Gairah Pria Patah Hati

Gairah Pria Patah Hati
Restu Orang Tua


__ADS_3

Robin alias Dave mempersilahkan Agre duduk bersama teman perempuannya. Beni dan yang lain menyalami teman Uncle Agre. Mereka memberhentikan sejenak obrolan serius mereka. Membawa obrolan lebih santai.


"Wah, sepertinya sudah dapat pujaan hati aja nih, di tempat baru sekarang." Goda Robin.


"Hem, Kakak bisa saja." Kata Agre dingin.


"Nama saya Syana Kak." Wanita itu menyalami Robin dan yang lain.


Mereka mengobrol sebentar, kemudian Syana berpamitan untuk pulang. Agre mangantar Syana sampai gerbang depan, karena Syana membawa mobil sendiri.


Agre berbalik ke ruang tamu menemui Robin dan yang lainnya. Beni mengangkat wajahnya, untuk menceritakan keinginan Ica dan Marvin yang mereka obrolkan tadi.


"Uncle Ronald, tadi kami sudah bicarakan. Dek Ica dengan Marvin meminta untuk di nikahkan. Bagaimana menurut Uncle?" Tanya Beni.


"Uncle setuju, Ica harus ada yang jaga. Selain itu kalau ia sudah menikah tentu orang lain ragu untuk mendekatinya." Kata Ronald.


"Kira-kira kapan baiknya kita mengadakan acara ini?" Tanya Beni.


"Sebaiknya kita telepon Kak Harus terlebih dahulu, untuk memutuskan." Kata Ronald.


Saat mereka sedang membicarakan rencana tersebut. Ada suara mobil parkir di halaman, Pak Marjoyo datang dari kampung. Mereka juga di jaga dengan dua orang bodyguard.


Beni langsung bangun dari duduknya menuju pintu utama. Marvin mengiringi dibelakang, menyambut kedatangan Ibu dan Bapak.


Siapa tau ada barang dan oleh-oleh yang mereka bawa, benar saja Ibu Asmi membawa beberapa kardus dan sebuah koper baju serta sebuah kantong hitam besar.


Marvin dan Beni mengangkat barang-barang tersebut, di susul oleh Dave ikut membantu. Sedangkan Ibu Asmi segera masuk dan duduk di samping Ica, karena Ibu Asmi mabuk dalam perjalanan.


"Bu, ini minum dulu teh hangatnya. Sudah di buatkan Bi Tuti." Kata Ica.


"Iya, terimakasih Nak. Bapak tadi masih di luar?" Tanya Bu Asmi.


"Iya Bu, Bapak masih ngobrol dengan Uncle dan Kak Beni." Kata Ica.


Setelah memberikan minum kepada Ibunya. Ica kemudian menemui Bapaknya di halaman depan.


"Pak, ajak Om tadi. Kita makan siang bersama dulu, pasti capek juga mereka." Kata Ica.


"Iya Bang semuanya, kita makan dulu bersama." Kata Beni memberi ulasan.

__ADS_1


Mereka semua masuk menuju ruang makan. Mang Ujang dan Bi Tuti ikut menikmati hidangan bersama. Sesudah makan bersama, mereka pamit segera bertugas kembali. Sesuai tugasnya masing-masing.


Sedangkan rombongan pemilik rumah masih betah di meja makan. Uncle Dave paling terakhir menyelesaikan pertarungannya.


"Bapak, Ibu ada hal yang mau saya sampaikan kepada Bapak dan Ibu." Kata Beni.


"Hal penting apa Nak? Katakanlah!" Kata Bu Asmi.


"Jadi begini Bu, tadi Marvin menyampaikan kepada saya dan Uncle Dave. Kalau mereka ini meminta untuk segera di nikahkan. Bagaimana menurut Ibu dan Bapak? Sebelum kita menghubungi Papa dan Mama." Jelas Beni.


"Kalau Ibu sama Bapak merestui saja Nak, doa kami semoga Ica bahagia selalu." Kata Bu Asmi.


"Iya, benar kata Ibu. Kami berdua sebagai orang tua yang merawat Ica dari kecil, asalkan Ica bahagia kami sebagai orang tua ikut bahagia." Kata Pak Marjoyo.


"Menurut Kakak, kapan kita melangsungkan acara pernikahan mereka?" Tanya Dave kepada Pak Marjoyo.


"Kita lihat dulu kapan Mbak Diana bisa pulang ke negara ini. Sebelum mereka pulang kita bisa pelan-pelan mempersiapkan segala sesuatunya. Ada baiknya, telepon dulu Mbak Diana dan Mas Hendro." Kata Pak Marjoyo.


"Baik kalau begitu, saya akan memberitahukan rencana kita ini kepada Kak Harris. Tunggu sebentar saya akan menelepon mereka." Kata Dave.


Dave segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Ia akan menghubungi Harris sekarang juga.


Dave menekan tombol hijau di ponselnya. Sekali panggilan belum di angkat, panggilan kedua baru ada yang mengangkat telepon.


"Halo." Kata Dave.


"Halo, ada apa dek? Ini Kakak." Kata Mama Diana dari sambungan telepon.


"Oh, Kak Harris kemana kakak ipar?" Tanya Dave.


"Mas Harris lagi mandi sekarang, ada apa dek?" Tanya Mama Diana.


"Ada yang mau saya sampaikan Kak. Begini, tadi sore tunangannya Ica menghadap kami, ia meminta agar di nikahkan sama Ica." Kata Dave.


"Dia memintanya kapan?" Tanya Mama Diana.


"Belum tau Kak, katanya nunggu persetujuan Kak Diana dan Kak Haris dulu." Kata Dave.


Pak Hendro alias Harris George selesai membersihkan diri. Mama Diana menyerahkan ponsel tersebut kepada suaminya. Dia menceritakan terlebih dulu apa yang di sampaikan oleh Dave.

__ADS_1


"Oh, ini bicara dulu sama Kakak mu." Kata Mama Diana.


"Kak, bagaimana tanggapan kalian. Kapan tepatnya rencana ini bisa kita laksanakan?" Tanya Dave.


"Kalau menurut kami sekitar lima minggu lagi. Kami pastikan pekerjaan di sini sudah selesai." Kata Pak Hendro.


"Berarti lima minggu itu sebelum hari H nya Kak. Biar kami merencanakannya di sini." Jawab Dave.


"Sekitar enam minggu lah, siapa tau meleset sedikit." Jawab Mama Diana ikut nimbrung.


"Baik Kak, kami usahakan persiapannya. Selamat siang Kak, hanya itu yang mau kami sampaikan." Kata Dave.


"Iya, kami titip anak-anak di sana ya Dave." Kata Pa Hendro.


"Baik Kak." Jawab Dave.


Dave segera menutup ponselnya. Setelah sambungan terputus, ia kembali duduk di kursi meja makan. Mereka masih menunggu informasi dari Dave sesudah ia menelepon.


"Bagaimana Kak?" Tanya Ronald penasaran.


"Kak Harris dan Kak Diana meminta agar acara nya sekitar enam minggu lagi. Kita di minta mempersiapkan segala sesuatunya." Kata Dave.


"Kalau begitu perusahaan Beni serahkan kepada Uncle Dave dulu. Bagaimana Unle?" Tanya Beni.


"Gak bisa Beni, kalau Uncle masuk perusahaan sekarang. Kemungkinan ada orang yang mengenali Uncle. Bagaimana kalau Uncle mengurus pernikahan Ica saja, bersama Kak Joyo dan Kak Asmi. Kamu bisa fokus ke perusahaan, di bantu sama Marvin." Kata Dave.


"Baiklah kalau begitu, saya percayakan sama Uncle Dave dan Uncle Ronald, mengenai pernikahan Ica. Sekalian saya titip Ica sama Uncle." Kata Beni.


"Tanpa kamu minta pun, itu sudah menjadi tugas kami. Jangan khawatir Beni." Kata Ronald.


"Masalah baju pengantin, minta tolong saja sama desainer Mama ke rumah ini. Beni takut kalau Ica harus keluar." Kata Beni.


"Bagaimana untuk ziarah nanti Nak Beni?" Tanya Ibu Asmi.


"Kalau itu tunggu kami libur Bu, akhir pekan. Yang harus kita rencanakan sekarang, kapan orang tua mu bisa datang ke sini Vin?" Tanya Beni kepada Marvin.


"Nanti, saya akan pulang menemui mereka Kak." Jawab Marvin.


"Baiklah, kabari saja kalau mereka mau datang. Biar kami bisa menyiapkan segala sesuatunya." Kata Beni kemudian.

__ADS_1


__ADS_2