Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Akhirnya Sah


__ADS_3

Sesuai kesepakatan, hari ini akan diadakan pernikahan antara Putri Adikara dan Putra Wiraarga. Mengikat dua keluarga menjadi satu itulah yang mereka lakukan.


Dari subuh tadi, Ica sudah di hias oleh dua orang make up profesional. Kecantikannya semakin terlihat ketika menggenakan gaun pengantin dan aksesoris perpaduan antara tradisional dan modern.


"Sayang, sudah selesai?" Tanya Mama Diana dari arah pintu.


"Sebentar lagi Bu." Kata salah seorang MUA yang merias Ica.


"Baiklah, Mama akan tunggu di sini saja." Kata Mama Diana.


Kurang dari setengah jam, Ica sudah selesai dengan persiapannya. Di gandeng Mama Diana turun kebawah, serta ada dua orang gadis yang bertugas menjaga gaun Ica yang panjang di belakang.


"Selamat datang untuk sepasang pengantin kita, ratu dan raja pada hari ini." Kata pembawa acara menyapa kedatangan Ica.


Tahap demi tahap di lewati oleh Marvin dan Ica. Tibalah saatnya Marvin mengucapkan Ijab dan Qobul pernikahannya.


Diawali dengan penghulu membacakan nasihat pernikahan menuju rumah tangga yang bahagia. Kemudian tibalah acara sakral yang membuat Marvin panas dingin, Gugup dan deg-degan.


Setelah melewati tahap yang sakral tersebut Marvin menarik napas lega. "Akhirnya sah juga." Gumam Marvin.


Kemudian Ica mencium tangan Putra Wiraarga tersebut yang telah sah menjadi suaminya. Di balas Marvin dengan ciuman di pucuk kepala.


Semua keluarga yang menyaksikan sangat lega karena telah melewati tahap yang sangat sulit. Mereka menikmati hidangan untuk makan sian bersama.


Karena acara tidak mengundang banyak orang. Rencananya acara resepsi akan mereka rencanakan setelah ini. Mengingat Ica yang kondisinya belum terlalu stabil.


"Selamat ya Nak. Akhirnya kamu menikah dengan lelaki yang kamu cintai selama ini." Kata Ibu Asmi memeluk Ica.


"Iya Bu, saya tidak menyangka." Balas Ica.


Memeluk tubuh orang yang telah membesarkannya. Ada kehangatan yang Ica dapatkan. Ica bergantian memeluk Mama Diana, Pak Marjoyo dan Pak Hendro. Di ikuti Marvin di belakangnya. Tidak ketinggalan juga Bunda Lusi dengan tangis harunya.


"Sudah, sudah. Mari kita menikmati hidangannya dulu." Kata Mama Diana.


"Ayo, silahkan. Di nikmati seadanya." Kata Pak Hendro sambil menyendiri nasi.


Mereka semua menikmati makanan yang telah di sajikan. Sesudahnya para keluarga masih mengobrol di meja makan. Sebagian mengobrol di ruang tamu.


Ica dan Marvin naik ke lantai atas di bantu oleh Ibu Asmi dan keluarga yang lain. Mereka akan beristirahat terlebih dulu. Karena persiapan tadi di lakukan sejak subuh.

__ADS_1


"Selamat ya Nak, kami tinggal dulu." Kata Bu Asmi.


Ibu Asmi mendaratkan satu ciuman di pipi Ica. Kemudian berbalik menuruni anak tangga yang ada di belakangnya.


"Iya Bu." Jawab Ica singkat.


Marvin dengan pelan menutup pintu kamar. Kemudian melepas jas yang hampir setengah hari ia kenakan. Perasaan gerah sudah tidak bisa di tahan lagi.


Mengambil handuk lalu membersihkan diri. Marvin keluar dari kamar mandi melihat istrinya tertidur pulas di ranjang pengantin mereka.


Marvin maklum saja, selain keadaannya belum pulih sempurna. Penyekapan kemarin tentu meninggalkan trauma di dalam hatinya.


Dengan lembut Marvin menghampiri istrinya. Ia membuka perlahan gaun yang menutupi tubuh Ica. Melepas perhiasan yang memberatkan tubuh wanitanya tersebut.


"Sayang" Kata Ica menggeliat.


"Iya tidurlah sayang, sepertinya kamu ngantuk sekali." Kata Marvin.


Tubuh Ica hanya di tutupi short pendek dan kaos dalam saja. Kemudian Marvin menutupinya dengan selimut. Marvin hanya bisa menelan saliva nya saat ini, melihat kemolekan tubuh istrinya.


Namun membiarkannya sedikit beristirahat sudah menjadi pilihan Marvin. Ia juga membaringkan diri di samping Ica. Memeluk wanita yang sangat ia cintai. Membawa Marvin ke dalam mimpi indah yang telah menjadi kenyataan.


Tok Tok Tok


Ica dan Marvin sama terkaget, namun Marvin tidak membiarkan Ica keluar. Karena ia tau pakaian Ica saat ini tidak lah pantas. Ia tidak ingin ada orang lain melihat keindahan tubuh istrinya walaupun dia perempuan sekalipun.


"Ada apa Bi?" Tanya Marvin setelah membuka pintu.


Wanita setengah baya itu menyerahkan sebuah nampan besar berisikan makanan lengkap. Berbagai macam makanan dan dua gelas susu sudah di dalam nampan.


" Ini Tuan, Nyonya besar membiarkan Tuan Muda dan Nyonya muda tidak ikut makan malam. Ini saya antar menu lengkap kita pada malam ini." Kata perempuan tersebut.


"Baiklah Bi, terimakasih." Kata Marvin.


Wanita yang bekerja di rumah keluarga Adikara tersebut segera berbalik, meninggalkan Marvin yang masih di pintu kamarnya. Marvin langsung membawa nampan kembali masuk menemui istrinya.


"Sayang mandi dulu gih, biar kita makan bersama." Kata Marvin


Marvin dengan senang hati menggendong Ica. Ia membawa istrinya untuk membersihkan diri. Setelah itu mereka makan bersama. Tidak lupa Marvin memberikan segelas susu agar Ica menghabiskannya.

__ADS_1


"Udah Bang, udah kenyang." Kata Ica.


"Baiklah, kita istirahat dulu." Jawab Marvin.


Mereka duduk di sofa sambil menemani Ica menonton drama Korea yang selama ini menjadi favoritnya. Marvin melihat Ica yang sangat fokus membuat adik juniornya memberontak.


"Sayang, apa tidak ada yang lupa?" Kata Marvin.


"Lupa apa Bang?" Jawab Ica.


"Hem, lupa sama ini." Kata Marvin.


Marvin menarik tangan Ica kedalam selipan celananya. Membawa istrinya untuk menyelamatkan adik juniornya yang telah lama memberontak dalam penjara sempit tersebut.


"Abang, nantilah." Kata Ica manja.


"Sudah tidak tahan sayang." Jawab Marvin.


Marvin menindih tubuh Ica yang sudah telentang di atas sofa akibat ulahnya. Melepaskan satu persatu kain yang menghalangi aktivitas dan membiarkan tubuh mereka tanpa satu helaian pun.


Marvin tanpa aba-aba menancapkan adik juniornya ke dalam liang milik Ica. Beberapa kali ia memuntahkan cairan lava hangat kedalam liang yang sudah menjadi hal miliknya tersebut.


"Sayang capek." Jawab Ica.


"Bentar lagi sayang, abang sudah lama menunggu waktu seperti ini." Jawab Marvin


Marvin mengendong Ica membawanya ke ranjang pengantin mereka. Dengan Adik junior Marvin masih menancap sempurna dalam lian milik Ica.


Ica yang sudah pasrah, mengalungkan kedua tangannya di leher Marvin. ketika Marvin menidurkannya di ranjang, entah mengapa Ica merasa ada rangsangan untuk ia memainkan peran utama.


"Sayang, mau di atas." Rengek Ica.


"Aduh, dengan senang hati sayang." Kata Marvin.


Terus menarik ulur liang miliknya, membuat keringat Ica maupun Marvin mengucur. Membuat tempat tidur mereka menjadi berantakan. Entah dari mana mereka berguling, setiap sudut telah mereka jelajahi.


"Sayang, udah gak tahan." Kata Ica dengan mimik wajah khasnya.


"Sama-sama sayang, abang tembakkan juga." Kata Marvin.

__ADS_1


"Auh-eh-aow... Ahhggk." Teriak mereka bersamaan.


Kedua suami istri tersebut beristirahat dengan tubuh yang masih seperti semula. Tidur sampai pagi dengan berpelukan tanpa helaian yang memisahkan keduanya.


__ADS_2