akan menelpon Barrak. Untuk memberikan kado perpisahan untuk mereka. Tapi ingat jangan katakan yang sebenarnya bahwa kita akan pergi. Katakan saja hadiah di akhir tahun. Saya akan menunggumu pulang." Kata Dave.


"Baik Kak, Saya segera pulang." Kata Ronald.


Ronald mengerjakan pekerjaannya dengan semangat agar cepat selesai. Setelah hampir satu jam, akhirnya pekerjaan Ronald selesai juga. Ia keluar kantor dan cepat pulang.


Tidak sampai tiga puluh menit, akhirnya Ronald sampai juga ke rumah Dave. Ia tidak mengetuk pintu, itu karena hanya mereka berdua yang tinggal di sana dan tiga orang pembantu perempuan.


"Halo Tuan Dave, apakah anda ada di sekitar sini?" Teriak Ronald.


"Iya, sudah pulang? Lama sekali ya? Atau kamu santai dulu di kamar kantor?" Cecar Dave.


Namun Ronald tidak menanggapi perkataan Dave. Ia sudah terbiasa dengan sikap Dave yang menurutnya sedikit cerewet.


Tapi di balik sikap Dave itu, Ia adalah satu-satunya harta yang di miliki oleh Ronald. Sejak dari Haris meninggalkan negara mereka.


"Iya Kak." Jawab Ronald asal.


"Nah kan itu ngaku?" Cecar Dave.


"Hem, nggak Kak. Saya benar-benar kerja tadi." Kata Ronald lagi.


"Baik-baik Kakak tau kamu sudah bekerja keras. Loh kok nangis pria dengan julukan casanova sejati ini bisa nangis juga?" Goda Dave.


"Ronald juga manusia Kak." Kata Ronald.


Ronald memeluk Dave, ia merasakan bahwa tidak ada yang lebih berharga selain saudaranya ini. Dave membalas pelukan Ronald dengan haru.


"Ronald, sudah-sudah. Saya kepanasan dipeluk kamu geli." Kata Dave.


Ia mengalihkan perhatian agar tidak terbawa suasana. Ia sangat gengsi jika nanti ia harus menangis di depan adiknya itu.


"Coba kalau gadis cantik yang meluk Kakak. Pasti betah?" Kata Ronald.


"Kalau itu beda cerita, bro." Jawab Dave.

__ADS_1


Setelah bercengkrama Dave dan Ronald mengeluhkan asap rokok bersama. Mengingat masa yang telah mereka lewati bersama. Dalam suka maupun duka, saling melengkapi saat keduanya sudah yatim piatu.


__ADS_2